Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 60


__ADS_3

Ternyata istriku mengajak konsultasi ke dokter kandungan. Sepertinya dia sudah tidak sabar ingin segera hamil. Aku bisa memakluminya mengingat berapa bulan lagi usianya menginjak empat puluh tahun.


Setelah mengantri selama hampir satu jam akhirnya nama istriku di panggil. Kami berdua masuk ke dalam ruang praktek dokter. Istriku di minta berbaring di atas tempat tidur.


Dokter lalu menyiapkan alat-alat untuk pemeriksaan USG. Setelah menempelkan sedikit gel di perut istriku,dokter lalu menempelkan sebuah alat yang terhubung ke layar monitor.


"Ibu bisa lihat ya di layar itu ada yang gerak-gerak!" ucap dokter.


"I-Itu bayi saya,dok?" tanya istriku kaget. Aku pun tak kalah kaget melihat di layar komputer. Di sana terlihat satu titik yang bergerak.


"Iya,bu. Itu janinnya sekarang sudah berusia lima minggu!" jelas dokter.


"Alhamdulillah!" seru istriku lalu mengusap wajahnya.


Ada setitik air di sudut matanya. Mungkin dia terharu karena saking bahagianya. Aku hanya bisa terpaku melihat ke layar monitor. Istriku hamil. Rasanya aku hampir tidak percaya.


"Selamat ya,bu. Ini kehamilan yang pertama,ya?" tanya dokter dengan wajah tersenyum.


"Iya,dok," sahut istriku.


Istriku lalu turun dari tempat tidur. Aku langsung memeluknya saking bahagianya.


"Selamat ya sayang,akhirnya kamu hamil juga!" ucapku lalu mencium dahinya penuh kasih sayang. Istriku terlihat salang tingkah seraya melirik ke arah dokter yang juga tersenyum melihat ke arah kami.


Dokter lalu menjelaskan semua tentang kehamilan pada istriku. Karena usia Istriku yang sudah hampir empat puluh tahun,dokter meminta istriku untuk tidak bekerja dan harus benar-benar istirahat di rumah. Menjaga kesehatan,asupan makanan dan juga kekebalan tubuh.


Istriku juga bercerita tentang penyakitnya pada dokter. Dokter lalu memberikan berbagai macam vitamin untuk istriku. Setelah konsultasi yang hampir memakan waktu setengah jam itu,kami lalu pulang.


Sepanjang jalan menuju parkiran aku merangkul istriku mesra sesekali mencium dahinya membuat dia salah tingkah karena malu di lihat orang.


"Kamu bahagia kan,sayang?" tanyaku.


"Banget,mas! Aku bahagia banget!" jawab istriku antusias.


Sampai di parkiran aku membukakan pintu mobil untuk istriku. Sebelum melajukan mobil,aku memeluknya erat dan berkali-kali mengucapkan syukur dan mengucapkan selamat kepadanya. Aku janji akan menjadi ayah dan suami yang siaga untuk mereka.


"Sekarang kita mau ke minimarket atau pulang ke rumah?" tanyaku pada istriku.


"Aku mau ke minimarket saja,mas. Aku mau bertemu dengan mbak Meli. Aku juga nggak mau di rumah sendirian. Aku ingin dekat-dekat kamu terus,mas!" jawabnya seraya menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku lalu mencium pucuk kepalanya mesra.


"Oke kita ke minimarket,ya. Mas juga nggak mau kamu sendirian di rumah nanti kamu pasti kangen terus sama mas!" godaku.


"Iihh mas ini!" sahutnya seraya mencubitku mesra.


"Awas KDRT,loh!"


Dia tersenyum, "Biarin!"


"Tapi kita jemput Alya dulu,yank!"


"Oh iya,mas!"


Aku lalu melajukan mobil ke arah sekolahan anakku. Setelah menunggu beberapa menit anakku Alya muncul di depan gerbang sekolah. Aku lalu membukakan pintu mobil belakang untuknya.


"Bagaimana sekolahmu,nak?" tanyaku saat kami mobil sudah melaju.


"Lancar,yah. Tadi aku di suruh bu guru maju ke depan kelas mengerjakan soal matematika."

__ADS_1


"Lalu,apa Alya bisa menjawab soalnya?" tanya istriku.


"Bisa donk,bun!" sahut putriku bangga.


"Anak pintar!" puji istriku seraya menoleh ke belakang.


Tak lama kemudian kami tiba di minimarket. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Dari jauh sudah terlihat minimarket sangat ramai. Kami gegas masuk ke kantor.


Istri dan anakku lalu duduk di sofa.


"Kondisi kamu sehat kan? Nggak mual atau ingin makan sesuatu?"


"Nggak mual,mas. Hanya memang aku sedikit pusing dari pagi."


