
Aku masih setia duduk sambil memegang tangannya yang terasa dingin dan sedikit pucat. Berbulan-bulan berada di dalam ruangan berAC membuat kulitnya terlihat tidak sehat.
"Yank, kapan kamu mau bangun? Sudah lebih dari empat bulan loh kamu tidur. Apa kamu tidak ingin bertemu putri kembar kita? Mereka sangat membutuhkanmu, yank!"
Dia tetap diam, tak merespon sedikitpun ucapanku.
"Beberapa hari ini putri kita mulai bisa tengkurap sendiri walau nggak lama. Itu adalah kemajuan yang sangat bagus. Kalau kamu terus tidur begini, kamu akan kehilangan momen penting dalam pertumbuhan bayi kembar kita. Mas juga jarang sekali menemani mereka karena mas harus bolak-balik ke rumah sakit dan juga minimarket."
Hhh, apakah Santi bisa mendengarkan ucapanku?
"Minimarket kita juga makin ramai yank. Rumah kita terasa sangat berbeda tanpa kehadiran kamu. Anak-anak sudah tidak mau lagi mas ajak jalan-jalan walau hanya untuk sekedar melepas kepenatan."
Tiba-tiba suster datang. Seperti biasa akan memberikan makanan cair untuk istriku.
"Kira-kira kapan istri saya akan sadar, sus? Apakah ada pasien yang mengalami koma selama ini?" tanyaku kepada suster yang sedang sibuk dengan alat medis di tangannya.
"Kalau kapan sadarnya saya kurang tahu, pak. Tapi memang ada beberapa kasus pasien yang bisa mengalami koma sampai berbulan-bulan bahkan ada yang sampai bertahun-tahun!" jelas suster.
"Kalau masalah penyakit kankernya gimana, sus?" tanyaku.
"Setahu saya penyakit kankernya sudah ada kemajuan, pak. Bapak bisa tanyakan langsung sama dokter untuk lebih jelasnya."
"Bagaimana saya bisa bertemu dengan dokternya ya, sus?"
"Kalau bapak mau, setiap pagi dokter akan visit ke ruangan pasien Jadi bapak tunggu saja sebelum pukul sembilan!" jelas suster.
"Baiklah, sus!"
Memang setiap pukul sembilan, aku pasti sedang berada di minimarket. Makanya aku sangat jarang sekali bisa bertemu dengan dokternya.
Keesokan harinya setelah aku mengantar kedua anakku ke sekolah, aku langsung pergi ke rumah sakit. Aku ingin bertemu dengan dokternya untuk menanyakan penyakit istriku. Pukul delapan aku sudah sampai kembali ke rumah sakit.
Tak lama kemudian, dokter yang menangani penyakit istriku datang. Setelah dokter selesai memeriksa istriku, aku lalu mengajak dokter untuk berbicara.
"Permisi dokter. Saya adalah suami dari pasien Santi. Saya boleh bertanya, dok?"
"Oh silakan, pak. Mau tanya apa?" sahut dokter.
"Bagaimana dengan penyakit kanker istri saya. Apakah sudah ada kemajuan atau bagaimana kondisinya, dok?"
"Alhamdulillah. Seperti yang saya bilang satu bulan lalu kalau kanker otak yang di derita oleh bu Santi sekarang stadium dua!" jelas dokter.
"Apakah penyakitnya bisa benar-benar sembuh total ya, dok?" tanyaku.
"In Sya Allah. Semua itu bisa saja terjadi jika Allah menghendaki. Tapi memang untuk penyakit kanker itu proses penyembuhannya cukup lama apalagi jika pasien menderita sakitnya sudah bertahun-tahun."
"Oh iya, dok."
"Bapak sabar saja. Sering-sering di ajak bicara dan terus berdoa.
"Baiklah dokter kalau begitu. Saya menunggu kabar baik dari dokter."
"Kalau begitu saya permisi dulu ya, pak!" pamit dokter.
__ADS_1
Aku kembali duduk di sebelah istriku. Mengajaknya berbicara dari hati ke hati dan tak lupa membacakan beberapa ayat suci di telinganya.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Aku lalu berpamitan pada istriku untuk kembali ke minimarket. Saat aku baru sampai di minimarket ternyata ada satu mobil yang datang ngantarkan barang orderanku. Setelah selesai melihat mereka sebentar, aku lalu pergi ke lantai atas untuk melihat dan mengecek barang barang yang ada sana.
***
Aku sedang menjemput putriku di sekolahnya dan langsung aku antar ke rumah. Sampai di rumah, aku mendengar suara tangisan bayi ku di ruang keluarga. Tangisannya sangat kencang hingga membuatku panik.
Aku gegas mendekatinya, "Kenapa Annisa menangis kencang banget, bu Mina?" tanyaku heran pada bu Mina yang tengah menggendong putriku Annisa.
"Iya nak, Anto. Tadi saya lihat Annisa tidak sengaja tertendang kepalanya oleh Alina!" jelas bu Mina.
