
Andre
Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, dia baru sadar kalau mobilnya sudah memasuki area bandara. Padahal sore ini dia ada kuliah.
"Loh, kenapa aku bisa sampai di sini?" gumamnya.
Hhh, apa aku harus mencari Kanaya? Kenapa aku jadi merasa takut tidak bisa bertemu lagi dengannya. Apa yang terjadi padaku? Aaakkhhh! Andre mengusap kasar rambutnya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Andre gegas menuju pintu masuk penerbangan internasional. Dia melangkah perlahan namun belum juga menemukan sosok yang dia cari.
"Apa dia sudah masuk ke ruang tunggu, ya?" gumam Andre.
Akhirnya Andre memutuskan untuk bertanya ke pusat informasi.
"Nama penumpangnya siapa dan tujuannya ke negara mana, pak?" tanya petugas yang ada du pusat informasi.
"Kanaya. Hhmm, saya tidak tahu tujuan ke negara mana," jawab Andre bingung.
"Hhmm, nama Kanaya ada dua di sini, pak. Dan beda tujuan!" jelasnya.
Andre mengusap wajahnya kasar. Hh, kenapa tadi tidak tanya sama yang mengantar surat, Kanaya hendak kemana. Batin Andre.
"Terimakasih, mbak!" ucap Andre.
Andre lalu berdiri di dekat pintu masuk. Dia terlihat bingung. Dia belum pernah keluar negeri jadi tidak tahu harus bagaimana. Juga dia tidak tahu negara tujuan Kanaya. Andre terus saja mondar mandir.
Tiba-tiba dari balik pintu, dia seperti mendengar suara yang tak asing di telinganya.
"Dokter!"
Andre menoleh ke kiri kanan tapi dia tidak melihat orang yang dia kenal.
"Dokter Andre!" suaranya terdengar lebih tinggi.
Andre langsung menoleh.
Dari jarak dua puluh meter, dia melihat seseorang yang dia cari-cari dari tadi. Andre gegas menghampirinya.
Kini jarak mereka hanya dua meter saja. Seorang wanita muda dengan membawa tas sandang dan mengenakan jaket berwarna merah berdiri di hadapannya. Kanaya. Matanya berkaca-kaca. Andre lebih mendekat lagi. Tiba-tiba Kanaya memegang kedua tangannya.
"Terimakasih sudah datang. Terimakasih sudah memberikan aku kesempatan melihat dokter untuk terakhir kali," ucapnya lirih sembari menghapus bulir bening di sudut matanya.
Kanaya lalu melepaskan pegangan tangannya. Dia berbalik lalu setengah berlari meninggalkan Andre.
"Kanaya!" panggil Andre.
Kanaya menoleh sekilas namun tak menghentikan langkahnya.
Andre gegas menyusulnya, "Jangan pergi!"
Kanaya menghentikan langkahnya lantas menoleh ke arah Andre yang sudah berdiri tak jauh darinya, "Hmm?"
Andre makin mendekat, "Jangan pergi!"
"A-aku harus pergi."
"Saya-saya mau jadi pengantin untukmu!" kata-kata itu mengalir sendiri tanpa Andre sadari.
"Dokter?"
"Saya mau menikah denganmu!"
"Hhmm, tapi aku-aku nggak mau mempermainkan pernikahan, dok!" tegas Kanaya.
"Saya nggak akan menceraikan kamu!" tegas Andre.
"Hhh, ma-maksud dokter apa?"
"Jadilah pendamping saya selamanya!"
Kanaya menelan salivanya, "Apa?"
"Kamu mau kan jadi pendamping saya selamanya? Bukan hanya menjadikan saya pengantin pengganti?"
"Dokter, sungguh-sungguh, kan?"
__ADS_1
Andre mengangguk, "Ayo pulang!"
"Ta-tapi, papi nanti pasti akan maksain aku melanjutkan rencana pernikahanku beberapa hari lagi. Apa dokter mau?"
"Iya, saya yang akan menjadi pengantin prianya!"
Tak terasa bulir bening yang dari tadi berusaha wanita muda itu tahan akhirnya jatuh juga.
Andre mengangguk lalu meraih tangan Kanaya, memegangnya erat, "Pulang!"
"Hhmm, koperku?"
"Ambil saja lagi!" titah Andre seraya mengusap wajah Kanaya dengan ujung jarinya.
Senyum tersungging di bibir wanita itu. Dia kemudian mengangguk seraya melepaskan pegangan tangan Andre lalu gegas mengambil kopernya. Andre menunggu Kanaya mengambil barang-barangnya.
Tatapan mata Andre tak lepas dari wanita yang entah sejak kapan membuat hatinya takut kehilangan.
Tak sampai lima menit, Kanaya sudah kembali sembari mendorong koper besarnya.
