Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 145


__ADS_3

Saat Alina dan Annisa sedang makan di kantin, Alina melihat Darren sedang berdiri di sudut kantin. Kakak tingkatnya itu terlihat sedang makan sesuatu dan di tangannya juga ada sekantong plastik es.


"Kak Darren kan itu, Nis?" tanya Alina sembari menunjuk ke arah Darren.


Annisa menoleh, "Eh iya, Lin. Itu kak Darren.


"Nis, kamu suka ya sama kak Darren?" tanya Alina.


"Apa? Aku suka sama kak Darren? Nggak, kok. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Annisa.


"Ya nggak apa-apa aku tanya saja."


"Atau jangan-jangan kamu lagi yang suka sama kak Darren?" tanya Anisa.


"Enggak, kok! Aku juga baru bertemu dan mengenal dia beberapa kali!" ucap Alina.


"Di sekolah ini apa nggak ada yang kamu sukai, Lin?" tanya Annisa.


"Enggak ah! Kan katanya kita nggak boleh pacaran kalau masih sekolah!"


"Kan hanya sekedar suka saja bukan pacaran."


"Iya sih tapi aku belum ketemu seseorang yang bisa bikin aku suka. Semuanya sama saja!" jawab Alina.


"Sama?"


"Aku kan ingin seperti mas Andre yang menikah tanpa pacaran!" imbuhnya.


"Iya, aku juga, kok!" ucap Annisa.


"Menurutmu mas Kevin itu suka enggak sama mbak Alya?" tanya Alina pada Anisa.


"Kelihatannya sih iya, tapi ya aku nggak yakin karena kan mas Kevin itu dosennya mbak Alya dan juga temannya mas Andre Jadi mungkin karena itu mereka terlihat dekat."


"Bisa juga sih."


"Eeh tuh lihat kak Darren berjalan ke arah sini, Nis!"


"Kak Dareen!" panggil Anisa.


Darren menghentikan langkahnya, "Iya ada apa, Nis?" tanya Darren.


"Kak Darren jadi kan kerja di minimarket?" tanya Annisa


"Iya aku jadi kerja di minimarket keluarga kamu, Nis!" jawab Darren.


"Semoga kamu betah ya, kak. Karyawannya ayah baik semua kok apalagi ayahku baik banget!" puji Annisa sembari tersenyum


"Ya mereka semua baik dan Ayahmu juga sangat baik!" jawab Darren.


"Semoga kakak betah ya bekerja di minimarket!" ucap Annisa sambil tersenyum.


"In Sya Allah kakak betah!"


"Kakak nggak mau gabung sama kita makannya?"


"Maaf nih kakak sudah makannya. Kakak mau kembali lagi ke kelas. Lagi pula sebentar lagi istirahat selesai!" sahut Darren.


"Oh iya kak. Kita juga mau kembali ke kelas,"


Mereka lalu kembali ke kelas sambil berjalan beriringan. Anisa terlihat sangat ceria berjalan sambil bercanda dengan Darren.


Mereka tidak menyadari sedang di perhatikan oleh beberapa pasang mata.


"Kakak ke kelas dulu, ya!" pamit Darren yang segera berlalu dari hadapan Alina dan Annisa.


Alina menyikut lengan Annisa.


"Hei nggak usah di pandangan terus tuh nanti kamu bisa naksir lagi!" celetuk Alina

__ADS_1


"Apaan sih kamu orang aku biasa saja kok!" sahut Annisa.


"Iya juga nggak papa kok. Sepertinya kak Darren itu orangnya baik!"


"Ah kamu!" ucap Anisa malu.


"Kalau kamu sudah sama kak Darren. Mbak Alya sama mas Kevin temannya mas Andre. Mas Andre sudah menikah, lalu aku sama siapa ya, Nis?" ucap Alina sambil pura-pura sedih.


"Ah kamu apa-apaan sih, Lin!" ucap Annisa lantas segera duduk di bangkunya.


"Loh iya, kan. Merana lah aku melihat kalian sudah berpasang-pasangan sementara aku. Jones!" keluah Alina.


"Kamu ngomong apa sih, Lin! Orang aku juga sama seperti kamu, kok!"


***


Pulang sekolah, Darren langsung pergi ke minimarket. Setiap hendak pergi ke sekolah, Darren memang sudah menyiapkan pakaiannya untuk kerja supaya dia tidak perlu lagi pulang ke rumah untuk berganti pakaian. Itu bisa memancing papa mamanya curiga.


