
Beberapa hari kemudian di minggu pagi kami baru saja selesai sarapan. Anak-anak sedang belajar berenang di kolam renang yang ada di samping rumah.
"Mas nggak ikut renang?" tanya istriku.
Aku menggeleng, "Mas males mandi terus. Tadi kan sudah,males sering-sering mandi."
"Hhmm,males sering-sering mandi? Setiap pagi sampai minimatket sudah mandi lagi. Berapa kali sehari mandi?" tanyanya dengan nada menyindir.
Aku lalu menoleh ke arahnya, "Kalau itu kan wajib,sayang! Kamu juga mau!" balasku seraya mencubit hidung mancungnya.
"Hhmm,mas iihh!" dia mengusap-usap hidungnya.
"Nanti siang kita ke rumah ibu,ya!" ucapku.
Dia mengangguk, "Iya,mas!"
"Oh iya besok mas mau urus surat-surat buat kita keluar negeri!"
"Mas mau keluar negeri?" tanyanya heran.
"Iya,mau ketemu dokter kamu!"
"Hhhmm,nggak perlu mas! Aku takut!"
"Kenapa takut?"
"Hhmm,takut saja dapet kabar buruk lagi!" ucapnya sedih.
"Dapet kabar apapun itu lebih baik daripada nggak tahu sama sekali. Supaya kita tahu langkah apa yang akan kita ambil!"
"Hhhmm,tapi aku belum siap,mas?"
"Mas temani. Sekaligus kita program hamil di sana."
Mata istriku membulat sempurna, "A-apa,mas?"
"Kita tanya dokter apa kehamilan nggak membahayakan buat kamu dan janinnya!"
"Hhmm,mas. Aku rasa belum waktunya!"
"Kehamilan itu nggak bisa di prediksi. Siapa tahu beberapa minggu lagi kamu ketahuan hamil,kan? Jadi kita harus konsultasi dulu sama dokter yang menangani kamu."
"Tapi,mas?"
"Kalau kamu nggak mau,kita tidurnya pisah saja!"
"Mas? Kok gitu?" dahinya berkerut.
Aku mengedikkan bahu, "Terserah kamu mau nurut sama mas apa nggak!" aku berdiri lalu menghampiri kedua anakku yang masih asik berenang.
"Sayang,jangan terlalu lama ya. Kita juga mau ke rumah nenek,kan!" ucapku pada kedua anakku.
"Iya,yah!" sahut mereka.
Aku hendak segera berlalu dari sana tapi saat melewati istriku,dia langsung menarik tanganku.
"Mas,aku tuh belum siap mendengar kabar buruk lagi. Sebelum aku ketemu mas di rumah sakit itu,penyakitku baru stadium dua,eh tahu-tahu sudah stadium tiga. Nanti kalau ternyata. . ." dia menggantungkan ucapannya. Suaranya bergetar.
"Justru kalau sudah tahu,di obati! Kalau nggak tahu bagaimana mau di obati? Sekarang saja stadium tiga,kamu nggak mau berobat,kan? Hanya karena alasan takut. Kamu mau di kasih kesehatan dan umur yang panjang,nggak?
__ADS_1
"Hhmm,"
"Kalau kamu nggak mau nurut sama mas,terserah. Mas nggak akan ngurusin kamu!" tegasku lalu pergi dari sana.
Hhh,istriku ternyata keras kepala. Aku harus bagaimana memaksanya untuk berobat. Seharusnya jika dia takut menghadapi penyakitnya,dia akan berusaha mencari pengobatan bukan malah membiarkannya saja.
Di saat orang lain ingin berobat tapi terhambat biaya,istriku malah sebaliknya,ada biaya tapi malas berobat.
Ternyata dia mengikutiku dari belakang, "Mas,i-iya deh aku mau berobat," ucapnya tak bersemangat.
"Hhh,kamu tahu? Mas maksa kamu karena mas sayang sama kamu!" tegasku seraya memegang kedua bahunya.
Aku pandangi wajahnya yang murung. Aku mengerti ketakutannya tapi masalah harus tetap di hadapi tidak bisa di biarkan begitu saja.
"Mas akan selalu dukung kamu! Kamu percaya,kan?"
Dia mengangguk lemah, "Iya,mas."
***
Siangnya setelah makan siang,aku mengajak anak dan istriku ke rumah ibu. Sampai di sana,kami langsung di suguhi bubur kacang ijo kesukaanku dan anak-anak.
Setelah selesai makan,aku dan istriku duduk-duduk di teras rumah. Jalan depan rumah ibu letaknya sangat strategis,setiap hari banyak orang yang lalu lalang bahkan sampai tengah malam.
