
Alina dan Annisa
"Sekolah yang bener ya, nak. Saling jaga!"
"Iya, ayah. Ayah hati-hati di jalan!" sahut kedua gadis sembari melambaikan tangan.
Gadis kembar itu baru saja sampai di sekolah. Mereka berjalan beriringan menuju kelas mereka. Kebetulan mereka satu kelas.
Saat melewati ruang kelas dua belas, ada yang memanggil nama Alina.
"Alina!" panggil seseorang.
Alina dan Annisa kompak menoleh. Ternyata yang memanggil adalah Ryan, wakil ketua OSIS.
"Kak Ryan? Ada apa?" tanya Alina bingung. Tahu dari mana dia tahu nama Alina sedangkan Alina bukanlah siswi yang popular.
"Boleh bicara sebentar?"
"Hmm, bicara saja!" sahut Alina.
Ryan menoleh sekilas ke arah Annisa. Annisa yang mengerti segera berlalu dari sana.
"Eh, Annis. Mau kemana?" panggil Alina.
"Ke kelas!" sahut Annisa sembari berjalan.
Hhh, Alina tampak menarik nafasnya berat.
"Mau bicara apa, kak?"
"Nanti pulang sekolah, kakak antar, ya?" ucap Ryan penuh harap.
Dahi Alina berkerut, "Apa, kak?" tanya Alina kaget.
"Hhmm, kakak antar kamu pulang."
Alina menoleh ke arah kelasnya yang berjarak tiga kelas dari posisinya sekarang.
"Maaf kak, aku sama Annisa kan di antar jemput sama ayah," tolak Alina halus.
"Hhmm, bilang saja kamu ada kerja kelompok sepulang sekolah!"
Mata Alina membulat, "Apa?"
"Mau, ya?" desak Ryan.
"Hhmm, maaf. Aku nggak bisa bohong sama ayah!" sahut Alina sembari berjalan menjauhi Ryan.
Tiba-tiba Ryan menarik tangan Alina, "Kak? Tolong lepasin!" pinta Alina seraya melepaskan tangannya yang di pegang erat oleh Ryan.
"Aku belum selesai bicara!" tegasnya dengan sorot mata tajam.
"Kak, aku kan sudah bilang nggak bisa! Aku nggak mungkin bohong sama ayah!"
"Hhmm, nggak bohong! Kakak mau ajak kamu belajar bersama!"
Alina mengernyitkan dahinya, "Loh, kita kan beda kelas? Kakak juga kan kakak tingkatku. Pelajaran kita berbeda."
Ryan terlihat kebingungan dan mulai mencari alasan baru lagi, "Ya nggak apa-apa. Siapa tahu kakak bisa bantu kamu belajar, kan?"
Alina makin gelisah, "Kak, aku ke kelas dulu!" pamitnya sembari berlalu dari hadapan Ryan dengan setengah berlari menuju kelasnya.
Sementara dari kelas lain ada yang sedang memperhatikan mereka.
Alina masuk ke kelasnya dengan jantung yang berdebar-debar karena takut. Dia langsung menaruh tasnya di meja lalu duduk sambil mengatur nafasnya.
"Siapa dia, Alin? Pacar kamu?" tuduh Annisa yang duduk satu bangku dengannya.
Alina menoleh, "Iihh, pacar siapa?"
"Kakak tadi?"
"Huuhh, aku saja tahu dia karena dia wakil Ketos saja kok!" bantah Alina.
"Hhh, beneran?" Annisa masih tidak percaya.
"Beneran Annisa! Kita kan selalu sama-sama. Kapan coba aku pacaran sama dia? Jangan asal ngomong apalagi bilang macam-macam sama ayah bunda!" dengusnya.
"Hhh, ok. Kalau gitu, bisa jadi kak Ryan suka sama kamu, hmm?"
"Tahu, ah! Dia nggak bilang kalau suka sama aku!"
__ADS_1
"Lalu tadi dia bilang apa?"
"Dia cuma bilang mau antar aku pulang. Lah kan kita di antar jemput sama ayah!"
"Hhhmm, mungkin dia mau nembak kamu, Alin!"
"Nembak?"
"Doorr!" ucap Annisa seraya memperagakan orang menembak dengan menautkan kedua jari tangannya lalu tertawa terbahak.
"Paan, sih? Nggak lucu!" ucap Alina sebal.
"Eh beneran,Alin. Sepertinya kak Ryan suka sama kamu. Bisa jadi dia itu jodohnya kamu!" Annisa bicara sambil menahan senyum.
"Iihh, jangan asal ngomong, ya! Aku mau yang seperti ayah!"
"Memang dia nggak seperti ayah! Dia masih remaja, ayah punya empat orang anak!" gadis itu masih terus menggoda saudara kembarnya.
"Annisa! Sudah deh. Nggak lucu, tahu!"
