Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 27


__ADS_3

Aku lalu keluar dari rumah sakit. Aku berniat mencari makanan dan cemilan serta minuman untuk diberikan kepada Melly. Setelah itu aku kembali lagi ke rumah sakit. Saat aku sedang duduk menunggu di depan kamar ranap anak tiba-tiba di sebelahku duduk seorang wanita yang berusia sekitar 40-an tahun.


"Mbak . ." aku menyapanya dengan ramah.


Wanita itu menoleh lalu tersenyum kepadaku.


"Siapa yang sakit,mas?" tanya wanita itu.


"Oh yang sakit anaknya teman saya" jawabku.


"Oh begitu," ucap wanita. "Mas ikut menunggui pasien?" tanya wanita itu lagi.


"Oh tidak,saya hanya ingin mengantarkan bungkusan ini kepada ibunya," jawabku


"Mas berikan saja di dalam,boleh masuk kok," ucap wanita itu.


Aku tersenyum, "Saya menunggu di luar saja,mbak. Tidak enak masuk semua yang menjaga pasien adalah ibu-ibu," aku menolak halus.


"Tidak masalah kok,mas," ucap ibu itu.


Tak lama kemudian suster keluar dari ruang ranap Davina. Suster lalu menoleh kearahku.


"Maaf,bapaknya pasien Davina,ya?" tanya suster.


Aku tersenyum tipis, "Saya bisa minta tolong berikan bungkusan ini untuk bu Melly,ibu dari pasien anak bernama Davina?" tanyaku pada suster.


"Bisa kok,pak. Baiklah nanti saya berikan pada bu Melly," jawab suster seraya mengambil bungkusan dari tanganku lalu membawanya masuk ke ruang ranap.


"Loh,tadi mas bilang anak saudara kok suster tadi bilang kalau mas adalah bapaknya pasien?" tanya wanita itu penasaran.


"Saya sebenarnya hanya kenal saja. Kebetulan ketemu dengan ibu itu di jalan. Ternyata anaknya sedang sakit dan menangis terus sepanjang jalan jadi saya membawanya ke rumah sakit ini," jelasku.


"Oh kenapa nggak menghubungi bapak si pasien?" tanya wanita heran.


"Ibunya nggak mau menghubungi bapak anaknya mungkin karena mereka sudah bercerai. Jadi ibunya mengurus anaknya sendirian."


"Oh kasihan!" ucap wanita itu.


"Iya,mbak. Kasihan mereka."


"Mas benar-benar orang baik. Mereka beruntung di pertemukan dengan orang baik seperti mas!" puji wanita itu.


"Biasa saja kok,mbak. Saya hanya ingin membantu anaknya!" ucapku.


"Saya mau pulang dulu," pamit wanita itu lalu berdiri hendak meninggalkan Rumah Sakit.


Tapi tiba-tiba wanita tadi pingsan di hadapanku. Aku lalu membopong wanita itu dan meminta suster untuk membawanya ke ruang IGD. Aku diminta untuk menunggu karena suster berpikir kalau aku kenal dengan wanita yang pingsan itu. Aku terpaksa menunggu di ruang tunggu di depan IGD.


Tak lama kemudian aku dipanggil oleh suster, "Pak,ibu tadi meminta bapak menemuinya di dalam!" pinta suster.

__ADS_1


Dahiku berkerut. Kenapa wanita itu memintaku menemuinya? Batinku. Tapi akhirnya aku mau menemui wanita itu. Wanita itu masih terbaring di brankar. Wajahnya masih sangat pucat walau tidak seperti saat dia pingsan tadi.


Aku lalu duduk di kursi yang ada di samping wanita itu, "Terima kasih sudah menolong saya," ucap wanita itu.


"Iya mbak, sama-sama. Saya kebetulan melihat mbak pingsan di depan saya," ucapku.


Aku lalu bangkit berdiri, "Karena mbak sudah baikan,saya permisi dulu mau pulang!" pamitku.


"Tunggu!" pinta wanita itu lalu duduk dan bersandar.


"Hmm,ada apa mbak?" tanyaku.


"Apakah mas bisa menyetir mobil?" tanya wanita itu.


"Alhamdulillah saya bisa,mbak," jawabku.


"Kalau begitu bisa antarkan saya ke rumah? Saya sepertinya tidak bisa membawa mobil sendiri," pinta wanita dengan wajah memohon.


