Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 173


__ADS_3

Saat tiba waktunya istirahat, Darren bergegas pergi ke kantin sekolah berharap bisa bertemu dengan Annisa. Tapi setelah menunggu beberapa saat, Annisa tidak juga datang ke kantin. Akhirnya Darren memutuskan untuk menemui Annisa di kelasnya saja.


Darren melihat situasi di depan kelas Annisa yang tidak begitu ramai. Lebih dari separuh siswanya sedang keluar untuk beristirahat mengisi perut atau pun hanya sekadar main ke kelas sebelah.


Dari mengintip dari balik pintu. Ternyata dua kembar itu sedang duduk di bangku mereka masing-masing. Darren memberanikan diri untuk masuk.


"Nis," sapa Darren.


Annisa dan Alina kaget lantas menoleh.


"Kak Darren?" tanya Annisa kaget.


"Nis, kenapa nggak ke kantin?" tanya Darren penasaran lantas duduk di bangku yang ada di seberang bangku Annisa.


"Hhmm, Alina kepalanya pusing jadi kita di kelas saja, kak."


"Mau kakak beliin makanan, hmm?"


"Terimakasih, kak. Kita. . ."


"Tunggu sebentar, ya!" Darren setengah berlari keluar dari kelas Annisa.


"Kak. . .!" panggil Annisa tapi percuma saja, Darren sudah menghilang di balik pintu.


Annisa kembali duduk di bangkunya.


"Kenapa kak Darren?" tanya Alina.


"Mau beliin kita makanan!" jawab Annisa.


"Hah?" Alina kaget sampai mulutnya mengaga lebar.


"Iya, Lin."


"Apa kak Darren punya uang?" tanya Alina. Annisa hanya mengedikkan bahunya.


"Kamu masih pusing? Kita ke UKS saja, yuk!" ajak Annisa.


Alina menggelengkan kepalanya, "Habis ini ada tes dari bu Sri, kan. Masa kita nggak ikut?"


"Hhmm, tapi kamu bisa tahan kan pusingnya?" tanya Annisa khawatir.


"Hhmm, In Sya Allah. Setidaknya kita bisa ikut tes yang di berikan oleh bu Sri nanti."


Beberapa menit, Darren sudah kembali dengan membawa beberapa bungkus roti coklat dan tiga botol air mineral.


"Kalian makanlah!" titah Darren.


"Kakak?" Annisa kaget pun Alina.


"Ayo di makan! Kakak juga mau makan. Ayo!"


Darren mengulurkan roti ke hadapan Annisa dan Alina. Dia pun membuka satu bungkus lalu melahapnya. Dia sepertinya sangat kelaparan.


"Ayo!" titah Darren lagi setelah melihat gadis kembar itu yang hanya diam saja.


"Hhmm, tapi kak?" Annisa seraya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa nggak mau?"


"Hhmm, kakak. . ." Annisa bingung harus menjawab apa.


Darren diam, tak lama kemudian mengeluarkan amplop kecil dari saku celananya lantas menyelipkan di tangan Annisa.


"Ini kakak kembalikan uang yang dulu kakak pinjam. Rotinya kalau nggak mau, di buang saja!" ucap Darren lirih lantas segera keluar dari kelas Annisa.

__ADS_1


Annisa menatap amplop di tangannya lalu menoleh ke arah Darren.


"Kak?"


"Kejar, Nis!" titah Alina.


Annisa buru-buru mengejar Darren namun kakak tingkatnya itu terus berjalan dengan langkah lebar.


"Kak Darren!" teriak Annisa sembari terus mengejar.


Tapi Darren terus berlalu tanpa menoleh lagi sedikitpun. Dia merasa tersinggung dengan sikap saudara kembar itu. Baru kali ini dia bisa mentraktir dua gadis itu. Hanya roti dan air mineral saja. Tapi ternyata di tolak. Pemberiannya memang tidak ada apa-apanya.


"Aduuuhh!" Tiba-tiba Annisa tersandung dan jatuh. Dia meringis menahan rasa sakit di kakinya.


Ternyata ada seseorang yang menghadangkan kakinya saat gadis itu melangkah.


Annisa memegang lututnya yang ternyata berdarah. Darren menoleh dan kaget. Dia gegas mendekati Annisa.


"Nis, mana yang sakit?" tanya Darren khawatir.


Annisa mendongakkan kepalanya, "Kak. . ."


Darren lalu membantu Annisa berdiri kemudian mengajaknya duduk di bangku panjang di depan kelas.


"Kenapa bisa jatuh? Kamu nggak hati-hati jalannya?" tanya Darren sembari mengusap-usao kaki Annisa yang sedikit berdarah.


