
"Mas yakin mau datang ke pengadilan sendirian?" tanya istriku.
"Mas yakin, yank! Kalau kamu ikut nanti kamu bisa pusing," tolakku halus.
"Iya sih, mas. Apalagi kalau nanti ada yang berdebat, aku bisa pusing. Tapi aku juga khawatir kalau mas datang sendirian."
"Pasti terjadi perdebatan di sana, yank. Mas juga sebenarnya malas kalau bukan demi Alya. Lagipula mas sudah biasa datang ke pengadilan sendiri, yank. Kamu tidak usah khawatir."
"Iya, mas. Semoga Alya mendapatkan keadilan , ya!"
"Aamiin! Harus itu, yank. Mas akan memperjuangkannya!"
"Iya, mas. Kalau mas butuh apa-apa, bilang sama aku. Jangan jadi beban mas sendirian!"
"Iya. Tenang saja, mas akan selalu berbagi apapun dengan kamu, yank."
Hhh, aku mana mungkin menceritakan masalah berat pada istriku itu. Penyakitnya tidak membolehkan dia terlalu banyak pikiran. Dan aku harus bisa menjaga perasaannya demi kesehatan fisik dan juga hatinya.
Sidangnya akan di mulai dua jam lagi. Aku harus sudah tiba di pengadilan pukul sembilan. Karena hari ini adalah sidang pertama kasus David. Ya walau sebenarnya aku malas untuk datang dan bertemu lagi dengan mantan istriku dan juga suaminya.
Aku sudah menyiapkan mobil untuk aktifitasku hari ini. Aku akan mengantarkan anak-anak ke sekolah mereka terlebih dahulu.
"Ayo anak-anak kita berangkat sekarang, sudah hampir pukul tujuh ini!" seruku memanggil anak-anak yang masih asik ngobrol di ruang keluarga setelah sarapan.
"Iya, yah!" sahut mereka.
Aku lalu menggendong putriku kemudian menaikkannya ke mobil.
Aku melajukan mobil ke sekolah anak-anakku terlebih dahulu setelah itu aku pergi ke minimarket. Aku mampir ke minimarket sebentar untuk bertemu pak Seto dan teman-temannya.
Mereka yang akan membangun minimarket atas rekomendasi dari pak Daniel. Aku juga harus menyerahkan desain yang sudah dibuat oleh istriku pada pak Seto.
Sampai di minimarket pak Seto dan teman-temannya sudah datang. Setelah memarkirkan mobil,aku langsung menemui mereka.
"Assalammu'alaikum," sapaku.
"Wa'alaikumsalam," sahut mereka.
__ADS_1
"Bapak sudah lama datang? Maaf ya tadi saya mengantarkan anak-anak sekolah dulu!" ucapku.
"Oh, nggak apa-apa kok, pak Anto. Kita juga baru saja sampai kok," jawab pak Seto.
"Maaf, pak. Saya tidak bisa lama-lama karena saya ada urusan di tempat lain. Saya hanya memberikan desain yang di buat oleh istri saya. Rencananya bapak-bapak akan membangun yang mana dulu?" jelasku seraya menyerahkan kertas desain minimarket yang semalam istriku buat.
"Rencananya saya dan teman-teman akan membangun bekas rumah itu terlebih dahulu, pak."
"Baiklah, pak!" sahutku.
Kami lantas membahas masalah pembangunan minimarket yang di mulai dari rumah yang baru kami beli itu. Tentang bahan, waktu yang di butuhkan dan juga biayanya. Rencananya aku akan ke bengkel pak Sugi untuk memesan terali untuk tangga dan juga pagar pembatas di lantai atas. Sudah lama sekali rasanya aku tidak pernah lagi mampir di bengkel pak Sugi.
Setelah itu aku pun berpamitan dan segera melajukan mobilku ke arah Pengadilan.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih aku sampai di Pengadilan. Aku lihat mantan istriku Lisa sedang duduk bersama seorang bapak-bapak paruh baya. Bapak-bapak itu kalau aku perhatikan wajahnya mirip sekali dengan suami Lisa si David. Apa mungkin itu bapaknya David?
Oh iya aku ingat Alya pernah bilang kalau orangtuanya David pernah berusaha memeluk dan menciumnya. Kalau nanti saatnya aku diminta untuk memberikan kesaksian, aku juga akan menceritakan apa yang dialami putriku di rumah itu. Aku tidak akan tinggal diam jika putriku mendapat perlakuan yang tidak baik.
