
Hari sudah pagi. Kami semua sibuk dengan aktifitas masing-masing. Istriku sudah tidak bisa lagi membuat sarapan karena dia akan merasa mual, jadi bibi yang membuatkan kami sarapan beberapa hari ini.
Seperti kemarin, istriku sudah menyiapkan pakaian untuk kupakai hari ini. Kaos oblong dengan warna yang senada dengan gamis yang dia pakai berpadu padan dengan celana kulot.
"Mas kelihatan lebih muda ya pakai pakaian ini," ucapku.
"Hhmm, masa sih, mas?"
"Iya!" sahutku.
Wajahnya langsung berubah lalu gegas menuju lemari pakaian, mengobrak-abrik isinya lalu mengeluarkan sehelai pakaian dari sana.
"Mas pakai ini saja, deh!" pintanya seraya menyerahkan kemeja warna coklat tua untuk ku.
"Ini baru lagi, yank?" tanyaku. Aku merasa belum pernah memakainya.
"Iya, mas! Kan aku waktu itu beli lumayan banyak pakaian buat mas. Nah yang ini belum pernah mas pakai!" jawabnya.
"Oohh, gitu, " gumamku.
"Mas nggak suka ya pakai yang ini?"
"Suka kok, sayang! Pakaian apa pun yang kamu pilihkan, mas pasti suka!" tegasku, membuat dia menyunggingkan senyum.
Aku segera memakainya. Dan untungnya pas di badan, tidak kebesaran. Aku lihat istriku menatapku lekat-lekat. Apa lagi yang ada di pikirannya.
"Yuk sayang, kita turun!" ajakku kemudian.
"Tunggu mas, aku ganti pakaian dulu!" ucapnya lalu buru-buru mengambil pakaian baru di dalam lemari.
Sebuah gamis berwarna coklat, hampir sama dengan warna pakaian yang aku kenakan. Dia lantas mengganti pakaiannya.
"Kenapa di ganti, yank?" tanyaku heran lalu berdiri di belakangnya. Merangkulnya mesra dengan tanganku aku lingkarkan di perutnya yang masih rata.
"Mas, aku belum selesai, nih!" protesnya.
"Mas pakein, ya!" ucapku yang langsung membantunya mengenakan pakaian tanpa menunggu lagi jawabannya.
"Kamu makin cantik sejak hamil, yank!" pujiku tulus.
Dia bersemu merah, "Hhmm, masa, mas?"
Aku mengangguk, "Masa mas bohong?"
Dia lalu membalik badannya hingga kami saling berhadapan, "Mas itu yang makin ganteng! Makin terlihat muda sekarang!"
"Loh, memang mas sudah ganteng dari dulu kok!" gurauku.
Die menyebik, "Hhmm,"
"Kenapa bibirnya di gituin?"
"Hhmm. . ."
"Sejak nikah sama kamu, penampilan mas jauh berubah, ya? Alya pernah bilang 'Ayah sekarang ganteng banget!' Berarti dulu nggak, ya?"
Istriku tersenyum, "Mungkin karena mas sekarang jarang kena panas sinar matahari,sering di ruangan berAC jadi wajah mas terlihat lebih bersih!" jelasnya.
"Dan juga terurus. Istri mas ini pandai merawat suami!" pujiku.
Dia malah tertawa, "Mas bisa saja, deh!"
"Dan istri mas ini makin cemburuan!"
"Hhh..!" dia tersenyum malu, "Sekarang kan jamannya pelakor, mas! Aku nggak mau suamiku di ambil orang!"
__ADS_1
"Siapa juga yang mau ambil mas dari kamu, hhmm? Mas ini nggak punya apa-apa!"
"Iihh, mesti bilangnya gitu!" dia memasang wajah masam.
"Sudah ah, ayo kita turun. Mas sudah laper!" ajakku kemudian.
Kami lalu turun ke bawah. Sebelumnya aku ke kamar putraku terlebih dahulu. Melihat apakah dia sudah turun apa belum. Ternyata putraku sudah turun dari tadi. Kami lalu bergegas menyusul ke bawah.
Ternyata putraku sudah menunggu di meja makan.
"Ayah, bunda, ayo kita makan!" serunya saat melihat kami datang.
Kami lalu duduk di kursi masing-masing. Istriku hanya memakan roti dengan toping selai saja karena dia sedang dalam masa ngidam jadi dia tidak bisa makan makanan seperti biasa kalau pagi hari. Menjelang siang baru mualnya berkurang.
Setelah selesai makan kami gegas pergi mengantar Andre ke sekolahnya sekaligus melihat apakah Lisa mengantarkan Alya ke sekolah. Sampai di sekolah, ternyata Alya belum datang. Kami menunggu sampai sekolah masuk ternyata Alia tidak juga datang.
"Lisa benar-benar keterlaluan sampai Alya tidak bersekolah!" ucapku kesal.
"Sabar, mas!" hibur istriku.
Aku bingung harus melakukan apa. Kalau aku lapor polisi, masalah ini akan menjadi besar tapi kalau aku tidak lapor polisi, aku tidak tahu sampai kapan Lisa akan menahan Alya.
"Bagaimana ini, yank. Aku masih bingung!" ucapku gusar. Aku lalu mengusap wajahku kasar. Aku benar-benar tidak tenang karena Alya masih di rumah ibunya.
"Bagaimana kalau kita ke rumah mbak Melly saja yank, mungkin dia tahu di mana rumah si David itu selain di rumahnya yang lama," ucapku.
"Oh iya, mas. Nggak apa-apa kita tanyakan sama mbak Melly. Mungkin si David itu punya rumah yang lain selain rumah yang itu."
