Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 22


__ADS_3

Tidak terasa aku sudah bekerja di rumah Pak Imron selama hampir 2 bulan dan hari ini adalah hari terakhirku bekerja di sana karena rumah pak Imron sudah selesai di bangun.


"Ini gaji pak Anto," ucap pak Imron seraya menyodorkan amplop putih ke tanganku. Aku lalu menerimanya.


"Alhamdulillah. Terima kasih pak,semoga uang ini berkah."


"Amin," ucap Pak Imron. Nanti kalau saya ada pekerjaan lagi,saya akan panggil kembali pak Anto," janji pak Imron.


"Wah,terima kasih pak,saya akan menunggu," sahutku.


Aku lalu memberikan nomor kontakku pada pak Imron. Setelah memberikan nomor kontakku,aku segera pulang.


Sebelum pulang,aku mampir ke warung untuk membeli beras,mie instan dan telur untuk persediaan di kost. Sampai di kost,aku lihat kedua anakku sedang belajar.


Aku lalu membuka amplop yang diberikan oleh Pak Imron. Aku sangat kaget ternyata jumlahnya melebihi dari gaji ku selama 1 bulan. Alhamdulillah aku sudah mempunyai sedikit uang untuk aku tabung. Besok,aku berniat mencari pekerjaan yang baru.


Keesokan harinya sebelum mencari pekerjaan aku pergi ke bank untuk membuka rekening tabungan. Saat sedang mengantri tidak sengaja aku melihat sosok yang familiar di mataku.


Ya,dia adalah istri pertama dari suami Lisa. Wanita itu hanya menunduk saja sembari memilin jari-jemarinya. Rasanya aku ingin menyapanya tapi ku urungkan niatku.


Tak lama kemudian petugas bank memanggil namanya yang baru aku tahu kalau namanya,Meli. Meli mulai bertransaksi dengan petugas bank. Tak lama kemudian dia keluar dari bank.


Setelah dia meninggalkan bank, baru giliran namaku yang di panggil. Setelah selesai membuat buku tabungan aku segera keluar dari bank.


Aku kayu sepedaku ke belakang bank,daerah yang belum pernah aku datangi. Berharap semoga saja di sana aku bisa menemukan pekerjan kalaupun tidak mendapatkan pekerjaan semoga saja aku bisa mendapat orderan untuk bengkel.


Tapi baru saja aku meninggalkan bank beberapa menit,tiba-tiba aku mendengar suara teriakan seorang wanita. Gegas aku mengayuh sepedaku kearah sumber suara. Dari jauh aku melihat seorang wanita yang sedang tarik-tarikan tas dengan seorang laki-laki.


Aku makin mengayuh sepedaku dengan lebih kencang lagi. Setelah sampai di dekat mereka aku taruh sepedaku sembarangan lalu segera membantu wanita itu. Beruntung aku pernah belajar berlatih silat waktu masih kecil. Setelah melakukan perlawanan akhirnya laki-laki yang berniat mengambil tas wanita itu bisa aku kalahkan. Laki-laki itu segera mengambil langkah kaki seribu.


Aku lalu menoleh kearah wanita itu. Betapa kagetnya aku ternyata wanita itu adalah Meli. Aku lalu mendekatinya dan menyerahkan tas miliknya.


"Terima kasih," ucapnya lirih.


"Sama-sama," sahutku. "Maaf,kalau boleh tahu mbak mau kemana?" tanya aku sopan.


"Saya mau ke rumah ibu saya,"jawabnya.


"Apa rumah ibu mbak masih jauh?" tanyaku.


"Hhm,rumah ibu saya tidak terlalu jauh dari sini,mungkin hanya 10 menit dengan berjalan kaki," jawabnya.


"Baiklah kalau mbak mau,saya akan mengantar sampai ke rumah ibu mbak," tawarku.

__ADS_1


"Terima kasih. Tapi saya tidak ingin merepotkan," tolaknya halus.


"Oh tidak merepotkan kok. Sekalian saya juga ingin ke sana," ucapku.


"Hhmm. Baiklah kalau begitu," jawabnya lirih.


"Silakan mbak jalan duluan biar saya di belakang," titahku yang di beri anggukan oleh Meli.


Kami berjalan tanpa ada yang berbicara. Aku hendak mengatakan sesuatu tapi sungkan melihatnya yang seperti berjalan sambil melamun.


Tak lama kemudian dia berhenti di depan pagar sebuah rumah sederhana. Dia lalu menoleh ke arahku.


"Hhmm,terimakasih. Saya sudah sampai di rumah Ibu saya," ucapnya seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu," ucapku lalu segera naik ke sepeda dan berlalu dari sana.