Dahiku berkerut. Mengantar mbak ini pulang? Batinku.


"Apa mbak ke rumah sakit ini sendirian? Tidak ada saudara atau teman?" tanyaku heran.


"Iya,saya ke rumah sakit sendirian saja!" jawab wanita itu.


Aku diam untuk berpikir sejenak. Sebenarnya aku merasa tidak enak apalagi nanti aku meninggalkan sepeda motorku di rumah sakit. Tapi aku lihat wajah wanita itu masih sangat pucat dan lemah,aku jadi tidak tega.


Akhirnya aku mengiyakan permintaan wanita itu.


Mereka lalu keluar dari ruang IGD setelah membayar biaya. Mereka menuju parkiran mobil. Aku lalu naik ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi di ikuti oleh wanita itu yang duduk di sampingku.


Aku lalu menyalakan mesin mobil. Kami pun segera meninggalkan Rumah Sakit.


"Rumahnya di mana,mbak?" tanyaku.


"Rumah saya di daerah XX1."


Aku membulatkan mataku. Aku tau di sana adalah daerah perumahan orang-orang kaya dan disana sangat sepi jarang kendaraan umum lewat.


Aku bingung bagaimana nanti aku mau kembali lagi ke rumah sakit sementara motor ketinggalan di sana! Ya sudahlah aku akan cari kendaraan umum saja di sana. Semoga ada. Batinku.


Setengah jam kemudian aku mulai memasuki kawasan elit itu. Rumah wanita itu tidak jauh dari gerbang masuk perumahan. Aku memberhentikan mobil di depan sebuah rumah berlantai dua yang megah sesuai yang di katakan wanita itu.


Setelah pintu pagar di buka oleh satpam jaga,aku memasuki pintu pagar lalu memarkirkan mobil di depan halaman rumah wanita itu.


Aku turun dari mobil lalu menyerahkan kunci mobil pada wanita itu.


"Mbak,ini kunci mobilnya," ucapku seraya menyodorkan kunci mobil pada wanita itu.


"Terimakasih banyak. Silahkan masuk," ajak wanita itu.

__ADS_1


"Terima kasih,mbak. Tapi saya buru-buru. Saya mau mencari pekerjaan," tolakku halus.


"Jadi mas mau mencari pekerjaan? Apa mas punya nomor kontak handphone?" tanya wanita itu.


"Iya,mbak. Saya ada nomor kontak handphone tapi anak saya yang pakai," jelasku.


"Oh tidak apa,pak. Saya kasih kartu nama saya,ya. Mas bisa menghubungi saya jika butuh pekerjaan," ucap wanita itu seraya mengambil dompet dalam tasnya lalu mengambil sebuah kartu nama lalu menyerahkannya padaku.


Aku lalu menerima kartu nama itu lalu memasukkannya ke dalam dompetku "Terimakasih. Dengan mbak Santi,ya. Kalau nama saya Anto," ucapku.


"Iya. Mas bisa hubungi saya secepatnya jika masih butuh pekerjaan!"


"Baiklah,mbak."


"Terima kasih atas pertolongannya,mas."


"Sama-sama,mbak. Dan semoga mbak lekas sembuh! Saya pulang dulu!" pamitku yang di beri anggukan oleh wanita itu.


Aku lalu meninggalkan rumah wanita itu. Aku melihat kekiri dan kekanan benar-benar tidak ada kendaraan umum yang lewat. Akhirnya aku meminta tolong pada satpam penjaga rumah itu untuk memesankan ojek online.


Atas bantuan satpam itu akhirnya aku mendapatkan kendaraan secara online. Aku langsung menuju ke rumah sakit untuk mengambil kembali sepeda motornya.


Saat di parkiran,aku bertemu Melly. Wanita itu lalu menghampiriku.


"Mas,terimakasih sudah membantu saya dan putri saya," ucap Melly.


"Sama-sama,mbak. Oh ya bagaimana Davina sekarang?" tanyaku.


"Alhamdulillah Davina sekarang sudah lebih tenang. Dia sekarang sudah bisa tertidur," jawab Melly.


"Alhamdulillah,mbak. Oh iya saya mau pulang dulu. In sya Allah besok pagi saya kesini lagi jenguk Davina."


"Iya,mas. Hati-hati di jalan," ucap Melly.


Aku tersenyum lalu segera mengendarai sepeda motorku.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


16


__ADS_2