Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 56


__ADS_3

Aku pulang ke rumah untuk makan siang sekaligus membawa pesanan istriku. Aku masukkan sepeda motor ke halaman rumah perlahan lalu memarkirkannya di dekat teras.


"Assalammu'alaikum!" ucapku seraya membuka pintu yang tidak terkunci.


Aku lalu masuk ke dalam rumah. Dari pintu masuk aku bisa melihat di depan tv,istri dan kedua anakku sedang berbaring di lantai dengan beralaskan karpet tebal dan lembut.


Apa mereka sedang tidur,ya? tanyaku dalam hati.


Saat aku hampir dekat,aku mendengar istriku seperti sedang berbicara sendirian. Aku penasaran. Dan ternyata istriku sedang membaca sebuah buku. Di sebelahnya Alya sedang berbaring tapi tidak tidur. Begitupun Andre.


Aku berdiri di belakang mereka sampai istriku selesai membaca.


"Bagaimana cerita bunda? Kalian suka,nggak?" tanya istriku lembut.


"Suka,bun! Putri,anak yang baik ya. Dia menurut sama orang tuanya," sahut Alya.


"Iya. Kita memang harus jadi anak yang baik. Apa yang orang tua bilang itu semua demi kebaikan anaknya. Nggak ada orang tua yang ingin anaknya sedih dan susah!" jelas istriku.


"Kenapa ibu bikin kita sedih dan susah,bun? Ibu tinggalin kita dan juga ayah." Andre berbicara pelan dan datar. Tapi ada kesedihan di balik suaranya.


"Hhmm,mungkin itu hanya perasaan Andre saja. Buktinya ibu sering datang menemui kalian di rumah nenek,kan!" sahut istriku.


"Tapi ibu pergi sama suami barunya,bun! Ibu tinggalin ayah! Untung saja ayah nggak tinggalin kami juga!" sambungnya lagi.


"Hhmm,orang dewasa itu sulit di mengerti oleh anak kecil. Nanti kalau Andre sudah dewasa,Andre pasti mengerti alasan ibu."


"Andre nggak mau jadi dewasa kalau seperti itu. Harusnya kalau sudah dewasa itu harus lebih baik lagi nggak seperti anak kecil!"


"Hhmm,bunda ngggak bisa menyalahkan ataupun membenarkan. Suatu saat Andre pasti tahu jawabnya!" ucap istriku yang terlihat bingung. Mungkin dia tidak ingin anakku semakin membenci ibunya sendiri.


"Ngobrolin apa sih? Sampai ayah datang dan ucap salam nggak ada yang denger?" celetukku.


Mereka sontak menoleh ke arahku.


"Ayah?"


"Mas?"


"Ayah kapan datang?"


Hhmm,siapa yang harus aku jawab lebih dulu.


"Kita makan saja,yuk! Ayah laper!" ajakku seraya mengusap-usap perutku yang memang terasa lapar.


"Ayo,yah! Aku juga sudah lapar,nih!" sahut putriku yang segera menghampiriku. Memeluk perutku dari belakang.


"Iya,sayang. Maaf ya ayah kelamaan pulangnya. Bunda masak apa,nak?"


"Bunda masak sop daging,yah. Mas Andre yang minta masakin sop daging."


"Hhmm,pasti lezat ya!"


"Iya,yah. Sudah nggak sabar nih pingin makan!"


Kami langsung menuju ruang makan. Perlengkapan makan sudah siap di meja makan. Istriku menuang nasi,sayur dan lauk ke piring kami masing-masing.


"Yuk makan. Jangan lupa berdoa!" ajakku.


Setelah selesai makan,kami kembali ke ruang keluarga tempat kami bercengkerama.


"Tadi anak-anak ayah ngapain saja sama bunda?" aku duduk di sebelah putraku seraya mengusap dahinya yang sudah tidak demam lagi.

__ADS_1


"Tadi bunda bikinin mas cake coklat. Adek Alya minta di bikinin puding coklat,yah. Terus bunda bacain kita cerita!" jelas Andre.


"Banyak banget bebikinan makanan."


"Iya,yah. Habisnya adek maunya puding nggak mau cake!" sahut Alya.


"Bunda kan nggak boleh capek,nak," jelasku.


"Nggak apa-apa,kok. Sesekali,ya. Yang penting harus di habiskan!" sahut istriku.


"Pasti kita habiskan kok,bunda. Pudingnya enak!" sahut putriku seraya mengacungkan dua jempolnya.


***


"Bagaimana,yank?" tanyaku pada istriku. Istriku baru saja selesai terapi mingguan seperti biasa.


"Dokter bilang kondisiku semakin baik,mas. Kalau mau terapi sebulan sekali juga nggak apa-apa kalau dua mingguan terlalu cepat takutnya aku kecapekan!" jelasnya.


"Alhamdulillah!" sahutku.


"Ini dokter saranin aku ke dokter kandungan kenalannya,mas. Kalau mau kita ke sana nanti sore saja."


