Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 133


__ADS_3

Setelah selesai salat Isya ada seseorang mengetuk kamar Kanaya.


Tok tok.


"Sayang, siapa itu?" tanya Andre yang baru saja selesai memakai pakaiannya untuk resepsi di hotel malam ini.


"Biar aku yang bukain pintunya, mas!" ucap Kanaya lalu berjalan menuju pintu.


Ceklek.


"Mbok, ada apa?" tanya Kanaya pada asisten rumah tangganya yang berdiri di depan pintu


"Non, ada mbak-mbak yang tadi pagi datang untuk merias non sekarang!" jelasnya.


"Suruh masuk saja, mbok!" titah Kanaya.


Tak lama kemudian, dua orang wanita muda masuk kedalam kamar mereka dengan membawa peralatan make up.


Andre hendak keluar dari kamar.


"Nggak papa kok mas di sini saja kan sudah halal juga!" ucap salah satu dari penata rias nya Kanaya.


"Nggak apa-apa mbak, saya tunggu di luar saja!" tolak Andre halus.


Dia lantas turun ke lantai atas. Di bawah sudah ada keluarga besar Kanaya. Mereka sudah bersiap untuk pergi ke acara resepsi malam ini.


Andre lantas menyapa mereka satu-persatu yang ada di sana.


"Saya ingin bicara sama kamu. Ayo ikut saya!" titah Jhohan.


"Hhmm, baik pak!" sahut Andre yang langsung mengikuti papinya Kanaya itu. Ternyata Jhohan mengajak Andre masuk ke ruang kerjanya.


Setelah mereka masuk, pintu langsung ditutup oleh papi Kanaya. Jhohan lalu duduk di kursi kerjanya.


"Silakan duduk!" titah Jhohan seraya menunjuk ke kursi yang ada di depannya.


Andre menurut lantas segera duduk di kursi.


"Bagaimana, Andre? Apa kamu masih dengan keputusan kamu?" tanya papi Kanaya.


Andre yang mengerti maksud dari pertanyaan papi Kanaya langsung menjawab tegas "In Sya Allah saya masih dengan keputusan saya!"


"Jangan sampai setelah kamu sentuh anak saya, baru kamu berubah pikiran!" ancam Johan.


"Sampai kapanpun saya tidak akan berubah pikiran, pak. Kecuali jika Kanaya mengkhianati saya!" tegas Andre.


Jhohan menarik nafasnya berat, "Baiklah kalau memang itu keputusanmu. Saya pegang janji kamu!"


Jhohan kemudian keluar dari ruang kerjanya diikuti Andre dari belakang. Setelah Kanaya selesai dirias, wanita itu turun dengan didampingi oleh maminya. Semua orang menatap tanpa berkedip ke arah istrinya Andre itu. Kanaya terlihat lebih cantik daripada saat akad nikah tadi pagi.


Setelah sampai di dekat Andre, Kanaya lalu menggandeng lengan Andre. Mereka pun berjalan beriringan menuju ke mobil yang sudah dihiasi dengan bunga-bunga. Andre pembukakan pintu mobil untuk Kanaya lalu dia menyusul naik ke dalam mobil. Seorang sopir sudah menunggu di kursi kemudi.


"Kamu cantik sekali, sayang!" bisik Andre mesra di telinga Kanaya membuat istrinya itu tersenyum malu bercampur bahagia.


Mobil pun melaju ke arah hotel. Sepanjang perjalanan, Kanaya menggandeng lengan Andre mesra dengan kepala dia sandarkan di atas bahu suaminya itu.


Sampai di hotel, Andre gegas turun lalu membukakan pintu mobil untuk Kanaya. Mereka di sambut keluarga yang sudah menunggu di sana.


Mereka kemudian berjalan menuju tempat di adakannya resepsi. Para tamu sudah banyak yang datang. Andre dan Kanaya lalu naik ke pelaminan. Kedua orang tua mereka sudah duduk di kanan dan kiri. Mereka semua tampak bahagia dengan senyuman menghiasa wajah mereka kecuali papinya Kanaya yang berwajah dingin.


