
Masih musim penghujan. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Aku berniat untuk pulang ke rumah. Aku lantas segera mematikan komputer dan merapikan meja kerjaku. Aku keluar dari kantor setelah mengunci pintunya rapat-rapat. Aku lihat hanya ada Adit dan Raka di gudang. Mana Melly dan Rudi? Tanyaku dalam hati.
"Adit!" panggilku.
"Iya, pak. Ada apa?" tanyanya dan langsung menghampiriku.
"Melly dan Rudi mana?"
"Mbak Melly sama pak Rudi sudah pulang dari tadi, pak!" jawabnya.
"Sudah pulang dari tadi?" tanyaku heran dan bingung.
Oh iya aku lupa kalau mbak Melly memang pulang jam 3.
"Oh iya Melly pulang sama siapa?" tanyaku lagi.
"Mbak Melly pulang diantar sama pak Rudi, pak."
"Apa? Melly di antar sama Rudi?"
"Iya, pak."
"Oh, ya sudah saya pulang dulu ya. Kalau saya ada waktu nanti malam saya ke sini. Tapi kalau tidak, tolong kalian tutup minimarketnya. Dan tolong bekerjalah dengan benar!" ucapku.
"Baik, pak!" sahut Adit.
Au lalu berjalan menuju pintu keluar. Langit terlihat mendung. Mungkin sebentar lagi hujan semoga. Mbak Melly sudah sampai di rumahnya dan semoga Rudi tidak berbuat macam-macam dengannya di jalan.
Oh iya aku tadi memang lupa mengecek CCTV sebelum pulang. Aku gegas naik kedalam mobil dan mulai menyalakan mesinnya. Aku melajukan mobil ke arah rumah. Tiba-tiba handphone-ku berdering. Istriku.
"Hallo. Assalammu'alaikum"
"Oh, baiklah nanti mas belikan."
"Wa'alaikumsalam."
Handphone aku matikan. Istriku meminta di belikan buah-buahan karena di rumah sudah habis. Aku lalu mampir ke toko buah untuk membeli jeruk, apel dan semua buah yang dipesan istriku tadi.
Dia memang sangat menyukai buah-buahan. Setiap hari dia pasti akan memakan 2 sampai 3 jenis buah-buahan sampai kedua anakku mengukuti kebiasaannya itu. Tidak seperti kehidupanku yang dulu. Aku dan anak-anak jarang sekali memakan buah karena aku pikir kebutuhan pokok itu lebih penting daripada buah-buahan.
Setelah membeli semua buah pesanan istriku, aku bergegas pulang ke rumah. Ternyata langit sudah gelap dan rintik hujan sudah mulai turun.
Sampai di rumah, hujan sudah turun makin deras. Aku parkirkan mobil tepat di depan rumah supaya aku tidak terlalu kena air hujan. Setengah berlari aku masuk ke rumah.
"Assalammu'alaikum, " ucapku seraya mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam," sahut ibuku yang membukakan pintu.
Aku tak melihat keluargaku yang biasanya berkumpul dan bercengkrama di ruang keluarga.
"Yang lain mana, bu?" tanyaku.
"Mereka ada di kamar bawah,nak."
"Ohh, ini aku bawakan buah-buahan pesanan Santi."
__ADS_1
"Istrimu juga ada di kamar. Nah itu dia!" ucap ibuku seraya menunjuk istriku.
"Mas sudah pulang. Maaf tadi kita di kamar jadi nggak tahu kalau mas pulang, " ucap istriku lalu mencium punggung tanganku takjim.
"Iya, nggak apa-apa sayang. Ini buah yang kamu pesan tadi!" ucapku sembari menyodorkan buah yang aku beli ke tangannya.
Kami sama-sama pergi ke dapur sementara ibu sudah kembali masuk ke kamar.
"Anak-anak sedang apa, yank?" tanyaku.
"Kita semua sedang ngobrol saja di kamar, mas. Nggak tahu Alya sedang ingin di kamar saja katanya."
"Oh begitu."
Bagaimana minimarket, mas?" tanya istriku.
"Minimarket makin ramai. Mas bingung."
"Bingung? Kenapa mas bingung?" tanya istriku heran.
"Iya, yank. Di gudang barang penuh, di minimarket juga penuh dan cepat habis karena banyak pembeli. Kadang antrian juga panjang. Mas pikir apa kita harus nambah kasir satu lagi."