Darren sudah sampai ke minimarket lantas menyimpan tas sekolahnya dalam loker. Darren bekerja seperti biasa atas intruksi dari Rudi, kepala gudang. Tidak ada yang tahu sampai saat ini jika Darren ternyata masih sekolah.


"Darren, rumah kamu di mana, ya?" tanya salah satu karyawan yang bernama Wanti.


"Aku nggak punya rumah."


"Masa sih nggak punya!"


"Iya, bener kok!"


"Ah kamu bohong!"


"Beneran! Maaf ya aku ke gudang lagi!" pamitnya buru-buru sampai tidak menyadari ada pemilik minimarket di sana.


Darren bertemu dengan Anto saat dia sedang ingin ke gudang mengambil lagi barang untuk di taruh di minimarket.


"Bagaimana? Apa kamu betah bekerja di sini?" tanya Anto.


"Pak? Aku betah, kok!" jawab Darren.


"Iya, pak!" jawab Darren.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Waktunya minimarket tutup.


Darren pulang lebih dulu. Sampai di rumah, orangtuanya sedang duduk di ruang tamu. Menatap nyalang ke arahnya. Terutama papanya.


"Kok mama papa belum tidur?"


"Darren! Duduk!" titah papanya.


Darren menurut, dia duduk tidak berjauhan dari kedua orangtuanya.


"Kamu sekarang makin nggak bener, ya!" ucap papanya dengan nada tinggi.


"Maksud papa?" tanya Darren tidak mengerti.


"Nggak usah pura-pura, kamu! Dari mana kok bru pulang. Jangan alasan belajar, ya!"


"Aku. . ." Darren terlihat bingung. "Aku kerja, pa!"


"Kerja apa, hahh?"


"Bengkel pa."


"Bengkel apa?"


"Sepeda motor."


"Jangan kamu datangi lagi. Mengerti, kamu!"


"Tapi aku butuh uang, pa! Aku butuh uang!"

__ADS_1


Plaakk. Darren memegangi pipinya yang panas.


"Pa, kenapa kamu pukul anak kita?" protes mamanya.


"Anak seperti ini nggak usah di belain!"


"Tapi,pa?"


"Diem, ma!"


"Ingat Darren, mulai besok pulang sekolah kamu jangan kemana-mana. Inget itu!" ancam papanya membuat dia semakin takut.


Darren langsung masuk ke kamarnya yang sempit.


"Kenapa papa jahat? Nggak pernah mau mengerti anaknya?" gumamnya. Dia hempaskan tubuhnya ke lantai.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Mamanya masuk lantas duduk di sebelahnya saja.


"Nak, maafin papa kamu, ya. Kamu juga kenapa pulang malam terus, hmm?"


"Aku kan kerja, ma. Supaya nggak selalu merepot kalian!"


"Tapi nggak harua pulang malam, nak!"


"Ma, aku selesai sekolah jam dua dan langsung kerja. Itu juga hanya beberapa jam. Kalau papa nggak suka ya sudah!"


"Mama ambilin makan, ya?


"Hhmm, Nggak usah ma. Aku belum lapar!"


"Sekarang sudah pukul sembilan malam, nak. Masa belum lapar?"


"Nggak selera makan, ma!"


"Sudah, nggak usah kamu pikirkan. Toh papa nggak bisa bantu ekonomi keluarga."


"Ma, aku masih ingin kerja. Daripada aku di rumah saja."


"Hhmm, nanti mama coba rayu papa, ya!"


"Beneran, ma?"


"In Sya Allah ya. Sekarang kamu istirahat saja. Jangan lupa makan!" titah mamanya.


Darren mengangguk lantas berbaring di atas tempat tidur.


"Andai saja aku anak orang kaya. Andai papa mau kerja yang lebih bagus dikit, aku nggak akan bersusah payah kerja sepulang sekolah," gumam Darren.


Hhh, bagaimana aku bisa mendekati Annisa, ya. Dia anak orang kaya sedangkan aku orang nggak punya. Mana mungkin dia mau. Batin Darren.


.


.


.


.


Maaf masih ada banyak typo 😚🙏.


.


.


.


next


23.5

__ADS_1


.


__ADS_2