Acara inti pun berlangsung dengan hikmat di pandu oleh seorang MC. Setelah itu acara hiburan di mulai selama hampir dua jam. Para tamu pun dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang sudah disediakan oleh tim EO.


Menjelang pukul sepuluh, tamu hampir semuanya sudah pulang. Pengantinpun mulai berfoto-foto berdua setelah itu foto bersama keluarga secara bergantian. Setelah semua keluarga selesai berfoto dengan pengantin, sebagian dari mereka pun mulai pulang.


Saat Andre dan Kanaya masih melakukan sesi foto berdua untuk terakhir, tiba-tiba Kanaya jatuh pingsan. Semua orang di sana kaget. Andre langsung membopong Kanaya lalu mendudukkannya di kursi pelaminan.


Semua tampak cemas dan berusaha membuat Kanaya sadar. Beberapa menit kemudian Kanaya mulai sadar. Dia memegang kepala dan perutnya.


"Sayang, apa yang sakit?: tanya Andre masih dengan wajah cemas.


"Perutku yang sakit, mas!" jawab Kanaya lirih.


Dia terlihat masih lemah.


"Kamu kenapa, nak?" tanya maminya Kanaya.


"Apa kamu lapar?" tanya Andre.


Kanaya menggeleng, "Sakit perut saja!" sahut Kanaya.

__ADS_1


"Dokter Andre benar, mungkin kamu lapar!" ucap Kalista.


Dengan ragu-ragu akhirnya Kanaya mengatakan kalau dia baru saja datang bulan.


"Aku sakit perut karena baru saja datang bulan, mi. Memamg sering sakit. Kecapekan juga berdiri dari tadi." jawab Kanaya lirih.


Setelah mengetahui penyebab Kanaya sakit perut, semua orang sudah tidak khawatir lagi. Mungkin dia kelelahan setelah acara di tambah lagi itu adalah hari pertamanya datang bulan. Karena semua tamu sudah pulang, mereka pun hendak pulang ke rumah.


"Padahal mami sudah menyiapkan kamar hotel buat kalian berdua, loh!: jelas mami Kanaya.


"Buat apa, mi?" tanya Kanaya.


"Ya buat bulan madu kalian kalau mau. Mau nggak kalian menginap malam ini di sini?" tanya Kalista.


Andre dan Kanaya saling pandang.


"Gimana, mas?" tanya Kanaya seraya menoleh ke arah Andre.


"Mas sih terserah kamu saja. Tapi kan sayang juga kalau kamarnya sudah di pesan tapi nggak di pakai?"


"Hhmm, iya deh, mi!" Kanaya akhirnya setuju.


Walau belum bisa malam pertama, tapi nggaj masalah.


"Mami sudah siapin pakaian ganti untuk kalian di kamar hotelnya, kok!"


"Iya, mi."


Calista kemudian merogoh tasnya untuk mengambil kunci kamar hotel lantas memberikannya pada Andre.


"Mami titip putri mami, ya!" ucapnya pada Andre.


"Iya, mi!" jawab Andre.


Andre lalu mengajak Kanaya naik ke atas menuju kamar.


Saat sudah berada di koridor hotel yang sepi, tiba-tiba Andre menggendong tubuh istrinya.


"Mas! Bikin kaget, deh!"


"Surprice, sayang!"


"Kamu suka, kan?" bisik Andre.


"Hhmm,"


"Masih sakit perutnya?"


"Sudah berkurang kok, mas!"


Mereka berjalan perlahan sambil terus saling memandang. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di kamar. Tanpa menurunkan istrinya, Andre membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali.


Andre lantas membawa istrinya ke atas tempar tidur putih berhiaskan bunga-bunga segar.


"Bagus banget tempat tidurnya, ya?" puji Andre.


