
Mereka sudah sampai di bandara menjelang malam. Perjalanan selama dua jam dengan pesawat. Kini merek sudah di kamar masing-masing.
"Malam ini kita kemana ya, Nis?"
Annisa menggelengkan kepalanya, "Tanya mas Andre dulu," jawab Annisa yang sibuk mengambil pakaiannya dan bersiap untuk mandi. "Aku mandi dulu," imbuhnya.
Pukul tujuh malam, Annisa dan Alina sudah selesai mandi. Mereka duduk di sofa di depan tv.
"Sudah telepon mas Andre?" tanya Alina.
Annisa menggelengkan kepalanya, "Aku kirim pesan saja dan belum di baca,"
"Hhmm, laper, Nis," keluh Alina.
"Iya, nih."
Sementara pengantin baru sedang bermesraan.
"Mas, nggak mandi dulu?" tanya Alya yang menahan bibir suaminya yang terus saja menghujani wajahnya dengan ciuman.
"Nanti saja sayang, setelah ini," sahut Kevin yang hasratnya sedang tinggi.
Kevin langsung menggendong istrinya lalu membawanya ke atas tempat tidur.
"Hhmm, mas?" Alya berusaha menggelengkan kepalanya.
Dia ingat akan makan malam bersama saudaranya tapi keinginan suaminya sepertinya tidak bisa di tolak.
Kevin benar-benar tidak bisa menahan hasratnya sebagai pengantin baru.
Di dalam kamar Andre, Kanaya sedang membersihkan diri. Andre yang duduk menunggu jadi tidak sabar lalu menyusul istrinya mandi.
"Mas?"
"Kamu lama banget mandinya." ucap Andre dengan senyum menggoda.
"Hhmm, mas ini," Kanaya tersenyu malu.
Andre melangkah dengan senyum menyeringai lalu memeluk istrinya.
"Mas, iihh!"
"Kelamaan nunggu!"
"Hhmm, nanti malah makin lama, loh."
"Nggak apa-apa."
"Alina sama Annisa?"
"Oh, iya ya," Andre menepuk dahinya.
"Hahaa, kasihan deh."
"Kamu, ya!" Andre makin melancarkan godaannya.
"Mas!"
Hahaa. . ."
Tawa penuh arti terdengar dari balik kamar mandi.
Kembali ke kamar Alina dan Annisa. Saudara kembar itu terlihat gelisah. Mereka sibuk dengan handphone masing-masing.
"Nggak di angkat," ucap Annisa lirih.
"Siapa?" tanya Alina.
"Mas Andre."
"Coba mbak Alya, ya," Alina mencoba menelpon Alya tapi handphonenya mati.
"Nggak aktif!" ucap Alina kesal.
"Huuhhh! Kita nungguin orang yang lagi bulan madu ini ceritanya!" Annisa ikut kesal.
"Gimana kalau kita keluar saja?" usal Alina.
__ADS_1
"Keluar?"
"Iya keluar! Laper, tahu. Kita makan di restoran di hotel ini saja. Gimana?"
"Hhmm, ayo, deh. Aku sudah laper banget, Lin!"
"Aku lihat dompetku dulu!" ucap Alina lantas membuka tas kecil dan dompetnya. Annisa pun mengikuti apa yang di lakukan saudaranya.
"Hhmm, aku ada uang cash lima ratus ribu, Lin!"
"Aku ada tujuh ratus!"
Mereka berdua tersenyum semringah.
"Ayo!" ucap mereka hampir berbarengan.
"Tunggu dulu. Aku mau ngaca dulu sudah cantik belum!" ucap Alina.
"Aduh, Lin. Ngapain ngaca segala."
"Yah siapa tahu dapet kenalan bule, kan?"
"Ahh, aku nggak suka sama bule!"
"Iyalah. Kamu kan sukanya sama kak Darren!" celetuk Alina.
"Hehee!"
"Jadi kamu beneran sukanya sama kak Darren? Nggak mau cari yang lain, gitu?" tanya Alina penasaran.
"Hhmm, nggak tahu, Lin. Tapi kak Darren itu beda."
"Beda apanya?"
"Nggak tahu. Beda saja. Kamu jangan bilang siapa-siapa, ya!"
"Hhmm."
"Kak Darren itu pahlawanku. Aku nggak akan bisa berpaling, Lin!"
"Pahlawan? Segitunya nggak bisa berpaling? Kita ini masih muda, Nis. Masih muda banget. Kita nggak tahu siapa nanti jodoh kita."
"Hhmm, kalau orangtua kita dan orangtua kak Darren nggak setuju gimana? Kamu tahu kan masalalu ayah dan mamanya kak Darren?"
Wajah Annisa mendadak murung.
