
Anto dan Alina masih menunggu di depan kamar ranap Darren sedangkan Andre sudah kembali bekerja.
"Yah, jadi kak Darren itu adik kandungnya mas Andre dari istri pertama ayah?" tanya Alina bingung.
"Iya, nak."
"Hhmm, aku baru tahu kalau mas Andre dan mbak Alya bukan anak kandung bunda."
"Iya, maaf ya, nak. Ayah pikir itu tidak perlu di bahas untuk menjaga perasaan semua orang yang ada di rumah!"
"Iya, ayah. Nggak apa-apa, kok. Tapi gara-gara itu, Annisa sampai sedih dan takut, loh!"
Anto tersenyum, "Sejak kapan mereka dekat, hmm?"
"Aku kurang tahu pastinya, yah. Tapi memang sikap Annisa berubah sejak kenal kak Darren."
Dahi Anto berkerut, "Berubah bagaimana?"
"Hhmm, sering melamun. Tapi kalau lihat kak Darren suka senyum-senyum gitu."
Anto tersenyum seraya mengusap lembut putrinya, "Apa kamu pernah merasakan itu sama teman sekolah kamu, hmm?"
"Aku? Hhmm, nggak ada, yah!"
"Yakin?"
"Hhmm, iya, yah!"
Anto tersenyum seraya merangkul bahu putrinya.
"Yah?"
"Hhmm?"
"Aku laper, yah? Kapan kita pulang? Masa nungguin Annisa pacaran!" ucap Alina kesal.
"Siapa yang pacaran?" tanya Annisa yang sudah berdiri di samping mereka.
Alina menoleh, "Hhmm, kirain lupa waktu, lupa makan!" ucap Alina kesal.
"Hhh, kita pulang, yah?"
"Bagaimana Darren?"
"Hmm, kak Darren mau tidur, yah."
"Kamu sudah pamit sama ibunya?"
"Iya, sudah, yah!"
"Ya sudah, ayo kita pulang!"
"Hhmm, mas Anto!" panggil seseorang dari arah kamar ranap Darren.
Anto menoleh, "Iya?"
Lisa mendekat, "Hhmm, te-terimakasih, mas!"
"Terimakasih untuk apa, ya? Saya tidak melakukan apa-apa!"
"Hhmm, biaya rumah sakit putra saya sudah mas bayar!"
Dahi Anto berkerut, "Apa? Saya nggak ada bayar apapun!"
"Hhh, Ja-jadi bukan mas yang bayar?"
"Bukan! Saya nggak tahu soal itu. Saya permisi. Semoga Darren lekas sehat!" pamit Anto lantas berlalu dari hadapan Lisa sembari merangkul putri kembarnya di kiri dan kanan.
"Hhmm, mamanya kak Darren masih muda dan cantik!" ucap Alina, "Tapi masih cantik bundaku kan, yah!" ucap Alina seraya mendongakkan kepalanya ke arah ayahnya.
"Tentu saja, nak! Bunda yang tercantik dan terhebat!" puji Anto.
Jangan sampai ibunya kak Darren menggoda ayahku. Batin Alina.
Bukan mas Anto yang bayar biaya rumah sakit Darren. Lalu siapa, ya? Hhh. Mas Anto sangat berubah. Mungkin itu buah dari kesabarannya selama ini. Sedangkan aku? Mungkin ini buah dari perbuatanku dulu. Semoga Darren tidak akan mendapat buah dari kesalahan masa laluku dan mas David.
Lisa kembali masuk ke kamar putranya.
Putranya baru saja terlelap. Lisa lantas duduk di kursi yang ada di samping ranjang Dareen.
__ADS_1
Lisa mengusap wajah putanya.
Sementara Andre kembali bekerja, Anto dan anak-anaknya pulang ke rumah. Sampai di rumah, bundanya anak-anak sudah menunggu di teras.
"Assalammu'alaikum, bunda!" ucap Alina dan Annisa.
"Wa'alaikumsalam, nak. Kalian kok telat pulangnya?"
"Kita dari rumah sakit, bun.!"
"Rumah sakit? Siapa yang sakit?"
"Hhmm, kakak tingkat kita yang di rawat di rumah sakit tempat mas Andre kerja, bun!" jelas Annisa.
"Pacarnya Annisa, bun!" celetuk Alina.
"Iihh, bukan kok, bun. Kita hanya teman saja!" sanggah Annisa.
"Hhmm, teman tapi. . .?" Alina gegas berlalu dari sana.
"Iiih, Alin nyebelin!" ucap Annisa kesal.
"Ayo kalian makan dulu, sudah hampir jam 3 ini. Bunda, mbak Kanaya sama nenek sudah makan tadi!" titah bundanya.
