Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 121


__ADS_3

Alina dan Ana sudah kembali lagi ke kamar mereka. Pintu kamar tertutup tapi tidak terkunci. Setelah mengetuk beberapa kali tapi tidak ada yang membuka pintu, Alina lalu memegang gagang pintu lalu memutarnya. Ceklek. Pintu kamar terbuka.


"Nggak di kunci sama Annisa," gumam Alina sambil menatap ke sekeliling kamar. Kosong.


"Annisa?" Alina masuk lalu berjalan ke arah kamar mandi. Kosong juga. Jantung gadis itu tiba-tiba berdegup tidak beraturan.


"An, dimana Annisa?" tanya Alina dengan suara bergetar.


"A-aku nggak tahu," jawab Ana.


"Annisaa!" teriak Alina histeris.


Alina kembali keluar dari kamar, berlarian mencari kembarannya.


Alina lalu mengetuk kamar gurunya.


Tok tok. . .


Setelah beberapa kali ketukan. Ceklek.


"Kamu?"


"Pak Hari."


"Ada apa?"


"A-Annisa hilang. Dia nggak ada di kamar!" jelas Alina bingung dan cemas.


"Hilang bagaimana? Mungkin dia sedang keluar atau sedang pacaran?"


"Dia nggak mungkin keluar, pak. Dia nggak punya pacar! Terakhir aku tinggal di depan kamar," jelas Alina yang mulai terisak.


"Hhh, baiklah. Saya akan minta tolong karyawan hotel. Kalian kembali saja ke kamar!"


"Tapi, pak. Saya nggak tenang!" tolak Alina.


"Huuhh, ada-ada saja. Ayo ikut saya!" ajak pak guru.


Dengan di temani tiga orang guru, Alina dan Ana pergi meminta bantuan pada karyawan hotel. Mereka lalu melibat CCTV di sekitar kamar Alina dan Annisa.


"Lihat, ada dua orang laki-laki yang membawa siswi anda, pak. Tapi mereka memakai topi dan penutup wajah jadi kita tidak tahu siapa pelakunya. Terakhir hanya sampai di tangga darurat. Dan tangga darurat itu tidak ada CCTVnya!" jelas karyawan hotel yang mengurusi masalah keamanan.


"Annisa di mana?" gumam Alina makin cemas. Airmata mengalir di pipinya. Dia sungguh menyesal meninggalkan kembarannya itu sendirian.


"Kita cari saja di tangga darurat itu mungkin ada petunjuknya!" ajak pak guru.


Di bantu dua orang karyawan hotel, mereka menuju ke tangga darurat.


Sementara itu di sebuah ruangan.


"Yan, tunggu. Aku pikir nggak akan seperti ini!"


"Apanya?"


"Kamu nggak bilang kalau aku harus melakukan ini, kan?"


"Kamu hanya harus menuruti perintah aku, Ren! Itu perjanjiannya, bukan!"


"Tapi nggak seperti ini, Yan. Bukan hanya dia yang akan kena masalah tapi juga aku. Aku juga akan di keluarkan dari sekolah!"


"Aah, nggak akan di keluarkan. Tenang saja!"


"Kamu nggak denger tadi apa yang pak Didit bilang, hah? Nggak Yan, aku nggak bisa!"


"Ren, ingat ya kamu bisa ikut study tour karena uangku!"


"Tapi nggak seperti ini juga, Yan. Aku pikir kamu hanya akan mempermalukannya saja. Bukan merusak masa depannya! Dan bukan hanya masa depannya yang rusak, tapi juga masa depanku!"


"Dan kamu bisa di nikahkan dengannya. Itu bagus bukan? Dia cantik, anak orang kaya! Kamu bisa menaikkan derajatmu!"


"Iya, kamu benar. Tapi sebelum aku menikah dengannya, aku sudah lebih dulu di bunuh papaku!"


"Nggak mungkinlah papa kamu setega itu. Alasan saja kamu, bilang kalau mau minta uang lagi. Satu juta? Dua juta? Berapa sebutkan saja!"

__ADS_1


"Nggak, Yan! Aku nggak mau!"


"Ingat Ren, kalau kamu nggak mau melakukannya, kamu harus kembalikan uangku yang kamu pakai untuk study tour ini!"


"Ok!"


"Dua kali lipat!"


"Ok, aku akan kembalikan!"


"Huhh, sombong kamu! Dari mana kamu uang satu juta, hehh? Uang jajan kamu saja hanya sepuluh ribu sehari!"


"Aku akan balikin! Kamu pegang janji aku!"


"Huuhh, janji kamu mau bantu aku saja nggak kamu lakuin sekarang!"


"Aku benar-benar nggak bisa yang ini, Yan. Ini-ini nggak seperti yang aku bayangin. Ini menyangkut masa depan, Yan!"


"Huuhh, menyesal aku kerjasama dengan kamu! Ingat hutang kamu satu juta!" dengusnya kesal seraya keluar dengan membanting pintu.


