
Annisa langsung bangkit dari duduknya. Dia menundukkan kepala, tidak berani menatap ayah dan papanya Darren. Wajahnya memerah karena malu, begitupun dengan Darren. Dia bukan hanya malu tapi juga takut.
Anto dan juga David menatap Annisa dan Darren bergantian.
Duh, mati aku. Baru sekali sudah ketahuan. Iihh, kenapa juga aku tadi berani-beraninya cium Annisa. Dia juga nggak nolak lagi. Hhh, setiap ketemu rasanya memang ingin banget meluk dia. Gila kamu Darren. Darren membatin.
Malu aku. Ayah marah nggak, ya. Jangan-jangan nanti aku nggak boleh lagi ketemu sama kak darren. Annisa pun membatin.
"Sudah lama sadarnya?" tanya David dingin dan datar membuat Darren gemetar.
"Ba-baru," jawab Annisa dan Darren hampir berbarengan.
"Hhmm,"
"Nis, kita pulang!" titah Anto.
Annisa menoleh ke arah ayahnya, "A-ayah?"
"Kita pulang dulu, pak," pamit Anto lantas menoleh ke arah Darren, "Lekas pulih, Darren. Kita pulang dulu."
Darren hanya mengangguk tanpa berani membalas tatapan Anto maupun papanya.
Anto pun langsung menggamit tangan putrinya. Annisa menurut saja tanpa berani menolak. Dia menoleh sekilas ke arah Darrren.
Anto terus menggamit tangan putrinya sampai ke parkiran. Membuka pintu dan menyuruh putrinya masuk. Dia pun masuk ke dalam mobil lalu menghidupkan mesin mobil.
"A-ayah. Tadi itu aku,"
Annisa menoleh lagi ke arah ayahnya yang terus diam tidak seperti biasanya.
"Ayah?"
Sampai tak terasa mobil sudah memasuki halaman rumahnya, Anto tetap diam.
Annisa terlihat sedih, matanya berkaca-kaca. Dia mulai takut dan berpikir yang tidak-tidak.
Annisa langsung masuk mencari bundanya.
"Bunda," Annisa langsung memeluk bundanya dengan mata berkaca-kaca.
"Ada apa sayang? Kenapa nangis?" tanya bundanya bingung.
Annisa menghapus air matanya, "Aku mau ngomong sama bunda," ucap Annisa.
"Iya, bunda dengerin, nak," sahutnya. "Mas? Annisa kenapa?" tanya Santi saat melihat suaminya masuk.
"Mas ke minimarket dulu, ya," pamit Anto tanpa menjawab pertanyaan istrinya.
"Hhmm, bunda antar ayah dulu ya, nak," ucap Santi lantas melepaskan pelukan putrinya.
Annisa langsung naik ke atas menuju kamarnya.
"Mas, kenapa Annisa? Darren baik-baik saja, kan?"
"Hhmm, Darren sudah sadar, kok."
"Tapi kenapa putri ayah sedih begitu?"
"Hhh, kamu tanyakan saja sama anaknya."
"Hhmm, ayah sama anak kok bikin bingung semua," protes Santi.
"Mas buru-buru, sayang!"
"Hhmm, baiklah mas. Hati-hati di jalan, ya," ucap Santi sembari mencium punggung tangan suaminya. Anto pun tak lupa mencium dahi istrinya penuh kasih sayang.
Santi lalu menyusul Annisa ke kamarnya. Putrinya itu sedang tidur dengan tertelungkup.
"Sayang?" Santi duduk di sisi tempat tidur.
Annisa bangkit lalu memeluk bundanya.
"Bun, ayah marah sama aku," ucap Annisa sedih.
__ADS_1
Dahi Santi berkerut, "Ayah marah sama kamu? Marah kenapa, nak?" tanya Santi kaget.
Annisa lalu menceritakan kejadian di ruang ranap Darren.
"Aku-aku nggak sadar kenapa kita. . . Maafin aku, bun" Annisa terisak sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Santi menarik nafas panjang lalu merangkul putrinya itu.
"Itu yang pertama?"
Annisa mengangguk.
"Nggak lebih dari itu, kan?"
Annisa kembali mengangguk.
"Hhh, baiklah, nak. Adek mau nggak janji sama bunda, hmm?"
"Janji apa, bun?"
"Itu pertama dan terakhir. Jangan di ulangi lagi. Kalau sampai terjadi, maka terpaksa bunda akan langsung menikahkan kalian berdua. Tak peduli kamu masih sekolah."
Annisa melepaskan pelukannya, "Menikah?"
"Iya. Supaya tidak terjadi hal yang lebih dari itu."
"Hhmm, i-iya, bun."
"Itulah sebabnya ayah dan bunda tidak mengijinkan kalian pacaran kalau masih sekolah, nak. Kamu mengerti kan, nak?"
Annisa mengangguk, "I-iya, bun. Jadi bunda nggak marah?"
