Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 31


__ADS_3

Setelah makan malam bersama,kami lalu nonton tv. Aku ingin menanyakan pada anakku seandainya aku menikah lagi bagaimana tapi rasanya mulutku ini seperti terkunci rapat. Aku takut mereka akan bersedih dan kecewa.


"Yah,apa ayah tidak capek bekerja dari pagi sampai malam setiap hari?" tanya Andre.


"Ayah tidak merasa capek,nak. Demi kalian berdua!" jawab ku.


"Tapi kalau bekerja dari pagi sampai malam pasti capek banget,Yah!" ucap Andre lagi.


"Alhamdulillah,pekerjaan ayah tidak terlalu capek,nak! Ayah hanya mengawasi minimarket dan sesekali membantu mengangkat barang-barang jika karyawan lain membutuhkan bantuan!" jelasku.


"Aku penasaran dengan pekerjaan ayah sekarang."


"Aku juga penasaran,yah!" sambung Alya.


"Hhhmm. Ada yang mau ayah ceritakan sama kalian!"


"Cerita apa,yah?" tanya mereka hampir berbarengan.


"Kalian tahu pemilik minimarket tempat ayah bekerja adalah seorang wanita yang tidak memiliki keluarga. Dia di dunia ini hanya sendirian. Orang tuanya sudah lama meninggal beberapa tahun yang lalu dan suaminya juga belum lama meninggal.


"Apa dia tidak mempunyai anak?" tanya Andre.


Aku menggelengkan kepalaku, "Belum. Makanya dia ingin sekali memiliki anak!"


"Ya Allah,kasihan banget ibu itu!"ucap Alya dengan wajah sedih.


"Iya nak. Ayah juga kasihan dengannya makanya saat dia meminta bantuan ayah mengurus minimarketnya,ayah tidak bisa menolak. Kalian tahu,ternyata wanita itu mempunyai penyakit yang kata dokter penyakitnya sudah sangat parah!"


"Sakit apa memangnya,yah?" tanya Alya.


"Sakit kanker."


"Apa yah,sakit kanker?" Andre dan Alya kaget.


Aku mengangguk.


"Kasihan banget ibu itu. Jadi dia tidak punya siapa-siapa di rumahnya,yah?" tanya Alya.


"Dia di rumah tinggal bersama sepasang suami istri. Istrinya sebagai asisten rumah tangga dan suaminya bertugas menjaga rumah.


"Hhmm,seandainya kalian menjadi anaknya,apa kalian mau?" tanyaku hati-hati.


"Menjadi anaknya? Memangnya ibu itu mau menjadikan kita anak-anaknya?" tanya Alya.


"Seandainya Ibu itu mau apa kalian mau?" tanyaku lagi.


"Tapi kan kita belum ketemu yah,nggak tahu ibu itu suka apa nggak sama kita!" ucap Andre.


"Kalian mau ayah pertemukan dengan ibu itu?"


"Mau-mau!!" ucap Alya dan Andre hampir berbarengan.


"Baiklah nanti kapan-kapan ayah akan ajak kalian ke rumahnya!"


"Beneran yah?" tanya Alya tak percaya.


Aku menganggukkan kepala, "Tentu saja,nak! Dia pasti senang bertemu dengan kalian.


"Kenapa dia tidak menikah lagi yah?" tanya Andre penasaran.


"Dia memang ingin menikah lagi!" jawab ku.


"Ya sudah daripada hidup sendirian lebih baik menikah lagi saja,yah."


"Ayah saja yang menikah dengan ibu itu!" celetuk Alya.


"Huuuss!" sahut Andre.


"Memangnya Alya nggak keberatan ayah menikah dengan ibu itu?" tanyaku hati-hati.


"Aku nggak mau ayah menikah lagi!" tegas Andre.


"Tapi ibu itu kasihan sendirian,mas!" sahut Alya seraya melirik ke arah kakaknya.


"Tapi aku nggak setuju!" tegas Andre lagi.


"Sudah-sudah. Kita tidur saja yuk,sudah malam!" ajakku yang di berikan anggukan oleh Andre dan Alya.

__ADS_1


Lebih baik aku dekatkan dulu mereka dengan mbak Santi. Batinku.


***


Hari minggu minimarket masih buka. Aku ingin memperkenalķan anak-anakku dengan mbak Santi jadi aku akan mengajak mereka ke rumah mbak Santi sekaligus aku ke minimarket.


Aku ingin melihat dulu apakah kedua anakku nyaman dengannya. Barulah aku memutuskan akan menikah dengannya apa tidak.


"Ayo,jangan lupa pakai jaket kalian,ya!" titahku pada Alya dan Andre.


"Iya,yah!" sahut mereka antusias.


Kami lalu pergi mengendarai motorku menuju rumah mbak Santi. Ternyata wanita itu sudah menunggu di depan pintu rumahnya. Saat kami sampai,tampak senyum mengembang di bibirnya. Wajahnya pun terlihat lebih segar daripada kemarin.


Aku lalu memarkirkan motorku tidak jauh dari pintu pagar. Aku lalu merangkul kedua anakku berjalan menghampiri mbak Santi.


"Selamat pagi,mbak!" sapaku.


