Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 161


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjuk angka sepuluh. Andre sedang sibuk di IGD, ada seseorang yang ingin menemuinya.


"Dokter Andre, ada yang nyariin!" jelas suster pelan. Suster yang sama-sama bertugas di IGD.


"Siapa, sus? Saya masih ngurusin pasien yang ini."


"Pasien dan orangtuanya, dok. Saya minta mereka menunggu, ya?"


"Iya, kalau mereka mau suruh tunggu saja!"


"Baik, dok!"


Andre kembali sibuk dengan pasiennya.


Sepuluh menit kemudian, Andre keluar dari ruang IGD. Ternyata di kursi panjang yang ada di depan ruang IGD, ada Darren dan ibunya. Andre menghela nafasnya panjang lalu menghampiri mereka.


"Eehhmm! Selamat pagi!" ucapnya dengan seramah mungkin.


"Andre!" ucap Lisa.


"Hhmm, dokter Andre," ucap Darren.


Andre tersenyum, "Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Andre datar.


"Dre, terimakasih ya, sudah membayarkan biaya rumah sakit Darren!" ucap Lisa pelan.


"Hhmm, sama-sama."


"Darren hari ini sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Kondisinya sudah membaik."


"Alhamdulillah!" sahut Andre.


"Dokter, terimakasih banyak, sudah baik sama aku!" ucap Darren.


Dia terus menatap wajah Andre yang dari tadi hanya menatap ke depan. Rasanya dia ingin memanggilnya dengan sebutan 'mas' . Ingin memeluknya. Terselip bahagia mengetahui kalau dia mempunyai saudara. Tapi dia takut, takut saudaranya itu menolaknya karena Lisa sudah menceritakan semua masa lalunya. Dia mengerti dan tidak menyalahkan atas sikap saudara tirinya itu.


"Sama-sama. Jaga kesehatan!"


"Iya, dokter."


"Hhmm, kalau tidak ada yang ingin di bicarakan lagi, saya mau kembali kerja!" ucap Andre.


"Hhmm, i-iya, Dre. Ibu minta maaf!" ucap Lisa pelan namun penuh penekanan.


"Hhmm, permisi!" pamit Andre lantas kembali masuk ke ruang IGD.


Setelah Andre menghilang di balik pintu, Lisa dan Darren mengambil barang-barangnya lantas pergi meninggalkan rumah sakit.


"Ayo ma, kita pulang!" ajak Darren.


"Iya, nak!"


"Ma, apakah dokter Andre benci sama aku?"


Lisa mengusap lembut bahu putranya itu, "Tentu saja nggak, nak. Kenapa kamu berpikir seperti itu?"


"Hhmm, nggak apa-apa, ma!"


Mereka lalu naik angkot untuk sampai ke rumah.


"Ma, papa marah nggak sama aku?" tanya Darren khawatir.


"Hhmm, In Sya Allah nggak, nak!" jawab Lisa.

__ADS_1


Saat angkot berhenti tak jauh dari rumahnya, Darren melihat papanya sedang berdiri berkacak pinggang di depan pintu teras.


"Ma, papa. . ." ucap Darren lirih.


"Nggak apa-apa, nak. Papa kamu kan memang hobinya berdiri dengan berkacak pinggang seperti itu!"


Hhh, Darren menghela nafas panjang, "Aku pasrah saja apa yang akan papa lakukan padaku!"


"Sayang, bagaimanapun kamu itu anaknya. Nggak mungkin dia akan jahat sama kamu!"


"Buktinya papa tega memaksaku mandi malam-malam padahal papa tahu kalau aku tidak tahan dingin, ma! Papa tega!"


Hhh, Lisa menarik nafasnya berat. Darren pasti kecewa dan sedih banget atas perlakuan papanya.


"Ayo, mama akan selalu menjaga kamu, nak!"


Dengan jantung yang berdegup kencang Darren melangkahkan kakinya ke rumah.


Sampai di depan rumah, David menatap nyalang ke arah istri dan anaknya. Darren buru-buru masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintunya rapat-rapat.


"Lisa! Aku lapar!" teriak David.


"Iya, mas. Aku gorengkan telur, ya!"


"Telur, tempe, tahu. Itu terus yang kamu masak tiap hari!" gerutunya dari teras.


Lisa buru-buru menggoreng telur untuk makan mereka. Dia iriskan daun bawang, cabai dan penyedap untuk menambah rasa lezat telur gorengnya. Mau masak sayur, dia belum sempat membelinya.


