Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 35


__ADS_3

Aku tetap melangkahkan kaki mendekati anak-anakku. "Biar mereka aku ajak pulang."


"Mas? Aku mohon biarkan anak-anak di sini!" pintanya dengan wajah memohon.


"Hhh,mau mbak apa?" tanyaku dengan menahan kesal.


"Em,mas. Mas,marah?" tanyanya dengan suara bergetar.


Aku mengusap wajahku kasar. Apa sih mau mbak Santi sebenarnya? Masih ingin dekat dengan anak-anakku hingga mereka makin sayang? Setelah itu ingin kami menghilang?


"Saya nggak marah,mbak!" tegasku.


"Lalu kenapa sikap mas begini? Kenapa tetap memaksa bawa mereka pulang?"


"Bukankah mbak sudah nggak ingin lagi melanjutkan rencana mbak? Bukankah mbak sudah nggak ingin lagi menikah?" cecarku. Aku benar-benar merasa di permainkan.


"Kapan saya bilang nggak ingin lagi menikah? Saya hanya bilang nggak ingin lagi punya anak karena saya pikir sudah ada Alya dan Andre!"


"Apa?" tanyaku kaget. Apa aku sudah salah mengerti ucapannya.


"Iya,mas! Karena sudah ada mereka!"


Aku menggelengkan kepala, "Saya benar-benar nggak ngerti. . ."


"Hhmm,apa mas masih ingin punya anak jika kita jadi menikah? Karena saya pikir anak-anak mas sudah cukup buat saya!"


Aku mengusap wajahku kasar. Ya Allah,kenapa aku sampai bisa salah mengartikan ucapannya?


Aku kembali duduk seraya memegangi kepala yang terasa pusing. Pusing dengan ucapannya yang sulit aku pahami.


"Mas?" tanyanya lalu duduk di sebelahku.


Aku menoleh, "Hhmm?"


"Kalau mas nggak mau,saya nggak akan maksa."


Hhhh,aku menghela nafas pelan, "Saya sudah berusaha untuk mendekatkan mbak dengan anak-anak saya!" tegasku. Aku harap dia mengerti tujuanku apa.


"Terimakasih,mas! Hmm,mas. Jika waktu yang saya miliki nggak banyak. . .


"Jangan mendahului takdir. Jalani saja apa yang harus kita jalani. Batas umur seseorang nggak bisa di lihat dari sakit atau sehatnya orang tersebut! Semua rahasia Allah!" tegasku.


Dia lalu tersenyum.


"Ayah sama tante ngapain?" teriak putriku yang datang tiba-tiba. Dia lalu duduk di pangkuanku.


"Ayah sama tante hanya mengobrol saja,nak!" jawabku.


"Tante Santi sudah sembuh,ya?"


Mbak Santi menganggukkan kepalanya, "Alhamdulillah,tante sudah sembuh. Berkat doa dari Alya dan mas Andre!"


"Berkat doa ayah juga,kan!"


Kami berdua mengangguk bersamaan.

__ADS_1


"Ayah sama tante kapan mau nikahnya? Biar kita bisa temani tante terus!" celetuk Alya membuat aku dan mbak Santi kaget.


"Memangnya Alya benar-benar mau tante jadi ibunya Alya?" tanya mbak Santi seraya melirik ke arahku.


Alya mengangguk cepat, "Mau,tante!" tegasnya.


Mbak Santi langsung tersenyum semringah, "Tapi mas Andre kan nggak mau," ucap mbak Santi sambil memasang wajah sedih.


"Kata siapa nggak mau? Mas Andre mau,kok!" sahut Alya.


"Memangnya mas Andre bilang apa sama Alya?"


"Mas Andre bilang,sebenernya mas Andre mau tante Santi jadi ibu kita tapi mas Andre takut tante Santi akan tinggalin ayah! Kalau sampai tante tinggalin ayah,mas Andre bakal benci banget sama tante!" jelas Alya.


Aku dan mbak Santi saling pandang. Apa begitu traumanya anakku sampai berpikir seperti begitu.


"Kapan mas Andre bilang begitu,hmm?" tanyaku penasaran.


"Tadi siang sewaktu tante ke kamar ambil handphone!" jelas Alya.


Hhmm,anakku tidak mungkin bohong. Jadi mereka sudah setuju aku menikah lagi dengan mbak Santi.


Aku lihat wajah mbak Santi bersemu merah. Apa dia bahagia mendapat restu kedua anakku?