***
Waktunya jam istirahat. Alina dan Annisa sedang merapikan meja mereka.
"Ke kantin, yuk!" ajak Annisa.
Alina tampak berpikir, "Nggak ah, aku masih kenyang!" tolak Alina halus.
Annisa mengernyitkan dahinya, "Kenyang? Nggak salah?"
"Iya, Anis. Aku kenyang. Kamu sendiri sana ke kantin. Aku titip roti coklat saja!"
"Hhh, ingat pesan ayah?"
"Hmm, yang mana?"
"Huhh, masih muda sudah pikun. Kita harus saling jaga!"
"Dih, jadi kamu takut ke kantin sendiri? Lagipula kan banyak teman kita di sana. Kamu ajak Merlin saja, sana!"
"Alin! Ninggalin kamu di kelas sendirian sama saja aku nggak ngejagain kamu!"
"Di kelas banyak orang gini loh, Anis!"
"Iihh, sejak kapan kamu mau ke toilet sekolah?"
"Sejak hari ini! Yuk!" seraya menarik tangan saudara kembarnya supaya berdiri.
"Anis!"
"Nggak mau, nih?"
"Huhh, iya-iya!"
Dengan terpaksa, Alina mengikuti langkah kaki Annisa. Mereka tiba di kantin yang sudah ramai.
"Rame banget, Nis. Kita keluar saja, yuk!" ajak Alina yang terlihat tidak tenang.
"Tadi bilang mau roti coklat? Kita beli dulu!" Annisa menarik tangan Alina.
Mereka lalu membeli empat roti isi coklat setelah itu gegas meninggalkan kantin.
"Jadi ke toilet?" tanya Alina.
"Jadi, donk!"
"Nggak biasanya sih? Aneh banget!"
"Aku lagi dapet. Nggak nyaman mau cek dulu!"
"Hhmm,"
Sampai di toilet, Annisa langsung masuk.
"Aku tunggu di luar!" ucap Alina.
"Masuk, donk," pinta Annisa memohon.
"Kan di dalem ada siswi lain juga, Nis. Jangan manja, iihh!"
"Huuhhh! Jangan pergi loh, ya!"
__ADS_1
"Iya, bawel deh!" gerutu Alina.
Annisa gegas masuk ke dalam toilet.
Lima menit, Annisa keluar.
"Sudah?" tanya Alina.
"Huumm,"
"Yuk, balik ke kelas!"
"Alina!" tiba-tiba ada yang memanggil saat mereka baru saja berjalan beberapa langkah.
Dua kembar itu langsung menoleh ke sumber suara. Ryan.
"Kak Ryan?" gumam Alina yang masih bisa terdengar.
"Kakak mau bicara sebentar, bisa?"
"Hmm, maaf kak. Kita mau ke kelas sebentar lagi masuk," tolak Alina lembut.
"Sebentar saja!" desak Ryan.
"Tapi, kak?"
"Sebentar. Annisa ya nama, kamu? Boleh kakak bicara sebentar sama Alina?" Ryan menatap ke arah Annisa.
"Maaf kak, aku mau balik ke kelas!" tolak Alina sembari menarik tangan Annisa supaya pergi dari sana.
"Alina!" Ryan menarik tangan Alina kuat.
"Kak, lepas!" ucap Alina sembaru berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ryan tapi Ryan mencengkeram sangat kuat.
"Kak, lepasin tangan Alina!" pinta Annisa dengan sorot mata tajam.
"Annisa, kakak mau bicara sebentar dengan Alina!" ucap Ryan dengan rahang mengeras.
"Tapi aku nggak mau, kak!" tolak Alina keras.
"Tuh, kakak dengar, kan? Lepasin tangan saudaraku!" teriak Annisa hingga memancing siswa siswi mendekati mereka.
"Ada apa?" tanya salah satu siswa.
"Ini loh, kak Ryan. Dia maksa Alina sampai tangannya di pegang kuat banget!" jelas Annisa berapi-api.
Ryan buru-buru melepaskan pegangan tangannya pada Alina.
"Loh, Ryan?" ucap beberapa orang dari mereka.
Banyak juga yang kasak kusuk seraya menatap sinis ke arah Ryan.
Ryan pun segera berlalu dari kerumunan tanpa bicara apa-apa tapi dia menoleh sekilas ke arah saudara kembar itu. Sorot matanya seperti membunuh ke arah Annisa.
Alina langsung memeluk Annisa, "Yuk, kita pergi dari sini!" ajak Alina.
"Ayo!" sahut Annisa.
Semua orang yang ada di sana kembali ke kelas masing-masing.
"Kak Ryan kok gitu ya, Lin? Suka ya boleh tapi jangan maksa juga. Kamu harus hati-hati mulai sekarang!"
"Hhmm, iya."
.
.
.
.
.
Moga suka. Terimakasih 😊🙏
.
.
.
__ADS_1
.
09