
Aku baru pulang dari bekerja. Putra ku Andre menghampiriku dengan membawa sebuah surat undangan. Aku mengernyitkan dahiku. Undangan dari siapa. Batinku.
Aku lalu membaca surat undangan itu. Aku kaget walau sebenarnya aku sudah lama menduga. Itu adalah undangan pernikahan Lisa dengan selingkuhannya yang aku baru tahu ternyata namanya David Pradana. Pernikahan mereka akan dilangsungkan satu minggu lagi.
Aku lihat putraku seperti sedang melamun. Aku tahu Andre pasti sedih dan kecewa mengetahui ibunya akan menikah lagi.
"Adik Alya mana?" tanyaku pada Andre.
"Adek Alya masih di rumah nenek,yah," jawab Andre pelan.
"Ayah mandi dulu,ya. Setelah itu kita salat magrib di masjid," ucapku yang di berikan anggukan oleh Andre.
Aku lalu segera mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi aku mengajak Andre pergi ke masjid. Sepulang dari masjid aku menjemput Alya di rumah ibuku.
Aku duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian ibu menghampiriku dan duduk disebelahku.
"Lisa akan menikah lagi," jelas ibuku.
"Iya,bu," jawabku.
"Kamu yang sabar ya,nak!" ucap ibuku.
"Aku tidak apa-apa kok,bu. Aku sudah tidak mencintainya lagi," jelasku.
"Tadi yang menerima undangan itu adalah Alya saat dia sedang bermain diluar bersama teman-temannya. Jadi Alya tahu kalau ibunya akan menikah lagi," jelas ibuku.
Aku menarik nafas berat. Bagaimana lagi mungkin ini sudah takdir anak-anakku. Aku hanya tidak tega melihat kesedihan mereka.
"Apa kamu mau datang ke pernikahannya Lisa?" tanya ibu.
"Insya Allah aku akan datang,bu. Aku akan tunjukkan pada mereka kalau aku kuat! Aku benar-benar sudah tidak mencintai Lisa lagi!"
"Tapi kamu jangan membuat keributan di sana,ya?" pinta ibu.
"Tentu saja,bu. Aku tidak akan mempermalukan diriku sendiri. Aku tidak akan mencari keributan di sana. Aku akan tunjukkan pada mereka berdua kalau aku kuat!"
Tak lama kemudian Alya mengajak pulang ke kost, "Yah,pulang yuk. Aku ngantuk."
Aku mengangguk, "Ayo kita pulang," sahutku.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan ibuku,kami pun pulang setelah terlebih dahulu mampir ke warung makan untuk membeli lauk untuk makan malam kami karena tadi pagi aku tidak sempat masak.
***
Sehari sebelum pernikahan Lisa,aku berniat membelikan kedua anakku pakaian untuk di pakai ke pernikahan ibu mereka.
"Alya nggak mau datang,yah," tolak Alya dengan wajah muram.
"Andre juga nggak mau datang!" tegas Andre.
"Sayang,kalian dengerin ayah,ya! Kalau kalian berdua nggak datang,nanti ibu kalian mengira kalau ayah yang melarang kalian datang. Kalian nggak ingin kan ibu kalian berpikir jelek tentang ayah?" rayuku pada mereka.
"Tapi,yah. Ibu sudah jahat sama kita!" ucap Andre.
"Siapa bilang? Kalian nggak boleh berpikir begitu,ya. Ibu kalian tidak jahat. Dia sayang sama kalian!"
"Sayang apa,yah? Ibu sudah nggak sayang sama kita!" tegas Andre lagi.
"Hhhmm,nggak ada ibu yang nggak sayang sama anaknya!" ucapku pelan namun dengan penekanan.
"Tapi buktinya waktu kita ketemu di warung tenda,ibu nggak peduli sama adek Alya."
"Sayang,dengerin ayah,ya! Mungkin saat itu ibu sedang kesal sama ayah."
Hhh,aku menghela nafas panjang. Tidak tau lagi bagaimana caranya supaya kedua anakku tidak membenci ibunya.