"Ya sudah ayo kita ke rumah mbak Melly sekarang!"
Aku gegas melajukan mobilku ke arah rumah mbak Melly. Sampai di depan rumahnya, aku lihat mbak Melly sedang menjemur pakaian. Ternyata dia baik-baik saja. Kenapa beberapa hari ini dia tidak datang ke minimarket, ya. Batinku.
"Itu mbak Melly, mas!" tunjuk istriku.
"Kenapa dia beberapa hari ini nggak datang ke minimarket ya, mas?" tanya istriku penasaran.
"Nanti kita tanyakan saja langsung sama orangnya yank," sahutku.
Kami lalu turun dari mobil. Saat melihat kami berjalan ke arahnya, mbak Melly terlihat kaget sampai menjatuhkan pakaian yang ada di tangannya.
"Mbak Melly!" panggil istriku.
Wajahnya terlihat pucat. Dia seperti ketakutan. Ada apa sebenarnya? Apa ada yang dirahasiakan olehnya. Batinku.
"I-iya. Ada apa mbak Santi, pak Anto?" tanya Mbak Melly.
"Kami hanya ingin ngobrol-ngobrol sebentar kok mbak!" jawab istriku pelan.
"Tetapi saya sedang sibuk, mbak!" ucap mbak Melly gugup.
"Nggak apa-apa, mbak. Kita tunggu saja kok." jawab istriku.
Kami duduk di teras rumah. Dia lalu melanjutkan menjemur pakaiannya sambil sesekali melirik ke arah kami. Tingkahnya sungguh mencurigakan seperti ada yang dia tutupi.
Setelah mbak Melly selesai menjemur, dia Lalu menemui kami tapi dia tidak berani menatap langsung ke arah kami. Dia hanya menunduk saja sambil *******-***** ujung bajunya.
"Mbak Melly apa kabarnya?" tanya istriku ramah.
"Alhamdulillah kabarku baik-baik saja, mbak. Kabar mbak bagaimana dan juga pak Anto?" mbak Melly balik bertanya.
"Alhamdulillah, kami berdua juga baik-baik saja, mbak."
"Syukurlah!"
"Davina mana, mbak?" tanya istriku.
__ADS_1
"Davina ada di dalam sama neneknya," jawab mbak Melly.
"Oh iya kenapa mbak Melly berapa hari ini tidak ke minimarket? Ku pikir mbak Melly sedang sakit!" tanya istriku.
"Nggak kok, mbak. Aku nggak bisa meninggalkan Davina di rumah.
"Kan aku nggak melarang mbak Melly membawa Davina ke minimarket," ucap istriku
"Iya mbak tapi. . ." dia kembali diam seperti orang kebingungan.
"Tidak betah ya kerja di minimarket saya?" tanya istriku.
"Nggak, bukan masalah itu!" jawab Mbak Melly.
"Jadi kenapa?"
"Beberapa hari ini Davina rewel banget, mbak. Jadi aku nggak bisa ke minimarket. Besoknya aku ingin datang lagi tapi nggak enak hati karena kemarin aku sudah tidak masuk tanpa izin."
"Oh kalau itu tidak masalah kok, mbak. Kalau memang ada halangan mbak bisa telepon ke minimarket. Mbak sudah tahu kan nomornya?"
"Oh iya ,mbak!" sahut mbak Melly.
"Mbak, saya mau tanya apa mbak tahu di mana rumah mantan suami mbak Melly?" tanyaku.
"Bukannya pak Anto sudah tahu di mana rumah mantan suami saya, ya?"
"Iya, rumah yang itu saya tahu tapi kita sudah ke sana tidak ada orangnya. Rumahnya kosong! jawabku.
"Emangnya ada apa ya pak mau bertemu dengan mantan suami saya?" tanya mbak Melly.
"Kita mau cari putri saya Alya. Kemarin saat pulang sekolah,dia di bawa oleh mantan suami mbak dan juga mantan istri saya. Sampai sekarang nggak tahu dimana mereka sedangkan putri saya nggak datang ke sekolah," jelasku.
Mbak Melly langsung menoleh ke arah ku. Wajahnya terlihat kaget. Apa mungkin mbak Melly tidak tahu masalah ini.
"Maksud pak Anto mantan suami saya sudah membawa pergi Alya?"
"Iya, mbak. Saat kemarin kita mau menjemput Alya di sekolahnya ternyata dia sudah di jemput oleh ibunya. Jadi saya pikir mantan suami mbak tahu."
"Setahuku, mantan suamiku nggak punya rumah lagi, pak Anto. Kecuali rumah orang tuanya!" jawab mbak Melly.
"Apa mbak Melly tahu di mana rumah orang tua mantan suami mbak?"
"Sa-saya tahu, pak," jawabnya gugup.
"Kalau boleh tahu di mana ya, mbak? Saya ingin ke sana.
Dia terlihat bingung, "Tapi saya minta tolong ya pak, jangan bilang kalau pak Anto tahu rumahnya dari saya," pinta mbak Melly dengan wajah memohon.
Wajahnya seperti terlihat ragu dan takut, "Tenang saja mbak,kita nggak akan bicara apa-apa, kok. Kita akan merahasiakan kalau mbak Melly yang sudah memberitahukan alamat rumah orang tuanya!" janjiku.
"Baiklah pak. Aku akan kasih tahu di mana rumah mantan mertua saya."
Mbak Melly lalu mengetikkan alamatnya di handphone milik istriku. setelah itu kami berpamitan.
.
.
.
.
.
23
__ADS_1