Akhirnya aku memilih duduk di bangku yang ada di luar saja karena aku tidak mau bertatapan langsung dengan Lisa. Aku juga malas untuk berbicara dengan wanita itu. Aku tidak mau jadi pusat perhatian orang-orang hanya karena ulahnya.
Tak lama setelah itu, David datang bersama seorang laki-laki separuh bayu. Mungkin usianya sekitar lima puluh tahun. Apakah itu pengacaranya? Semoga saja mereka bisa menyewa seorang pengacara karena kalau tidak, aku tidak tahu berapa tahun hukuman yang akan dia terima. Aku juga tidak tahu David terlibat kasus apa saja selain penculikan atas diri putriku.
Kami semua berdiri saat Majelis Hakim memasuki ruang sidang.
Sidangpun di mulai. Seorang Jaksa Penuntut Umum mulai membacakan tuntutannya. Setelah itu seorang laki-laki paruh baya yang tadi datang bersama David juga maju untuk berbicara. Ternyata benar dugaanku kalau beliau adalah Penasihat Hukumnya David.
Semua orang fokus mendengarkan. Setelah Jaksa Penuntut Umum dan Penasihat Hukumnya David selesai berbicara, selanjutnya giliranku diminta untuk duduk di kursi di hadapan Majelis Hakim sebagai saksi. Aku pun di minta untuk bersumpah.
Aku lalu diminta untuk menceritakan kronologi sebenarnya. Akupun mulai menceritakan kejadian awal dari saat putriku di bawa mereka dari sekolah sampai Alya kecelakaan. Tak lupa aku pun menceritakan kejadian yang dialami putriku saat berada di rumah mertua mantan istriku itu.
Tiba-tiba laki-laki yang duduk bersama mantan istri ku itu berdiri lalu berteriak. Dia membantah semua apa yang baru aku ucapkan tentang putriku yang hendak di peluk dan di cium paksa.
Ternyata benar, laki-laki disebelah Lisa itu adalah orang tuanya David. Alhamdulillah, polisi yang waktu itu datang ke rumah untuk meminta keterangan dari Alya sudah mencatat dan merekam semua yang putriku ucapkan. Jadi keteranganku tadi tidak dibuat-buat karena kesaksian putriku itu diambil langsung oleh Polisi.
Akhirnya orangtua David pun di minta untuk memberikan keterangan, begitupun dengan Lisa.
Setelah perdebatan panjang, sidang pun ditunda satu minggu lagi. Aku bergegas pergi meninggalkan pengadilan sebelum Lisa menemuiku karena aku lihat dari tadi Lisa melirik terus ke arahku. Sepertinya dia hendak berbicara denganku.
__ADS_1
Dan benar saja saat aku baru saja naik ke mobil, Lisa berlarian ke arahku. Gegas aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi. Aku sempat mendengar sedikit teriakannya memanggil namaku. Pasti dia sangat keberatan dengan kesaksianku tadi apalagi saat mendengarkan rekaman suara Alya.
Aku melajukan mobilku ke minimarket. Daripada pusing memikirkan urusan mantan istri ku itu lebih baik aku mengurusi minimarket.
Aku memarkirkan mobil di tempat biasa, lalu pergi ke rumah yang hendak dibangun. Aku mempekerjakan sepuluh orang tukang bangunan. Setelah mengontrol rumah yang kini sudah rata dengan tanah, aku lalu pergi ke kantor untuk mengerjakan pekerjaanku seperti biasa.
Setelah pekerjaanku selesai aku lalu pergi ke gudang. Di gudang hanya ada mbak Melly seorang diri. Wanita itu sedang menaruh beberapa barang di trolly untuk di bawa ke minimarket.
"Assalammu'alaikum," ucapku.
Mbak Melly menoleh, "Wa'alaikumsalam, pak Anto," jawabnya sambil menundukkan kepala.
"Semua lancar kan, mbak?"
"Hhmm, Alhamdulillah lancar, pak!"
"Syukurlah. Apa kabar Davina?"
"Davina, Alhamdulillah putri saya baik, pak."
"Hhmm, ya sudah saya tinggal dulu!" pamitku lantas segera meninggalkan gudang.
.
.
.
.
Maaf jika ada typo dan kata-kata yang salah. Silahkan masukannya yang membangun. Terimakasih sudah membaca cerita receh saya! 🙏🙏
.
.
06
__ADS_1