
Pemilik ruko lalu menghampiri kami, "Ada apa lagi ini?" tanyanya.
"Ini,pak. Saya sudah pesan bubur lebih dulu eh dia main serobot saja!" jawab David emosi.
"Saya yang antri duluan di sini!" sahutku tidak mau kalah.
"Tidak bisa!" David tetap ngotot.
"Ya sudah saya nggak mau ribut sama situ. Ambil saja semua!" ucapku lalu hendak pergi dari sana.
Tapi tiba-tiba bapak penjual bubur menghampiri kami, "Ini satu orang satu!" ucapnya ke arah David lalu memberikan hanya satu kantong saja.
"Saya punya uang buat bayar! Saya bukan peminta-minta!" ucap David sombong.
"Loh,saya hanya mau kasih daripada rebutan!" ucap bapak penjual bubur.
"Huuhh,ambil nih saya nggak butuh!" ucap David yang memberikan lagi bungkusan ke tangan bapak penjualnya lalu segera pergi dari hadapan kami. Sebelum dia keluar dari ruko,dia menoleh seraya menunjuk ke arahku, "Urusan kita belum selesai!" ancamnya kemudian. Dia lalu melajukan sepeda motornya dengan suara kencang.
"Huuu! Dasar orang aneh!" ucap juru parkir kesal.
"Sabar ya,pak." ucap pemilik ruko.
"Sepertinya mas yang tadi benci banget sama mas,ya?" ucap juru parkir padaku.
"Hhmm,mungkin!" sahutku. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya tentang masalahku dengan David.
"Ya sudah biarkan saja,mas. Orang seperti itu nanti kena batunya. Lah,dia yang salah kok malah ngotot."
"Iya,saya nggak apa-apa kok,pak. Terimakasih. Ini buburnya saya bayar," ucapku seraya menyerahkan uang.
"Buat masnya saya kasih gratis saja. Tadi kan buburnya jatuh."
"Nanti bapak rugi?"
"Oohh,nggak kok. Saya nggak akan rugi. Tapi masnya jangan kapok beli bubur di saya,ya."
Aku tersenyum, "In sya Allah saya nggak akan kapok kok,pak!" sahutku.
"Alhamdulillah."
"Terimakasih ya,pak. Saya permisi dulu. Istri saya pasti sudah nungguin," pamitku.
"Oalah. Semoga istrinya sabar,ya."
"In sya Allah."
Aku segera naik ke mobil. Pasti Santi sudah kelamaan nunggu. Aku lalu melajukan mobil dengan sedikit cepat.
Tidak sampai sepuluh menit aku sudah sampai di minimarket. Gegas aku turun dari mobil lalu pergi menumui istriku di kantor.
"Assalammu'alaikum," ucapku seraya membuka pintu.
Ternyata istriku sedang tiduran di sofa, "Wa'alaikumsalam,mas!" sahutnya lantas segera duduk.
"Maaf,yank. Lama ya nunggunya."
"Hhmm,kenapa lama,mas? Jauh ya?"
Hhh,aku menarik nafas berat lalu duduk di sebelahnya seraya membuka bungkusan bubur ayam. Aku lalu menceritakan kejadian di tempat penjual bubur ayam tadi.
__ADS_1
"Astagfirullah,kok bisa,mas?"
Aku mengedikkan bahu.
"Tapi bahu mas nggak apa-apa,kan?" tanyanya khawatir seraya memeriksa bahuku, "Agak kebiruan,mas. Sakit banget pasti ini!"
"Hhhmm,tadi hanya terasa sedikit sakit,yank. Tapi nggak apa-apa,kok!" sahutku supaya dia nggak makin khawatir.
"Hhmm,maafin aku ya,mas. Gara-gara aku minta bubur ayam,mas jadi kena masalah sama orang itu!" ucapnya penuh sesal.
"Nggak apa-apa kok,yank."
"Hhmm,padahal seharusnya mas yang marah dan dendam sama dia tapi kok malah dia yang seperti itu. Benar-benar orang yang aneh!" ucap istriku kesal.
"Sudah jangan di pikirin! Ayo di makan buburnya! Apa mau mas suapin,hhmm?"
"Aku makan sendiri saja,mas. Bahu mas kan sedang sakit!" tolaknya.
"Sakit sedikit kok,yank. Cuma suapin saja kok. Kalau gendong kamu bisa nggak,ya?"
"Hhmm,nggak usah gendong aku,mas!"
