
Matahari sudah tenggelam. Kanaya sedang berbaring sembari memainkan handphonenya. Andre baru saja selesai sholat maghrib.
"Sayang, malam ini kamu mau makan apa, hmm?" tanya Andre lantas duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang istrinya.
"Apa saja, mas. Perutku nggak merasa mual lagi."
"Mas beli dulu, ya?"
Dahi Kanaya berkerut, "Mas mau keluar?"
"Sebentar, ya?"
"Hhmm, nggak mau, mas!" tolak Kanaya keras.
"Sayang, sebentar saja. Kalau mas nggak beli di luar lalu kita mau makan apa?" tanya Andre dengan tangan terulur mengusap wajah cantik istrinya.
"Hhmm, aku nggak mau di sini sendirian, mas!" rengek Kanaya.
"Hhh, baiklah. Mas panggil suster jaga buat temani kamu, ya?"
"Hhmm, nggak apa-apa, mas?"
"Ya nggak apa-apa, sayang. Sebentar, ya!"
Kanaya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Andre kemudian keluar. Beberapa menit kemudian dia kembali bersama seorang suster.
"Tolong temani istri saya sebentar ya, sus!" pinta Andre.
"Iya, dokter. Tidak masalah," sahut suster tulus.
Andre lantas keluar dan suster duduk di sofa yang ada di kamar ranap Kanaya.
"Terimakasih, sus. Maaf merepotkan," ucap Kanaya.
"Iya, bu. Nggak apa-apa. Sudah biasa ada pasien yang minta di temani sebentar," jelas suster.
"Oh, iyakah? Sudah berapa lama suster kerja di rumah sakit ini?"
"Saya sudah bekerja selama lima tahun, bu."
"Oh, lumayan lama, ya. Suamiku baru beberapa bulan saja."
"Iya. Saya tahu dokter Andre saat masih pendidikan sering ke rumah sakit ini."
"Oh, begitu. Saya justru belum lama kenal sama suami saya," jelas Kanaya.
"Sudah jodohnya ya, bu."
Kanaya tersenyum.
Mereka asik ngobrol hingga tidak terasa Andre sudah kembali dengan membawa beberapa bungkusan makanan. Tidak lupa Andre memberikan dua bungkus untuk suster.
"Loh, kok jadi saya yang merepotkan, dok," ucap suster.
"Nggak apa-apa, sus. Untuk menemani suster berjaga sama satu lagi teman suster."
"Terimakasih, dok."
"Saya yang berterimakasih suster sudah menemani istri saya."
"Sama-sama, dok."
Kanaya dan Andre lalu makan malam bersama.
***
Pagi harinya setelah Kanaya di periksa oleh dokter, mereka bersiap karena hari ini Kanaya sudah di perbolehkan pulang ke rumah.
"Kamu benar-benar sudah fit kan, sayang?" tanya Andre lembut.
"Alhamdulillah, mas."
__ADS_1
Tok tok. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"Biar mas yang bukain," ucap Andre lantas berjalan ke arah pintu.
Ceklek.
"Mami?" ucap Andre kaget.
"Bagaimana keadaan Kanaya, Dre?"
"Alhamdulillah sudah baikan, mi. Silahkan masuk!" ajak Andre.
Saat Andre berdiri di samping pintu hendak membiarkan mami Kanaya masuk, tak lama kemudian, papi Kanaya juga muncul.
"Pi?" Andre membulatkan matanya sedangkan papi Kanaya tersenyum menyeringai lantas masuk menyusul istrinya.
Andre menarik nafas pelan lalu menghembuskannya kasar. Ada maksud apa lagi papi. Nggak akan lagi aku biarkan kamu mengatur hidup istriku. Batin Andre.
Andre melangkah mendekati tempat tidur istrinya.
"Sudah mau pulang, kamu?" tanya papi.
"Iya, pi. Kanaya sudah nggak betah di rumah sakit," sahut Kanaya.
"Hhmm, suami kamu kerja kan hari ini jadi kamu pulang sama papi dan mami saja!" titah papi.
"Apa, pi? Aku pulang ke rumah mas Andre!" tegas Kanaya.
"Kamu itu masih tahap pemulihan, siapa yang akan merawat kamu sedangkan suami kamu saja kerja. Kecuali kerja di perusahaan sendiri baru bisa bebas kapan saja mau masuk!" ucapnya sinis.
"Nggak, pi!" tolak Kanaya.
"Kanaya. Kamu itu di urusin orangtua kok malah membantah. Di rumah ada mami yang akan mengurus kamu!"
"Di rumah mas Andre juga ada bunda yang bisa mengurusku, pi."
"Bunda? Kamu itu bukan siapa-siapanya. Suami kamu saja kan hanya anak sambung!" ucap papi sinis.