Dia berdiri sambil tersenyum.


"Selamat pagi!" sahutnya ramah.


"Mbak,kenalin anak-anakku!" ucapku.


Mereka lalu berkenalan.


"Saya Alya,tante!" ucap Alya seraya mengulurkan tangan lalu mencium punggung tangan mbak Santi takjim.


"Kalau saya Andre,tante!" Andre melakukan hal yang sama seperti adiknya.


"Saya Santi!" ucap Santi sambil mengulurkann tangannya juga, "Ayo masuk!" ajak mbak Santi.


Kami lalu masuk ke rumahnya. Rumahnya sangat besar jika di tempati satu orang saja. Dengan perabot yang terlihat berkelas. Di ruang tamu ada tangga menuju lantai dua. Lalu kami dipersilahkan duduk di ruang tamu.


Seorang wanita paruh baya datang membawakan minuman dan makanan untuk kami.


"Terimakasih,bu!" ucapku.


"Tante rumahnya besar sekali! Tante nggak takut di rumah sendirian?" celetuk Alya.


"Hhmm," gumam Alya.


"Apa Alya mau menemani tante tinggal di sini?" tanya mbak Santi seraya melirik ke arahku. Mungkin dia sengaja memancing.


"Tinggal di sini sama tante?" tanya Alya kaget.


"Iya,sayang! Kamu mau kan?"


Alya lalu menoleh ke arahku, "Kalau ayah ijinin,Alya mau kok!" sahutnya antusias.


"Huuusss! Adek!" Andre terlihat tidak suka.


"Iihhh,mas. Kan tante sendiri yang nawarin!" Alya berubah cemberut.


Aku dan mbak Santi hanya bisa saling melirik.


"Andre sama Alya mau ya menemani tante tinggal di sini?" tanya mbak Santi lagi.


"Alya mau,tante!" tegas Alya lalu melirik masam ke arah kakaknya.


"Kalau aku dan adek tinggal di sini lalu ayah tinggal sendirian di kost?" Andre menoleh ke arahku.


"Ayah tinggal di sini juga,mas!" sahut Alya.


"Huuss! Nggak boleh,dek!"


Alya lalu menoleh ke arah mbak Santi, "Ayah nggak boleh ikut tinggal di sini ya tante?"


Mbak Santi melirik ke arahku.


"Nggak boleh adek!" sahut Andre lagi.


"Iihh,mas Andre. Aku tanyanya sama tante kan ini rumahnya tante!"


"Ayah kan bukan suaminya tante jadi nggak boleh tinggal di sini!" tegas Andre.


"Kalau gitu,ayah jadi suami tante saja. Ibu juga sudah punya suami baru kan!"

__ADS_1


"Adek!" Andre terlihat makin kesal. Alya pun jadi ngambek lalu menutupi wajahnya dengan bantal sofa.


"Sudah-sudah kalian nggak boleh ribut,malu sama tante. Ayo baikan lagi!" titahku.


"Mas Andre itu loh,yah!" gerutu Alya.


"Loh,adek kok!"


Mereka masih saja berdebat.


"Sudah-sudah! Ayo baikan!" tegasku.


Alya lalu mengulurkan tangannya yang di sambut oleh Andre.


"Mas minta maaf!" ucap Andre.


"Adek juga!" balas Alya tapi wajah mereka berdua masih sama-sama cemberut.


"Senyum,donk!" ucapku.


Mereka lalu tersenyum walau terlihat sangat terpaksa.


"Itu baru anak-anaknya ayah! Oh,iya sudah jam sepuluh,ayah mau ke minimarket." ucapku.


"Ayah mau kerja? Terus kita gimana?" tanya Andre.


"Alya di sini saja sama tante!" sahut Alya.


Andre melirik Alya tajam.


"Ayah kalian ke minimarket,kalian di sini dulu temani tante. Di belakang rumah ada pohon buah rambutan yang sedang berbuah,loh!" ucap mbak Santi.


"Benarkah,tante?" tanya Alya dan Andre hampir berbarengan. Kedua anakku itu doyan banget buah rambutan.


"Tentu saja! Kalian bisa ambil sendiri sepuasnya!"


"Waahh,Alya mau tante!" seru Alya.


"Ayo,kita ke belakang!" ajak mbak Santi.


"Ayah ke minimarket,kalian di sini dulu,ya? Nanti ayah jemput!" ucapku pada Andre dan Alya.


"Iya,yah!" sahut anak-anakku.


Aku menoleh ke arah mbak Santi.


"Mbak,saya titip anak-anak saya ya! Saya ke minimarket dulu!" pamitku pada mbak Santi.


"Silahkan mas!" sahut mbak Santi.


"Kalian baik-baik sama tante,ya! Nggak boleh berantem lagi seperti tadi!"


"Iya,yah! Ayah hati-hati di jalan!" sahut mereka.


Aku menaiki sepeda motorku lalu meninggalkan rumah mbak Santi. Semoga saja kedua anakku bisa cepat dekat dengan mbak Santi.


.


.


.


.


.


.


Maaf jika masih ada typo 😊🙏


.


.


.


14

__ADS_1


__ADS_2