Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 156


__ADS_3

Setelah Andre mencoba menelpon beberapa kali akhirnya panggilan teleponnya diangkat. Terdengar suara seorang perempuan di seberang sana.


"Hallo?"


"Apa ini benar ibunya Darren?"


"Iya benar. Saya sendiri."


"Saya ingin mengabarkan kalau putra anda yang bernama Darren sekarang sedang dirawat di rumah sakit."


"Darren? Ya Allah, Darren. Di mana anak saya dokter?"


"Di rumah sakit Harapan."


"Baiklah dokter, saya akan segera kesana."


"Oke, terima kasih, bu."


Andre lalu memutuskan sambungan teleponnya.


"Darren, saya sudah telepon Ibu kamu. Beliau akan segera datang," jelas Andre.


"Terima kasih, dokter!" jawab Darren Lirih. Wajahnya terlihat muram.


"Kalau begitu saya tinggal dulu, ya!"


"Iya, dokter!"


"Sebelum saya pulang, saya akan kesini lagi. Semoga saja ibu kamu bisa segera datang."


"Iya, dok!"


Andre lalu keluar dari ruangan ranap Darren.


"Duh, bagaimana ini? Kalau sampai papa ikut datang bersama mama ke sini, apa yang akan papa lakukan padaku nanti. Darren terlihat pasrah.


Hari sudah sore hari. Setelah jam kerjanya habis, Andre kembali menemui Darren.


"Darren? Bagaimana keadaanmu sore ini?" tanya Andre.


"Alhamdulillah, aku sudah makin baik, dokter!"


"Alhamdulillah. Bagaimana, apa ibu kamu sudah datang?"


Darren menggeleng lemah, "Belum, dok!"


"Mungkin besok pagi kamu sudah boleh pindah ke ruang ranap biasa."


"Kenapa, dokter?"


"Di sini ruang observasi. Jika kondisi pasien makin parah maka akan di pindahkan ke ruang ICU tapi jika kondisi pasien membaik maka akan di pindahkan ke ruang ranap biasa. Alhamdulillah, kondisi kamu makin baik jadi besok pagi kamu akan di pindahkan ke ruang ranap biasa dulu. Dan kalau besoknya makin baik lagi, kamu sudah boleh pulang!" jelas Andre.


"Hhmm, oh iya dokter, aku mau tanya. Berapa biaya selama aku di rawat di sini?"


"Biayanya? Saya belum tahu karena saya belum menanyakannya sama bagian administrasi."


"Hhmm, dokter. Bagaimana kalau nanti mama saya datang, saya pulang saja?"

__ADS_1


"Pulang? Kamu baru boleh pulang kalau kondisi kamu makin membaik saat di rawat di ruang ranap biasa."


Hhh, pasti mahal biaya aku selama di rumah sakit. Bagaimana ini? Mama nggak punya uang. Apa aku harus pinjam sama pak Anto dan bayarnya pakai uang gajiku nanti. Hhh, hutangku sama Annisa saja belum aku bayar sekarang aku harus berhutang lagi. Tapi bagaimana aku ngomong sama pak Anto, ya? Rasanya malu.


"Kamu kenapa?" tanya Andre heran.


"Hhmm, aku nggak apa-apa, dok. Aku hanya ingin pulang!"


"Kalau pasien memaksa pulang dan nanti terjadi sesuatu, maka dokter dan rumah sakit tidak akan bertanggungjawab! Pasien nggak bisa menuntut!" tegas Andre.


"Tapi boleh pulang kan, dok? Nggak apa-apa, dok. Aku akan tanggung jawab sama diriku sendiri! Aku nggak akan menuntut siapa-siapa!"


Dahi Andre berkerut, "Kalau kamu maksa, kamu bicara saja sama dokter yang lain!" ucap Andre kesal.


Dasar keras kepala.


Hhh, dokter Andre marah. Nanti kalau Annisa tahu aku maksa pulang padahal sudah di larang kakaknya, bisa-bisa dia juga marah. Tapi aku nggak punya uang. Hhh, andai aku nggak lari, aku pasti masih baik-baik saja di rumah. Aku nggak akan sepusing ini memikirkan biaya rumah sakit. Batin Darren.


Mata Darren berkaca-kaca.


"Kamu kenapa melamun! Masih maksa mau pulang?"


"A-aku nggak kenapa-kenapa, dok!" jawab Darren tidak bersemangat padahal saat kedatangan Annisa, dia begitu semangat.