"Walaupun saya adalah anak sambung bunda tapi bunda tidak pernah membeda-bedakan semua anak-anaknya!" tegas Andre dengan tangan mengepal hingga telapak tangannya memutih.
"Aku mau di rumah bunda sama mas Andre!" tolak Kanaya lagi.
"Kanaya. Menurutlah sama papi!"
Andre tersenyum sinis, "Di rumah bunda saya, Kanaya tidak akan pernah bertemu dengan laki-laki asing yang bisa merendahkannya!" tegas Andre.
"Kamu!" tangan papi Kanaya terangkat.
"Pi, jangan, pi!" cegah mami Kanaya.
Mata Kanaya mulai berkaca-kaca.
"Aku akan tinggal di mana suamiku mau, pi! Aku mau tinggal dengan orang yang aku cinta!"
"Cinta? Tahu apa kamu soal Cinta? Kamu itu belum mengerti apa-apa!" ucap papi sinis.
"Aku mengerti, pi. Sudah berapa laki-laki yang papi kenalin sama aku. Dan hanya sama mas Andre aku merasa bahagia!"
"Kanaya, mami sama papi pulang, ya! Dre, titip Kanaya. Jaga dia baik-baik!" ucap mami lantas menggandeng papi pergi.
"Nggak bisa!" tolak papi.
"Pi, papi selalu menanamkan padaku untuk patuh pada suami. Dan Kanaya mencontoh itu dari dulu! Jadi jangan salahkan dia bersikap begini!"
"Iya kalau suaminya bener seperti papi, mi!" ucap papi sombong.
"Pi, kita tidak akan bertengkar di sini, bukan? Malu sama Kanaya dan suaminya kalau tahu!"
"Kamu!" laki-laki itu menunjuk wajah istrinya dengan tatapan nyalang.
"Biarkan putri kita dengan hidup barunya. Tolong, pi. Penuhi permintaanku kali ini!" Setelah mengatakan itu, mami langsung keluar dari ruang ranap Kanaya. Dan papi sebelum menyusul istrinya, sempat menoleh ke arah Andre dengan tatapan nyalang.
Braakk! pintu di tutup dengan di banting.
__ADS_1
Kanaya terisak. Andre langsung mendekati istrinya. Menarik istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Ssstt, sudah jangan nangis!" ucap Andre dengan lembut membuat Kanaya makin menangis tergugu. Andre lalu mengelus rambut Kanaya dengan lembut, memberikan istrinya itu ketenangan.
"Mas nggak marah kan sama papi?"
Andre menggeleng lemah, "Mas nggak marah, sayang!" tapi kecewa. Batin Andre.
Kanaya melepaskan pelukan suaminya. Menatap sepasang mata itu lekat-lekat, "Mas benar-benar percaya kan sama aku?" tanya Kanaya.
Andre mengangguk sembari tersenyum mesra, "Tentu saja, sayang!"
"Mas nggak bohong, kan? Mas nggak pura-pura untuk menyenangkan aku saja?"
Hh, Andre menarik nafas dalam-dalam, "In Sya Allah mas percaya kamu. Sudah, tidak usah kamu pikirkan lagi, ya! Sekarang mas akan lebih menjaga kamu lagi!" ucap Andre sembari mengusap airmata di pipi istrinya.
***
Sampai di rumah, Andre menggendong istrinya lantas membawanya ke kamar.
"Kanaya," panggil nenek yang sedang menonton tv di ruang keluarga.
"Iya, nek," sahut Kanaya.
"Kanaya masih belum fit, nek," Andre ikut menyahut.
Sampai di kamar, Andre membaringkan istrinya di atas tempat tidur.
"Kamu istirahat saja, ya!"
"Hhmm, mas mau kerja?"
Andre menarik nafasnya berat, "Sebentar saja nggak apa-apa, kan? Ada bunda dan juga nenek. Adik-adik juga sebentar lagi pulang. Jangan merasa sungkan sama mereka, ya!" ucap Andre sembari mengusap lembut wajah istrinya.
"Hhmm, iya, mas."
"Apa mau ke kamar mandi dulu. Mas bantuin, hmm?"
Kanaya mengangguk setuju. Andre kembali menggendong istrinya ke kamar mandi. Setelah selesai, kembali membawa istrinya ke atas tempat tidur.
"Mas pergi sekarang, ya?"
Kanaya mengangguk.
"Dre?" panggil bundanya dari balik pintu.
"Masuk, bun," sahut Andre.
"Bagaimana keadaan Kanaya?"
"Sudah lumayan, bun. Hanya masih lemes," jelas Kanaya.
"Kamu mau makan apa nanti bunda masakin?"
"Hhmm, apa saja, bun."
"Perutnya nggak mual, kan?"
Kanaya menggelengkan kepalany.
"Ya sudah, bunda akan masak yang spesial buat kamu."
Kanaya tersenyum, "Terimkasih, bunda,"
.
.
.
.
.
__ADS_1
20