
Alhamdulillah pagi ini bahuku sudah berkurang sakitnya. Aku bisa melakukan aktifitas seperti biasa. Rencananya hari ini aku akan mengantar anak dan istriku ke rumah ibu.
"Ayo,nak. Kalian sudah siap,belum?" teriak istriku yang sedang sibuk membungkus buah-buahan untuk oleh-oleh di dapur.
Putriku berlarian mendekati bundanya, "Bunda,sini aku bantuin!" ucapnya.
"Sudah selesai kok,nak!" sahut istriku.
"Sini biar mas saja yang bawa!" ucapku.
Setelah semua siap,kami lalu pergi ke rumah ibuku mumpung masih pagi. Satu jam perjalanan akhirnya kami sampai juga. Ibu sudah menunggu kami di teras saat kami datang. Beliau langsung memeluk putriku.
"Alya,nenek kangen banget!" serunya sambil menciumi pipi putriku.
"Alya juga kangen sama nenek!" sahut putriku.
Istriku lalu mendekati ibu dan mencium punggung tangannya takjim. Ibuku lalu memeluknya.
"Bagaimana kabarmu,nak?" tanya ibu pada istriku.
"Alhamdulillah baik-baik saja,bu. Bagaimana kabar ibu?" istriku balik bertanya.
"Alhamdulillah,kabar ibu juga baik-baik saja. Ayo kalian masuk!" ajak ibuku.
Kami lalu masuk ke rumah. Istriku membawa oleh-oleh yang dia bawa ke dapur.
"Kenapa harus bawa oleh-oleh segala,merepotkan sekali," ucap ibu.
"Nggak apa-apa kok,bu. Hanya sesekali juga," sahut istriku.
Kami lalu ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Kedua anakku main dengan keponakanku,Lani. Mereka terlihat sangat bahagia karena sudah lama mereka tidak bertemu.
"Kalian sudah makan,belum?" tanya ibuku.
"Tadi kita sudah sarapan kok,bu," jawab istriku.
"Kebetulan ibu sedang memasak untuk makan siang. Ayo bantu ibu di dapur!" ajak ibu pada istriku.
Mereka lalu pergi ke dapur untuk memasak. Aku lantas mengikuti mereka ke dapur.
"Bu,aku mau ke minimarket sebentar,ya. Nanti aku kesini lagi!" pamitku.
Aku lalu menoleh kearah istriku, "Mas ke minimarket dulu ya? Nggak apa-apa kan kamu di sini dulu?"
"Iya nggak papa kok mas. Mas hati-hati di jalan ya!" ucapnya.
Aku mengusap sebentar perut Istriku yang masih rata. Setelah itu aku keluar rumah untuk berpamitan pada kedua anakku.
Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Satu jam lebih aku baru sampai ke minimarket. Aku lihat minimarket lebih rame dari hari biasanya mungkin karena hari ini hari minggu.
Aku bekerja seperti biasa. Menjelang siang saat aku ingin pulang,mbak Melly belum juga datang padahal jam sudah menunjukkan pukul dua belas lebih. Biasanya wanita itu sebelum jam dua belas sudah sampai ke minimarket.
Bagaimana jika dia tidak datang? Sementara istriku sudah berapa kali menelpon menanyakan kapan aku akan pulang. Akhirnya aku pulang tanpa menunggu mbak Melly datang.
Aku sengaja pulang lewat rumah mbak Melly. Sepanjang jalan aku pun tidak melihat dia. Mungkin dia naik angkot atau naik go-jek. Batinku.
Saat aku lewat depan rumahnya pun rumahnya terlihat sepi.
Setelah yakin aku kembali melajukan mobil pulang ke rumah ibuku.
Sampai di rumah ibu,aku lihat istriku sedang berdiri di depan pintu,menatap ke arahku.
"Assalammu'alaikum," ucapku.
"Wa'alaikumsalam," sahut istriku seraya mencium punggung tangaku takjim, "Kok lama,mas?" tanyanya.
"Maaf,ya sayang. Kamu sudah makan,kan?" tanyaku. Tadi saat dia menelpon,aku memang memintanya duluan makan bareng yang lain,tidak usah menungguku.
__ADS_1
Dia menggelengkan kepalanya, "Aku nunggu mas!"
Dahiku berkerut, "Loh sudah jam berapa ini? Hhh,ayo makan sekarang!" ajakku lalu buru-buru mengajaknya ke dapur.
"Ibu tadi sudah paksa Santi makan tapi dia maunya nunggu kamu,nak!" jelas ibuku. Istriku hanya tersenyum malu.