"Hhmm. .." Bilang nggak ya, sama kak Darren kalau tadi ada yang sengaja menghadang kaki aku. Batin Annisa bingung.


"Nis?"


Annisa menoleh, "Hhmm, a-aku nggak hati-hati tadi larinya,kak."


"Hhmm, maafin kakak, ya," ucap Darren penuh penyesalan.


"Kakak yang salah. . ."


"Terimakasih rotinya. Aku sama Alina bawa roti dari rumah makanya nggak beli di kantin bukan menolak pemberian kakak!" ucap Annisa berbohong.


Dia tidak ingin menyakiti Darren. Annisa tahu kalau Darren tadi tersinggung. Dia hanya tidak ingin menyusahkan. Dia tahu keuangan Darren bagaimana.


"Hhmm,"


"Kak, uang ini?" tanya Annisa sembari mengulurkan amplop yang tadi di berikan oleh Darren.


"Alhamdulillah, kakak ada rezeki jadi bisa balikin uang kamu. Simpanlah!"


"Tapi, kak. Kakak kan nggak pinjam waktu itu?"


"Waktu itu kakak pinjam, Nis. Lagipula kakak sekarang punya uang. Kakak sudah tidak kerja lagi di minimarket dan ayah kamu kemarin kasih kakak uang gaji lebih."


"Kakak jadi berhenti kerja di minimarket?"


Darren mengangguk, "Kakak mau fokus dulu untuk ujian akhir. Tapi ayah kamu bilang kalau kakak nanti boleh kerja lagi."


"Hhmm, semoga ujian kakak sukses dengan nilai terbaik, ya!"


"Terimakasih. Ya sudah kita ke kelas yuk, istirahat sudah hampir habis. Apa kamu mau kakak antar ke UKS dulu untuk mengobati luka kamu?"


"Hhmm, nggak usah, kak. Hanya lecet sedikit, kok!"


"Ya sudah. Yuk kakak antar ke kelas kamu!" ajak Darren.


Waktunya pulang sekolah, Darren sengaja menunggu Annisa di taman di mana Annisa dan Alina menunggu jemputan ayahnya. Tak lama kemudian, yang di tunggu pun datang.


"Kak Darren? Nunggu siapa di sini?" tanya Annisa heran. Tidak biasanya Darren ada di sana.

__ADS_1


"Hhmm, menunggu bidadari!" jawab Darren dengan tatapan penuh arti ke arah Annisa.


Wajah Annisa langsung bersemu merah.


"Ehheemm!"


Suara deheman Alina membuat Darren dan Annisa sontak menoleh ke arah gadis itu yang seperti tanpa dosa. Alina lantas duduk sedikit jauh dari Darren sambil menyilangkan kaki.


Annisa dan Darren kembali saling menatap satu sama lain.


"Kaki kamu masih sakit, nggak?" tanya Darren dengan wajah khawatir dan pandangan ke arah kaki Annisa.


"Hhmm, sakitnya sudah berkurang, kak."


"Syukurlah kalau begitu."


Mereka lantas ikut duduk.


"Kakak mau langsung pulang?" tanya Annisa.


Darren mengangguk, "Iya, kakak mau belajar supaya pintar!" jawabnya sambil tergelak.


"Kenapa tertawa? Kalau kita mau belajar pasti bisa pintar!"


"Satu bulan lagi kakak ujian. Semoga waktunya cukup untuk menjadi pintar."


"Hhmm, aku doakan semoga kakak mendapatkan nilai yang bagus, ya! Kakak pasti bisa!"


"Aamiin. Kakak harus bisa karena kakak sudah mempunyai penyemangat."


"Kita memang harus semangat, kak. Bukankah segala sesuatu harus di lakukan dengan semangat. Untuk hasilnya kita serahkan sama Allah yang maha tahu apa yang terbaik untuk kita!"


"Hehee, iya. Kamu benar."


Annisa tersenyum.


Tak lama kemudian mobil yang biasa menjemput Annisa dan Alina datang.


"Ayah sudah jemput!" seru Alina.


Annisa dan Darren menoleh ke arah pintu gerbang. Benar saja, mobil ayahnya sudah datang. Darren melihat dengan raut wajah kecewa.


Cepet banget jemputnya. Batin Darren.


Alina langsung mendekati mobil ayahnya.


"Kak, aku pulang dulu, ya!" pamit Annisa.


"Hhmm, Hati-hati di jalan!"


"Kakak juga hati-hati di jalan."


Annisa menyusul kembaranya. Dia lantas naik ke mobil kemudian melambaikan tangannya ke arah Darren.


.


.


.


.


.


21

__ADS_1


__ADS_2