Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 48


__ADS_3

Aku melangkah dengan gontai tanpa aku sadari aku sudah sampai di depan minimarket. Mungkin jalan ke minimarket adalah jalan yang biasa aku lalui jadi langkah kakiku membawaku ke sana.


Aku diam di halaman parkir,menatap kosong.


"Pak,Anto!" sapa salah satu karyawanku yang tiba-tiba sudah berdiri di dekatku.


Aku menoleh seraya tersenyum. Senyum yang aku paksakan. Dia menatap aneh ke arahku.


Aku masuk ke dalam kantor yang biasa aku tempati. Aku lalu berbaring di sofa. Aku merasa sangat lelah. Bagaimana tidak,dari rumah istriku sampai ke minimarket ini aku berjalan kaki yang biasanya aku mengendarai sepeda motor memakan waktu lebih sepuluh menit.


Lama-lama aku pun tertidur. Beberapa saat kemudian aku terbangun. Aku mendengar adzan maghrib,aku gegas pergi ke masjid yang dekat dengan minimarket.


Setelah itu aku kembali lagi ke kantor,berdiam diri di sana sedikit menenangkanku. Aku lalu menyibukkan diri dengan pekerjaan yang dari kemarin aku tinggalkan.


Tok tok. . .


Aku menoleh ke arah pintu, "Masuk!" titahku.


"Pak Anto,ini laporan barang masuk kemarin!" jelas salah satu pegawai minimarket seraya meletakkan buku catatan di atas meja.


"Iya,terimakasih!" sahutku.


Aku kembali sibuk dengan pekerjaanku hingga tidak terasa minimarket mau tutup.


Aku lalu pulang dengan menggunakan ojek online. Sampai di rumah,suasana sudah sepi. Aku lihat kamar anakku,mereka sudah tidur. Aku lalu melangkahkan kakiku ke kamar istriku.


Ceklek. Pintu tidak terkunci. Aku lalu masuk ke kamar dengan perlahan,mungkin saja istriku sedang tidur. Ternyata aku lihat dia tertidur di atas sajadahnya. Mungkinkah dia sedang menungguku pulang sampai tertidur selepas sholat? Rasanya aku tidak tega melihatnya,tapi jika ingat kejadian tadi siang,rasa kecewaku muncul kembali.


Aku lalu duduk di sofa,berbaring lalu memejamkan mataku.


"Mas!" seru istriku tiba-tiba yang langsung duduk di bawah sofa dan memegangi tanganku, "Jangan tinggalin aku,mas!" ucapnya dengan suara bergetar.


Aku yang kaget langsung duduk.


"Mas,aku nggak sengaja bertemu dia tadi. Dia-dia mantanku saat sekolah dulu. Dia memegang tanganku karena memaksaku ikut dia ke suatu tempat. Tapi,aku nggak mau,mas. Sungguh,mas. Kalau mas ga percaya,mas tanyakan saja sama Alya. Buat apa aku menikah denganmu kalau ada pria lain di hatiku?" jelasnya sambil terisak.


Aku bisa melihat matanya yang bengkak,mungkin terlalu lama menangis. Apa aku begitu jahat sampai tidak mempercayainya? Tapi setelah mengalami pengkhianatan,aku memang sulit untuk mempercayai orang lagi.


Dia menghapus airmatanya lalu berdiri, "Mas boleh mendiamkanku,tapi tolong jangan pergi," ucapnya dengan wajah memohon kemudian berlalu dari hadapanku. Aku lihat dia kembali ke tempat tidur dengan posisi miring membelakangiku. Aku bisa melihat bahunya bergetar. Apa dia masih menangis? Dadaku kambali terasa sesak.


Aku gegas mendekatinya. Benar saja,istriku masih terisak. Aku lalu membalik badannya agar menghadap ke arahku.


Dia langsung kaget. Dia terlihat begitu sedih dengan wajah yang basah air mata. Bahkan bantal yang dia pakaipun ikut basah.


"Mas?" ucapnya dengan suara bergetar.


Aku langsung menariknya dalam pelukanku. Aku usap kepalanya. Aku kaget,kepalanya terasa panas. Istriku demam.


"Maafin aku,mas. . ." tangisnya pecah dan bahunya bergetar hebat.


Aku makin mengeratkan pelukanku. Sedalam inikah kesedihannya? Aku sungguh merasa berdosa.


Setelah tangisnya mereda,aku lalu melepaskan pelukanku. Aku hapus airmatanya. Pipinya terasa hangat. Dia benar-benar demam.


"Kamu demam!" ucapku.


"Jangan tinggalin aku. . ." dia kembali memohon.


Aku menggelengkan kepalaku, "Mas nggak akan pernah tinggalin kamu!" tegasku.


Matanya membulat, "Be-benarkah,mas?"


Aku mengangguk, "Maafin mas,ya?"


"Aku yang salah,mas."


Aku menarik nafas panjang, "Mas juga salah!"


"Jadi mas percaya sama aku?"


"Sekali ini mas percaya!" tegasku.


"Aku benar-benar nggak sengaja ketemu dia,mas. Aku nggak akan lagi pergi tanpa mas!"


