
...***...
...Yang aku punya hanya rindu...
...Yang aku punya hanya cinta...
...Yang aku punya semua hanya untukmu...
...Aku sudah terbiasa dengan kerasnya hidup...
...Aku sudah terbiasa dengan penolakan...
...Aku pun sudah terbiasa bersabar dalam hidup...
...Aku juga terbiasa menahan sakit...
...Aku yang tidak terbiasa jika tanpa kamu...
...Andai bersabar bisa membuatku memilikimu...
...Andai menunggu bisa membuat kita bertemu...
...Andai cintamu pun untukku...
Yakinlah aku akan tetap di sini tanpa batas waktu
...***...
Rasanya Darren ingin menyampaikan perasaan hatinya. Tapi bagaimana dia tidak tahu caranya.
Aahh, Annnisa. Kakak sangat merindukanmu.
"Kamu kenapa dari tadi melamun?" tanya Lisa heran.
"Ma, kapan aku bisa pulang?"
"Selalu itu yang kamu tanyakan. Bukankah dokter sudah bilang tadi pagi?"
Darren menarik nafasnya berat. Dia hanya bisa pasrah. Menunggu kesembuhan.
"Ma, aku mau keluar. Bosen di sini nggak ada matahari."
"Kaki kamu belum boleh banyak bergerak, nak. Kamu buang air saja masih di tempat tidur kok mau melihat matahari. Nanti kalau kaki kamu kenapa-kenapa, nyesel deh!" gerutu mamanya.
Darren mendengus kesal. Dia meraih remot tv lalu menyalakan tvnya. Pandangannya ke arah tv tapi dia tidak terlalu memperhatikan acara tvnya. Seandainya punya handphone, mungkin dia tidak terlalu bosan, bisa chat bahkan video call dengan seseorang yang dia rindukan.
***
Dua orang laki-laki muda sedang terlibat obrolan serius.
"Jadi bagaimana?"
"Masih di kejar sama polisi. Keluarganya pun nggak tahu di mana dia sekarang."
"Hhmm, itu sudah jelas dia kabur karena takut."
"Pasti. Jadi menurutku, Darren nggak usah lagi kerja di sana."
__ADS_1
"Iya, bener. Kita nggak tahu teman-temannya."
"Darren itu anaknya nggak macem-macem tapi selalu ada yang nggak suka. Di kampus pun ada saat dia bantu Alya."
"Kalau di kampus, itu jadi urusan kamu, Kev. Kamu punya kuasa juga di sana, kan."
"Hhh, iya. Aku akan berusaha menjaganya kalau di kampus."
"Hhh, dan hubungannya dengan Annisa, bikin aku tertawa saja."
"Hahaa, iya. Tapi nggak apa-apa. Itu bisa mempererat hubungan kalian dengan ibu, bukan."
"Iya. Biarkan saja masa lalu pergi. Alya juga sudah mengikhlaskan. Dia yang paling tersakiti saat itu."
"Iya, aku juga ingin Alya nggak mikir yang berat-berat. Aku ingin dia cepat hamil."
"Gampang itu. Tiap malam saja. Hahahaa!"
"Aahh, bukan lagi tiap malam tapi bisa semalaman. Sampai subuh kalau perlu!"
"Aahh, gimana mau jadi kalau kelelahan. Itu juga nggak bagus."
"Lah, tadi bilangnya tiap malam saja?"
"Hehee, bawalah dia ke dokter kandungan langganan Kanaya."
"Iya, nanti aku ajak dia. Tapi hari ini dia mau masukin lamaran ke kantor pengacara sama kantor notaris."
"Dia jadi mau kerja?"
"Iya."
"Iya. Walau pun kehamilannya nanti sehat, aku tetap ingin dia di rumah saja."
"Itu terserah kamu sebagai suaminya. Aku yakin adikku tidak akan membantah ucapan suaminya."
"Iya, tapi kalau dia sudah berkeinginan, rasanya aku tidak tega melarangnya. Kamu tahulah. Menemukan orang yang bisa membuat kita merasakan cinta itu sangat sulit. Dan yang aku pikirkan hanyalah bagaimana membuat dia merasa bahagia dan nyaman bersamaku!"
"Iya, aku tahu. Tapi tetap kamu harus tegas sebagai suami. Aku tidak akan melarang kamu keras padanya selama tindakan kamu itu benar."
"Ya, kamu nggak tahu sebesar apa cintaku pada adikmu itu. Aku takut membuatnya sedih."