Aku menggeleng lalu memintanya segera duduk, "Mas ambilkan,ya. Kamu mau makan sama apa?"
"Aku saja yang ambilkan,mas!" sahutnya lalu mengambilkan nasi dan lauk ke piring kami berdua.
Tiba-tiba raut wajah istriku berubah. Dia lalu menutupi mulutnya dengan tangan. Detik berikutnya istriku berlarian ke kamar mandi dan aku buru-buru menyusulnya.
"Hoeks,hoeks!" istriku muntah-muntah di kamar mandi.
Aku lantas memijat-mijat tengkuknya. Setelah mulai reda,istriku membasuh wajahnya dengan air.
Wajah putihnya memerah dengan titik air di sudut matanya. Aku lalu merangkulnya keluar dari kamar mandi.
"Ada apa?" tanya ibu cemas.
"Santi muntah-muntah,bu," jawabku.
"Hhhmm,apa kamu sedang isi?" tanya ibu pada istriku.
Kami berdua saling pandang. Lalu istriku mengangguk, "Iya,bu," sahutnya sambil tersenyum.
"Alhamdulillah,sudah ibu duga!" sahut ibu.
"Kok bisa,bu?" tanyaku heran.
"Ibu kan sudah tua. Sudah pengalaman!" tegasnya.
"Hhmm," aku hanya tersenyum tipis.
"Apa mau ibu masakin yang lain?" tanya ibu kemudian.
Istriku menggelengkan kepalanya, "Aku nggak ingin makan,bu," jawabnya pelan.
"Hhmm,iya bu. Nanti aku makan," sahut istriku akhirnya.
"Mas suapin,ya?" tanyaku berharap dia mau.
"Hhmm,iya deh mas!"
Kami pun makan sepiring berdua. Tapi istriku hanya makan beberapa suap saja karena tiba-tiba dia seperti mau pingsan.
"Kamu kenapa,yank?" tanyaku cemas.
"Kepalaku," jawabnya lirih.
Aku lalu menuntunnya ke ruang tamu,duduk bersandar di sofa. Wajahnya sedikit pucat.
"Ajak istirahat di kamar saja,nak!" titah ibu.
"Yuk,kita ke kamar saja!" ajakku.
"Tapi,mas?"
"Nggak apa-apa,yuk!"
Aku langsung menggendong istriku ke kamar ibu. Dia sepertinya merasa nyaman dengan berbaring.
"Kamu mau makan apa,hhmm? Nanti mas belikan."
"Aku sedang nggak ingin makan apa-apa,mas. Perutku tiba-tiba terasa nggak nyaman!"
"Buah,bubur,kue?"
__ADS_1
"Hhmm,nanas,mas."
"Nanas? Ya nggak boleh,yank!" tegasku.
"Hhhmm," dia terlihat murung.
"Yang asem-asem,ya?"
Dia mengangguk, "Iya,mas!"
"Mas belikan rujak,ya?"
"Heemm."
"Ya sudah kamu tunggu di sini saja,ya. Istirahat."
"Jangan lama-lama ya,mas!"
"Iya,sayang! Mas pergi dulu!" pamitku kemudian mencium dahinya lembut.
Aku gegas keluar kamar. Ada ibu dan Aminah sedang menonton tv.
"Bagaimana istri kamu,nak?"
"Kepalanya pusing dan perutnya mual,bu. Aku mau belikan rujak buah dulu!" jelasku.
"Ibu bikinkan saja,ya?" tawar ibu.
"Buahnya ada,bu?"
"Ibu beli di warung ada,kok."
"Biar aku saja yang ke warung,mas!" ucap adikku Aminah.
"Ya sudah," sahutku lalu mengambil uang di dompet.
"Nggak usah. Pakai uang ibu saja. Tadi istri kamu kasih ibu uang,kok!" ucap ibu.
"Ya sudah kalau gitu," sahutku.
Aminah lalu pergi ke warung mencari buah. Setengah jam kemudian dia pulang dengan membawa beberapa macam buah segar. Ibu segera membuat bumbu rusak sementara Aminah mengupas buahnya.
Setelah semua siap,aku memanggil istriku yang sedang istirahat di kamar ibu.
"Yank,rujaknya sudah siap. Yuk!" ajakku lalu memapahnya ke ruang tamu.
"Bagaimana apa kamu suka?" tanya ibu setelah istriku mencicipi rujaknya.
"Hhmm,enak banget,bu!" sahut istriku senang.
"Jangan banyak-banyak makannya,kamu kan makan nasi sedikit banget tadi!" ucapku.
"Hhmm,iya mas!" sahutnya.
Aku pun ikut menemaninya makan rujak.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
23