
Pagi ini aku dan istriku akan terbang ke luar negeri. Pesawat yang kami tumpangi akan terbang pada pukul delapan pagi jadi aku masih sempat mengantar kedua anakku ke sekolah.
Perjalanan kami menempuh waktu hampir dua jam. Aku yang untuk pertama kalinya naik pesawat sedikit merasa takut,jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya seperti saat sedang mengajak istriku terbang ke surga dunia saja.
Namun tentu saja perasaan itu aku tutupi dari istriku. Aku tidak ingin dia menertawakanku. Huuhh,ada-ada saja.
Aku memegang erat tangan istriku.
"Mas kenapa?" tanya istriku heran.
Aku menoleh ke arah istriku yang memilih duduk di dekat jendela, "Mas nggak kenapa-kenapa,kok. Hanya ingin memegang tanganmu saja. Mungkin kamu takut," jawabku yang tentu saja bohong.
"Hhmm,aku nggak akan takut kan ada suamiku yang akan selalu menjagaku! Tapi tangan mas dingin banget!"
Aku menarik nafas pelan, "ACnya terlalu dingin,yank! Mas kan belum terbiasa pakai AC. Baru sejak tinggal di rumah kamu saja itupun ACnya nggak sedingin ini," ucapku dengan suara sedikit bergetar. Tentu saja aku kembali berbohong.
"Hhhmm,mas nggak bawa jaket ya?"
Aku menggelengkan kepala. Aku mana tahu kalau akan sedingin ini. Batinku.
Alhamdulillah waktu dua jam yang bagiku terasa seperti seharian itu akhrinya berlalu. Pesawat yang kami tumpangi akhirnya mendarat dengan sukses. Berkali-kali aku mengucap syukur.
Aku dan istriku lalu menuju hotel yang sudah kami pesan sebelumnya. Hotelnya berada tepat di depan Rumah Sakit yang hendak kami datangi.
Hotel yang istriku pilih sangat mewah,aku sampai terkagum-kagum. Untuk apa istriku memesan kamar hotel sebagus ini seperti untuk pasangan yang hendak berbulan madu saja. Harusnya dia pilih hotel yang biasa saja biar lebih menghemat karena tentu saja semua biaya perjalanan kami di tanggung oleh istriku. Aku tidak punya uang untuk semua itu.
Aku langsung membaringkan tubuhku di tempat tidur yang empuk dengan memejamkan mataku. Sementara istriku pergi ke kamar mandi.
Semoga perjalanan kami nggak sia-sia. Semoga penyakit istriku dapat di sembuhkan.
Tak lama kemudian istriku keluar dari kamar mandi.
"Mas nggak ke kamar mandi?" tanyanya.
"Oh iya mas mau ke kamar mandi!" sahutku yang segera bangkit dari tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi.
Setelah dari kamar mandi,aku lihat istriku sudah berganti pakaian.
"Yank,kapan kita ke dokternya?"
"Sekarang,mas. Aku janjian pukul sebelas!" sahut istriku.
__ADS_1
"Ya sudah,ayo!" ajakku.
Kami berdua lalu meninggalkan kamar hotel menuju rumah sakit. Hanya butuh waktu sepuluh menit kami tiba di depan ruang dokter. Dokter spesialis onkologi yang pernah istriku datangi dulu saat masih ada mendiang suaminya. Dokter wanita yang bernama dokter Cyntia.
Dan saat kami mulai konsultasi saat itu kepalaku di buat pusing. Bagaimana tidak pusing,dokternya berbicara dalam bahasa inggris,tentu saja yang bisa aku mengerti hanya sedikit sekali. Aku jadi hanya bisa diam,tidak bisa ikut bertanya.
Istriku kemudian melakukan berbagai macam pemeriksaan dan penanganan. Setelah memakan waktu kurang lebih dua jam,pemeriksaan selesai. Dan ternyata,dokter bilang kalau kanker istriku stadium dua. Berbeda dengan beberapa bulan lalu seperti saat pertama kali kami bertemu. Tentu saja aku dan istriku kaget bercampur bahagia. Dia yang sudah merasa cemas jika sel kankernya makin ganas ternyata justru sedikit membaik walau belum bisa di katakan ringan.
