Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 217


__ADS_3

Rudi dan Darren mengendarai motor sedangkan David bersama Lisa naik angkot menuju rumah Rudi. Setengah jam kemudian, mereka sampai di depan sebuah gang kecil.


Lisa dan David turun dari angkot, mereka lalu sama-sama melangkahkan kaki mengikuti Rudi dari belakang. Tak lama kemudian, Rudi berhenti di sebuah rumah sederhana yang berjejer tiga. Mungkin itu rumah kontrakan.


Tok tok tok. Rudi lalu mengetuk pintu.


"Assalammu'alaikum," ucap Rudi.


Tak lama kemudian ada seorang gadis remaja yang membukakan pintu.


"Wa'alaikumsalam, ayah sudah pulang," ucapnya lantas mencium punggung tangan Rudi. Dia lalu menarap heran ke arah Lisa, Darren dan David secara bergantian. Tak lama kemudian dia berlalu masuk ke dalam rumah.


Rumah yang sederhana, dengan ruang tamu yang di lengkapi dengan kursi yang juga sederhana.


Apa gadis ini adalah Davina? tanya David dalam hati.


"Mari masuk. Maaf rumahnya sangat sederhana," ucap Rudi.


Mereka lalu masuk bersamaan.


"Silahkan duduk," ucap Rudi ramah.


"Terimakasih, pak," sahut David.


"Oh iya, ini putri saya namanya Meysia."


"Sayang, tolong panggilkan ibu dan kakak kamu, ya!" titah Rudi pada anak gadisnya.


"Iya, ayah," sahutnya lalu masuk ke dalam.


Lisa dan David saling pandang. Berbagai rasa berkecamuk di dalam dada.


Tak lama kemudian, dari arah dapur, muncul dua orang wanita, yang satu terlihat masih muda dan yang satunya lebih dewasa.


"Bu, Vina, ada yang ingin bertemu kalian," ucap Rudi.


Lisa, David beradu pandang dengan wanita yang di panggil 'bu' oleh Rudi.


"Mas Rudi, mereka. . ." ucap Melly tergagap. Dia terlihat sangat syok.


"Mereka ingin bicara sama kamu, bu. Sama Vina juga," jelas Rudi.


"Mel," sapa David yang lantas berdiri di ikuti oleh Lisa.


Melly menggeleng-gelengkan kepalanya. Dadanya terlihat naik turun. "Ng-nggak," dia lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan. Detik berikutnya, Melly membalik badannya lalu buru-buru masuk ke kamarnya. Pintu kamar di tutup rapat.


"Ibu," panggil Davina yang gegas menyusul ibunya ke dalam kamar.


"Davina," gumam David.


Tak lama kemudian Davina keluar dari kamar ibunya.


Dia kembali ke ruang tamu.

__ADS_1


"Ini papa, nak. Kamu cari papa, kan?" ucap David dengan suara bergetar dan melangkah makin mendekati putrinya yang belasan tahun tidak bertemu itu.


"Hhm, papa?" tanyanya.


"Iya, ini papa, nak," David merentangkan kedua tangannya seolah ingin memeluk putrinya itu.


Davina memandangi David, Lisa dan Darren satu persatu dengan dahi berkerut.


"Papa? Benarkah?"


"Iya, nak. Aku papa kamu. Papa kandungmu!"


Davina diam sesaat, dia lalu meraih tangan David dan mencium punggung tangan papa kandungnya itu dengan khidmat.


"Terimakasih," ucap Davina lirih.


"Terimakasih untuk apa? Papa tidak melakukan apa-apa."


"Terimakasih sudah datang."


"Hhmm, papa nyariin kamu, nak."


Davina mengernyitkan dahinya, "Nyariin aku? Sejak kapan?" tanya Davina datar. Tak ada kehangatan di dalam kata-katanya.


"Hhmm, sayang. Papa. . ."


"Kalau memang anda papa kandungku, sudikah menjadi wali nikahku?"


"Tentu saja papa akan menjadi wali nikahmu, nak."


"Ini undangan untuk papa," ucap Davina sembari mengulurkan surat undangan ke tangan papanya.


"Papa tidak perlu di kasih undangan, nak. Papa pasti datang!" ucap David tegas.


"Nggak apa-apa," sahut Davina sambil tersenyum tipis.


"Nak, papa kesini juga mau minta maaf. Bersama istri dan anak papa juga," ucap David pelan.


"Hhmm, papa nggak perlu minta maaf padaku. Papa hanya perlu meminta maaf sama ibuku."


"Papa juga banyak salah sama kamu, nak."