"Mas nggak minta apa-apa dari kamu! Mas hanya minta kamu setia,hanya itu. Jika suatu hari kamu sudah nggak ingin lagi bersama mas,kamu jujur saja nggak perlu harus selingkuh!"


"Aku hanya butuh kasih sayang mas saja. Sejak hidup sendiri,aku belum pernah merasa nyaman dengan pria."

__ADS_1


"Terimakasih! Mas memang hanya punya kasih sayang yang tulus untuk kamu dan anak-anak. Mas nggak berharta!"


"Hhmm,mas. Aku. . ." dia menggantung ucapannya dengan mata setengah terpejam. Satu tangannya memegangi kepala.


"Kamu kenapa?"


"Kepalaku. . ."


"Kepala kamu sakit?" tanyaku cemas. Dia hanya mengangguk.


"Kita ke dokter?" tanyaku lagi dan dia hanya menggelengkan kepalanya.


Wajahnya terlihat makin pucat. Setelah itu dia pingsan.


"Sayang!" aku mencoba membangunkannya berulang-ulang.


Aku coba olesi minyak kayu putih juga di leher dan hidungnya sambil aku pijat-pijat. Setengah jam kemudian dia baru tersadar.


"Mas. . ." ucapnya lirih dengan mata yang sedikit terbuka.


Aku langsung memeluknya, "Maafin mas!"


"Aku-aku haus,mas,"


"Kamu haus? Sebentar,mas ambilkan minum dulu,ya!"


Aku gegas mengambilkan air minum untuknya. Aku lalu membantunya untuk duduk, "Ini,pelan-pelan!" ucapku seraya membantunya untuk minum.


"Hhmm,terimakasih mas."


Tiba-tiba,kruk kruuukk. . . suara dari perut istriku.


Kami lalu saling menatap, "kamu lapar?" tanyaku.


Dia menundukkan kepalanya lalu mengangguk pelan.


"Tadi nggak makan malam,ya?"


"Hhmm,tadi belum lapar."


Dia hanya mendengus.


Aku menggendongnya dengan tiba-tiba hingga membuat dia kaget.


"Mas. . ." teriaknya.


"Kita makan!" tegasku.


"Hhmm,mas juga belum makan malam?" tanyanya.


"Ehhmm!" sahutku.


"Belum lapar apa nggak selera makan?" tanyanya lagi.


Aku melirik ke arahnya lalu menciumnya tiba-tiba.


"Hhhmm,mas. . ." ucapnya malu.


"Tapi suka,kan?"


Dia hanya menunduk malu. Wajahnya sudah tidak lagi terlihat pucat seperti tadi.


"Mas,mungkin sudah nggak ada lagi makanan di dapur."


"Kita masak!"


"Hhmm,males ah malam-malam masak!"


"Mas yang masakin!"


"Mas bisa masak?"


"Tentu saja!"


"Oh,ya? Kalau gitu aku mau rasain masakan mas!"


"Hhmm,maunya."

__ADS_1


Dia tersenyum, "Beruntungnya aku punya suami seperti mas!"


"Beruntung darimana? Punya suami yang nggak memiliki apa-apa!"


"Iihh,mas. Harta dan kebahagiaan itu bukan di lihat dari uang atau barang! Keluarga itu lebih dari segalanya!"


"Sayangnya nggak semua wanita berpikir seperti itu!"


"Apa yang di pikirkan oleh wanita lain itu penting buat mas?"


"Nggak,yank! Hanya kamu!" tegasku.


"Hhmm,aku memang wanita beruntung,mas!"


"Alhamdulillah!"


Sampai di dapur,aku lalu menurunkannya,duduk di kursi.


"Mas,kita mau masak apa? Aku nggak bisa makan mie instan!"


"Di kulkas ada bahan apa saja? Nasi masih ada,kan?"


"Nasi masih ada,mas. Di kulkas hanya ada ayam sama ikan saja."


"Bagaimana kalau kita makan ikan panggang,hmm?"


"Mas bisa? Apa nggak terlalu lama?"


"Kamu sudah lapar banget,ya?"


Dia langsung mengangguk.


"Di goreng saja,ya?"


"Hhmm,iya deh nggak apa-apa sesekali makan yang di goreng."


"Kamu tunggu,ya!"


Aku lalu sibuk menyiapkan ikan yang hendak di goreng. Setengah jam kemudian,ikan goreng dengan bumbu sudah siap. Kami lalu makan malam berdua.


"Enak banget bumbunya,mas!" puji istriku.


"Masa?"


Dia menganggukkan kepala.


"Mas suapin,ya?" ucapku yang langsung menyodorkan ikan plus nasi ke dalam mulutnya langsung dari tanganku.


Tidak sampai setengah jam,kami sudah selesai makan lalu segera kembali ke kamar.


"Yank,"


"Hhmm,ya mas?"


"Kamu sudah ngantuk belum?"


Dia menggelengkan kepalanya.


"Mau nggak?" tanyaku lembut.


Dia tersenyum seraya mengangguk pelan.


"Kita sholat dulu,ya?"


"Hhmm,iya mas. . ."


.


.


.


.


.


23

__ADS_1


__ADS_2