Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 194


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Alya dan keluarganya membuka beberapa kado yang dia terima. Kebanyakan kado di dapat dari karyawan minimarket yang memang di dominasi oleh perempuan.


"Loh, Alina sama Annisa juga kasih kado?" tanya Alya kaget.


"Iya, donk!" sahut mereka bangga namun saat Alya membuka kadonya, dia kaget bukan main. Bisa-bisanya adik-adiknya yang masih sekolah itu memberikan kado yang tak biasa. Satu paket pakaian tidur seksi yang melihatnya saja membuat Alya bergidik ngeri.


"Apaan sih, dek!" protesnya dengan wajah memerah malu karena dia membukanya di lihat oleh Kevin.


"Haha, nanti di pakai ya, mbak!" goda Alina.


"Iiihh, males!" Alya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya melirik ke arah Kevin yang tersenyum penuh arti. Alya memasukkan lagi pakaian itu ke dalam kotaknya.


"Loh, kita susah carinya sampai di omelin ayah!" gerutu Alina.


"Apa hubungannya sama ayah?" tanya Alya kaget.


"Iya, kita minta anter sama ayah dan ayah nunggu di mobilnya lama jadi ya di omelin, deh, " jelas Annisa.


"Siapa suruh kasih kado aneh!" ucap Alya kesal.


Alina dan Annisa kompak memasang wajah cemberut.


Alya lalu membawa semua kadonya ke kamarnya di bantu oleh Kevin.


"Di pakai saja kadonya tadi kan sayang juga sudah di beliin," goda Kevin.


"Iihh, nggak mau!" tolak Alya dengan jantung yang mulai tidak beraturan.


"Ya sudah kalau nggak mau pake juga nggak apa-apa. Toh bakal di lepas juga, kan?" goda Kevin lagi.


Alya langsung memalingkan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus itu. Dia pura-pura menata pakaian suaminya yang jelas-jelas sudah rapi di dalam lemari.


"Sayang!" panggil Kevin.


"I-iya, mas."


"Masih lama beresin pakaiannya?"


"Hhmm, dikit lagi, mas!" jawab Alya gugup.


Tiba-tiba Kevin memeluknya dari belakang.


"Ehmm, mas. Bikin kaget saja," ucap Alya dengan tubuh yang gemetar.


"Dari tadi masa nggak selesai-selesai, hhmm? Keburu pagi, loh!"


"Hhmm, pagi masih lama, mas,"


Kevin makin mengeratkan pelukannya tanpa peduli Alya yang tubuhnya makin gemetar. Rasanya lututnya sudah tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri.


Namun tiba-tiba Kevin menggendongnya, membawanya ke atas tempat tidur yang sudah di penuhi mawar merah yang di tengahnya di tata berbentuk hati.


"Mas. . . aku," Alya memejamkan matanya saat bibir Kevin menyentuh bibirnya.


Ya Allah perasaan apa ini. Kenapa aku jadi lemes begini. Batin Alya.


Saat Kevin mulai melepas kancing baju Alya, Alya langsung memegangi tangannya, "Mas, a-apa harus sekarang?" tanya Alya dengan suara bergetar.


"Memangnya kamu bisa nunggu besok?" tanya Kevin dengan mata menggoda menatap Alya.


"Hhmm,"


"Nggak bisa, kan?" tanpa Alya sadari, Kevin tersenyum menyeringai.


"Aku mau ke kamar mandi, mas!" ucap Alya tiba-tiba dan menghentikan gerak tangan Kevin.


Kevin menarik nafas panjang. Ok, sabar. Batinnya.


"Mas antar ke kamar mandi!"


"Tapi, mas?" Alya menatap Kevin dengan dahi berkerut.


Kevin tidak mengindahkan penolakan istrinya itu. Kevin lalu menggendong Alya dan membawanya ke kamar mandi.


"Mas keluar dulu!" pinta Alya.


"Mas juga butuh ke kamar mandi!" sahut Kevin.


"Hhmm, ya sudah mas duluan!" ucap Alya lalu hendak keluar dari kamar mandi tapi langsung di cegah Kevin.


"Mas!" teriak Alya.


"Huuss, nanti orang rumah denger!"


"Tapi, mas?"


"Kita di kamar mandi dulu," ucap Kevin tanpa peduli protes Alya.


Setengah jam lebih di kamar mandi sudah cukup membuat Alya tak berdaya. Tubuhnya bergetar hebat. Nyeri masih terasa. Dia sudah pasrah saja saat suaminya menggendongnya kembali ke kamar lalu membaringkannya di atas tempat tidur.


"Mas?"


"Hhmm,"


Hanya sprey putih yang jadi sasaran Alya, meremasnya kuat hingga kusut. Alya berusaha menutupi mulutnya takut suaranya terdengar oleh keluarganya tapi Kevin menahan tangannya sembari menggelengkan kepala. Ada titik air di sudut matanya saat mereka mencapai surganya dunia untuk kedua kali. Dan entah sampai berapa kali mereka mereguk indahnya surga dunia.


