Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 162


__ADS_3

Setelah pekerjaannya selesai, Andre gegas pulang ke rumah. Malam ini mertuanya meminta mereka untuk menginap di sana. Sebenarnya Andre tidak ingin menginap di sana tapi demi istrinya dia tidak bisa menolak.


Mobilnya baru saja memasuki pagar rumah. Istrinya sudah berdiri di teras menyambut kedatangannya.


"Assalammu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam, mas!" sahut Kanaya sembari mencium punggung tangan suaminya.


"Yuk, masuk!" ajak Andre seraya merangkul bahu istrinya, mereka masuk ke dalam rumah.


"Mas Andre!" seru Annisa.


"Hhmm!" sahut Andre seraya memutar bola matanya. Dia tetap berjalan ke arah kamarnya. Pasti mau nanyain si Darren. Batin Andre.


"Hhmm, mas! Tunggu dulu!"


Andre menghentikan langkahnya, "Ada apa?"


"Hhmm, itu loh. Kak Darren sudah pulang, ya?"


"Hhmm!" sahut Andre lantas segera masuk ke kamarnya.


"Iihhh, mas Andre nyebelin!" sungut Annisa.


"Hahahaa, kasihan deh!" ejek Alina.


"Alin, iihhh!" sungutnya lantas berlari ke lantai atas masuk ke kamarnya.


Di dalam kamar Andre, Kanaya membantu membukakan pakaian suaminya.


"Mas, kenapa bersikap seperti itu pada Annisa?"


"Mas hanya malas membahas tentang Darren!"


"Hhh, aku kok kasihan sama Darren, mas!"


"Hhh, mau gimana lagi. Toh ayah sudah membantunya kerja di minimarket."


"Maksudku, kenapa dia terlihat tertekan seperti yang mas bilang."


"Iya, mas juga nggak tahu! Mungkin karena dia punya masalah di rumah atau di sekolahnya."


"Iya, mas!"


"Mas mandi dulu, ya!" ucap Andre yang gegas masuk ke mandi sedangkan Kanaya meyiapkan pakaian untuk di pakai oleh suaminya ke rumah papinya.


"Hhmm, mas pakai ini saja, deh. Keren kok!" gumamnya sambil tersenyum. "Aahh, suamiku memang sudah keren sih, makanya aku mau. Hehhee!"


Beberapa menit kemudian, Andre keluar dari kamar mandi, "Kenapa tertawa, sayang?"


Kanaya menoleh, "Mas? Harumnya suamiku!" puji Kanaya sembari mengalungkan tangan di leher suaminya. Dia menarik nafas dalam-dalam dengan mata terpejam.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari istrinya membuat Andre menarik tubuh istrinya dalam pelukan.


"Mas!" ucap Kanaya kaget lalu membuka matanya.


Pandangan mereka terkunci. Mereka bisa saling merasakan degup jantung pasangannya yang bertalu-talu.


"Jangan mancing!" tegas Andre.


Kanaya tersenyum malu, "Mas yang duluan mancing!"


"Hhmm, masa?"


Kanaya mengangguk.


Andre lalu memberikan ciuman singkat di bibir ranum istrinya itu.


"Mas. . ."


"Nanti malam, ya!" goda Andre.


"Hhmm, memang sudah setiap malam, kan?" sahut Kanaya dengan suara manja.

__ADS_1


"Hehehee,"


Kanaya melepaskan pelukan mereka, "Mas pakai pakaian dulu, nanti masuk angin!" ucap Kanaya sembari membantu suaminya memakai pakaian.


"Kamu pandai mengurus suami. Siapa yang ajarin, hmm?" tanya Andre saat sudah selesai memakai pakaiannya.


"Hehee, aku sering lihat mami!"


"Oh, ya?"


"Dulu banget, mas. Sewaktu aku kecil kan masih suka tidur sama mami papi."


"Hhmm, ganggu saja, kamu!" ucap Andre sembari mencubit hidung mungil istrinya.


"Mas, iihh! Aku kan anak kesayangan!" ucapnya bangga.


"Iya, mas percaya!"


"Mas, kita jadi ya menginap di rumah papi?"


Hhh, Andre menarik nafas panjang, "Iya, sayang!"


"Aku sudah siapin pakaian mas di tas. Aku bawa beberapa lembar."


"Satu saja, kenapa bawa paiajanmasa banyak-banyak?"


"Buat aku simpan di sana, mas. Jadi kalau mau menginap di sana, nggak perlu lagi bawa pakaian."


"Hhmm, terserah kamu saja!" jawab Andre.


"Nggak boleh ya, mas?"


"Boleh kok, sayang! Mau ke sana kapan? Sore apa malam?"


"Papi mau ajak kita makan malam di restoran. Jadi sekarang saja ya, mas?"


"Hhmm, ya sudah."


