Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 189


__ADS_3

Kevin membukakan pintu mobil untuk Alya. Setelah itu dia masuk lalu duduk di kursi kemudi.


Sebelum menghidupkan mesin mobil, Kevin menoleh ke arah Alya.


"Terimakasih," ucap Kevin.


Alya menoleh, "Terimakasih untuk apa?" tanya Alya bingung.


"Terimakasih karena sudah mau berdandan untuk saya. Cantik!" jawab Kevin.


Wajah Alya langsung merona. Dia cepat memalingkan wajahnya keluar jendela.


Kevin tersenyum melihatnya lalu dengan santai melajukan kendaraannya. Walau sudah malam tapi kendaraan yang lalu lalang masih saja membuat macet jalanan. Sudah setengah jam berlalu.


"Apa rumahnya jauh?" tanya Alya yang mulai bosan.


"Tidak lama lagi. Ini karena macet."


Alya kembali diam. Benar saja, beberapa menit kemudian, mobil Kevin masuk ke halaman sebuah rumah yang terlihat asri. Banyak tanaman bunga yang berjejer rapi. Sepertinya pemiliknya sangat rajin dan pandai merawat tanamannya.


Kevin turun lebih dulu kemudian membukakan pintu mobil untuk Alya.


"Sepi, pak," ucap Alya saat baru saja turun dari mobil.


"Hanya ada oma, tante dan satu orang asisten rumah tangga di sini. Oh iya jangan panggil 'pak'. Saya bawa kamu ke sini sebagai calon istri bukan calon mahasiswi saya, Al!" ucap Kevin pelan namun penuh penekanan.


Alya menarik nafas panjang.


"Baiklah, mas!" sahut Alya.


"Terimakasih, sayang," bisik Kevin.


Alya memalingkan wajahnya.


Kevin lalu mengetuk pintu.


"Assalammu'alaikum," ucap Kevin.


Tak lama kemudian pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintu.


"Wa'alaikumsalam. Den Kevin?"


Kevin menyalami wanita itu lalu mencium punggung tangannya. Melihat hal itu, Alya pun ikut menyalami dan mencium punggung tangannya.


"Silahkan masuk, den," titah wanita itu.


Kevin lalu masuk ke dalam di ikuti Alya dari belakang. Di dalam pun rumah terasa begitu sepi. Bahkan suara tv pun tidak terdengar. Benar-benar seperti tak berpenghuni.


"Al, ayo!" ajak Kevin seraya menggamit tangan Alya.


Karena perasaannya yang tidak nyaman, Alya membiarkan saja Kevin menggamit tangannya.


Mereka tiba di ruang makan.Ternyata sudah ada yang menunggu mereka.


"Assalammu'alaikum, oma, tante," ucap Kevin.


"Kev," sahut seorang wanita paruh baya yang langsung berdiri menyambut mereka. Tantenya Kevin yang bernama Dilla.


"Tante," Kevin mencium punggung tangan wanita itu. Alya pun mengikuti apa yang di lakukan oleh Kevin walau sedikit ragu dan bingung.


"Gadis ini?"


"Iya, te. Dia Alya," sahut Kevin.


Alya sedikit membungkukkan kepalanya seraya tersenyum.


Tak lupa Kevin menghampiri seorang wanita lagi yang sudah berumur. Omanya. Kevin pun mencium punggung tangan omanya lalu memeluk dan mencium lembut pucuk kepalanya. Omanya tersenyum. Setelah itu, Alya pun mencium punggung tangan omanya Kevin.


"Tante dan oma sehat, kan?"


"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat. Selama bunga-bunga di taman kita masih segar berbunga, itu artinya oma dan tante sehat-sehat saja."


"Aamiin. Semoga oma dan tante senantiasa sehat."


"Ayo kalian duduk, makan malam dulu. Tante sudah lapar!" titahnya.


Mereka lalu makan tanpa ada yang bersuara. Alya terlihat gugup dan sering sekali melirik ke arah Kevin.


Setelah selesai makan malam, tante Kevin mengajak mereka ke ruang keluarga. Saat itu baru Alya menyadari kalau oma Kevin memakai kursi roda.

__ADS_1


"Jadi bagaimana?" tanya tante Dilla.


"Aku ingin kita menikah satu bulan lagi, te."


"Hhmm, keluarganya sudah setuju?"


"Alhamdulillah. Tante masih ingat Andre? Dia adiknya Andre, te."


"Andre?"


Kevin mengangguk.


"Hhmm, iya tante masih ingat. Papi kamu sudah di beritahu?"


"Papi nanti saja kalau waktunya sudah dekat. Toh aku nggak yakin kalau papi mau pulang karena jauh"


"Hhmm, tante akan memintanya untuk pulang!"


"Nggak usah di paksa, te. Aku hanya butuh kehadiran tante dan oma saja!"


Tante Dilla mengernyitkan dahinya, "Lalu abang kamu nggak di kasih tahu juga?"


Kevin menarik nafasnya berat, "Sama halnya dengan papi, aku akan memberitahukannya saat waktunya sudah dekat saja, te."


"Baiklah. Bisakah tante bicara sebentar dengan Alya?" tanya tante Dilla.