"Eh tapi ayah dan mama kak Darren nggak musuhan, kan. Aku rasa kalau kalian bener-bener berjuang pasti bisa kok. Dan tentu saja kalau jodoh."
"Hhmm."
"Sudah, nggak usah sedih. Berdoa saja semoga kalian jodoh. Toh kalau jodoh nggak akan kemana, kan? Jangan cemberut gitu, jelek tahu!"
"Hhmm, kamu sih bikin aku kepikiran saja."
"Ya kan aku ngomong apa adanya. Sudah, yuk. Katanya lapar. Kalau uang kita nggak cukup, ya pakai ATM saja."
"Ya sudah, ayo!"
"Eh kita coba ketuk kamar mereka dulu nanti."
Mereka lalu keluar dari kamar. Berjalan ke arah kamar saudaranya. Setelah mengetuk pintu beberapa kali masih belum ada sahutan. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi saja. Mereka bergandengan tangan menuju restoran yang ada di hotel.
"Wah, malam-malam di luar pemandangannya bagus ya, Nis."
"Hemm. Coba kalau kak Darren ikut."
"Oohh, gitu. Terus aku jomblo sendirian. Iya?" tanya Alina sebal.
"Hehehe, kamu kan mau cari bule, Lin!"
"Iya kalau dapet. Bule kan sukanya sama cewek yang seksi."
"Nggak semua, kok."
"Hhhmm, restorannya sebelah mana, nih?"
"Kita tanya sama resepsionisnya."
__ADS_1
Mereka lalu menuju meja resepsionis.
"Mbak, restorannya sebelah mana, ya?" tanya Alina.
"Di sebelah kiri, dek. Lewat pintu itu sudah ada restorannya," jelas petugas resepsionis."
"Terimakasih, mbak!" sahut Alina dan Annisa.
Mereka lalu menuju pintu yang di maksud. Benar saja di sana ada restoran. Restorannya besar dan terlihat mewah. Pengunjungnya tidak banyak. Alina dan Annisa memilih meja di dekat jendela.
"Silahkan, mbak," seorang waiter datang membawakan buku menu. Alina dan Annisa membolak balik buku menu lalu saling pandang. Lalu menconteng menu pilihan mereka.
"Cepet ya, mas. Kita laper!" pinta Alina.
"Baik, mbak. Silahkan tunggu," ucap waiter dengan ramah.
"Kira-kira uang kita cukup nggak ya, Lin?" tanya Annisa khawatir.
"Cukuplah. Uang kita kalau di total kan ada satu juta dua ratus ribu, masa nggak cukup. Memangnya kita makan emas berlian?" jawab Alina.
"Hehee, yah mungkin saja. Mana nggak ada tulisan harga lagi di buku menunya."
"Yah mungkin karena hotel bintang lima? Restorannya juga bagus banget. Tuh ada yang nyanyi juga," ucap Alina.
"Iya, yah. Toh kalau nggak cukup kita bayar pakai ATM saja."
"Hhmm. . ."
Kembali ke kamar Andre. Mereka baru saja selesai mandi setengah jam kemudian. Mereka terlihat sangat bahagia.
"Mas, semoga aku bisa cepat hamil lagi, ya," ucap Kanaya manja, yang masih melingkarkan tangannya di leher suaminya. Mereka bertatapan sangat mesra.
"Aamiin. Mas nggak sabar menunggu waktu itu tiba, sayang!" sahut Andre.
Mereka lalu berpelukan.
"Hmm, mas. Aku laper," ucap Kanaya lantas melepaskan pelukannya.
"Kita cari makan di luar, ya!" ucap Andre.
"Oh iya, mas."
"Kita siap-siap, yuk. Nanti malam kita lanjut lagi. Kamu mau kan, sayang?" tanya Andre dengan tatapan menggoda.
Kanaya tersenyum manja lalu menganggukkan kepalanya.
"Ya Allah!" teriak Andre.
"Kenapa, mas?" tanya Kanaya kaget.
"Alina dan Annisa menelepon mas dari tadi," jawab Andre lirih.
"Kapan, mas?" tanya Kanaya.
"Setengah jam yang lalu."
"Hhmm, coba mas telepon balik."
Andre lalu menelepon adik kembarnya tapi tak ada satupun yang menjawab.
"Nggak di angkat."
"Coba terus, mas!"
"Hhmm."
Andre terus mencoba menelepon adik kembarnya berkali-kali tapi tak satupun dari mereka yang menjawab. Andre menggelengkan kepalanya lalu mengusap wajahnya kasar. Mencoba menelepon Alya tapi handphonenya tidak aktip sedangkan telepon Kevin tidak di jawab. Andre mulai terlihat gelisah.
.
.
.
.
.
__ADS_1
03