Sampai di sana, mereka di sambut hangat oleh mami Kanaya.


"Sayang!" ucapnya sembari memeluk putrinya.


"Apa kabar mami?" tanya Kanaya setelah melepaskan pelukannya.


"Alhamdulillah, mami baik. Bagaimana kabar kalian?"


"Alhamdulillah, kita juga baik, mi!" sahut Kanaya.


"Mi!" sapa Andre seraya mencium punggung tangan mami mertuanya.


"Dre, bagaimana pekerjaanmu? Lancar?" tanya mami ramah.


"Alhamdulillah, semua lancar, mi."


"Syukurlah. Ayo masuk!" ajaknya sembari merangkul Kanaya dan Andre.


"Papi kapan pulang, mi?"


"Sekarang masih di kantor, nak. Mami kesepian. Kamu menikah, papi kamu sering keluar kota dan kakak kamu lebih suka menginap di apartemennya!" keluh mami.


"Hhmm, maafkan aku, mi. Mami sabar, ya!"


"Iya, sayang. Sering-seringlah menginap di sini!"


"Iya, mi!" sahut Kanaya sembari melirik ke arah suaminya yang hanya senyum-senyum saja.


Mereka lalu asik mengobrol santai di dekat kolam renang hingga menjelang maghrib.


Setelah selesai sholat maghrib, mereka keluar dari kamar. Di ruang keluarga sudah ada papinya Kanaya.


Setelah berbincang sejenak, mereka lalu keluar. Naik ke mobil papinya Kanaya menuju ke sebuah restoran untuk makan malam.


Sampai di sebuah restoran mewah, mereka turun dari mobil. Mereka lalu menuju ruangan khusus yang sudah di pesan papi Kanaya sebelumnya.

__ADS_1


Tak lama setelah mereka duduk, ada tiga orang yang ikut masuk. Satu orang wanita seusia mami Kanaya, seorang laki-laki seusia papi Kanaya dan seorang laki-laki muda seusia Andre.


"Tuan Danny!" sapa papi Kanaya ramah seraya berjabat tangan.


"Kenalin, ini putri saya yang dulu sering saya ceritakan itu!" ucap papi Kanaya.


"Wah sudah besar dan cantik, ya!" ucap istri tuan Danny.


Kanaya tersenyum seraya mengulurkan tangannya, "Aku Kayana, tante, om! Oh iya, kenalin ini suami aku!" ucap Kanaya sembari merangkul Andre yang duduk di sampingnya.


Andre pun mengulurkan tangannya, "Andre."


"Dokter spesialis apa, nih?"


"Belum spesialis, tan!" jawab Andre sembari tersenyum.


"Tapi sekarang sedang ambil spesialis, kok. Iya kan, mas?" ucap Kanaya bangga.


Andre hanya tersenyum.


"Oh gitu. Ini kenalin anak tante, Rama. Satu-satunya anak tante dan om!"


Mereka lalu saling berkenalan dan berjabat tangan. Setelah itu mereka kembali duduk.


Tanpa memesan makanan terlebih dahulu, dua orang waiter datang membawakan berbagai macam menu masakan dan menghidangkan di meja mereka.


Beberapa menit berlalu, mereka mulai menghabiskan makanannya.


"Rama ini lulusan luar negeri loh, Kanaya. Baru saja selesai S2nya. Pas pulang, mau tante kenalin sama kamu, eh kamu sudah nikah!" jelasnya.


Kanaya dan Andre saling menatap. Apa maksudnya bicara seperti itu? Batin Andre.


"Iya, tan. Aku sama mas Andre saling cinta jadi kita putuskan menikah!" jelas Kanaya.


"Bukannya menggantikan calon suami kamu yang sudah batalin sepihak itu, ya?"


"Hhmm, i-iya, tan. Tapi sebelum menikah, kami sudah saling cinta! Iya kan, mas?"


Andre tersenyum, "Iya, benar! Karena saya tidak ingin menikah tanpa cinta. Menikah hanya untuk sekali seumur hidup membutuhkan cinta di dalamnya!" ucap Andre pelan namun penuh penekanan.


"Tapi cinta saya tidak cukup. Harus ada materi juga di dalamnya!" tegas tuan Danny.


"Tuan Danny benar!" sahut papi Kanaya.


"Iya, tentu saja! Saya akan berusaha memenuhi kebutuhan materi istri saya!"


"Hhmm, kamu dokter baru, kan? Lihatlah Kanaya yang sudah terbiasa hidup mewah bersama orangtuanya!" ucap tuan Danny.


"Saya pun tidak kesusahan bersama suami saya, om!" sahut Kanaya.


"Ah iya, semoga saja!" ucap tuan Danny.


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo 😊🙏


.


.


.


.


.


22

__ADS_1


__ADS_2