"Ibu kamu belum datang juga sampai sekarang, ya," ucap Andre.


"Hmm, iya, dok. Mungkin masih sibuk!" ucapku bohong.


Entah kenapa mama belum juga datang padahal dokter Andre sudah dari tadi menelpon. Apa karena di larang oleh papa? Hhmm, mungkinkah papa itu bukan papa kandungku?


"Ya sudah, saya mau pulang dulu, ya. Ini sudah sore. Lekas sehat ya, Darren!" pamit Andre.


Andre lalu keluar dari ruang ranap Darren.


Dia lalu pergi ke parkiran hendak pulang ke rumah. Tiba-tiba ada ibu-ibu yang berjalan setengah berlari hampir menabraknya.


"Aduh, maaf!" ucapnya sembari menakupkan kedua tangan di depan dada lantas kembali masuk ke rumah sakit dengan terburu-buru.


"Suara itu. . ." Andre terpaku di tempatnya berdiri dengan mata yang terus menatap ke arah ibu-ibu itu.


"Dokter Andre? Ada apa?" tanya suster yang berpapasan dengannya.


"Hhmm, nggak apa-apa, sus!" jawab Andre.


Dia lalu naik ke mobilnya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke rumahnya.


Sementara Darren sedang melamun. Bingung memikirkan dari mana uang untuk membayar biaya rumah sakit.


Tok tok tok. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


Andre menoleh. Pintupun terbuka.


Ceklek.


"Mama!" panggil Darren.


"Darren!"

__ADS_1


Lisa setengah berlari mendekati putranya yang tengah terbaring lemah dengan selang infus di tangan. Dia lalu memeluk putranya itu.


"Darren! Mama cari kamu kemana-mana, nak!" ucap Lisa dengan tangis yang tiba-tiba pecah menyaksikan kondisi putranya.


"Mama, maafin aku!"


Lisa mengusap lembut pucuk kepala putranya, "Kamu nggak salah, nak! Mama yang salah. Mama nggak bisa membahagiakan kamu!"


"Ma. . ."


Setelah puas, Lisa melepas pelukannya. Dia menatap putra yang di rindukannya itu.


"Kepalamu kenapa di perban, nak? Kamu di tabrak mobil, sepeda motor?" tanya Lisa.


"Aku hampir tertabrak kereta, ma!"


"Apaa?" teriak Lisa.


Air matanya makin deras. Dia kembali memeluk putranya itu sambil menangis tergugu.


"Maafkan mama! Maafkan mama!" Lisa berkali-kali mengucapkan kata maaf.


"Ma, mama nggak salah! Aku yang nakal!"


Lisa melepas pelukannya, "Apa yang terjadi sama kamu, nak? Kenapa kamu sampai hampir tertabrak kereta? Kamu nggak sengaja kan mendekati kereta yang lewat?"


Darren menggelengkan kepalanya, "Aku-aku hanya ingin lari. Tapi kepalaku pusing sementara badanku demam tinggi. Aku nggak sadar kalau aku sedang berdiri di dekat rel. Tiba-tiba kereta lewat dan menyenggol bahuku. Aku langsung terhempas dan jatuh ke bebatuan. Setelah itu, aku nggak ingat apa-apa lagi, ma!" jelas Darren.


"Jangan tinggalin mama lagi, nak. Mama hanya punya kamu!"


"Maafin aku, ma. Aku janji nggak akan tinggalin mama. Aku akan menuruti semua apa kata mama sekalipun mama minta aku untuk menyerahkan nyawaku pada suami mama!"


"Nak, dia itu papa kamu. Papa kandung kamu!"


"Papa kandung tapi memperlakukanku layaknya seorang ayah tiri?"


"Sayang, tolong maafkan papa kamu. Entah sejak keluar dari penjara, papa kamu jadi seperti itu."


"Jadi benar papa pernah di penjara? Gara-gara apa, ma?"


"Hhmm, panjang ceritanya, nak. Biarlah masalah itu jadi masa lalu. Mama nggak ingin mengingatnya lagi!" jelas Lisa yang kembali menangis.


Maafkan mama, nak. Begitu banyak kejadian di masa lalu. Mama nggak sanggup mengingatnya. Sekarang, mama hanya ingin menghabiskan sisa waktu denganmu karena papamu pun sekarang sudah seperti orang lain. Batin Lisa.


.


.


.


Maaf masih banyak typo 😊🙏


.


.


.

__ADS_1


.


19.30


__ADS_2