
Anto sampai ke minimarket pukul delapan pagi. Minimarket sudah di buka oleh satpam.
Seperti biasa, Anto masuk kantornya. Dia akan mengecek CCTV sebentar sebelum memulai pekerjaannya. Setelah itu, Anto pergi ke area minimarket melihat barang-barang yang ada di etalase.
Setelah itu, Anto mengecek pembukuan.
"Alhamdulillah, penjualan makin meningkat!" gumamnya sambil tersenyum. Setelah pekerjaannya selesai, Anto berniat pergi ke rumah sakit di mana putranya bekerja.
"Rudi, saya mau keluar dulu!" pamit Anto.
"Iya, pak!" sahut Rudi.
"Nanti kalau Darren datang, suruh saja kerja seperti biasa!"
"Baik, pak."
"Ya sudah saya tinggal dulu. Titip minimarket, ya!" ucap Anto lantas segera keluar menuju parkiran mobilnya.
Anto melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak sampai satu jam, mobilnya sudah memasuki parkiran rumah sakit.
Anto berjalan ke arah IGD untuk menemui putranya. Anto mengintip dari balik pintu. Putranya itu masih sibuk dengan pasiennya.
Anto menunggu setengah jam dan sudah mengirimkan pesan pada putranya itu namun belum di jawab.
Saat Anto sedang duduk menunggu, keluarlah seorang suster dari IGD.
"Sus!" panggil Anto.
"Iya, pak. Ada apa?" tanyanya.
Bisa tolong beritahu dokter Andre kalau ayahnya datang," ucapku.
"Baiklah, pak!" sahut suster.
Setelah bertanya pada suster, Anto kembali duduk menunggu. Tak lama kemudian Andre keluar dari ruang IGD.
"Ayah!" sapanya.
"Apa kamu sibuk, nak?" tanya Anto.
"Sekarang sudah nggak terlalu sibuk kok, yah. Pasien sedikit!" jawab Andre.
"Kalau begitu bisa kan antar ayah ketemu pemuda yang kamu ceritakan semalam?" pinta ayahnya.
"Oh iya ayo, yah. Aku juga hari ini belum sempat melihat dia. Dari tadi pagi banyak pasien, sekarang baru pasien sepi."
"Ya sudah, ayo!" ajak Anto.
Mereka lalu pergi ke ruang ranap di mana pemuda yang di ceritakan Andre semalam di rawat. Kebetulan ada suster yang baru saja keluar dari sana.
"Bagaimana pasien yang hampir tertabrak kereta kemarin, sus?" tanya Andre.
"Oh pasien yang di dalam, dok? Alhamdulillah pasien sudah sadar dari semalam!" jawab suster.
"Alhamdulillah. Apa dia sudah beritahu siapa namanya dan orangtuanya, sus?"
"Dia diam saja, dok. Sudah ditanya juga sama dokter Wahyu tapi dia tidak mau bicara apa-apa. Dia hanya diam saja dan sering melamun!" jawab suster.
"Ya sudah terima kasih, aku akan menemuinya!" ucap Andre.
Andre dan Anto lalu masuk ke ruang rawat inap pemuda yang kemarin.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" ucap Andre saat memasuki ruangan.
Di ruangan observasi itu terdapat 3 ranjang untuk 3 orang pasien tapi saat ini hanya di isi oleh satu orang saja. Andre dan Anto masuk ke dalam ruangan dimana pemuda itu dirawat. Pemuda itu terlihat sedang menatap kearah jendela tanpa menyahut ucapan salam dari Andre.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Andre saat mereka sudah di dekat ranjang.
"Darren?!" panggil Anto saat mengetahui sosok yang tengah terbaring di sana.
Darren lantas menoleh saat mendengar ada yang menyebut namanya.
"Pak Anto?" sahutnya lemah.
Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat siapa yang datang menemuinya.
"Apa yang terjadi sama kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Anto khawatir.
"Aku-aku pergi dari rumah, pak!" jawab Darren lirih.
"Dari kemarin kamu tidak masuk kerja. Saya pikir kamu kenapa. Ternyata kamu ada di sini. Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu?" tanya Anto cemas.
Tanpa terasa bulir hangat mengalir di sudut matanya.