"Iya,sayang. Sekarang kita kembali ke hotal atau kamu mau kemana?"


"Hhmm,aku mau jalan-jalan ke pantai,mas!"


"Ya sudah,ayo!"


Dengan menggunakan taxi,aku dan istriku pergi ke pantai yang tidak terlalu jauh dari hotel.


Satu jam kami sampai. Pantainya tidak terlalu ramai hingga suasana tenang. Udara yang sejuk dan segar walau hari sudah siang karena banyak pepohonan di sana.


Selama satu jam kami berjalan-jalan. Istriku sengaja tidak mengenalkan alas kakinya. Ujung gamisnya menyapu pasir di pantai dan sesekali dia lebih masuk ke pinggir pantai supaya kakinya menyentuh air laut.


"Mau mas fotoin,nggak?" tanyaku.


Dia menoleh, "Boleh,mas. Tapi dari samping atau belakang saja ya supaya wajahku nggak terlalu terekspos!"


"Siap,bos!" sahutku yang membuat dia tertawa.


Aku lalu mengambil beberapa foto istriku. Setelah itu dia pun memaksa mengambil fotoku juga. Akhirnya aku mau tapi hanya foto dari belakang yang berlatar ombak laut.


Kami kembali berjalan menyisir pantai sambil bergandengan tangan. Sesekali aku memeluknya. Aahh,bahagianya seperti orang pacaran saja.


"Mas,aku capek!" keluh istriku tiba-tiba.


Dengan sigap aku langsung membopongnya.


"Hhmm,mas! Kaget aku!" teriaknya lantas melingkarkan kedua tangannya di leherku.


"Kan kamu bilang capek!"


"Hhmm. Tapi,mas. Malu di lihat orang."


"Biarin saja toh nggak ada yang kenal kita. Lagipula kamu kan istri mas!"


"Hhmm,iya mas."


"Kita mau kemana lagi,hmm?" tanyaku seraya menatapnya mesra.


"Laper,mas!"

__ADS_1


"Mau makan di mana?"


"Itu ada restoran,mas. Kita makan di sana saja. Ada tempat istirahatnya juga di sana!" tunjuk istriku ke sebuah restoran yang paling dekat dari pantai. Dengan jarak hampir seratus meter dari pantai.


"Ya sudah kita ke sana!" sahutku.


Aku berjalan sambil membopong istriku. Tidak sampai lima menit kami sampai di restoran. Aku mendudukan istriku di bangku panjang yang ada di depan restoran.


"Capek,mas?" tanya istriku seraya menatap cemas ke arahku.


Aku ikut duduk di sebelahnya, "Nggak kok,yank. Kita langsung masuk saja,ya?"


Dia tersenyum lalu mengangguk, "Mas hebat ya,kuat gendong aku dari jauh."


Aku tertawa, "Kamu juga kecil,yank!"


"Hhmm,kecil ya."


"Iya,kecil. Harus makan lebih banyak lagi! Ayo!" ajakku lalu menggandeng tangannya masuk ke dalam restoran.


Kami lalu mencari meja yang dekat jendela yang bisa memandang langsung ke pantai. Tak lama kemudian seorang pelayan datang dan istriku memesankan makanan untuk kami berdua.


Setelah menunggu tak sampai sepuluh menit,pesanan kami datang.


"Semoga mas suka,ya. Hanya ini yang menurut aku sesuai dengan selera mas!"


"Iya,yank. Kita makan,yuk!" ajakku.


***


Kami baru saja tiba di klinik dokter kandungan yang di rekomendasikan oleh dokter Cyintia tadi.


Setelah menunggu selama hampir satu jam,nama istriku di panggil. Kami berdua pun masuk.


"Jadi ibu belum pernah hamil,ya?" tanya dokternya tentu saja dalam bahasa inggris yang aku pahami.


Istriku mengangguk. Dokter lalu meminta istriku berbaring di atas tempat tidur untuk melakukan pemeriksaan. Alhamdulillah dari pemeriksaan awal,tidak ada masalah di kesuburan istriku karena dia selalu datang bulan dengan tepat waktu setahuku.


Setelah konsultasi selama satu jam lebih,kami pun keluar dari ruang dokter.


"Bagaimana penjelasan dokter tadi,yank? Kamu tahu kan mas nggak paham."


"Hhmm,mas tadi dengar kalau semua baik,kan. Dan kita di minta untuk berhubungan di tanggal sekian,mas. Itu masa suburku yang benar-benar bagus kata beliau!" jelas istriku.


"Tanggal berapapun nggak masalah,yank. Setiap tanggal juga boleh!" sahutku dengan tatapan menggoda.


"Iiihh,mas!" istriku tersenyum malu.


"Ya sudah kita pulang,yuk!" ajakku. Aku merasa sangat lelah sekali seharian kami belum beristirahat selain makan.


"Iya,mas kita langsung pulang ke hotel saja. Besok pagi-pagi sekali kita kembali ke indonesia.


"Iya,yank!"


.


.


.


.

__ADS_1


15


__ADS_2