Aku lalu mulai mencari-cari rumah yang sedang dibangun. Sampai menjelang siang aku masih belum juga mendapatkan pekerjaan maupun orderan. Akhirnya aku mampir ke masjid untuk salat zuhur. Setelah selesai salat,aku makan di teras masjid dengan bekal yang tadi aku bawa dari kost kebetulan tadi aku menggoreng telur dadar dan tempe dengan sayur oseng kangkung. Lezat sekali rasanya,aku makan dengan lahab.


Setelah selesai makan,aku kembali mengayuh sepedaku ke arah belakang masjid. Sampai menjelang ashar aku masih juga belum mendapatkan orderan untuk bengkel maupun pekerjaan yang baru.


Aku lalu mencari masjid untuk salat ashar. Setelah salat ashar aku memutuskan untuk pulang ke kost karena jarak dari tempatku ke kost sekarang lumayan jauh,memakan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan dengan mengendarai sepeda.


Sampai ke kost,jam baru menunjukkan pukul empat sore. Kedua anakku tidak ada di kos sepertinya mereka masih di rumah neneknya. Aku lalu pergi mandi setelah selesai mandi,aku menjemput kedua anakku di rumah ibu.


***


Sore harinya,aku sengaja mampir ke rumah Budi. Aku sudah lama tidak berjumpa dengannya. Apa kabar dia sekarang.


Aku sampai di rumahnya dia belum pulang karena jam baru menunjukkan pukul lima sore. Mungkin dia masih di perjalanan pulang.


Tak lama kemudian,Budi datang. Dari jauh dia sudah tersenyum melihatku.


"To,sudah lama?" tanya Budi saat dia sudah di dekatku.


"Belum lama,kok. Apa kabar kamu?" tanyaku.


"Alhamdulillah,kabarku baik. Kabarmu gimana? Kok baru nongol?"


"Alhamdulillah aku juga sehat. Aku sibuk belakangan ini."


"Oh iya,kamu sudah dapat pekerjaan belum? Kalau belum,datang lagi saja ke toko."


Aku menggeleng cepat, "Nggak,Bud. Aku cari pekerjaan lain saja," tolak ku.

__ADS_1


"Hhmm,oh iya maaf,To. Ada yang ingin aku tanyakan."


"Tanya saja nggak perlu minta maaf kali," sahutku.


"Hehee. Dua hari yang lalu aku ikut bos ke daerah pusat. Saat kita baru saja mau naik mobil,tiba-tiba bos berbisik. Bud,itu orang yang ribut sama Anto waktu itu,kan? Ucap bos sambil menyuruhku menoleh ke arah timur. Aku lalu menoleh dan aku lihat si Lisa sedang jalan dengan orang itu. Dan maaf ya,To. Aku lihat perut Lisa sedikit buncit," jelas Budi.


Aku diam saja mendengar cerita Budi.


"Lalu aku bilang sama bos 'Iya bos,itu orang yang ribut sama Anto beberapa bulan lalu'. Terus itu bukannya istri Anto,ya. Tanya bos. Aku jawab kalau kamu dan Lisa sudah cerai dan laki-laki yang ajak kamu ribut itu adalah selingkuhan Lisa. Bos terlihat kaget. Kamu pasti bohong kan Bud. Tanya bos. Ngapain aku bohong,bos. Orang itu sengaja cari gara-gara sama Anto. Ucapku."


"Dan kamu tau apa reaksi bos? Bos sangat menyesal sudah marah-marah dan salahin kamu. Saya sudah bersalah sama Anto. Ucap bos. Wajah bos terlihat sedih,loh."


Hhh,aku menarik nafasku berat, "Hhmm,jadi Lisa hamil."


"Jadi bener dugaanku kalau Lisa hamil? Anak kamu,To?" tanya Budi kaget.


"Huuss,sembarangan kamu!"


"Jadi maksud kamu?"


"Lisa sudah menikah dengan orang itu satu bulan lalu."


"Ya Allah,To. Kamu yang sabar ya. Tapi kok cepet banget ya hamilnya baru satu bulan."


"Aku nggak apa-apa kok,Bud. Malah aku,Andre dan Alya datang ke acara pernikahan mereka."


"Apa,To?" Budi makin kaget.


"Iya,kenapa? Toh aku sudah nggak ada perasaan lagi sama Lisa. Aku hanya kasihan saja sama kedua anakku."


"Hhh,semoga Andre dan Alya sabar ya," ucap Budi lirih.


"Mereka anak-anak yang kuat,Bud!"


Mereka memang harus kuat. Batinku.


.


.


.


.

__ADS_1


.


00


__ADS_2