Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 190


__ADS_3

Malam ini Kevin akan melamar Alya secara resmi namun dengan hanya mengajak tantenya saja.


"Maaf pak Anto dan bu Santi, hanya kita berdua yang bisa datang karena orangtua Kevin tinggal di luar negeri," jelas tante Kevin.


"Oh iya, tidak masalah. Kita bisa mengerti," sahut Anto.


Proses lamaran sederhana yang hanya di hadiri oleh keluarga inti saja.


"Jadi saya menurut keluarga dari Alya saja kapan dan bagaimana acara pernikahan mereka nanti."


"Kalau anak-anak maunya setelah Alya di wisuda. Itu tiga minggu lagi. Dan putri saya juga hanya ingin acara pernikahan yang sederhana saja," jelas Anto.


"Baiklah kalau begitu, pak," ucap tante Dilla.


Setelah membicarakan apa-apa yang penting untuk acara pernikahan Alya dan Kevin nanti, Kevin dan tantenya pulang. Karena omanya Kevin tidak bisa di tinggal lama.


Beberapa hari kemudian dengan di temani oleh Kevin, Alya datang ke rumah Lisa. Tapi dengan syarat saat Alya datang, papa Darren sedang tidak ada di rumah.


"Ayo kita turun, sayang!" ajak Kevin.


"Mas yakin papanya Darren nggak ada di rumah?" tanya Alya ragu. Dia tidak ingin ada masalah nantinya jika sampai bertemu dengan papanya Darren karena saat bertemu Annisa pun, papanya Darren masih galak seperti dulu.


"Mas sudah telepon Darren."


Alya menarik nafas panjang, "Baiklah," ucap Alya.


Mereka lalu turun dari mobil. Alya melangkah perlahan dengan perasaa ragu. Kevin yang menyadari sikap Alya lalu menggamit tangan gadis itu.


"Santai saja. Kalau memang nanti ada papanya Darren, kita pulang," ucap Kevin supaya gadis tiu bisa lebih tenang.


Aku juga bingung bagaimana cara berbicara pada ibu. Batin Alya.


Akhirnya mereka sampai di depan pintu rumah Darren. Rumah Darren terlihat sepi. Kevin lalu mengetuk pintu.


Tok tok tok. Tak lama kemudian pintu dibuka. Daren berdiri di depan pintu.


"Assalammu'alaikum," ucap Kevin.


"Waalaikumsalam," sahut Darren.


"Masuk, kak," ajak Daren.


Terima kasih kita di teras saja," tolak Kevin halus.


Alia lalu duduk di teras bersama Kevin.


"Aku panggil mama dulu ya, kak," pamit Darren lalu masuk kembali ke dalam rumah. Tak lama kemudian Darren keluar bersama Lisa. Kevin dan Aliya berdiri saat Lisa datang bersama Darren.


Alya dan Kevin saling memandang. Lisa mematung saat melihat putrinya. Sesaat kemudian Lisa memeluk Aliya.


"Aliya anakku," seru Lisa membuat Alya kaget. Mata Lisa berkaca-kaca. Dia mengusap kepala dan punggung putrinya yang sudah lama tidak berjumpa itu dengan lembut. Tak lama kemudian Alya melepaskan pelukan ibunya.


"Alya kamu datang, nak," ucap Lisa terharu. Alya hanya tersenyum tipis. Dia merasa sedikit asing karena memang mereka sudah belasan tahun tidak bertemu. Pertemuan pertama waktu itu hanya beberapa detik saja karena Alya buru-buru pergi dari sana.


"Apa kabar kamu, nak?" Kamu tumbuh jadi gadis yang sangat cantik," ucap Lisa sambil mengusap wajah Alya yang terlihat salah tingkah.


"Alhamdulillah, aku baik, bu," jawab Alya.


Mereka lalu kembali duduk. Kevin membiarkan mereka duduk berdua untuk berbicara sementara Kevin sedikit menjauh berbicara berdua bersama Darren.


"Terima kasih ya nak kamu mengunjungi Ibu," ucap Lisa yang terus menatap wajah putrinya.


"Aku datang ke sini mau mengundang ibu," ucap Alya.


Dahi Lisa berkerut, "Mengundang?" tanya Lisa bingung.


"Iya, bu. Tiga minggu lagi aku akan menikah," jelas Alya.


"Kamu mau menikah, nak?" tanya Lisa kaget.

__ADS_1


Alya mengangguk.


"Menikah dengan temen kamu yang tadi?" tanya Lisa..


Alya mengangguk. Lisa kembali memeluk Alya


"Selamat ya, nak. semoga pernikahan kalian bahagia," ucap Lisa yang kembali tak terasa menitikkan air matanya.


"Tiga minggu lagi aku akan menikah, aku harap ibu mau datang," ucap Alya.


"Tentu saja ibu akan datang kalau kamu undang, nak," jawab Lisa.


"Terima kasih, bu," ucap Alya.


"Oh iya, bagaimana kabar mas Andre? Sepertinya dia juga sudah menikah, ya?" tanya Lisa lagi.


"Iya, mas Andre sudah menikah tahun kemarin."


