
Hari ini kembali di gelar sidang kasus David dan juga ayahnya. Aku hanya diam menyaksikan saja karena hari ini hanya tinggal mendengarkan keputusan Hakim saja.
Entah sehebat apa Penasihat Hukum yang di sewa oleh Lisa hingga hukuman untuk suami dan mertuanya di potong hingga tinggal lima belas bulan saja. Aku ingin protes tapi ya sudahlah. Setidaknya mereka sudah di berikan hukuman atas perbuatan mereka terhadap putriku. Dan semoga hukuman yang mereka terima bisa memberikan efek jera.
Tapi ternyata keputusan Majelis Hakim tetap tidak membuat mantan istriku itu senang. Dia tetap membuat keributan di ruang sidang dan meminta suamimya di bebaskan.
Akhirnya Lisa di keluarkan paksa dari ruang sidang.
Setelah sidang selesai, aku gegas keluar hendak pulang. Tapi saat aku sedang berjalan menuju parkiran, ternyata Lisa ada di dekat sana. Dia mengejarku sambil berteriak memanggilku.
"Mas Anto!" teriaknya lalu berdiri menghadangku.
"Pergilah, Lisa! Jangan ganggu saya!" tegasku.
Matanya menatapku dengan tatapan nyalang, "Puas kamu menghancurkan hidup keluargaku, haah?!" teriaknya histeris.
Aku yang tidak ingin jadi pusat perhatian segera meninggalkan wanita itu dengan setengah berlari menuju ke mobil lantas gegas melajukan mobil meninggalkan pengadilan.
Lisa terus meneriakkan namaku.
Aku kembali ke minimarket. Fokus ke usaha yang menopang hidup keluargaku daripada memikirkan hal lain. Pembangunan rumah yang kami beli waktu itu hampir selesai tinggal pembangunan lantai atasnya saja.
Tidak seperti biasa minimarket terlihat makin ramai. Harga barang yang semakin naik tidak membuatku ikut menaikkan harga karena semua barang-barang masih stok lama. Sehingga pembeli beramai-ramai belanja di sini. Bahkan semua karyawan sudah lebih dulu memborong bertepatan dengan waktunya mereka gajian.
"Aku belum belanja, nih," keluh Adit, salah satu karyawan di gudang.
"Loh, kenapa?" tanya temannya.
"Uangnya buat berobat ibuku!"
"Hhhmm, beli sedikit saja mumpung barang belum di naikin sama pak Anto! Toh nggak habis semua kan gaji kamu untuk berobat ibu."
"Iya, sih. Lihat saja nanti. Tuh pembeli antriannya sudah seperti antri sembako gratis saja!"
"Yah gitu, deh!"
Mereka tertawa bersama.
Aku hanya tersenyum saja mendengar obrolan Adit dan temannya di gudang. Aku nggak akan naikin harga, kok. Toh harganya naik hanya sedikit saja. Aku sudah musyawarah semalam dengan istriku. Dan aku yakin minimarket nggak akan mengalami kerugian karena walau harga barang banyak yang naik, tetap saja kami akan mendapatkan keuntungan walau tidak sebanyak penjual lain.
Aku lalu mengontrol pembangunan minimarket. Rencananya pesanan pagar pembatas untuk lantai atas dan tangga dari bengkel pak Sugi akan di antarkan hari ini. Sambil menunggu mereka, aku akan mengerjakan tugas harianku saja seperti biasa.
***
Satu bulan berlalu. Pembangunan minimarket sudah selesai. Alhamdulillah, istriku puas dengan pekerjaan para tukang. Semua sesuai seperti yang dia harapkan.
"Gimana sayang? Kamu suka?" tanyaku saat mendampingi istriku berkeliling dari lantai bawah hingga lantai atas.
"Suka banget, mas!" jawabnya dengan senyum semringah.
"Alhamdulillah kalau kamu suka, yank!"
"Mas, kita nanti adakan syukuran, ya? Aku ingin mengundang anak-anak dari panti asuhan."
"Iya, sayang. Mas setuju saja."
"Hhmm, kapan ya mas waktu baiknya?"
__ADS_1
"Kita lihat situasi dulu, yank. Tapi menurut mas harinya kita ambil hari jumat saja, bagaimana?"
Istriku mengangguk, "Iya, mas. Aku setuju. Tapi siang apa sore, mas? Di minimarket saja, ya?"
"Menurut mas lebih baik sore saja, yank. Biar nggak terburu-buru kan mau jumatan!"
"Iya, mas!"
Setelah beberapa hari. Hari yang di nantikan tiba. Setelah minimarket yang baru sudah di isi dengan barang-barang yang akan di jual, kami jadi mengadakan syukuran. Istriku sudah memesan bermacam masakan dan makanan untuk konsumsi setelah acara selesai. Tak lupa juga mengundang anak-anak dari panti asuhan.
Acarapun di mulai dengan kata sambutan dari istriku. Akupun di minta ikut berbicara di depan orang banyak. Aku sungguh malu dan gugup awalnya tapi bersyukur, istriku memberikan semangat dan dukungan padaku dan akhirnya aku mampu.