"Hhmm,kamu duduk-duduk saja,ya! Kalau perlu sesuatu kamu bilang sama mas!"


"Iya,mas."


"Mas mau cek gudang dulu!" pamitku yang di berikan anggukan oleh istriku.


Ternyata ada barang yang baru saja masuk. Sekarang setiap hari memang selalu ada barang yang masuk karena selalu saja ada persediaan barang di etalase yang habis dan stok di gudang pun tinggal sedikit.


Aku lalu mencatat di pembukuan semua barang masuk sementara karyawanku sibuk mengangkat dan memindahkan barang-barang.


Menjelang siang aku menjemput putraku di sekolahnya tapi tidak langsung pulang ke rumah karena istri dan anakku masih ingin menghabiskan waktu di minimarket.


Setelah menjemput Andre,tidak sengaja di jalan aku bertemu dengan mbak Melly. Wanita itu sedang berjalan kaki sambil menggendong anaknya. Mau kemana dia? Apa mau ke minimarket dengan membawa anaknya?


Aku lalu melajukan mobil ke arahnya. Setelah dekat,aku lalu membunyikan klakson. Dia menoleh dan aku memberhentikan mobil tepat di sampingnya.


"Pak?" dia terlihat kaget.


"Mbak mau kemana?" tanyaku lagi.


"Hhmm,mau ke minimarket," jawabnya lirih dengan kepala tertunduk.


Mau ke minimarket. Hhh,semoga saja anaknya ga rewel. Batinku.


"Ayo ikut saya,mbak. Saya juga mau ke minimarket!" ajakku.


"Ta-tapi?"


"Ayo nggak apa-apa,mbak!"


"Hhmm,baiklah,pak," sahutnya lalu membuka pintu belakang mobil.


Setelah dia naik,aku kembali melajukan mobil ke minimarket.


"Bunda sama adek kenapa nggak mau pulang,yah?" tanya putraku.


"Mungkin bosan di rumah. Kamu mau pulang?"


Andre menggeleng, "Nggak,yah. Nggak enak ngga ada adek sama bunda!"


"Hhmm,iya!"


Tak lama kami pun tiba di minimarket. Mbak Melly segera turun dari mobil dan menunggu di depan gudang.

__ADS_1


"Ayo masuk,mbak. Ada istri saya di kantor!" ajakku.


Dia menoleh, "Oh,ada mbak Santi?"


Aku mengangguk, "Iya. Ayo!"


Aku lalu masuk ke kantor melalui gudang bukan minimarket di ikuti mbak Melly dari belakang. Andre sudah masuk lebih dulu.


"Assalammu'alaikum," ucapku seraya membuka pintu.


"Wa'alaikumsalam," sahut istriku.


"Ada mbak Melly!" jelasku pada istriku.


"Mbak Melly?" tanya istriku kaget.


"Iya. Ini!" tunjukku. Mbak Melly berdiri di belakangku.


Dia lalu mengangguk setelah tersenyum pada istriku.


Istriku lalu berdiri mendekatinya, "Mbak,yuk masuk!" ajak istriku ramah dan hangat seraya merangkul mbak Melly lalu mengajaknya duduk di sofa.


Karena sofa hanya cukup untuk tiga orang saja,Andre aku ajak duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerjaku. Aku sambil mengajarinya komputer.


"Jadi mbak Melly sudah mulai kerja dari kemarin,ya?" tanya istriku memulai obrolan.


"Hhmm,iya mbak. Maaf nggak bisa hubungi karena nggak punya handphone!" jelas mbak Melly.


"Ohh,nggak apa-apa kok,mbak. Ini si kecil sudah makan belum?"


"Sudah,mbak. Tadi sebelum ke sini saya kasih makan dulu!"


"Hhmm,anak pinter. Mbak sudah mengerti kan bagaimana pekerjaan mbak di sini?"


"Alhamdulillah sudah,mbak. Kemarin sudah di ajarin sama pak Anto!" jelas mbak Melly.


"Syukurlah kalau begitu. Kalau si kecil nggak rewel biar di sini saja main sama kita!"


"Hhmm,tapi apa nggak merepotkan? Maaf ya mbak saya nggak bisa meninggalkan anak saya terlalu lama. Kemarin dia sering menangis karena di tinggal kerja. Kalau nggak boleh bawa anak,nggak apa-apa,mbak. Saya pamit saja!" jelas mbak Melly lagi dengan kapala menunduk.


"Nggak apa-apa kok,mbak!" sahut istriku.


Entah kenapa wanita itu selalu menunduk dan jarang sekali mau menatap lawan bicaranya. Wajahnya pun selalu terlihat muram. Entah bagaimana kehidupannya semenjak bercerai.


.


.


.


.


.


.


23

__ADS_1


__ADS_2