"Alhamdulillah anak-anak ibu sudah menemukan pasangan masing-masing."


Alya tersenyum tipis.


"Oh ya Darren bilang dia akan kuliah di Universitas yang sama denganmu, ya?" tanya Lisa.


Alya mengangguk, "Iya, bu."


"Terima kasih nak, kalian sudah membantu Darren.


"Bukan aku yang membantu Darren kok, bu."


"Darren bilang yang membantu kuliahnya adalah calon suami kamu dan juga masmu Andre," ucap Lisa.


"Oh soal itu, mereka hanya membantu sedikit saja kok, bu. Selebihnya itu usaha Darren sendiri," jelas Alya.


Karena sudah mengobrol banyak dan Alya tidak ingin bertemu dengan suami ibunya, Alya pun buru-buru pamit pulang.


"Aku harus pulang sekarang, bu," ucap Alya.


"Maaf, bu. Sebaiknya aku pulang sekarang sebelum suami ibu pulang," ucap Alya.


"Nak, maafkan ibu ya. Ibu dulu banyak salah sama kamu," ucap Lisa dengan wajah sedih.


"Sudah, bu. Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Aku sekarang harus pulang."


"Hhmm, baiklah kalau begitu. Ibu akan usahakan datang bersama Darren."


"Terima kasih, bu." Alya lalu bangkit berdiri menghampiri Kevin yang sedang asyik mengobrol bersama Darren.


"Mas kita pulang sekarang saja," ajak Alya.


"Baiklah," sahut Kevin.


Mereka lalu berpamitan. Lisa kembali memeluk Alya sedikit lebih lama.


"Kenapa cepat sekali sayang?" tanya Kevin saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Sudah selesai ngobrolnya kok, mas," ucap Alya.


"Hhmm, kirain mau ngobrol lama."


"Sudah nggak ada lagi yang perlu di omongin. Lagi pula aku tidak ingin bertemu suaminya ibu," jelas Alya.


"Oh iya," sahut Kevin.


Kevin yang sudah tahu kejadian di masa kecil Alya dari Andre pun mengerti. Kenapa Alya begitu ingin menghindari papanya Darren. Mungkin trauma itu masih Membekas di hati Alya.


"Bagaimana kalau kita makan siang di luar?" ajak Kevin.


Alya hanya diam menatap keluar jendela.

__ADS_1


"Ayolah, Al. Sekaligus kita cari barang-barang untuk seserahan kamu nanti, biar kamu pilih sendiri. Mau, ya. Mumpung hari ini mas nggak ada kelas," ucap Kevin dengan wajah memohon.


"Baiklah kalau begitu," ucap Aliya.


Kevin tersenyum. Dia lalu melajukan mobilnya ke arah Cafe. Sampai di kafe mereka langsung memesan makanan karena hari juga sudah siang sudah waktunya makan siang.


Tak menunggu waktu lama, pesanan mereka datang. Mereka pun menikmati makan siang mereka.


"Enak ga ayam bakarnya, hmm?"


Alya mengangguk, "Iya, mas. Enak, bumbunya juga pas," sahut Alya.


"Mas dulu sering makan di sini."


"Oh, ya? Saat masih kuliah?"


"Hhmm, dari masih sekolah juga. Awalnya tante Dilla yang memperkenalkan kafe ini. Sejak itu kalau sedang lewat sini, mas selalu mampir."


"Hhmm, aku boleh tanya, mas?"


"Tanya saja. Kamu banyak diam, mas malah bingung, sayang."


"Hhmm, saudara mas hanya tante dan oma yang ada di sini? Lalu rumah yang waktu itu mas ajak aku, itu rumah siapa?"


"Hhmm, itu rumah orangtua, mas. Tapi hanya mas yang tinggal di sana."


"Kenapa tante sama oma nggak tinggal juga di sana?"


"Hhmm, tante yang nggak mau."


"Oh begitu."


"Hhmm,"


Setelah selesai makan, mereka pergi ke butik.


"Kamu suka pakaiannya, sayang? Ambil yang lain lagi."


"Ini sudah cukup, mas. Kalau untuk acara, bunda ada butik kenalannya. Jadi nanti sama bunda saja."


"Oh, begitu."


Setelah dari butik, mereke mengunjungi juga toko-toko yang menjual barang-barang untuk seserahan nanti. Menjelang sore mereka baru pulang dengan barang belanjaan yang banyak.


Kevin tampak bahagia menemani Alya belanja.


"Jangan lupa ke salon nanti sebelum hari H, ya!" pinta Kevin.


"Kenapa sebelum hari H? Kan saat hari H, ada yang datang ke rumah untuk merias aku,"


"Kesalon untuk perawatan tubuh, sayang," bisik Kevin.


"Iiihh, nggak perlu di rawat. Biarin saja jelek!" sahut Alya.


"Iiihh, kamu!" Kevin mencubit mesra pipi Alya yang sudah memerah karena malu.


"Mas, iiihh!" Alya menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Hahaaa, kamu makin gemesin kalau malu-malu gitu."


.


.


.


.


.

__ADS_1


16


__ADS_2