Davina tersenyum getir. Walau aku nggak ingat penderitaan seperti apa yang ibuku alami saat di campakkan olehmu karena wanita itu, tapi aku bisa merasakan dari tatapan matanya tadi. Aku yang salah seharusnya nggak perlu mencari papaku kalau hanya untuk membuka luka lama ibu.


"Kalau tidak ada yang mau di bicarakan lagi, aku mau istirahat. Besok aku harus bangun pagi," ucap Davina.


"Hhmm, tapi kamu mau kan maafin papa?" tanya David.


Davina mamalingkan wajahnya, "Apalah aku ini yang hanya seorang anak. Kalau ingin minta maaf, minta maaflah sama ibuku."


"I-iya, nak. Papa datang juga karena ingin meminta maaf sama ibu kamu. Apa papa bisa bicara dengan ibu kamu?"


"Mungkin ibu butuh waktu. Luka lamanya yang terbuka kembali pasti menimbulkan rasa sakit. Biarkan ibu tenang dulu. Aku tidak ingin melihat kesedihan di matanya."

__ADS_1


David menarik nafas panjang, "Baiklah, nanti papa akan datang lagi," ucap David pelan.


Davina menoleh sekilas lalu tersenyum tipis. Setelahnya dia pamit masuk ke dalam kamarnya. Air matanya tumpah. Ternyata tak semudah yang di bayangkannya saat bertemu dengan papa kandungnya. Sakit itu begitu terasa. Dadanya sesak, apalagi saat melihat luka di mata ibunya. Ibu yang membesarkannya seorang diri tanpa sedikitpun mendapatkan perhatian dari papanya.


Beruntung ada ayah sambungnya, Rudi. Sosok yang mampu menjadi ayahnya tanpa membeda-bedakan dengan putri kandungnya sendiri. Seorang laki-laki yang mencintai wanita beranak satu dan mau menerima anak dari wanita itu dengan tulus.


Di hapusnya airmatanya dengan ujung jari saat mengetahui tamunya baru saja pulang. Terdengar suara ayahnya yang masuk ke dalam kamar ibunya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Davina hanya mendengar samar-samar saja.


Di dalam kamar Melly. Wanita itu duduk di ujung tempat tidur. Wajahnya basah oleh sisa air mata. Rudi duduk di sebelahnya.


"Maafin mas. Mas nggak tahu kalau kedatangan mereka membuat kamu dan Vina bersedih," ucap Rudi pelan, penuh penyesalan dari wajahnya.


Melly menatap suaminya lalu menggelengkan kepalanya, "Mas nggak salah. Lagipula Vina memang menginginkan kehadirannya."


"Mereka mencari kalian. Setelah mas beritahu nama kamu dan Vina, mereka ingin bertemu. Mas pikir karena Vina memang sedang mencari papanya jadi tanpa pikir panjang, mas membawa mereka bertemu kalian."


"Iya mas, aku tahu. Mungkin juga Allah sudah mentakdirkan kami kembali bertemu. Hanya saja, aku tadi benar-benar kaget. Mas nggak memberi kabar terlebih dahulu."


"Iya, sayang. Pak David tadi ingin meminta maaf sama kamu. Sepertinya dia dan juga istrinya sangat menyesal atas apa yang telah terjadi."


"Mas, kenapa mas bisa bertemu dengan mereka?" tanya Melly penasaran.


"Karena anak laki-laki tadi bekerja di minimarket pak Anto. Anak laki-laki tadi yang bilang . . ."


"Apa, mas?" potong Melly. Matanya membulat sempurna. Wajahnya terlihat kaget, "Anak laki-laki tadi bekerja di minimarket pak Anto?"


Rudi mengangguk, "Iya, sayang. Namanya Darren."


"Masa sih, mas?" Melly masih tidak percaya.


"Iya, sayang. Sudah dari beberapa bulan lalu. Setelah itu dia mengundurkan diri mau istirahat katanya tapi ternyata dia baru saja kecelakaan dan saat sudah sembuh, dia kembali bekerja di minimarket," jelas Rudi.


"Jadi pak Anto tahu, mas?"


Dahi Rudi berkerut, "Tahu apa, bu?"


"Tahu kalau si Darren itu anaknya David."


"Mas nggak tahu, mungkin saja. Memangnya kenapa kalau pak Anto tahu?"


"Hhmm, wanita yang datang bersama mas tadi adalah mantan istri pak Anto. Istri David sekarang."


Mata Rudi membulat, "Haahh, yang benar, bu?"


Melly mengangguk pelan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


13


__ADS_2