
Pagi ini kami sudah berkemas. Pesawa kami akan terbang kembali ke Indonesia pukul 9. Tas koper yang kami bawa sudah penuh di tambah lagi tas yang baru di beli untuk menaruh oleh-oleh.
"Maaf ya mas bawaan kita banyak banget," ucap istriku.
"Iya,nggak apa-apa sayang. Biar mas saja yang bawa. Kamu nggak boleh capek!" sahutku.
Kami lalu diantar ke bandara dengan taksi hotel. Selama setengah jam kami menunggu di ruang tunggu tibalah waktunya kami harus naik ke dalam pesawat.
Alhamdulillah kali ini aku tidak terlalu takut seperti saat pertama kali. Selama hampir dua jam perjalanan aku sudah tidak merasa takut lagi. Bahkan aku sampai ketiduran. Pukul sebelas kami sudah keluar dari bandara. Kami lalu memesan taksi menuju ke rumah.
"Alhamdulillah kita selamat sampai kembali ke tanah air!" ucapku saat kami sudah di dalam taxi.
"Iya,mas. Bagaimanapun aku lebih merasa nyaman di negara sendiri!" sahut istriku.
"Tentu saja sayang. Disinilah kita dilahirkan maka disinilah pula tempat kita kembali pulang."
Satu jam kami sampai di rumah. Kedua anakku sudah menunggu di teras rumah. Mereka langsung berdiri menyambut kedatangan kami.
"Ayah,bunda!" seru Alya dan langsung menghampiri kami satu persatu," Adek kangen sama ayah dan bunda!" tambahnya lagi.
"Iya sayang,ayah dan bunda juga kangen sama Alya!" sahut kami berdua.
Mang Toto lalu membantu membawa barang-barang kami ke dalam rumah. Tas yang berisi pakaian kami langsung dibawa mang Toto ke kamar sementara tas yang berisi oleh-oleh ditaruh di ruang keluarga.
Aku dan istriku lalu pamit hendak ke kamar karena memang belum sempat shalat dzuhur dan juga aku ingin mandi. Istriku lalu ikut ke kamar bersamaku. Kami shalat zuhur berjamaah.
Setelah selesai shalat,kami makan siang bersama. Masih ibu dan adikku Aminah di rumah. Rumah terasa lebih ramai dan istriku terlihat sangat senang.
"Ayo makan yang banyak bu,Aminah,Lani. Anggap saja di rumah sendiri ya!" ucap istriku ramah dan hangat.
"Ya,mbak. Terima kasih!" sahut adikku Aminah.
Setelah selesai makan,kami kembali ke ruang keluarga. Istriku lalu membongkar tas yang berisi oleh-oleh. Semua keluarga kebagian oleh-oleh termasuk mang Toto dan istrinya. Kedua anakku dan juga keponakanku terlihat begitu senang mendapatkan oleh-oleh dari istriku.
"Oleh-olehnya bagus sekali,bunda!" seru Alya sambil memamerkan oleh-olehnya pada kami semua.
"Alhamdulillah kalau Alya suka!" sahut istriku.
Setelah semua mendapatkan oleh-olehnya,kami istirahat siang di kamar masing-masing.
***
Beberapa hari kemudian. Aku sedang sibuk mengecek barang yang baru saja masuk ke gudang,tiba-tiba handphoneku berdering. Istriku. Nama yang muncul di layar handphone.
__ADS_1
"Ya sayang?" tanyaku mesra.
"Mas,masih lama di gudang?" tanya istriku di seberang sana.
"Masih banyak yang harus mas cek. Kenapa,hmm?" tanyaku.
"Hhmm,ya sudah nggak apa-apa. Aku tunggu di kantor ya,mas!" sahutnya lagi dari seberang sana.
"Iya sayang!" balasku.
Panggilan berakhir.
Aku kembali sibuk dengan tugasku. Aku harus teliti supaya minimarket istriku tidak mengalami kerugian
Satu jam aku baru selesai lalu gegas ke kantor menemui istriku. Sampai di sana aku lihat istriku sudah tertidur,mungkin karena dia terlalu lama menungguku. Aku lalu duduk di depannya,menatap wajah sayunya yang menenangkanku.