Dokter menyarankan untuk melakukan operasi untuk pengangkatan sel kankernya tapi istriku tentu saja tidak mau. Akhirnya istriku di sarankan untuk melakukan terapi khusus untuk penderita kanker dan juga mengkonsumsi obat untuk menambah kekebalan tubuhnya supaya imunitasnya kuat.
Dokter Cyntia lalu menyarankan istriku untuk berobat ke sebuah klinik yang di pegang langsung oleh dokter Cyntia. Klinik khusus pasien kanker.
Aku lalu berbisik di telinga istriku, "Coba tanyakan apakah kamu boleh hamil?"
Istriku lalu bertanya kepada dokter Cyntia. Alhamdulillah ternyata istriku masih boleh hamil asalkan fisiknya kuat dan harus istirahat total selama masa kehamilan. Tentu saja aku dan istriku sangat senang mendengarnya.
Rencananya besok pagi kami akan mulai terapi di klinik. Dokter Cyntia menyarankan terapi di lakukan paling sedikit dua minggu sekali mengingat asal negara kami yang berbeda.
Setelah selesai konsultasi dan membeli obat untuk menambah imunitasnya kami segera kembali ke hotel.
***
Kami berbaring di tempat tidur dengan saling berhadapan. Aku memandang wajahnya seraya mengusap lembut hidungnya yang mancung yang menurutku sangat sempurna itu.
Dia tersenyum malu. Senyum yang menambah manis wajahnya, "Aku juga sayang banget sama mas!"
"Kamu ingat apa kata dokter tadi,kan? Kamu boleh hamil asalkan tubuh kamu kuat dan nggak boleh mengerjakan apa-apa. Benar-benar harus bedrest!"
Dia mengangguk setuju, "Iya,mas. Semoga aku bisa segera hamil. Bahagianya aku bisa memiliki anak denganmu!"
"Ya sudah ayo!"
Dia mengernyitkan dahinya, "Ayo kemana,mas? Sebentar lagi mau sore ini? Apa nanti malam kita keluar sekaligus makan malam di luar?"
"Ayo program hamil donk,yank! Anggap saja ini bulan madu kita!" ucapku seraya menatapnya dengan pandangan menggoda.
Wajahnya semakin merah, "Iiihh,mas. Kirain mau kemana."
"Nggak mau,hhmm?"
Dia mengangguk sekaligus tersenyum malu.
__ADS_1
Aku langsung mendekatkan wajah kami berdua. Menciumi wajahnya tanpa sisa. Selanjutnya aku bawa istriku itu melayang bersama.
Setengah jam kemudian,kami sama-sama tertidur karena kelelahan.
Beberapa jam kemudian aku terbangun saat jam sudah menunjunkan pukul empat sore. Aku gegas membangunkan istriku.
"Yank,sudah sore!"
Dia merengangkan otot tubuhnya.
"Hhmm,sekarang sudah jam berapa,mas?"
"Jam empat sore,yank. Mas mandi dulu ya,belum sholat juga ini."
Aku segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Setelah aku dan istriku selesai mandi,kami sholat bersama.
"Mas,nanti malam kita cari makan di luar apa di hotel saja?"
"Mas terserah kamu saja,yank. Mas kan nggak tau mau kemana."
"Hhmm,kita keluar saja ya mas. Mumpung di sini kita sekaligus bulan madu!"
"Kalau bulan madu di kamar saja,yank!" ucapku seraya menatapnya dengan mata menggoda.
"Iihh,mas. Masa di kamar terus. Kan nanti malam bisa."
"Iya deh istri mas yang gemesin!" aku kembali mencubit mesra hidung mancungnya.
Dua jam kemudian setelah selesai sholat maghrib,kami pergi keluar untuk makan malam. Makan malam romantis di restoran yang hanya sedikit pengunjungnya. Ada beberapa lilin di atas meja menambah kesan romantis. Aku belum pernah makan malam seperti ini.
Setelah pesanan datang,kami makan saling suap-suapan. Rasanya aku sangat bahagia,pun istriku. Senyum tak pernah hilang dari bibir manisnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
23