"Hhhmm,tapi mas suka gendong kamu!"
Dia tersenyum, "Nanti saja kalau bahunya sudah nggak sakit lagi!"
Aku mengangguk, "In sya Allah besok sudah nggak sakit lagi kok,yank! Sini mas suapin!"
***
Hari sudah menjelang malam dan waktunya minmarket tutup. Istriku lalu memanggil mbak Melly ke kantor.
"Loh,aku kerja belum satu bulan,mbak. Baru sepuluh hari," tolaknya.
"Nggak apa-apa,mbak Biar gajiannya bareng sama yang lain!" jelas istriku.
"Oalah,terimakasih banyak mbak Santi. Semoga kebaikan mbak Santi di balas oleh Allah!"
"Aamiin! Terimakasih doanya,mbak!" sahut istriku.
"Kita pulang bareng saja,mbak. Nanti kita anter mbak sampai rumah!" ucap istriku.
"Hhmm,nggak usah repot-repot,mbak. Saya naik gojek saja!" tolak mbak Melly.
"Oh,jangan! Malam-malam bahaya! Kita anter saja!" tegas istriku.
Sebelum pulang ke rumah,terlebih dahulu aku mengantar mbak Melly sampai ke rumahnya.
"Terimakasih,mbak Santi. Pak Anto!" ucap mbak Melly saat turun dari mobil.
"Iya sama-sama,mbak!" sahut istriku.
Baru saja mbak Melly melangkahkan kakinya,tiba-tiba ada yang menarik tangannya. Mencengkeramnya dan memaki-makinya.
"Oh begini kamu sekarang,ya! Jalan dengan laki-laki sampai malam dan anak kamu terlantarkan! Dasar perempuan nggak bener kamu!" bentak orang itu yang ternyata adalah David.
Mbak Melly memang tidak mengajak putrinya ke minimarket karena saat dia mau pergi,Davina baru saja tertidur dan dia tidak ingin mengganggu tidur putrinya.
"Mas,kenapa itu?" tanya istriku kaget dan cemas.
__ADS_1
"David!" gumamku.
"David?" tanya istriku bingung karena dia tidak tahu nama mantan suami dari mbak Melly.
"David,mantan suami mbak Melly!" jawabku.
Kami lihat David masih marah-marah dan terus menarik mbak Melly sampai ke rumahnya.
"Mas,coba tolongin dia!" pinta istriku.
"Hhh,nanti pasti ribut,yank! Kita lihat kalau sampai dia macam-macam,mas akan turun!"
"Hhmm,kalau gitu kita jangan pulang dulu,mas!"
Aku mengangguk.
Lima menit kemudian sudah tidak terdengar lagi suara David. Mungkin dia sudah tidak lagi marah-marah.
"Kita pulang saja,yank. Kalau sampai dia lihat mas nanti salah paham."
"Kenapa salah paham,mas. Kan ada aku."
"Kamu nggak tahu kalau si David itu suka cari gara-gara sama mas. Mas nggak mau ribut,yank!"
"Hhhmm,ya sudah kita pulang saja,mas!" ajak istriku kemudian.
Aku mengangguk lantas segera melajukan mobil meninggalkan halaman rumah mbak Melly.
"Kasihan ya mas,mbak Melly. Padahal sudah pisah harusnya jangan lagi ikut campur kehidupan mbak Melly. Dia sudah nggak ada hak mau marah-marah. Iihh,kesel aku lihatnya!" ucap istriku emosi.
"Sudah,yank. Kamu nggak usah mikiran urusan orang. Jangan jadi pikiran kamu. Selain tubuh kamu yang nggak boleh capek,pikiran kamu juga nggak boleh capek!"
"Hhmm,iya mas."
Untung saja kedua anakku sùdah tertidur di mobil jadi mereka tidak melihat kejadian tadi. Mereka sudah mengenal David sebagai suami baru dari ibunya.
"Semoga mbak Melly dan anaknya nggak kenapa-kenapa. Lagipula ada orang tuanya mbak Melly kan di rumahnya," ucapku.
"Iya,semoga saja ya,mas."
Tidak sampai setengah jam,kami sudah tiba di rumah. Aku menggendong putriku lalu membawanya ke kamar.
"Aahh!" jeritku tertahan karena bahuku rasanya sakit banget. Aku gegas membaringkan Alya ke tempat tidur.
"Kenapa sakit banget,ya?" gumamku seraya memijat-mijat bahuku pelan.
.
.
.
.
.
.
23
__ADS_1