"Biar saya yang bawa!" ucap Andre sembari mengambil koper dari tangan Kanaya hingga wanita itu melepas pegangan tangannya.
"Terimakasih," ucapnya dengan tatapan tak lepas dari mata laki-laki yang berjalan di sampingnya.
"Besar banget kopernya? Mau pindahan?"
Kanaya tersenyum, "Aku pikir nggak ada alasan untuk aku tetap di sini!" jawab Kanaya.
"Kalau sekarang?"
Kanaya tiba-tiba menggandeng lengan Andre, "Ada dokter yang menjadi alasanku!" sahutnya dengan tatapan penuh arti.
"Hhmm. Langsung pulang?"
"Hmm, tapi?"
"Saya antar ke rumah kamu!"
"Tapi, dok?"
"Saya ingin bicasa sama orangtua kamu!"
"Nanti, sampai di rumah kamu. Kan orangtua kamu nggak ada di sini."
Wajah Kanaya memerah, "I-iya. . ."
"Saya akan bilang sama orangtua kamu kalau saya mau menikahi kamu. Bukan untuk sementara tapi selamanya!"
"Hhmm. Tapi dokter nggak punya pacar, kan?"
"Menurutmu?"
"Hhmm, seharusnya dokter punya pacar. Siapa yang mau nolak dokter?"
"Hahaa, begitu, ya!"
"Huumm, aku yakin nggak akan ada yang mau nolak dokter!"
"Itu hanya perasaan kamu saja!"
"Hhmm, memangnya ada yang nolak dokter?"
Andre menggeleng, "Nggak tahu!"
"Kok nggak tahu?"
"Ya nggak tahu. Belum pernah di tolak."
"Tuh, kan! Jadi sudah putus?"
Andre menggeleng.
"Lalu?"
"Saya nggak pernah punya pacar!"
__ADS_1
Kanaya kaget lantas melepas pegangan tangannya, "Jadi dokter belum pernah pacaran?"
"Kenapa? Kamu sering?"
"Aku baru pacaran sama si brengsek itu. Dia anaknya teman papi."
"Dari usia berapa kamu sama dia?"
"Dari sejak lulus sekolah. Dua tahun lalu."
"Kamu baru lulus sekolah dua tahun lalu? Kecil-kecil sudah mau nikah!" Andre kaget.
"Papi sama temannya yang suruh cepat nikah. Aku nurut saja. Karena dia kuliah di luar negeri dan tahun ini selesai kuliah."
"Hhmm, jadi jarang pulang, donk."
"Iya, dia jarang pulang. Sekalinya pulang selalu maksain aku menemaninya ke apartemennya."
"Apartemen?" tanya Andre kaget. Rahangnya mengeras.
"Iya, dok. Tapi aku selalu inget pesan mami. Jangan pernah berdua dalam satu ruangan dengan lawan jenis. Jangan perlihatkan sesuatu yang ada di balik pakaianmu! Jangan bersentuhan dengan lawan jenis selain tanganmu. Aku selalu ingat itu. Tapi tanteku bilang kalau tangan pun nggak boleh. Menururku sih nggak apa-apa kalau tangan. Iya kan, dok?"
Andre menghelas nafas panjang. "Lalu?"
"Nah sejak sering aku tolak, dia mulai jarang hubungi aku. Eh tahu-tahu mau batalin nikah gara-gara dia mau nikahin cewek lain yang sudah hamil. Dia memang jahat! Aku benci dia!"
"Hhmm, masih cinta sama dia?"
"Cinta? Iihh, dia sudah bikin aku sedih sampai mau bundir, ngapain cinta."
"Bisa secepat itu cintanya hilang?"
"Hhmm, aku-aku nggak tahu."
Hhh, Andre menarik nafasnya berat. "Jika kita sudah menikah dan dia kembali, apa kamu mau?"
"Iihh, nggak mau! Kan sudah ada dokter."
"Kan kamu nggak cinta sama dokter ini!"
"Hhmm, aku." Kanaya hanya menunduk saja sampai mereka sampai di mobil.
"Ayo naik!" ajak Andre setelah membukakan pintu mobil untuk Kanaya.
Kanaya lalu naik ke mobil. Andre pun naik ke mobil kemudian menyalakan mesin mobil.
"Saya tanya. Apa kamu yakin menikah sama saya?"
Kanaya mengangguk pelan, "Kalau dokter?"
"Hh, kalau saya nggak yakin, saya nggak mungkin mau ke rumah kamu!"
"Terimakasih, dok. Dokter nggak akan tinggalin aku, kan?"
"Selama kamu setia sama saya, maka saya nggak akan tinggalin kamu!"
"Hhmm, iya, dok!"
"Kita ke rumah kamu sekarang?"
"Terserah dokter saja!"
"Ok!"
Andre pun melajukan mobilnya ke arah rumah Kanaya. Andre sudah lupa kalau dia ada kuliah sore ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
17