"Hhh, untung saja," gumamnya lalu menoleh ke arah gadis yang mata dan mulutnya di tutup serta tangan dan kakinya di ikat.


Dia lalu membuka ikatan kaki dan tangan gadis itu. Lalu membuka penutup mata dan mulutnya.


"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya datar.


Annisa menarik nafasnya dalam-dalam. Matanya merah kerena menangis.


"Kamu siapa?"


"Kamu nggak perlu tahu!"


"Aku harus tahu!" ucap Annisa yang hendak membuka penutup wajah laki-laki di hadapannya.


"Jangan!" Laki-laki itu berusaha menepiskan tangan Annisa.


"Tapi siapa kamu? Kenapa kamu bawa aku ke sini?" Annisa masih saja terus berusaha membuka penutup wajahnya.


"Tolong jangan! Lebih baik kamu pergi sekarang!"


"Aku harus tahu!"


Mereka sama-sama kaget hingga hilang keseimbangan dan jatuh.


"Aakkhhh!" teriaknya menahan sakit di punggung karena Annisa terjatuh tepat di atasnya.


Tatapan mereka terkunci. Untuk beberapa saat mereka sama-terdiam.


"Seneng ya peluk-peluk aku sampai nggak mau bangun?"


Annisa buru-buru bangkit dan berusaha untuk berdiri. Wajahnya sudah memerah.


"Hhmm, kakak satu sekolah denganku, kan? Aku pernah lihat kakak!"


"Pergilah!"


"Nama kakak siapa?"


"Itu nggak penting!"


"Ta-tapi kenapa? Apa salahku?"


"Aku hanya di suruh. Tapi aku nggak jadi melakukannya. Jadi bisa kan tolong aku? Rahasiakan ini. Kalau tidak, aku bisa di keluarkan dari sekolah dan aku bisa di bunuh sama papaku."


"Hhmm. . . Tapi kenapa?"


"Nggak usah banyak tanya. Pergilah. Jangan menoleh ke belakang!" titahnya sembari membukakan pintu untuk Annisa.


Annisa menatapnya lekat-lekat, "Si-siapa nama kakak?"


"Hhmm, kan aku bilang ga nggak penting. Pergilah sekarang!"


"Hhmm, ba-baiklah!" sahut gadis itu.

__ADS_1


Annisa lalu keluar dari sana. Gadis itu berlarian sepanjang koridor hotel.


Tiba-tiba dia mendengar samar-samar suara kembarannya.


"Alina!" teriaknya.


"Annisa!"


Mereka akhirnya bertemu di depan kamar hotel yang sepi. Reflek mereka saling berpelukan.


"Annisa!"


"Alina!"


"Ayo ikut ke kantor!" ajak karyawan hotel yang ikut mencari Annisa.


Mereka semua lalu pergi ke kantor di temani guru mereka.


"Sekarang ceritakan kejadiannya? Siapa yang bawa kamu.


"Tadi. Hhmm. . ." Annisa terlihat gugup.


"Bicaralah, Nis," pinta Alina.


"Hhmm, tadi mulutku di bekap oleh seseorang. Saat aku sadar, mulut dan mataku di tutup. Kaki dan tanganku juga di ikat."


"Lalu?"


"Tak lama kemudian ada yang membuka ikatan kaki dan tanganku lalu membuka penutup mulut dan mataku."


"Siapa yang membantu kamu?"


"Hhmm, aku-aku nggak tahu!" jawab Annisa sambil menunduk. Wajahnya masih terlihat ketakutan.


"Alina, ajak saudara kamu ke kamar. Malam ini istirahatlah dulu. Besok kita bahas lagi!" titah sang guru.


"Baik, pak!" sahut Alina.


Mereka lalu kembali ke kamar masing-masing. Sampai di kamar, mereka duduk di sisi tempat tidur.


"Nis, apa yang terjadi?" tanya Alina.


Annisa hanya menunduk dengan mata berkaca-kaca. Alina lantas memeluk kembarannya itu.


"Maafin aku, Nis. Harusnya kita jangan pernah berpisah seperti pesan ayah sama bunda!" ucap Alina penuh penyesalan.


"Kamu nggak salah. Kita berdua yang sama-sama ceroboh!"


"Hhh, kamu sekarang sudah tenang, kan?" tanya Alina yang masih cemas melihat kembarannya.


Annisa mengangguk pelan, "Hhmm, aku capek!" keluhnya.


"Ya sudah, kita tidur yuk!" Ajak Alina.


Mereka lalu tidur bertiga dengan Ana.


Sepanjang malam, Annisa tidak bisa memejamkan matanya. Dia masih terngiang-ngiang percakapan dua orang yang tadi berniat jahat padanya.


Aku harus cari tahu siapa kakak yang tadi sudah membantu aku.


.


.


.


Maaf jika masih ada typo.


.


.


.

__ADS_1


13.32


__ADS_2