"Kalau nambah kasir ya nggak bisa satu, mas. Karena kan dua sift. Jadi kita juga butuh dua kasir. Itu artinya kita pun harus menambah dua orang karyawan lagi kalau gitu."
"Iya,yank. Kamu benar. Tapi juga enggak ada tempatnya karena tempatnya hanya cukup untuk menaruh barang-barang saja!" jelasku.
"Sebenarnya di belakang minimarket itu ada rumah yang jarang di tempati,mas. Yang punya pindah tugas keluar kota. Aku sudah lama ingin membeli rumah itu tapi belum pernah ketemu sama yang punya."
"Wah, bagus donk yank lokasinya. Nanti mas sering tanya-tanya sama tetangga dekat situ."
"Iya, sayang. In Sya Allah, mas akan berusaha untuk memajukan minimarket kamu!"
"Kok minimarketku sih, mas? Mas nggak merasa memiliki?"
"Yank, mas akan merasa memiliki kalau mas bisa memajukan minimarket kamu! Tapi tetap, mas nggak bisa seenaknya. Semua harus atas ijin kamu!" jelasku seraya mengusap wajahnya.
"Hhmm, kan sudah aku ijinin!" sahutnya.
"Iya, yank. Mas tahu."
Aku mendekatinya lalu merangkul pinggangnya. Sudah lama kami tidak bermesraan layaknya suami istri. Pikiranku hanya tertuju pada putriku yang sedang kena musibah saja beberapa hari belakangan ini.
Ahh, aku tiba-tiba sangat merindukannya. Aku lalu memeluknya erat, "Mas kangen!" bisikku mesra.
"Hhmm, setiap hari ketemu masih kangen?"
Aku mengangguk seraya mengusap kepalanya, "Nanti malam, ya?" bisikku.
Dia menoleh. Wajahnya bersemu merah, "Hhmm," sahutnya lalu menganggukkan kepala.
Rasanya damai saat memeluk dan mencium aroma tubuhnya. Istriku yang jarang sekali menggunakan parfum tapi justru itu yang makin menggodaku. Aroma asli yang keluar dari tubuhnya seperti magnet yang menarikku.
Aku melepaskan pelukanku, "Terimakasih, sayang!" ucapku lembut.
Dia tersenyum, "Aku sayang banget sama mas!"
__ADS_1
"Mas lebih sayang lagi!"
Mata kami masih saling bertatapan. Aku lalu mencium bibirnya sekilas.
"Hhmm, mas. Aku mau kupas buahnya dulu! Alya sudah nungguin."
"Oh iya. Mas juga mau makan buahnya."
***
Aku baru saja sampai ke minimarket dan baru saja turun dari mobil tiba-tiba ada yang manarik tanganku. Refleks aku menoleh. Lisa dengan bayinya.
"Lisa!" ucapku kaget.
"Aku ingin bicara penting!"
"Penting buat siapa?" tanyaku ketus.
"Kamu jangan menutup mata, mas! Jangan pura-pura nggak tahu!"
"Bagi saya yang penting itu keluarga saya. Hanya keluarga saya!" tegasku.
"Dasar egois kamu!"
"Pergilah! Saya nggak mau ribut!" usirku.
"Aku nggak akan pergi sebelum kita bicara!" desaknya.
"Kamu benar-benar keras kepala! Justru kamu itu yang egois!"
"Terserah! Aku hanya ingin kamu bebaskan suamiku! Apa kamu sengaja ingin membalas dendam padaku, haahh?"
"Buat apa dendam? Toh aku sekarang sudah bahagia. Jauh lebih bahagia daripada denganmu!" tegasku hingga membuat wajahnya merah menahan marah.
"Sombong kamu, mas! Kamu pikir aku nggak bahagia apa pisah dari kamu? Aku jauh lebih bahagia!"
"Ya sudah, jadi nggak usah saling ganggu! Biar kita hidup masing-masing!"
"Siapa juga yang ganggu kamu! Aku hanya minta kamu bebaskan suamiku! Semua ini gara-gara kamu!"
"Suami kamu bukan urusanku! Urus diri masing-masing! Kalau memang suami kamu kaya, suruh dia sewa pengacara yang handal! Gunakan uangnya, jangan di simpan saja. Buktikan kalau suami kamu itu memang benar kaya!"
"Keterlaluan kamu! Kalau bukan gara-gara kamu, suamiku nggak akan di tahan polisi!"
"Terserah! Pergilah. Jangan usik hidup saya!" tegasku lantas segera pergi dari hadapannya tanpa mempedulikan lagi teriakan-teriakannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
08