Bahagia itu memang sederhana,saat pasangan kita menerima kita tanpa cela. Dan itu sangat aku rasakan sekarang. Santi tidak pernah mengeluh apa-apa selama menjadi istriku. Dan dia juga penurut dan selalu mendengarkan apa yang aku ucapkan. Bersikap hormat padaku walau aku lebih muda darinya. Dan walau dia sudah lama mandiri,tapi tetap bisa bersikap manja layaknya seorang istri padaku.
Satu jam lagi aku akan menjemput Alya di sekolahnya. Ibu dan Aminah sudah tidak lagi tinggal di rumah istriku.
Aku lalu kembali ke meja kerjaku. Mencatat di pembukuan,semua barang yang baru masuk hari ini. Terkadang aku harus menghitung uang cas yang jumlah nominalnya sangat fantastik menurutku karena aku belum pernah melihat uang sebanyak itu. Istriku begitu percaya padaku dan aku berusaha menjaga amanah yang di berikannya.
Aku buka brankas. Seharusnya dari kemarin aku menyimpan semua uang di bank,tapi aku belum sempat.
Aku menutup lagi brankas lalu menghampirinya,duduk di sebelahnya.
"Ya. Kamu sudah bangun? Maaf ya mas buat kamu menunggu lama," ucapku.
"Iya nggak apa-apa,mas. Semua sudah beres?"
"Iya,yank. Sebentar lagi kita jemput Alya."
"Hhmm,iya mas."
Sebelum menjemput Alya,aku dan istriku mampir ke sebuah bank yang dekat dari minimarket untuk menyetorkan uang.
"Mas,terimakasih ya. Sejak mas yang mengurus minimarket,pendapatan minimarket meningkat terus setiap hari."
"Alhamdulillah,sayang. Mungkin memang sudah rezekinya minimarket kamu makin maju bukan karena mas. Mas juga kan lebih sering di kantor saja."
"Iya,mas. Tapi tetap saja mas terlibat. Oh iya satu minggu lagi aku terapi,mas."
"Iya sayang,kan cuma sehari. Bisa kan kita pergi pagi,siang atau sorenya langsung pulang?" tanyaku. Itu juga bisa menghemat pengeluaran istriku. Lagipula minimarket nggak bisa di tinggal terlalu lama. Barang masuk seminggu bisa empat sampai lima kali karena memang cepat habis.
__ADS_1
"Iya,mas!" sahut istriku.
Setelah menyetorkan uang dan menjemput putriku,kami langsung kembali lagi ke minimarket.
Aku kembali sibuk di minimarket sementara istri dan anakku beristirahat di kantor.
Aku berkeliling mencatat barang-barang di etalase yang tinggal sedikit. Setiap hari aku harus memeriksa supaya tidak ada barang yang kosong. Semua berjalan lancar seperti biasa. Tidak ada selisih atau apapun seperti yang sebelumnya di keluhkan oleh istriku saat kami belum menikah dulu.
Pembeli tak pernah kosong bahkan selalu ada banyak antrian setiap hari sampai kadang aku berpikir untuk menambah kasir satu lagi tapi tidak ada lagi ruangan untuk kasir karena sudah penuh oleh barang-barang.
Menjelang siang,waktunya aku menjemput putraku Andre. Aku menjemputnya bersama Santi dan Alya lalu mengantar mereka pulang ke rumah.
"Ayah ke minimarket dulu,ya!" pamitku pada istri dan kedua anakku setelah sebelumnya kami makan siang dan sholat zhuhur berjamaah.
"Iya,yah. Cepat pulang,ya!" sahut Alya.
"Iya,sayang. Ayah mungkin pulang seperti biasa!" sahutku.
"Ayah,besok kan minggu. Aku ikut ke minimarket,ya! Bosan di rumah terus!" ucap Andre.
"Iya,sayang!"
"Minggu kita jalan-jalan saja yuk?" tanya istriku.
"Tapi besok minimarket rame. Kita jalan-jalannya nggak usah lama-lama,ya!"
"Iya,nggak apa-apa setengah hari juga. Kasihan anak-anak seminggu ini di rumah terus,kan!"
"Alya mau jalan-jalan,yah!" seru Alya.
"Iya,baiklah. Besok kita jalan-jalan,ya. Sekarang ayah harus ke minimarket dulu!" sahutku.
"Hati-hati di jalan,mas! Bawa mobil saja!" ucap istriku walau dia tahu aku kadang malas harus bawa mobil kalau pergi sendirian.
"Iya,mas bawa mobil."
Aku lalu kembali ke minimarket.
.
.
.
__ADS_1
11