Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 112


__ADS_3

Lima belas tahun berlalu. Alhamdulillah, istriku benar-benar sudah tidak pernah sakit lagi. Alhamdulillah juga, ibuku sampai saat ini masih di berikan kesehatan dan usia yang panjang. Keempat anakku, mereka tumbuh menjadi anak-anak manis dan penurut.


Si sulung, satu-satunya putraku kuliah di fakultas kedokteran. Dia ingin jika ada keluarga yang sakit, ada dia yang yang lebih dulu memberikan pertolongan. Alya, saat ini putriku itu sedang kuliah di fakultas hukum. Sedangkan si kembar, mereka saat ini sudah memasuki sekolah menengah atas.


Saat ini keluargaku sedang menghadiri wisuda kelulusan putra pertamaku Andre. Putraku yang kuliah kedokteran akhirnya akan di wisuda.


Acara inti baru saja selesai. Walau pun putraku tidak berhasil menjadi wisudawan terbaik tapi aku tetap bersyukur putraku bisa menyelesaikan kuliahnya lebih cepat di banding teman-temannya.


Kami melakukan foto-foto terlebih dahulu sebelum pulang. Si kembar yang kini sudah bersekolah di sekolah menengah atas, memaksa untuk bolos demi menghadiri acara wisuda kakaknya.


Hhh, aku terpaksa mengiyakan keinginan mereka itu.


Setelah sesi foto-foto selesai, kami lalu pulang ke rumah. Di depan rumah sudah ada sebuah mobil baru. Ya, mobil yang hanya cukup untuk empat orang itu sudah berdiri manis di depan teras.


"Ada tamu itu, ya. Mobilnya baru?" celetuk Annisa.


"Eh iya. Siapa ya?" sahut Alya.


Setelah mobil aku parkirkan dengan manis di sebelah mobil itu, semua keluarga turun dari mobil.


"Kok nggak ada orang di dalam mobil, ya?" tanya Alina yang mengintip ke dalam mobil.


"Iihhh, Alin. Kenapa pake ngintip segala coba?" protes Annisa.


"Kepingin tahu!" jawabnya acuh.


"Hhh. . . selalu begitu!" sahutnya kesal lalu masuk ke dalam rumah.


"Assalammu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam," sahut bibi.


"Ada tamu ya, bi?" tanya Annisa penasaran.


"Nggak ada, non," jawab bibi.


Dahinya berkerut, "Lalu itu mobil siapa?" tanya Annisa heran.


"Oh, tadi ada orang dealer yang anterin. Itu kan mobil baru!" jelas bibi.


"Kejutan!" seruku seraya memamerkan kunci mobil ke arah putraku.


"Ada apa ayah?" tanya anak-anak penasaran seraya melihat kunci mobil di tanganku.


"Mobil itu hadiah dari ayah dan bunda buat mas Andre yang kini sudah jadi dokter!" jawab istriku.


"Buat mas, bun?" putraku bertanya dengan mata membulat.


Istriku tersenyum seraya mengusap bahu putraku, "Iya, nak. Bunda bangga sama kamu. Jadilah dokter yang baik. Yang mau menolong orang yang membutuhkan sekalipun tanpa imbalan ya, nak!"


Mata Andre berkaca-kaca, "In Sya Allah, bun.Terimakasih hadiahnya."


"Wah, senengnya. . .!" teriak adik-adiknya senang. Tapi tidak ada rasa iri di mata mereka karena kakak mereka mendapatkan hadiah mobil itu.


"Ayo mas, tes drive!" titahku lantas menyodorkan kunci mobil ke tangannya.


"Ayo, ayo. . .!" seru semua orang.


Dengan wajah haru, putraku lalu naik ke mobil, "Ayo siapa yang mau ikut? Mas sudah jago bawa mobil, loh!" tawarnya.


Dan pas banget. Mobil kecil yang memang hanya cukup untuk empat orang itu di serbu ketiga adiknya.


"Ayo mas, kebut!" seru Alina yang paling ceria dan aktip di antara ketiga putriku. Dia memilih duduk di samping kakaknya.


"Ayah, bunda, kita jalan dulu!" pamit putraku yang kami beri anggukan.


"Jangan ngebut, mas!" teriak neneknya.


"Sip. Assalammu'alaikum!" ucap Andre lantas melajukan mobilnya keluar pagar.


"Wa'alaikumsalam."


Aku hanya tersenyum melihat tingkah anak-anakku.


Aku lantas menoleh ke arah istriku yang masih memandang ke arah pagar.


"Terimakasih, sayang. Bundanya anak-anak!" ucapku pelan.

__ADS_1


"Sama-sama, mas. Semua juga karena usaha mas yang sudah memajukan minimarket!" sahutnya.


Kami lalu masuk ke rumah. Rumah yang kini makin terasa ramai dan hangat. Saat anak-anak menjelang remaja, aku sengaja menambah sedikit bangunan untuk kamar tidur anak-anakku. Aku dan istriku ingin mereka mempunyai privasi masing-masing jadi aku menambah empat kamar lagi. Satu kamar di lantai atas dan tiga kamar di lantai bawah.