"Iya, mas."


"Kapan ya mami kamu menghiasnya?" tanya Andre.


"Mami kita, mas! Aku nggak tahu kapan mami menghiasnya. Mungkin juga mami minta bantuan sama EO yang mengurus resepsi kita."


"Iya, sayang!"


"Kamu bahagia nggak nikah sama mas, hhmm?"


"Bahagia banget! Walaupun mas terlihat dingin dan cuek, tapi mas bisa juga bersikap romantis, ya. Aku pikir mas tetap dingin sama aku."


"Romantis itu hanya untuk pasangan halal, sayang!"


"Hhmm, senengnya aku!"


"Hhmm, ngapain kita malam ini, ya?" tanya Andre sambil terus memandang mesra istrinya.


"Maaf ya, mas. Aku belum bisa memberikan hak mas malam ini!"


"Iya, sayang. Mas mengerti, kok! Kan alasannya jelas. Masa mas mau paksa, hmm?"


Kanaya tersenyum seraya mengusap wajah suaminya.

__ADS_1


"Kita tidur saja, yuk!" ajak Andre.


"Hmm, mas sudah ngantuk?"


Hhh, Andre menarik nafas panjang, " Belum sih. Oh iya, mas mau sholat dulu."


"Hhmm, iya mas. Aku juga mau ke kamar mandi. Gerah tidur pakai pakaian ini!"


"Oh iya. Pakaian buat mas ada nggak, ya?"


"Aku lihat dulu."


Kanaya membuka koper yang ada di sudut kamar lantas memeriksa isinya. Ada beberapa lembar pakaian baru untuk Andre dan pakain tidur untuk Kanaya yang membuat matanya membelalak.


"Loh, apa-apaan ini?" gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Andre. Dia menggaruk-garuk kepalanya.


"Kenapa, sayang?"


Kanaya menoleh sesaat, "Hhmm, nggak apa-apa kok, mas!" jawab Kanaya gugup.


"Nggak kenapa-kenapa kok ekspresinya gitu?"


"Hhmm,"


"Mana pakaian mas ada nggak?" Andre sembari melongok ke dalam koper. Melihat apa ada pakaiannya di sana. Dahinya mengernyit saat melihat sebuah gaun tidur yang di letakkan paling atas.


"Apa ini?" tanyanya sembari mengambil pakaian itu.


Kanaya langsung menutupi wajahnya.


"Sayang, kamu mau pakai pakaian ini?" tanya Andre kaget dan bingung melihat pakaian yang tipis dan kurang bahan itu.


"Ng-nggak kok, mas. Aku nggak tahu kenapa pakaian itu bisa ada di koper. Kan bukan aku yang siapin."


"Jadi ini bukan punya kamu, hmm?"


"Bukan donk, mas!" elak Kanaya.


"Hhmm," Andre membongkar satu persatu isi koper.


"Pakaian sopannya hanya satu, nih!"


"Hhmm, nggak apa-apa. Aku pakai yang itu saja."


"Lalu besok pulang kamu pakai pakaian apa? Mau beli tapi mas nggak bawa apa-apa. Koper yang mas bawa ada di kamar kamu sama handphone dan dompet di sana semua. Kamu juga nggak bawa handphone dan dompet juga, kan?"


"Hhmm, mami nih!"


"Kamu pakai saja pakaian tidur ini nggak apa-apa, kok!" ucap Andre dengan mata menggoda.


"Mas iihh!"


"Kenapa sayang? Bukannya tadi siang mas sudah lihat, walau gagal total, hhmm?"


"Tapi, mas? Aku nggak biasa pakai itu," tolak Kanaya halus.


"Mulai sekarang di biasain. Pakai pas mau tidur saja, hhmm?"


Kanaya menunduk malu lantas


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo bertebaran. Terimakasih sudah membaca 😊🙏


.


.


.


.


11

__ADS_1


__ADS_2