"Sepertinya di sini kalau buat usaha pasti ramai ya,mas?"
"Iya,makanya ada beberapa toko yang hampir berdekatan di sini."
"Toko apa saja,mas?"
"Yang paling banyak ya toko sembilan bahan pokok."
"Hhmm. . ."
"Nggak apa-apa,mas. Sebenarnya aku ingin membuka cabang minimarketku,tapi bingung di mana. Yang pasti mas juga yang harus ngurusin!" jelas istriku.
"Buat cabang minimarket? Apa kamu nanti nggak makin pusing,yank? Kan tetap kamu yang bagian pembukuannya mas nggak paham masalah itu!" sahutku.
Untuk apa lagi istriku membuka minimarket baru. Penghasilannya sebulan sudah sangat besar,aku baru tahu beberapa hari yang lalu saat membantunya mengecek pembukuannya dan juga membayarkan gaji karyawan. Apa itu masih kurang?
Total gaji delapan orang karyawannya tidak sampai setengahnya dari pendapatannya sebulan. Termasuk untukku. Pantas saja dia tidak mau mengambil uang gajiku. Tapi tetap saja aku memberikan uangku untuknya sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai seorang suami.
"Hhmm,jadi menurut mas nggak usah,ya?"
"Menurut mas sih nggak usah. Usaha minimarket kamu sudah maju,kan. Mas akan berusaha lebih lagi supaya makin maju! Mas nggak ingin kamu terlalu capek."
"Terimakasih,mas. Aku percaya sama mas."
***
Keesokan harinya aku berniat mengurus surat-surat untuk kepentingan kami keluar negeri. Ke sebuah negara sesuai rekomendasi dari dokter pribadi istriku.
"Jadi ayah sama bunda berapa hari ke sana,yah?" tanya putriku.
"Paling cepat tiga hari,nak. Mungkin sampai satu minggu!" jawabku.
"Hhmm,lalu sekolah kita gimana,yah?" tanya Andre.
"Kalian nanti di antar sama pak Toto. Nenek dan tante akan menemani kalian di sini selama ayah dan bunda pergi. Nggak apa-apa ya,nak. Bunda harus berobat biar sembuh!"
__ADS_1
Kedua anakku mengangguk, "Iya,yah. Aku juga mau bunda sehat!" sahut Alya.
"Terimakasih ya sayang. Nanti adek Alya sama mas Andre mau oleh-oleh apa?" tanya istriku.
"Aku cuma mau bunda sembuh dan cepat pulang ke rumah lagi!" jawab putriku.
Aku memang selalu mengajarkan pada kedua anakku untuk tidak pernah meminta oleh-oleh dari orang yang akan bepergian. Kalau di kasih ya syukur tapi jangan pernah meminta.
"Aamiin. Terimakasih sayang sudah doain bunda."
"Iya,bunda."
"Kapan-kapan bunda mau ajak Alya dan Andre liburan keluar kota. Kalian mau nggak?"
"Mau-mau,bunda!" seru kedua anakku. Maklum mereka belum pernah keluar kota.
"Kalian maunya kemana?"
"Jakarta!" sahut Alya.
"Bali!" sahut Andre.
"Hhmm,baiklah. Kalau gitu nanti saat mau liburan,nilai siapa yang paling gede,kita jalan-jalan ngikutin kemauan dia ya. Jadi kalau Alya mau ke jakarta,nilai adek Alya harus lebih gede dari nilai mas Andre. Gimana?"
"Siapa takut!" sahut mereka berdua.
"Ya sudah kita berangkat sekolah sekarang saja,yuk!" ajakku pada anak-anak.
"Iya,yah!" sahut mereka.
Aku lalu mengantar kedua anakku ke sekolah mereka sampai di depan gerbang sekolah.
"Mas,jagain adek ya!" pesanku pada putra sulungku.
"Beres,yah!" sahutnya.
Setelah mengantar kedua anakku sekolah,aku dan istriku pergi ke minimarket.
"Nanti pukul sembilan,mas mau urus surat-surat kita. Kamu mau ikut apa tunggu di minimarket,hmm?" tanyaku seraya menoleh sekilas ke arah istriku.
"Mas,biar aku minta tolong sama Rani saja. Dia juga yang urus pasporku waktu itu."
"Rani yang jaga kasir?"
"Iya,mas. Dia yang urus cepet kok. Sekaligus kita minta pesankan tiket sama dia."
"Oh ya sudah kalau gitu."
Aku lalu memanggil Rani sekaligus aku menggantikannya sementara menjaga kasir.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
23