Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 55


__ADS_3

Tak terasa pernikahanku sudah berjalan tiga bulan dan istriku sudah empat kali melakukan terapi di luar negeri. Dia memang sudah jarang mengeluhkan sakit di kepalanya. Tapi akhir-akhir ini dia jadi lebih sering murung apalagi jika aku tinggal sendirian di minimarket.


Seperti saat ini,aku baru saja kembali dari gudang. Aku pikir dia sedang tidur ternyata dia sedang melamun. Entah apa yang tengah di lamunkannya.


"Yank," panggilku pelan.


Dia mendongak seperti orang kaget. Terlihat sekali kalau dia sedang melamun.


"Mas?"


"Kamu sedang apa?" tanyaku heran.


"Hhmm,aku hanya duduk-duduk saja," jawabnya lirih. Wajahnya masih terlihat murung.


Aku lalu ikut duduk di sebelahnya. Mengusap lembut pucuk kepalanya lalu memberikan ciuman di pipinya. Aku memegangi dagunya supaya menghadap ke arahku. Aku lalu mendekatkan wajah kami berdua dan belum sempat bibir kami bertemu,dia sudah memalingkan wajahnya. Aku menatapnya dengan dahi berkerut. Tidak biasanya dia menolak dan tetap memasang wajah murungnya.


"Kenapa?" tanyaku heran dan dia hanya menunduk lesu membuat aku bingung.


Dia menggelengkan kepalanya, "Nggak apa-apa,mas!" sahutnya pelan.


"Hhmm,kenapa menolak mas? Mas ada salah?" tanyaku penasaran.


Dia kembali menggelengkan kepalanya.


"Lalu?" desakku. Entahlah kenapa istriku bersikap aneh.


"Aku. . ." dia menggantung ucapannya.


"Mas nggak mau ada kebohongan! Jujur walau terasa sakit itu lebih baik!" tegasku dengan suara meninggi.


"Hhmm,mas," suaranya bergetar. Dia mungkin takut mendengar nada bicaraku yang tidak seperti biasanya.


Aku lalu berdiri hendak meninggalkannya sendirian di kantor. Tapi tiba-tiba dia merangkulku dari belakang. Pakaian bagian belakangku terasa basah. Istriku menangis.


Aku lalu membalik badanku menghadap ke arahnya. Dia benar-benar menangis membuat aku makin tidak mengerti. Aku lalu menghapus airmatanya dengan ujung jariku.


"Kenapa?" tanyaku lembut seraya menatap matanya lekat-lekat.


Dia menarik nafas pelan, "Aku. Aku belum hamil-hamil,mas. Apa mungkin aku mandul?" ucapnya dengan suara bergetar tanpa mau membalas tatapanku.


"Hhh,mas pikir karena apa. Kan kita baru menikah,sayang! Mas sabar kok!" ucapku menghiburnya lalu menariknya ke pelukan.


"Tiga bulan lagi aku sudah empat puluh,mas."


"Kamu tau? Anak itu adalah rezeki dan rezeki datangnya dari Allah. Kita nggak bisa memaksakan. Allah tahu yang terbaik untuk umatnya. Mungkin Allah ingin kamu benar-benar sembuh dulu. Mungkin Allah ingin kamu menjalani terapi dulu dengan teratur."


Dia mendongakkan kepalanya. Menatapku sayu, "Mas. . ."


Aku balas menatapnya lembut, "Hhmm,mau?"


Dia menunduk, "Aku-aku sedang dapet,mas!"


Aku usap-usap kepalanya, "Nanti kalau sudah selesai,kita lebih rajin lagi program,ya!" ucapku menggoda.


"Hhmm,kan kita sudah rajin,mas. Hampir tiap hari tapi masih belum juga."


"Kan baru hampir belum tiap hari?"


"Iihh,mas nggak capek tiap hari?"

__ADS_1


"Mas sih maunya setiap hari sampai berkali-kali,sih. Tapi mikir kasihan sama kamu kecapekan!"


"Hhmm,kasihan karena aku yang sakit apa karena aku yang sudah berumur?"


"Kamu bicara apa,sih? Mas nggak suka!" tegasku.


"Hhmm,mas."


"Kamu ingat apa kata dokter Cyntia,kan? Kalau kamu mau hamil,kamu nggak boleh capek! Dan mas lebih mentingin itu daripada hasrat mas sendiri!"


"Maafin aku,mas. Aku benar-benar kalut!"


"Hhmm,ya sudah jangan sedih lagi! Kamu bantu mas masukin data barang masuk ke pembukuan kamu saja,yah. Jangan banyak pikiran! Mas sedih kalau nggak bisa bahagiain kamu!"


"Iya,mas!" sahutnya.


Berdua kami duduk di satu kursi menghadap ke layar komputer. Sesekali aku menggodanya,memberikan ciuman dan pelukan.


***


Minggu pagi aku baru bangun dari tidurku dan hendak mandi. Kebetulan istriku sudah lebih dulu bangun dan mandi.


"Tunggu mas,ya. Kita jamaah. Kamu sudah selesai kan?" ucapku saat melihat istriku yang baru keluar dari kamar mandi.