Deg. Mata Alya membulat sempurna. Tapi dia berusaha menetralkan perasaannya.


Kevin menoleh ke arah Alya, "Bicaralah sama tante Dilla," ucapnya pelan.


Alya meneguk salivanya dengan susah payah. Apa yang akan di bicarakan sama tante, ya. Batin Alya. Akhirnya Alya pun mengangguk.


"Mari ikut saya!" titah tante Dilla lantas berjalan menjauhi Kevin dan omanya.


Alya mengikuti tante Dilla ke sebuah ruangan. Sepertinya itu adalah ruangan kerja. Tante Dilla lalu duduk.


"Silahkan duduk!" titahnya pada Alya. Alya pun menurut, lalu duduk di kursi yang ada di depan tante Dilla duduk.


"Sejak kapan kenal Kevin?"


"Hhmm, pak Kevin adalah dosen saya, te," jawab Alya.


"Hhmm, maksudku mas Kevin," ucap Alya gugup.


Dahi tante Dilla berkerut, "Kamu benar-benar calon istri Kevin?"


"I-iya, tante," jawab Alya gugup.


"Bukan hanya pura-pura, kan?"


Dahi Alya berkerut. Pura-pura, apa maksud tante Dilla, ya. Batin Alya bingung.


"Tidak, te. Mas Kevin juga sudah bicara dengan keluargaku, dan lamaran resminya nanti," jelas Alya.


"Hhmm, jadi Kevin benar-benar serius, ya. Kamu tahu kan siapa Kevin?"


"Hhmm, mas Kevin adalah dosen di kampus tempat aku kuliah, te."


"Hhmm, hanya itu?"


"I-iya, te."


"Hhmm, kamu benar-banar sayang sama keponakan saya?"


Alya mengangguk pelan, "I-iya, te."


"Tante harap kamu tidak akan menyakiti keponakan saya. Dan semoga kamu bisa setia!"


"In Sya Allah, te," sahut Alya.


"Baiklah," tante Dilla lantas berdiri kemudian membuka sebuah lemari besar yang ada di sana.


Alya tidak terlalu jelas melihat apa yang sudah tante Dilla lakukan. Tiba-tiba dia sudah berdiri di depan Alya.


"Ini milik oma. Oma akan memberikannya pada wanita yang akan menjadi istri anak dan cucunya. Dan karena Kevin sudah memilih kamu sebagai istrinya, maka ini saya berikan untuk kamu!" jelas tante Dilla seraya mengulurkan sebuah kotak kecil pada Alya.


"A-apa ini, te?" tanya Alya bingung.


"Bukalah!"

__ADS_1


Alya menerima kotak itu lantas membukanya. Sebuah kalung liontin bermata putih dengan sangat indah bertahta di sana. Alya tidak begitu paham jenis-jenis batu berharga. Tapi yang dia pegang saat ini, batunya begitu berkilau.


"I-ini. . ."


"Sini saya pakaikan!" ucap tante Dilla yang langsung mengambil kalung itu lantas mengalungkannya di leher jenjang Alya.


"Hmm, terimakasih, te."


"Saya harap, kamu tidak akan menyakiti keponakan saya. Itu akan sangat mengecewakan saya!" ucap tante Dilla pelan namun dengan penekanan.


Setelah itu, Alya di persilahkan kembali ke ruang keluarga di mana Kevin dan omanya masih menunggu.


"Tante, Alya, sudah bicaranya?" tanya Kevin.


"Iya, sudah," jawab tante Dilla.


"Hhmm, oh iya te, oma sepertinya sudah ngantuk,"


"Iya, biasanya oma pukul delapan sudah tidur setelah selesai tante ajak sholat,"


"Hhmm, baiklah te, aku pulang dulu, ya. Alya nggak boleh pulang malam."


"Iya. Kamu baik-baik, ya."


"Iya, te."


Setelah berpamitan dengan tante dan omanya, Ķevin segera mengajak Alya pulang.


"Tante tadi bicara apa?" tanya Kevin saat mereka sudah dalam perjalanan.


"Hmm, tante menanyakan keseriusan kita. Dan meminta aku untuk tidak menyakiti mas!"


Kevin tersenyum.


"Kenapa tersenyum?"


"Nggak apa-apa. Lalu apa lagi?"


"Hhmm, tante memberikanku kalung liontin. Tante bilang kalung ini milik oma yang akan di berikan pada istri dari anak dan cucunya. Karena mas sudah pilih aku maka tante berikan kalung ini untukku," jelas Alya.


"Saya baru tahu. Oh, ya. Mana kalungnya?"


"Hhmm, sudah aku pakai."


"Boleh lihat?"


"Hhmm, tapi sudah aku pakai, mas!" tolak Alya.


"Hhmm, jadi nggak boleh lihat?"


Alya menarik nafas panjang, " Baiklah, aku lepas dulu," ucap Alya.


"Hehee,"


"Kenapa tertawa?"


Kevin menggelengkan kepalanya, "Nggak jadi. Nanti saja."


"Hhmm,"


"Langsung pulang?"


"Iya."


"Nggak mau kemana dulu?"


Alya menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, kita pulang."


.


.


.


.


.

__ADS_1


10,3


__ADS_2