"Jadi kalian sudah saling kenal?" tanya Andre kaget.
"Iya dia adalah karyawan ayah dan juga kakak tingkat dari adik kamu Alina dan Anisa!" jawab Anto.
"Oh jadi kakak tingkat Annisa yang ayah ceritakan semalam itu dia?" tanya Andre lagi.
Anto menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, kalian ngobrollah, aku mau kembali ke IGD lagi, yah!" pamit Andre.
"Iya, nak. Kamu kerjalah dulu!"
Anto lalu mengambilkan air minum di atas nakas lalu diberikan kepada Darren. Darren lalu meminumnya beberapa teguk.
"Terimakasih, pak!" ucap Darren.
Anto mengangguk lantas menaruh kembali minuman ke atas nakas.
"Coba ceritakan pada saya, apa yang terjadi sama kamu?" tanya Anto.
"Aku lari dari rumah, pak!" jawab Darren.
"Kenapa kamu sampai lari dari rumah?" tanya Anto bingung.
"Papa tidak mengizinkan aku bekerja!" jawab Darren.
Anto menarik nafasnya panjang, "Kalau memang papa kamu tidak mengizinkan kamu bekerja, itu artinya papa kamu sayang sama kamu. Beliau tidak ingin kamu lelah. Mungkin beliau hanya ingin kamu fokus sekolah saja!" jelas Anto.
Darren malah memalingkan wajahnya seperti sedang menahan tangis.
"Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa kepala kamu pusing?" tanya Anto.
"Masih sedikit, pak!" jawabnya.
"Kamu mau makan apa? Nanti saya belikan!" tanya Anto.
Darren hanya menggeleng saja. Andai papa seperti pak Anto, pasti aku nggak akan seperti ini. Batinnya.
"Oh ya, dimana rumah kamu? Nanti biar saya temui orang tua kamu untuk memberitahukan tentang keadaan kamu di sini."
__ADS_1
"Tidak perlu, pak!" tolak Darren.
"Kenapa? Orang tua kamu pasti cemas kamu tidak pulang dari kemarin."
"Nggak apa-apa, Pak. Saya memang tidak mau pulang lagi!" jawab Darren.
"Kamu tidak boleh seperti itu, orang tua kamu pasti cemas. Kalau ada masalah dibicarakan baik-baik!"
"Tidak, pak. Tidak bisa bicara baik-baik!" jawab Darren dengan wajah sedih.
Hhh, Anto menarik nafasnya berat. Mungkin Darren butuh menyendiri. Batin Anto.
"Oh iya, Annisa juga nyariin kamu, tuh. Dia khawatir banget kamu nggak sekolah dan ke minimarket."
"Annisa? Be-benarkah dia nyariin aku?" tanya Darren kaget.
"Iya!"
Seketika wajah pucat Darren sedikit memerah. Dia seperti sedang menahan senyumnya.
"Hhmm. . ."
"Kamu mau ketemu sama Annisa?"
"A-apa Annisa mau ketemu aku?" suaranya lirih.
"Tentu saja! Nanti pulang sekolah saya ajak dia kesini. Tapi kamu mau kan ketemu dia?"
"Hhmm, i-iya, pak!" jawab Darren malu-malu.
"Oh iya sekarang sudah waktunya saya jemput Alina dan Annisa. Saya akan ajak mereka ke rumah sakit. Saya tinggal dulu, ya!" pamit Anto.
"Iya, pak!" sahut Darren.
Setelah Anto keluar, Darren berusaha untuk duduk.
"Duh, Annisa mau ke sini. Wajahku pasti berantakan banget ini. Gimana, ya. Mau ke kamar mandi rasanya kok nggak kuat berjalan. Aku harus berkaca dulu. Aku nggak mau nanti Annisa melihatku dalam keadaan kacau dan jelek begini mana bau lagi!" gumam Darren.
Darren masih memaksakan diri untuk turun dari ranjang rumah sakit dengan satu tangannya memegang botol infus.
Kakinya gemetar. Dia berjalan dengan berpegangan pada dinding menuju kamar mandi.
Ya Allah, semoga aku bisa! Dia terus berdoa dalam hati.
.
.
.
.
.
Maaf masih banyak typo. Selamat memebaca 😊🙏
.
.
.
__ADS_1
.
20