Aku dan istriku menempati kamar baru di lantai bawah yang lebih luas sedangkan tiga kamar di lantai atas untuk ketiga putriku. Andre dan ibuku tidur di kamar bawah. Satu kamar kosong untuk kamar tamu.


Aku dan istriku berbaring di tempat tidur melepas lelah.


"Alhamdulillah ya, mas. Salah satu anak kita sudah jadi dokter."


"Iya, yank. Terimakasih, ya. Semua berkat kamu!" sahutku.


"Kok berkat aku, mas? Itu kan atas usaha Andre sendiri. Dia tekun dalam belajar dan


"Iya, tapi tanpa bantuan dan dukungan dari bundanya, mungkin dia belum jadi yang seperti sekarang."


"Hhmm, kita semua, mas! Berkat doa dan dukungan kita semua!"


"Iya, yank."


***


Sementara itu keempat kakak adik sedang bersenang-senang dengan mobil baru mereka.


"Kita mau kemana, mas?" tanya Alya dari kursi belakang.


"Muter-muter sajalah!" sahut Andre.


"Yah, mas Andre. Traktir kita-kita donk!" celetuk Annisa.


"Bener tuh apa kata Annisa!" sahut Alina.


"Hhh, kalian minta mas traktir makan apa?" tanya Andre.


"Bukan traktir makan, mas. Kita sudah kenyang! Traktir yang lain!" tolak Annisa.


"Traktir apa memangnya, dek?" tanya Alya bingung.


"Hhmm, aku ingin ke salon!"


"Apa? Ke salon? Ada apa di salon?" tanya Andre bingung.


"Perawatan? Tadi bilangnya minta traktir?"


"Iya, traktir ke salon! Mau ya mas?" bujuk Annisa.


"Huhh, dasar Annisa!" celetuk Alina.


"Memangnya kenapa? Kamu juga seneng kan ke salon!"


"Hhh!"


"Traktir tuh makan, belanja, ini kok ke salon?" Andre menggelengkan kepala melihat adiknya Annisa yang memang dari kecil sudah senang berias. Dia paling suka memperhatikan bundanya saat berias.


"Mau ya, mas. Dompetku mulai menipis, nih!"


"Dek, nggak boleh maksa! Inget apa yang sering ayah bilang!" tegas Alya.


"Hhh, iya deh!" sahut Annisa dengan wajah cemberut lalu memalingkan wajahnya ke jalanan.


"Kamu mau perawatan apa, dek?" tanya Andre lembut. Andre juga terkadang suka memanjakan kedua adik kembarnya itu.


"Nggak jadi deh!" sahur Annisa.


"Loh, kenapa? Mas nggak suka ya kalau kamu ngambek!"


"Hhh, nggak ngambek kok mas. Kita pulang saja."


"Hhmm, yakin nggak jadi?"


"Pulang saja, mas."


Tiba-tiba handphone Andre berdering. Dia lalu merogoh kantongnya mencari handphone lalu menjawab panggilan video dari seseorang. Ternyata ada ayah bundanya di layar.


"Assalammu'alaikum, yah."


"Wa'alaikumsalam. Di mana sekarang?"

__ADS_1


"Kita masih di jalan, yah!" jawab Andre yang sesekali menoleh ke arah handphonenya.


"Jalan mana? Jangan jauh-jauh. Cepat pulang!"


"Iya, yah!"


"Kalian, ayah bunda tunggu di rumah!"


"Iya, yah!"


"Assalammu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam."


Sambungan video call terputus.


"Ayah dan bunda suruh kita cepat pulang, dek!"


"Hhmm, iya mas!" sahut Alya.


"Iya. . ." sahut Alina dan Annisa berbarengan. Sepertinya mereka belum mau pulang.


***


Di sebuah rumah sederhana.


"Assalammu'alaikum. Aku pulang, ma!"


"Wa'alaikumsalam."


"Papa mana, ma?"


"Papa ada pekerjaan di rumah pak Ali."


"Pekerjaan apa, ma?"


"Biasa. Pak Ali sedang bangun rumah kontrakan."


"Kenapa sih ma, papa nggak lamar kerja kantoran saja. Kan papa lulusan D3? Daripada kerja bangunan yang banyakan nganggurnya."


"Kamu jangan pernah bicarakan itu sama papa kamu kalau kamu nggak mau di pukul lagi!"


"Huhh, kenapa sih ma hidup kita susah banget. Aku jadi susah dekati cewek nih!" keluhnya.


"Hahh, kamu kecil-kecil mikirin cewek!"


"Yah, mama. Aku kan sudah besar. Tak lama.lagi aku akan lulus sekolah."


"Hhmm,"


"Ma, kan sebentar lagi aku lulus sekolah. Aku ingin kuliah, ma!"


"Papa kamu nggak ada uang buat biaya kuliah kamu! Baiknya kamu kerja saja bantu-bantu di rumah!"


"Aahh, mama nggak asik banget, deh!"


"Kamu kan tahu kehidupan kita gimana? Masih untung kamu masih bisa sekolah sampai lulus."


"Hhh, aku ingin jadi orang sukses, ma. . ."


Hhh. . .


.


.


.


.


Maaf jika masih ada typo. Semoga suka. 😊🙏


.


.


.

__ADS_1


22


__ADS_2