Lisa menata telur gorengnya di atas piring lalu menyajikannya bersama nasi hangat yang sudah dia masak tadi pagi di atas meja. Lisa memang tidak pernah menginap di rumah sakit menemani Darren karena setiap habis subuh, dia harus mencuci di dua rumah sekaligus. Hanya itu yang dia bisa lakukan untuk menyambung hidup. Walau terkadang suaminya ikut membantu jika sedang ada pekerjaan.


Setelah itu Lisa keluar untuk memanggil suaminya.


"Mas, makannya sudah siap. Maaf ya, nanti malam aku baru bisa masakin mas sayurnya."


David hanya menatap sekilas ke arah istrinya sambil lalu. Yang penting perut di isi. Batinnya.


"Sayang, makan dulu, nih! Biar kamu cepat pulih, besok bisa sekolah!" titah Lisa.


"Iya, terimakasih, ma!" sahut Darren.


"Mama tinggal dulu, ya!" pamit Lisa lalu keluar dari kamar Darren dan menutup pintunya.


Lisa kembali ke dapur, duduk di hadapan suaminya lalu ikut makan.


"Nih, aku mau makan ikan goreng nanti malam!" titah David seraya mengulurkan tiga lembar uang berwarna biru.


"Alhamdulillah. Terimakasih, mas!" ucap Lisa lalu menyimpan uangnya di saku bajunya.


Setelah itu David pergi keluar entah kemana, kalau di tanya dia pasti marah. Lisa hanya pasrah saja asalkan masih bisa makan dan ada tempat untuk berlindung dari panas dan hujan.


Setelah selesai makan, Lisa membereskan bekas makan mereka lalu pergi ke kamar putranya.


"Nak, kok makannya nggak di habiskan?" tanya Lisa saat melihat piring makan Darren masih ada setengah lagi nasi.


"Kenyang, ma. Aku nggak bisa makan banyak!"


"Hhmm, obatnya di minum, ya!"


Darren mengangguk, "Sudah kok, ma. Papa mana, ma?"


"Papa keluar."


"Kemana?"

__ADS_1


"Hhh, mungkin ke rumah temannya, nak."


"Papa nggak marah sama aku, ma?"


Lisa menggeleng, "Papa nggak marah kok. Sejak tahu kamu di rawat di rumah sakit, papa banyak diam. Paling kesal kalau mama belum masak saja!" jelas Lisa.


"Papa nggak nanyain aku. Nggak khawatir sama aku," ucap Darren dengan wajah sedih.


"Papa kan dari dulu memang nggak pernah nunjukkin perasaannya, nak."


"Tapi nunjukkin marahnya selalu!" sungut Darren.


"Hhh, kamu sabar, ya. Terus berdoa supaya hati papa kamu bisa lembut:"


"Mama kok mau sama papa yang sifatnya seperti itu, ma? Sampai mama tinggalin pak Anto. Padahal pak Anto yang walau baru kenal tapi aku tahu kalau beliau baik!"


"Sudah, nak. Yang lalu biarkan saja. Jangan bahas itu lagi. Apalagi kalau sampai papa kamu dengar. Kamu sayang kan sama mama?"


"Hhmm, iya, ma. Tentu saja aku sayang mama. Aku hanya nggak habis pikir saja."


"Sudah nggak usah kamu pikirkan. Sekarang pikirkan saja kesehatan kamu, supaya cepat pulih dan bisa sekolah lagi!"


"Iya, ma!"


"Dan ingat, nggak usah pacaran dulu, nak. Sekolah yang benar. Raih cita-cita kamu!"


"Hhmm, iya ma!"


"Ya sudah mama mau ke pasar dulu. Papa kamu minta di masakin ikan, tadi kasih mama uang."


"Papa nggak tanyain ya siapa yang bayar rumah sakit aku?"


"Hhmm, nggak, nak," jawab Lisa lirih.


"Hhh, papa memang nggak peduli sama aku!"


"Sayang, kenapa berpikir seperti itu lagi? Nggak ada orang tua yang nggak sayang sama anaknya!"


"Ada kok, ma. Buktinya papa. Atau mungkin karena aku anak yang nggak di harap, ya?"


"Darren!" ucap Lisa dengan suara tinggi.


Mata Darren berkaca-kaca, "Aku mau tidur!" ucapnya lantas tidur dengan membelakangi mamanya.


Maafin mama, nak. Batin Lisa. Matanya pun berkaca-kaca.


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo. 😊🙏


.


.


.


.

__ADS_1


.


17


__ADS_2