"Iya, bun!" sahut Annisa.
"Mas, kenapa diam saja dari tadi?" tanya Santi bingung.
"Nggak apa-apa, yank. Temani mas makan, ya!"
Santi mengangguk, "Yuk, mas!"
Alina dan Annisa sudah lebih dulu duduk di meja makan. Santi lalu menuangkan nasi dan lauk ke salam piring suami dan anak-anaknya. Mereka pun makan.
***
Andre pulang ke rumah sebelum maghrib. Istrinya pasti sudah menunggu di depan teras.
"Assalammu'alaiku," ucap Andre.
"Wa'alaikumsalam, mas!" sahut Kanaya.
"Seperti biasa, sayang. Pasien banyak!" jawab Andre seraya merangkul bahu istrinya lalu mereka masuk ke rumah.
"Mas Andre!" panggil Annisa saat mereka melewati ruang keluarga di mana gadis itu sedang menonton tv.
Andre menoleh, "Hhmm, ada apa, dek?"
"Hhmm, itu mas. Mas tadi sebelum pulang, ketemu kak Darren, nggak?" tanya Annisa malu-malu.
"Hhmm, mas nggak kesana lagi, dek. Kenapa?"
"Ng-nggak apa-apa, mas," jawab Annisa lantas kembali menonton tv.
Andre dan Kanaya lalu masuk ke kamar mereka.
"Langsung mandi kan, mas?" tanya Kanaya seraya membuka pakaian suaminya.
"Iya, yank!"
Andre lalu masuk ke kamar mandi. Setengah jam kemudian, dia keluar dari dengan tubuh yang segar.
Kanaya membantu memakaikan pakaian untuk suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih, sayang!" ucap Andre lembut.
Kanaya tersenyum. Dia lalu melingkarkan tangannya di leher suaminya. Mereka saling menatap penuh cinta.
Andre mengusap wajah istrinya lembut.
"Kamu cantik banget, sayang!"
"Hhmm, mas juga tampan!"
"Hhmm," Andre mencium pucuk kepala istrinya lembut.
Andre tiba-tiba membopong Kanaya lantas membawanya ke atas tempat tidur.
"Mas, sebentar lagi mahgrib," ucap Kanaya saat suaminya menghujaninya dengan ciuman berulang-ulang.
__ADS_1
"Hhmm, iya sayang. Mas hanya ingin mencium kamu!"
"Hhmm, mas. . ."
Andre menarik diri, "Maaf, sayang!"
"Hhmm, nanti malam saja ya, mas?"
"Kalau malam pasti donk!" sahut Andre dengan senyum menggoda.
Kanaya tersenyum malu, "Mas nggak bosan setiap malam?"
"Kenapa bosan, hmm? Punya istri yang selalu menggoda."
"Iiihh, aku nggak godain mas, kok!"
"Tapi mas selalu tergoda sama kamu, sayang!"
"Hhhmm. . ."
"Mas ingin kamu lekas hamil, sayang!"
"Hamil?"
Andre mengangguk, "Kamu mau kan cepat hamil, sayang?"
Kanaya pun mengangguk, "Mau, mas!"
"Alhamdulillah!" ucap Andre.
Semoga kamu lekas hamil supaya papi kamu nggak mempunyai alasan untuk memisahkan kita! Batin Andre.
"Mas? Papi besok malam minta kita menginap di sana. Mas mau, kan?"
Andre terdiam. Untuk apa papi meminta mereka menginap. Apa ingin menanyakan tentang kehamilan putrinya. Yang benar saja. Nikah belum ada satu bulan. Batin Andre kesal.
"Mas, kok melamun? Mas mau menginap di rumah papi, kan?"
"Hhmm, tentu saja mas mau, sayang!"
"Terimakasih ya, mas. Papi pasti sudah kangen banget sama kita."
"Hhmm, iya sayang!"
"Keluar yuk, mas. Pasti semua sudah menunggu untuk sholat berjamaah."
"Iya, sayang!"
Mereka lalu keluar dari kamar.
Semua keluarga sholat magbrib berjamaah. Setelah itu mereka makan malam bersama.
"Bagaimana Darren, Dre?" tanya Anto saat mereka baru saja selesai makan malam bersama.
"Aku nggak mendatangi kamarnya tadi sore, yah. Terakhir ya saat dia baru saja dari IGD."
"Tadi ibunya mengatakan ada yang melunasi tagihan rumah sakit. Dia pikir ayah yang bayar. Ayah bilang bukan ayah yang bayar."
"Hhmm, aku yang melunasinya, yah!"
.
.
.
.
Maaf masih banyak typo 😊🙏
.
.
.
.
22
__ADS_1