"Kenapa mereka ditinggal sendirian, bu? Ibu saya mana?" tanyaku heran.
"Ibu sedang di kamar mandi, dari tadi dia mules-mules."
Aku menarik nafasku berat. Seharusnya mereka tidak boleh meninggalkan putri kembarku berdua saja. Kalau sudah begini mau bagaimana? Masih beruntung putriku tidak kenapa-kenapa. Dia hanya terlihat kaget saja. Aku sudah periksa tidak ada yang bengkak atau merah di tubuhnya.
"Apa bu Mina melihat sendiri kalau Alina yang sudah menendang Anisa?" tanya aku.
"Iya, nak Anto. Tadi saat saya tinggal mereka berdua masih tidur, jadi saya pikir tidak apa-apa saya tinggal sebentar. Saat saya kembali lagi, dari jauh saya melihat Alina tidak sengaja menendang Annisa yang masih tertidur. Karena itu Annisa langsung menangis!" jelas bu Mina lagi.
"Bukankah biasanya mereka kalau tidur ditaruh di box bayi ya, bu? Kenapa tidak ditidurkan di box bayi saja yang lebih aman?"
"Iya, nak Anto. Tadi kebetulan kita sedang nonton tv bersama terus Alina dan Annisa tertidur jadi akhirnya kita tidurkan saja disini!" jelas bu Mina.
Tak lama kemudian Ibuku datang terburu-buru.
"Ada apa cucu nenek menangis?" tanyanya kaget dan terlihat cemas.
"Oh, kasihan cucu nenek!" ucap ibuku seraya mengambil alih menggendong Annisa yang sudah mulai berhenti menangis.
"Bu, lain kali mereka jangan ditinggal sendirian dong, walaupun dalam posisi sedang tidur. Atau tidurkan saja di box bayi supaya akan lebih aman!" pintaku pada ibu.
"Iya, nak. Lain kali ibu akan tidurkan mereka di dalam box bayi saja."
"Oh ya, bu Mina bilang kalau ibu mules-mules, ya? Sejak kapan?" tanyaku.
"Iya nih. Dari sejak tadi pagi ibu sudah mules-mules. Ini sudah yang ketiga kali!" jelas ibu.
"Memangnya ibu habis makan apa?"
"Ibu tadi habis makan rujak mangga muda. Cabenya banyak, pedas banget memang !"
Aku menggelengkan kepala, "Ibu ada-ada saja. Aku belikan obat ya, bu?"
Ibuku menggelengkan kepalanya. "Tidak usah. Ibu tadi sudah minta tolong sama bibi untuk merebuskan ibu daun jambu batu untuk Ibu minum."
"Ya sudah,sini aku gendong Annisa, bu!" pintaku lantas mengambil putriku dari gendongan neneknya.
Aku menggendong putriku lembut seraya menimang-nimangnya. Kasihan sekali dia. Dia pasti sangat merindukan kasih sayang bundanya. "Sabar ya, nak. Semoga bunda kamu bisa segera sadar dan cepat pulang berkumpul bersama kita di rumah!" ucapku seraya mengusap pucuk kepalanya penuh kasih sayang.
Ibuku lalu menggendong Alina dan memindahkannya ke dalam kamar untuk ditidurkan di dalam box bayi.
__ADS_1
"Kasihan adik Annisa pasti sakit banget kena tendang oleh adik Alina," ucap putriku Alya lalu mencium adiknya.
"Alya bantu ayah jagain adik-adik ya, nak!" pintaku pada putriku.
"Iya, yah. Aku selalu jagain adik-adik, kok. Kadang bergantian juga sama mas Andre!" jelas putriku.
"Terima kasih ya, sayang."
"Aku kan sayang sama adik-adik, yah!"
Aku tersenyum. "Alya ganti baju dulu sana!" titahku.
"Iya, yah!"
Alya lalu pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Tiba-tiba handphoneku berdering. Aku lantas merogoh kantongku untuk mengambil handphone yang aku simpan di sana. Rumah Sakit.
Buru-buru aku menjawab panggilan telpon.
"Halloo. . ."
"Apa, sus?"
"Baiklah, saya akan segera ke Rumah sakit."
Sambungan telpon terputus.
Aku lalu pergi ke kamar untuk memberikan Annisa pada ibu.
"Bu, titip anak-anak, ya. Aku mau ke rumah sakit sekarang juga!"
"Ada apa, nak? Kenapa wajahmu tegang begitu?" tanya ibu heran.
"Aku tadi dapat telpon dari rumah sakit, bu."
"Loh, ada apa?" tanya ibu khawatir.
"Aku juga belum tahu, bu. Aku hanya di minta segera ke sana! Aku pergi, bu!" pamitku seraya mencium punggung tangan ibuku.
Aku gegas menuju ke mobil.
.
.
.
.
.
Maaf jika ada typo. terimakasih sudah membaca 😊
__ADS_1
11