"Aku sudah selesai,mas. Mas nggak sholat subuh di masjid?" tanya istriku.


"Nggak,yank. Andre kan masih demam," sahutku.


Putra sulungku itu memang sedang demam dari kemarin karena flu dan sudah dari kemarin juga dia tidak bersekolah.


Saat aku masuk kamar mandi,betapa kagetnya aku. Di lantai kamar mandi dekat wastafel dan di bawah shower,seperti ada rambut rontok. Dan jumlahnya banyak.


Aku segera mandi lalu berwudhu. Saat aku keluar dari kamar mandi,aku lihat istriku sedang duduk di meja rias sambil menyisir pelan rambutnya. Netranya menatap cermin kaca dengan wajah yang terlihat murung.


"Yank?" panggilku.


Dia reflek menoleh. "Mas?"


"Sholat,yuk!" ajakku dengan masih menatapnya lekat-lekat.


Dia menaruh sisir di meja lantas berdiri mengambil alat sholat kami lalu membentangkan sajadah menghadap ke kiblat. Gerakannya sangat pelan sekali.


Setelah selesai sholat,aku menggendongnya dan membawanya ke tampat tidur. Aku mulai mencium keningnya dan setiap inci wajahnya seraya membisikkan kata-kata mesra. Aku terus melakukan itu sampai senyum di wajahnya mengembang.


"Mas kangen!" bisikku lembut seraya menatap matanya dengan pandangan menggoda. Dia kembali tersenyum.


Aku kembali menciumnya hingga dia pun membalas apa yang aku lakukan. Kami mulai mengikuti hasrat yang sudah menguasai diri kami. Dinginnya udara subuh yang segar di tambah istriku yang baru saja selesai dengan tamu bulanannya membuat hasrat kami begitu menggebu-gebu. Hingga kami mengulanginya untuk kedua kali.


"Terimakasih,sayang!" bisikku mesra.


"Iya,mas. Aku mau langsung mandi," sahutnya.


"Nanti saja,yank!"


"Aku mau bikin sarapan bubur untuk Andre,mas. Dia harus minum obat pagi ini kan demamnya belum turun."


"Oh iya,ya. Ya sudah kamu duluan saja mandi."


"Iya,mas!" istriku gegas turun dari tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Tak lama dia sudah selesai mandi lalu turun ke bawah. Aku gantian pergi ke kamar mandi.


Pukul enam aku hendak ke kamar anakku untuk melihat keadaan putraku tapi ternyata baik Andre maupun Alya sudah tidak ada di kamar mereka. Aku lalu turun ke bawah. Ternyata mereka sedang duduk bersantai di ruang keluarga dengan istriku sedang menyuapi putraku makan.


"Loh kok mas Andre makannya di suapi?" tanyaku lalu duduk di sebelah istriku.


"Nggak apa-apa,mas. Kepalanya masih pusing!" sahut istriku.


"Hhmm,hari ini kalian di rumah saja ya nggak usah ikut ke minimarket!"


"Iya,yah. Alya juga mau di rumah saja menemani mas Andre!" sahut putriku.


"Mas sudah lapar? Tunggu sarapan Andre habis ya,mau minum obat juga!" ucap istriku.


"Iya nggak apa-apa."


Hanya lima menit menunggu,putraku sudah selesai dengan sarapannya karena memang tinggal sedikit saat aku turun tadi. Bubur ayam lezat bikinan istriku sudah di habiskannya satu mangkuk. Setelah itu dia minum obat dan kembali duduk santai di sofa sambil bermain game.


"Yuk,kita sekarang sarapan!" ajak istriku seraya menggandengku dan juga putriku.


Kami hanya makan bertiga saja.


"Maaf ya mas,aku hanya sempat masak bubur saja. Kalau nasi belum ada sayurnya hanya ayam goreng saja," ucap istriku seraya menuang bubur ke mangkuk kami bertiga lalu menaburkan tambahan ayam goreng suwir,bawang goreng dan pelengkap bubur ayam lainnya.


"Iya sayang,nggak apa-apa ini juga sudah bikin kenyang dan juga enak!" sahutku.


"Nanti mas makan siang di rumah,kan?"


"Iya,makan siang mas pulang."


"Mas minta di masakin apa?"


"Apa saja yang kamu masak pasti mas makan kok!"


"Hhmm,mas ke ingin makan sesuatu?"


"Hhmm,apa ya?" aku menatapnya lalu berbisik di telinganya, "makan kamu!"


Wajahnya langsung memerah,lalu tersenyum malu.


Setelah selesai sarapan,aku berbincang sebentar dengan istri dan anak-anakku. Pukul tujuh lebih aku baru berangkat ke minimarket dengan mengendarai sepeda motor karena hanya pergi sendirian.


"Kalian nggak titip apa-apa?" tanyaku sebelum pergi.


"Nanti aku telpon saja,mas. Sepertinya ada yang aku butuhkan,deh!" sahut istriku.


"Ya sudah kalau gitu nanti sebelum mas pulang kamu telpon ya!"


"Iya,mas!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


06


__ADS_2