"Maunya bunda marah, nggak?"
"Hhmm, bunda. Ya nggak mau," ucap Annisa dengan wajah sedih.
"Jadi janji jangan di ulangi lagi, ya!"
"Hhmm, itu baru anak bunda!" lalu Santi memeluk putrinya.
Di ruangan ICU di mana Darren sedang di rawat. Dia terus saja menunduk takut menatap wajah papanya. David berdiri dengan menyilangkan tangan di depan dada.
Kalau nggak sedang sakit, papa sudah marahin habis-habisan kamu, Darren. Hh, walau papa mempunyai masa lalu buruk tapi Papa tidak ingin kamu seperti papa, nak.
"Sudah sering seperti itu, hhmm?" tanya David dengan tatapan curiga ke arah Darren.
Darren menoleh sekilas ke arah papanya, "Ng-nggak, pa. Baru tadi. Kita-kita biasanya berjauhan," jawab Darren terbata-bata.
"Yakin kamu, hmm?"
"I-iya, pa."
"Hhmm, sedang sakit sempat-sempatnya godain anak gadis orang! Kamu nggak lihat wajah ayahnya tadi, hnm?"
"Ma-maafin aku."
"Minta maaf sama orangtua gadis itu!"
"I-iya, pa. Aku nanti akan minta maaf!"
"Jangan di ulangi lagi!"
"I-iya, pa."
"Kalau sampai kamu ulangi, papa akan bawa kamu pergi jauh supaya kamu nggak bisa ketemu lagi dengan gadis itu. Mengerti! Malu-maluin saja!" David mendengus kesal.
Darren bergidik, "Iya, pa."
"Ya sudah, papa keluar dulu. Mamamu mau masuk."
"Iya, pa."
Untung saja papa nggak marah-marah. Tapi ini kan di rumah sakit, apa mungkin nanti kalau sudah di rumah marah-marahnya, ya. Aahh, aku sakit saja terus biar nggak di marahin papa.
__ADS_1
Tak lama kemudian Lisa masuk. Dia langsung memeluk putra tercintanya itu.
"Sayang!"
"Hhmm, mama," Darren membalas pelukan mamanya. Aahh, nyaman banget setiap di peluk mama. Papa mana pernah peluk aku.
"Bagaimana keadaan kamu, nak?" tanya Lisa sembari menatap intens wajah putranya.
"Kaki aku sakit, ma," jawabnya manja.
"Iya, nak. Sabar, ya."
"Apa bisa sembuh, ma? Apa aku bisa jalan lagi?"
"In Sya Allah, bisa kok. Nanti kalau sudah sembuh dan kamu sudah kuat, kamu terapi saja ya. Supaya kaki kamu pemulihannya cepat."
"Tapi kan mahal, ma. Biaya rumah sakit juga mahal, kan. Katanya aku di operasi."
"Kamu nggak usah mikirin biayanya. Kamu pikirkan saja kesembuhan kamu, ya. Kamu nggak ingin kan Annisa cari pacar lain?"
"Iihh, mama. Aku sama Annisa nggak pacaran, kok."
"Nggak pacaran? Jadi teman tapi mesra?"
Wajah Darren memerah, "Mama, iihh!"
"Jadi apa, donk?"
"Aku-aku sayang sama Annisa, ma," jawab Darren malu-malu.
"Hhmm, kalau sayang di jagain, ya. Anak gadis orang masih sekolah!" ucap Lisa seraya tersenyum.
Dahi Darren berkerut. Kok mama bilang gitu? Apa papa cerita ya kalau aku tadi cium Annisa. Darren membatin.
"Hhmm, ma. Papa bilang apa sama mama?"
"Bilang apa?"
"Hhmm, aku-aku tadi cium Annisa. Di lihat papa sama ayahnya Annisa," jelas Darren dengan wajah memerah.
"Kamu cium Annisa?"
Darren mengangguk, "Ng-nggak sengaja, ma."
"Kok bisa nggak sengaja?"
"Tadi-tadi Annisa bantuin aku terus kita jadi berdekatan gitu. Aku,"
Lisa tersenyum, "Kamu sayang sama Annisa, kan?"
Darren mengangguk, "Sayang banget, ma!"
"Kalau gitu, jangan kamu ulangi lagi ya, nak. Kasihan dia masih sekolah!"
"Jadi tunggu dia lulus sekolah?"
"Darren!"
Darren menggaruk kepalanya yang memang gatal, "Hehee, iya, ma. Aku nggak akan gitu lagi. Tapi aku masih boleh kan dekat-dekat dia?"
"Hhmm, ya kamu tanya saja sama ayahnya boleh apa nggak. Kalau kamu mau melindungi dia, pasti ayahnya nggak akan larang. Makanya dia di jagain. Bukan hanya dari orang lain tapi juga dari diri kamu juga!"
"Iya, ma!"
.
.
.
.
6
__ADS_1