"Hhmm, jangan terlalu buta dalam mencintai. Kalau memang istrimu salah, tegurlah dengan halus. Itu tidak akan membuatnya sedih."
"Hhmm."
***
Satu minggu Darren di rawat. Dia mulai menggunakan tongkat untuk membantunya jika ingin ke kamar mandi. Terkadang papanya yang menjaga. Walau tidak banyak bicara, setidaknya papanya sudah tidak pernah kasar lagi. Lebih bisa menahan diri jika putranya membuatnya kesal.
"Pa, aku boleh keluar?" pinta Darren dengan wajah takut.
"Ngapain keluar?"
"Aku bosan di sini, pa."
"Hh, kamu itu ada-ada saja. Di sini saja," jawab papanya Darren malas.
__ADS_1
Wajah Darren terlihat sedih. Dia berdiri di dekat jendela. Hanya langit biru berhias awan putih yang bisa dia pandangi.
Ah, mama kok lama banget pulangnya. Darren membatin kesal.
Dia perlahan berjalan kembali ke tempat tidurnya. "Berjalan beberapa menit menggunakan tongkat ternyata sangat melelahkan. Tapi mama bilang aku harus tetap bersyukur karena kakiku tidak sampai lumpuh. Iihh, kalau sampai lumpuh, boro-boro mau mendekati Annisa, kerjaanku paling hanya bisa tiduran saja setiap hari," gumamnya.
Darren kembali melirik ke arah papanya yang asik nonton tv.
Papa sekarang sudah berdamai dengan pak Anto. Semoga aku bisa segera sembuh dan bisa bekerja lagi di minimarket milik pak Anto. Pasti papa nggak akan melarang. Ahh, ternyata ada hikmahnya juga aku kecelakaan. Annisa, jalan kita bersama sudah terbuka lebar. Cepatlah lulus, kakak akan langsung nikahin kamu. Darren tersenyum sendiri membayangkannya.
***
Keesokan harinya adalah jadwal Darren bertemu dengan dokter rehab medik. Hari pertama sangat melelahkan. Antrian sangat panjang. Setelah mengantri di depan poli rehab medik, dia juga harus mengantri di depan ruang terapi. Pusat terapi yang ada di rumah sakit begitu ramai. Lisa dengan sabar menemani putra tercintanya.
"Lama, ma," keluh Darren.
"Sabar," sahut Lisa.
Siang hari mereka baru selesai dan kembali lagi ke kamarnya, ternyata sudah ada Annisa dan Alina di temani ayahnya. Ayahnya terlibat obrolan seru berdua sedangkan si kembar duduk manis memainkan handphone di tangan.
"Ada Annisa sama Alina," ucap Lisa ramah.
"Iya, tante," sahut Alina tak kalah ramah. Annisa dan Darren saling curi-curi pandang.
"Aku mau ke kamar mandi, ma," ucap Darren.
Dengan di bantu oleh mamanya, Darren pergi ke kamar mandi yang masih dalam satu ruangan.
"Mimpi apa aku Annisa datang ke sini," gumam Darren sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin kaca.
"Wajahku makin bersih sejak di rumah sakit. Lama nggak kena matahari. Baru tadi pagi saja kena matahari karena konsultasi sama dokter rehab medik. Semoga aku bisa cepat jalan lagi."
Darren membasuh mukanya supaya terlihat lebih segar. Dengan mengulas senyum, Darren keluar dari kamar mandi.
Mamanya menunggu di depan pintu kamar mandi lalu membantu putranya kembali berbaring. Walau tubuhnya terasa lelah tapi saat melihat sang pujaan hati, rasa lelah itu langsung hilang.
Annisa ingin mendekat ke ranjang Darren tapi dia takut ayahnya marah walau tidak akan memarahinya. Dengan ayahnya bersikap diam dan dingin, itu sudah menunjukkan kemarahannya dan itu sangat tidak enak. Annisa jadi tidak bisa bermanja-manja seperti biasa.
"Alina dan Annisa sudah lama datang?" tanya Lisa.
"Baru saja kok, tante. Kita pulang sekolah mampir sebentar jenguk kak Darren," Alina yang menyahut.
"Oh iya. Terimakasih ya, oleh-olehnya, malah merepotkan kalian saja. Sudah di kunjungi saja, Darren sudah seneng," ucap Lisa.
Setelah mengobrol beberapa menit, Anto mengajak kedua putrinya pulang.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
00