Setelah acara inti selesai, kami lalu makan-makan. Istriku mengundang tak kurang dari lima puluh orang anak dari panti asuhan. Istriku juga sudah menyiapkan bingkisan dan juga ampop untuk dibawa pulang oleh mereka. Setelah selesai acara makan-makan, mereka lalu diantar pulang oleh mobil yang sudah di sewa oleh istriku.
"Ayah, aku mau main ke minimarket yang di atas, ya?" pinta Alya seraya menarik-narik tanganku.
"Iya, nak. Di temani sama ayah, ya?"
Dia mengangguk, "Iya, yah."
Aku lalu membawa putriku ke lantai atas. Semua barang yang di jual di lantai atas sudah hampir lengkap. Mbak Melly di tempatkan di kasir yang di lantai atas seperti permintaannya saat di tanyakan oleh istriku. Walau dengan malu-malu, dia akhirnya mau jujur kalau di gudang terasa kurang nyaman karena dia jadi sering berduaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya.
Setelah putriku puas berkeliling, kami lalu kembali ke kantor.
"Alya nggak ambil apa-apa di sana?" tanya istriku.
Putriku menggelengkan kepalanya, "Nggak, bun."
"Kalau ada yang Alya suka ambil saja nggak apa-apa."
"Hhmm, iya bun. Aku tadi hanya suka sama pita rambut tapi nggak aku ambil."
"Kan barangnya buat di jual. Masa aku ambil?"
"Ya nggak apa-apa, nanti uang jajan Alya tinggal ayah kurangi!" gurauku seraya tertawa.
***
Tak terasa putriku sudah di terapi selama satu bulan dan itu artinya sudah delapan kali dia melakukan terapi dan sudah waktunya kembali kontrol ke dokter rehab medik. Pukul delapan, kami sudah antri di depan poli rehab medik.
"Antrinya lama lagi ya, yah?" keluh putriku saat melihat banyaknya pasien yang mengantri.
"In Sya Allah nggak, kok. Kan ayah sudah daftar dari pagi-pagi sekali," jawabku.
Tak lama setelah itu nama putriku dipanggil. Kami konsultasi lagi sama dokter yang waktu itu.
"Halo, Alya. Apa kabarnya?" tanya dokter ramah.
Alya tersenyum dengan wajah yang sedikit tegang, "Alhamdulilah baik, dok."
"Bagaimana apa kakinya sudah ada kemajuan?"
"Alhamdulillah sudah bisa berjalan satu dua langkah!" jawab putriku.
"Alhamdulillah, ya." sahut bu dokter.
Kaki putriku lalu diperiksa oleh dokter.
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah bagus ini. Ayo saya bantu berdiri!"
Dokter lantas menurunkan kedua kaki Alya dari kursi roda lalu membantunya untuk berdiri. Berdiri sampai berapa lama putriku mampu.
Setelah berdiri beberapa menit, Alyar terlihat kelelahan.
"Capek, dok!" keluhnya.
Dokter kembali mendudukkan Alya di kursi roda.
"Alhamdulillah Alya sudah mampu berdiri selama beberapa menit tanpa peganga. Itu artinya Alya hanya membutuhkan waktu sedikit lagi untuk bisa berjalan seperti biasa. Mungkin hanya membutuhkan beberapa kali terapi saja."
"Alhamdulillah!" sahutku.
"Di rumah juga harus sering berlatih, ya!"
"Iya, dokter. Ayah sering melatihku di rumah!"
Setelah selesai dari poli rehab medik, kami kembali mengantri di ruang terapi. Karena putriku sudah beberapa kali datang ke tempat ini, dia sekarang sudah mempunyai teman sebaya yang juga rajin melakukan terapi. Tapi temannya itu sudah dari sejak usia satu tahun melakukan terapi karena memang dia seorang anak spesial.
"Kapan-kapan main ke rumah bundaku, ya?" ajak putriku.
"Iya, aku bilang dulu sama mama boleh apa nggak," jawabnya.
Gadis kecil yang bernama Melati itu belum terlalu lancar berbicara walau pun usianya sudah delapan tahun. Selain ikut fisioterapi, Melati juga ikut terapi yang lainnya juga jadi dia bisa sampai siang di rumah sakit.
"Oke, deh!" sahut putriku.
"Kamu punya nomor handphone?" tanya Melati.
"Handphone? Aku nggak suka pakai handphone!" jawab putriku.
"Wah, aku juga nggak suka pakai handphone. Mamaku bilang sinar handphone nggak baik buat mataku."
"Oh gitu?"
"Iya. Mataku lama baru bisa melihat dengan jelas. Mama bilang, aku baru bisa melihat dengan jelas di saat usiaku dua tahun."
"Loh, kamu baru bisa melihat usia dua tahun?"
Melati mengangguk, "Iya,"
"Oohh," Alya hanya mengangguk-angguk saja. Dia terlihat bingung.
Tak lama kemudian, nama putriku di panggil ke ruang terapi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
09