***


Matahari sudah mulai menerobos di sela-sela gorden membuat mata silau. Alya mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia merasakan tubuhnya sakit semua, belum lagi tangan kokoh yang berada di atas perutnya membuatnya kesulitan untuk bergerak.


"A-apa ini?" gumam Alya. Dia belum sepenuhnya sadar dari tidurnya dan tiba-tiba berteriak saat melihat ada orang lain di atas tempat tidurnya. Belum lagi saat menyadari tidak ada sehelai benangpun di tubuhnya.


"Pak Kevin," gumamnya lagi.


Alya mengernyitkan dahinya saat kesulitan untuk duduk.

__ADS_1


"Hhmm," gumaman Kevin dengan mata masih terpejam.


"Pak, aku. . ."


Kevin membuka sebelah matanya, "Hhmm?"


"Aku mau bangun," pinta Alya.


"Hhmm, nanti saja."


"Tapi, pak?"


Mata Kevin membuka, "Sayang, kenapa panggil pak lagi? Aku bukan bapakmu!" ucap Kevin kesal.


"Hhmm, ma-maaf aku lupa," sahut Alya menyesal.


"Hhh, jadi panggil apa?"


"Hmm, mas."


"Hhmm, ayo tidur lagi mas masih ngantuk!"


Hh, iyalah ngantuk. Semalam tidur jam berapa coba. "Ya Allah, aku nggak sholat subuh!" teriak Alya.


"Sayang, kenapa teriak?"


"Ini sudah siang, mas. Subuh sudah lewat," jelas Alya panik lantas hendak turun dari tempat tidur tapi tiba-tiba dia meringis.


"Kamu kenapa lagi, sayang?" tanya Kevin khawatir.


"Ng-nggak apa-apa, mas. Aku mau ke kamar mandi, " jawab Alya.


"Hhmm, mas masih ngantuk."


"Aku mau bangun, mas."


"Hhmm."


"A-aku pinjam selimutnya, ya?" pinta Alya dengan wajah memohon.


"Selimut? Katanya mau ke kamar mandi kenapa pakai selimut segala?"


"Hhmm, mas. Pinjam sebentar," Alya menarik selimutnya.


"Loh?" protes Kevin saat selimut sepenuhnya di ambil Alya.


Alya tersenyum malu lalu hendak turun dari tempat tidur tapi tangannya di tahan oleh Kevin.


"Mas, aku ingin ke kamar mandi!"


"Hhh, kamu itu!" wajah Kevin kesal. Matanya membuka lebar. Kantuknya jadi hilang.


Alya gegas turun dari tempat tidur tapi tiba-tiba badannya membungkuk.


"Kok kamu nangis, hmm?" tanya Kevin cemas sembari mengusap air mata di sudut mata Alya dengan ujung jarinya.


Alya menarik nafasnya berat, "Sa-sakit, mas!"


"Sakit? Apa yang sakit?"


Alya menggelengkan kepalanya, "Hhmm, nggak apa-apa, mas."


Alya berjalan perlahan ke kamar mandi dengan sedikit membungkukkan badannya. Kevin yang curiga lantas mendekatinya.


Alya menoleh lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan, "Mas!" teriaknya tanpa sadar.


Kevin langsung menggendongnya ke kamar mandi.


"Mas, selimutnya?"


"Sssttt!"


"Iiih!"


Setengah jam setelah berkutat di kamar mandi, mereka keluar dengan Alya tetap di gendong suaminya. Alya lalu di dudukkan di sisi tempat tidur.


"Masih sakit, hmm?" tanya Kevin lembut.


"Hhmm, sedikit," jawab Alya malu.


"Di biasain biar nggak sakit lagi!" bisik Kevin.


Alya memalingkan wajahnya. Kevin lalu menyisir tempat tidur yang masih ada sisa-sisa kelopak mawar.


"Kok nggak ada?" tanya Kevin.


"Nggak ada apa, mas?" tanya Alya bingung.


"Darah!" ucap Kevin.


"A-apa?" tanya Alya kaget lalu menatap permukaan tempat tidur yang bersih.


"Hhmm,"


"Mas, aku," Alya seperti ingin menangis.


Kevin menatap Alya penuh selidik.


Alya menggelengkan kepalanya, "Mas, aku-aku nggak tahu kenapa nggak ada. Sungguh mas!" ucap Alya dengan suara bergetar.


Kevin tetap diam dan terus menatap Alya dengan tatapan nyalang.


Sakit melihat sikap Kevin, dengan masih menahan sedikit rasa sakit, Alya bangkit berdiri menuju lemari pakaiannya. Dia lalu memakai pakaiannya lalu memasukkan semua pakaian Kevin ke dalam koper lalu menyisakan satu untuk Kevin pakai.