"Tapi,nak. Temani ayah datang ke pernikahan ibu kalian ya. Masa ayah datang sendiri. Tunjukkan sama ibu kalian kalau kalian baik-baik saja selama sama ayah!" pintaku dengan wajah memohon.
Andre dan Alya saling menatap satu sama lain.
"Baiklah,yah. Demi ayah,Andre mau temani ayah datang ke pernikahan ibu," ucap Andre dengan lesu.
Aku lalu menoleh ke arah putriku yang juga tengah menoleh ke arahku. Aku menunggu jawabannya.
"Alya juga mau menemani ayah," ucapnya kemudian.
Aku tersenyum lalu merangkul kedua anakku, "Terimakasih ya,nak. Kalian memang anak yang pengertian. Maafkan ayah yang belum bisa membuat kalian bahagia," ucapku seraya mengusap pucuk kepala mereka.
Kami lalu ke pasar. Aku akan membelikan pakaian yang bagus untuk anak-anakku. Aku tidak ingin mereka di remehkan orang-orang terutama oleh ibunya.
__ADS_1
Setelah berkeliling di pasar dan mendapatkan apa yang kami cari,kami segera pulang ke kost.
***
Tibalah hari pernikahan Lisa. Aku dan kedua anakku sudah bersiap-siap. Aku meminta tolong pada adikku Aminah untuk merapikan penampilan Alya. Putriku itu terlihat sangat cantik. Kata orang-orang,putriku sangat mirip denganku.
Setelah penampilan Alya sudah rapi,aku lalu membawa kedua anakku pergi ke acara pernikahan ibu mereka dengan menyewa sepeda motor.
Dengan berboncengan bertiga,aku melajukan sepeda motor ke alamat yang tertera di undangan. Sampai di sana sudah lumayan ramai tamu yang datang tapi aku tidak melihat pelaminan di sana mungkin Lisa hanya menikah secara siri saja.
Aku sudah menyiapkan amplop di saku celanaku untuk nanti aku berikan saat selesai acara. Dengan langkah Tegar Aku menggandeng kedua anakku. Aku sudah berpesan pada anakku agar mereka tidak menangis di sana.
Saat kami datang,semua mata tertuju kepada kami. Karena tidak ada satupun yang mengenali kami di sana jadi kami bertiga duduk di kursi yang ada di dekat pintu masuk.
Lisa dan selingkuhannya pun kaget saat melihat kedatangan kami bertiga. Tapi kemudian mereka langsung memalingkan wajah. Lima menit kemudian akad nikah dilangsungkan. Benar dugaanku kalau Lisa hanya menikah secara siri saja.
Mantan istri ku itu memang masih terlihat cantik tapi sekarang kecantikannya sudah tidak bisa lagi membuat hatiku bergetar mungkin karena rasa cintaku seperti sudah hilang terkubur oleh pengkhianatannya.
Tak lama kemudian acara akad nikah pun selesai. Semua orang mengucapkan selamat kepada kedua pengantin. Setelah semua tamu selesai memberikan ucapan selamat tibalah giliran aku dan kedua anakku.
Kami berjalan menghampiri mereka dengan kedua anakku berdiri di samping kanan dan kiriku.
"Selamat ya," ucapku seraya menyodorkan amplop yang tadi sudah aku siapkan. Setelah memberikan ucapan selamat kepada Lisa,aku langsung berlalu tanpa memberi ucapan kepada selingkuhannya. Kedua anakku pun hanya memberikan ucapan selamat kepada ibu mereka.
"Ibu seru Alia," seru Alya. Putriku itu seperti sedang menahan tangisnya.
Aku lalu buru-buru membawa kedua anakku pergi dari sana tanpa sempat menikmati hidangan yang disediakan.
Sebelum aku pergi aku sempat melihat istri pertama dari suami Lisa. Kami bertatapan cukup lama. Saat itu dia sedang menggendong bayinya yang masih kecil dan di sebelahnya duduk seorang gadis kecil mungkin seumuran dengan Aliya. Mungkinkah itu anaknya juga,entahlah aku tidak tau tapi aku bisa melihat ada kesedihan di raut wajah istri pertama dari suami Lisa.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
13