"Insya Allah,tante nggak akan tinggalin ayah kalian!" ucap mbak Santi dengan wajah serius.


"Bener ya,tante?" tanya Alya lagi.


"Insya Allah!"


"Horree!" seru putriku.


"Lagi ngobrolin apa sih dek kok lama banget?" tanya Andre.


"Mas Andre setuju kan kalau tante Santi jadi ibu kita?" tanya putriku.


Andre diam sesaat seperti sedang berpikir, "Hhmm,tapi tante Santi janji ya jangan tinggalin ayah seperti ibu!" tegasnya dengan wajah serius


Mbak Santi menoleh kearahku, "Insyaallah tante nggak akan tinggalin ayah kalian!" jawab mbak Santi pelan namun dengan penekanan.


Alya menoleh ke arahku, "Ayah mau kan jadi suaminya tante Santi? Jadi kita bisa tinggal di sini sama-sama."


Aku tersenyum lalu melihat ke arah mbak Santi yang wajahnya makin memerah. Dia tersenyum malu terlihat seperti ABG yang sedang jatuh cinta saja. Dia jadi terlihat menggemaskan. Ahh,aku buru-buru menyingkirkan pikiran anehku.


"Kalau kalian mau benar-benar ingin tante Santi jadi ibu kalian,ayah akan menikahi tante Santi!" ucapku dengan wajah serius lalu menoleh ke arah mbak Santi yang tengah tersenyum malu.


"Benarkah,yah?" seru Alya kegirangan.


"Iya,sayang!" ucapku sambil tersenyum.


Tiba-tiba aku teringat minimarket, "Sekarang sudah jam tiga,ayah harus kembali ke minimarket,nak. Kalian disini dulu sama tante Santi. Kalian nonton TV saja jangan lakukan hal yang membuat tante Santi capek,ya!"


"Iya,ayah!" awab Aliya dan Andre hampir berbarengan.


"Mbak,saya mau kembali ke minimarket dulu. Titip anak-anak,ya!" pamitku.

__ADS_1


"Iya,mas. Hati-hati di jalan!" sahutnya dengan tersenyum.


Aku lalu segera pergi dari rumah mbak Santi menuju minimarket. Alhamdulillah,minimarket aman-aman saja,hanya pembeli yang makin ramai. Aku bergantian menjaga kasir sampai menjelang maghrib.


Pukul delapan malam,minimarket sudah sepi. Setelah menghitung uang hasil hari ini,aku gegas menutup pintu dan langsung kembali ke rumah mbak Santi untuk menjemput kedua anakku.


Mbak Santi dan kedua anakku sudah menungguku di depan teras.


"Ayah,Alya boleh tidur di rumah tante?" tanya Alya saat aku baru saja sampai.


"Tapi sayang,besok kamu kan mau sekolah. Kamu nggak bawa seragam dan peralatan sekolah kamu!"


"Oh iya besok sekolah," ucap Alya sedih.


"Besok malam saja tidur sini,bagaimana?" usul mbak Santi.


"Tapi kan sekolah kita jauh dari sini. Sekolah kita dekat sama rumah nenek!" jelas Andre.


"Makanya tante sama ayah cepetan nikahnya!" rengek Alya.


Aku dan mbak Santi hanya saling pandang.


"Hhh,nanti kita bahas lagi ya nak. Kita pulang dulu,sudah malam!" ajakku.


"Bawa mobil saja,mas!" tawar mbak Santi.


"Tapi,mbak. Masa kita pinjam mobil terus?" tolakku halus. Aku merasa tidak enak hati. Takut di kira mengambil kesempatan.


"Nggak apa-apa,mas. Kan jarang juga!"


"Ayah,ayo pulang!" rengek Andre.


"Mas!" mbak Santi mengulurkan kunci mobil padaku.


"Hhmm,baiklah. Saya pinjam dulu mobilnya,mbak. Terimakasih!" ucapku.


"Sama-sama,mas. Hati-hati di jalan,ya!" ucapnya. Dia menatapku lekat-lekat hingga aku pun membalas menatapnya.


"Kita pulang,mbak!" pamitku.


"Hhmm,terimakasih,mas!" ucapnya lembut.


"Terimakasih untuk apa?" tanyaku bingung.


"Untuk semua yang mas lakukan untuk saya! Terimakasih sudah hadir dalam hidup saya yang sepi ini!"


Aku tersenyum, "Sama-sama. Istirahatlah! Besok pagi saya jemput!" ucapku dan segera berlalu dari hadapan mbak Santi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


09


__ADS_2