Alya menyeret koper lalu meletakkannya di depan Kevin.

__ADS_1


"Kalau nggak percaya sama aku, nggak apa-apa. Aku tahu mas pasti mau tinggalin aku kan! Ini pakaian mas sudah aku masukin semua ke koper!" ucap Alya lantas berbalik hendak meninggalkan Kevin. Wajahnya sudah basah oleh air mata.


Tiba-tiba Kevin menarik Alya ke dalam pelukannya.


"Lepasin!" Alya memberontak. Tangisnya pecah.


"Sayang, maafin mas!"


Alya masih saja memberontak tanpa bisa menghentikan tangisnya. Namun Kevin makin mengeratkan pelukannya. Kenapa aku sampai lupa. Dasar bodoh kamu, Kevin! Dia merutuki diri sendiri.


"Sayang. Hey, mas hanya bercanda. Jangan nangis, donk!"


"Becanda mas bilang? Itu sama saja mas menghinaku. Menuduhku!" ucap Alya tergugu.


"Iya, maafin mas. Tolong maafin mas." Huuhh, gara-gara nggak bisa menahan diri di kamar mandi sampai tidak sadar malam pertama berakhir di kamar mandi. Batin Kevin. Dia terlihat sangat menyesal membuat hati istrinya sakit.


Alya melepaskan paksa pelukan Kevin. Dadanya naik turun menahan marah, kecewa dan juga sedih.


Kevin duduk bersimpuh di hadapan istrinya. Tangannya memegang erat tangan Alya, "Maafin mas," ucapnya dengan wajah memohon.


Tangis Alya mulai reda, "Kenapa minta maaf. Mas nggak percaya sama aku, kan?"


"Mas percaya sayang, mas hanya bercanda!"


"Bercanda?" Alya tersenyum getir.


Kevin berdiri, menatap wajah istrinya. Hatinya ikut merasakan sakit.


"Iya, mas bercanda. Tentu saja mas percaya sepenuhnya sama kamu. Tolong jangan sedih lagi, ya."


"Mas rela kamu hukum asal kamu mau maafin mas!"


"Sayang. . ."


"Ok. Aku akan hukum mas!" ucap Alya pelan namun penuh penekanan.


"Iya, mas siap di hukum asalkan kamu maafin dan nggak sedih lagi."


"Ok, mulai sekarang sampai waktu yang belum pasti, kita tidak usah tidur bersama! Dan mas jangan sentuh aku seujung rambutpun!" tegasnya.


"Apa?" teriak Kevin, " Mana bisa begitu, Al?"


"Ya sudah kalau nggak mau aku maafin!"


Kevin menarik nafas panjang lalu menghembuskannnya kasar. Huuh, akibat lupa jadi begini, deh. Rutuknya.


"Sayang, mana bisa begitu? Jangan tega sama mas, donk," Kevin memasang wajah memelas.


"Mas juga tega sama aku!" Alya memalingkan wajahnya.


"Hhhmm, bagaimana kalau sehari satu kali saja, hhmm?"


"Nggak mau!"


"Sungguh teganya. . ."


Alya mengulum senyum. Rasain.


"Hhmm, memangnya kamu bisa? Kamu juga pasti nggak bisa, kan?" rayu Kevin.


"Kenapa juga aku nggak bisa? Biasanya juga bisa, kok!"


"Hhmm, biasanya bisa karena belum pernah. Kan mulai semalam sudah jadi pasti mau lagi, kan?"


Wajah Alya memerah.


"Sehari satu kali saja, ya?" Kevin merayu lagi.


"Nggak mau!"


"Hhmm, dosa loh nolak suami!"


"Apa mas nggak dosa? Tadi menatap aku seperti itu? Seolah aku ini wanita yang. . ." Alya kembali menangis.


Kevin langsung memeluknya erat, "Iya-iya mas mau. Mas terima hukuman kamu tapi jangan nangis lagi, ya!" Kevin mengusap lembut pucuk kepala istrinya penuh kasih sayang.


Tangis Alya mulai mereda.


"Lepasin! Nggak usah peluk-peluk juga!"


"Hhmm, peluk juga nggak boleh?"


"Nggak!"


"Hhhh, iya, deh," ucap Kevin pasrah lalu melepaskan pelukannya.


"Aku mau turun!"


"Tunggu donk!" pinta Kevin lantas buru-buru memakai lagi pakaiannya.


Alya tersenyum geli. Salah siapa bikin aku nangis. Jelas-jelas ngelakuinnya pertama kali di kamar mandi masa sprey yang di periksa. Periksa saja tuh kamar mandi. Batin Alya.


.


.


.


.


.


.


09,3

__ADS_1


__ADS_2