
Kanaya terbaring di rerumputan di samping rumahnya. Ia terlihat meringis kesakitan.
"Kanaya? Kanaya, apa yang kamu lakukan?" tanya Andre khawatir sembari matanya menatap ke atas balkon. Mungkinkah Kanaya loncat dari sana?
"Naya? Sayang? Kamu kenapa?" tanya maminya khawatir sementara papinya berdiri tak jauh dari sana.
Saat Andre hendak membopong tubuh Kanaya, papinya terlebih dahulu membopong putrinya.
"Lepasin, pi!" tolak Kanaya seraya memberontak.
"Diamlah! Dasar gadis bodoh!"
Kanaya menoleh ke arah Andre yang hanya bisa diam.
Kanaya lantas di bawa masuk ke rumah. Saat papinya hendak membawanya naik ke kamar, Kanaya makin berontak.
"Turun, pi!"
"Pi, turunkan Kanaya! Jangan kamu paksa terus anak kita ini!" pinta maminya Kanaya.
"Aku akan terus mengulanginya kalau papi nggak mau menuruti keinginan aku kali ini!" ancam Kanaya.
Papinya Kanaya menghentikan langkah lalu menatap nyalang ke putrinya itu.
"Sampai kapan kamu akan bersikap manja? Pantas saja Reza membatalkan pernikahan kalian!" ucap papi Kanaya sembari menurunkan Kanaya di sofa yang ada di dekat tangga.
"Reza itu menghamili pacarnya, pi!" jelas Kanaya.
"Aahh, itu kata kamu!"
"Tapi memang Reza bilang begitu!"
"Itu hanya alasan dia supaya bisa seenaknya membatalkan pernikahan kalian!"
"Tapi aku sekarang seneng nggak jadi nikah sama dia. Dia itu jahat, pi!"
"Kamu jangan memfitnah orang!"
"Huuhh, papi memang nggak pernah mau denger ucapanku! Papi selalu maksa aku!"
"Sudah, pi. Toh sekarang Kanaya akan menikah dengan dokter Andre. Sudah itu papi bisa pergi lagi terserah! Biar Kanaya sama suaminya."
Papi Kanaya lantas menoleh ke arah Andre.
"Huhh, kamu saja yang urus pernikahan putri kamu ini, mi! Saya capek!" ucap papi Kanaya lantas menaiki tangga.
"Sayang, kamu nggak apa-apa, kan? Mana yang sakit?"
"Badanku sakit semua, mi."
"Kamu sih. Mami minta jangan ulangi lagi. Mengerti!"
"Hhmm, aku jadi nikah kan, sama dokter Andre, mi? Aku nggak mau di nikahkan sama Rangga, mi. Reza sama Rangga itu sama saja!"
Maminya Kanaya mengangguk, "Iya, nak. Mami bicara sama papi kamu dulu, ya."
"Hhmm, iya mi. Dan setelah menikah, Kanaya sama dokter Andre nggak akan cerai, ya?"
"Hhmm, terserah kamu saja."
Mami Kanaya lantas menyusul suaminya ke lantas atas.
Kanaya menoleh ke arah Andre yang berdiri tak jauh dari sana.
"Dokter?"
Andre kemudian mendekat.
"Apa yang tadi kamu lakukan? Kamu mau bundir lagi, hmm?" tanya Andre dengan suara pelan namun menunjukkan kekesalannya.
"Aku tadi. . ."
"Kamu tahu kan kalau itu perbuatan bodoh? Kenapa kamu lakukan lagi?"
Kanaya menoleh ke arah atas di mana orangtuanya tadi naik, "Aku nggak bundir kok, dok. Aku tadi hanya loncat dari atas balkon!" ucap Kanaya lantas tertunduk.
"Apa bedanya, hmm?"
"Hhmm, aku tadi mau kabur dari rumah. Aku pikir nggak bakal mati, kok!"
"Hhh, iya tapi kamu bisa patah kaki atau tangan! Saya nggak mau menikahi wanita cacat!"
__ADS_1
"Hhmm, jadi dokter?"
"Iya, laki-laki mana yang mau punya istri cacat!"
"Kalau seseorang benar-benar sayang, dia pasti mau menerima apa adanya," ucap Kanaya lirih.
"Tapi kalau cacatnya di buat sendiri? Sengaja loncat? Itu namanya bodoh!"
Wajah Kanaya terlihat sedih. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Saya nggak suka ya perbuatan seperti itu!" tegas Andre.
Kanaya mendongak, "Hhmm, aku-aku janji nggak akan lakuin itu lagi!" dia mulai terisak.
"Hhmm?"
"Dokter?"
"Saya nggak mau punya istri labil!"
"Ng-nggak, dok. Tadi itu aku bukan mau bundir tapi mau pergi dari rumah. Papi pasti nggak akan ijinkan dokter nikahi aku kalau nggak mau di suruh langsung cerai. Aku tahu papi!"
"Hhh, tetap saja yang kamu lakukan itu perbuatan bodoh!
"Jadi? Dokter nggak mau lagi nikah sama aku?" tanya Kanaya seraya mengusap airmatanya yang makin deras.
Hhh, Andre menarik nafas berat.
"Kalau kamu mau, besok ke rumah sakit. Saya ada kenalan psikiater. Mungkin kalian bisa ngobrol."
"Hhmm, dokter temani kan?"
"Saya kan kerja?"
Kanaya menunduk, "Baiklah,"
"Hhmm, saya mau pulang. Bagaimana papi kamu saya nggak paham."
Tak lama kemudian, mami Kanaya turun dari atas.
"Kanaya, kamu nggak apa-apa kan, nak? Apa nggak istirahat saja di kamar kamu?"
"Mi, gimana pernikahanku? Aku mau sama dokter Andre, mi. Dan kita nggak akan cerai setelah nikah. Iya kan, dok?" Kanaya menatap maminya dan Andre bergantian.
"Aku nggak mau, mi. Aku mau denger apa yang di bicarakan papi sama dokter Andre."
"Nak, menurutlah. Mereka hanya bicara sebentar."
"Hhmm, baiklah mi. Tapi aku di sini saja nggak mau ke kamar."
Tak lama kemudian, papi Kanaya berdiri di atas tangga.
"Dokter, bisa ke luar sebentar. Kita bicara di sana saja!" ajak papi Kanaya lantas pergi keluar melewati mereka.
"Saya keluar dulu!" pamit Andre lantas mengikuti papinya Kanaya keluar rumah.
Sampai di luar. Andre melihat papi Kanaya berdiri di dekat kolam renang yang ada di samping rumah.
"Pak. . ." ucap Andre.
"Dokter, apa anda yakin dengan rencana pernikahan ini? Anda tahu sendiri kan bagaimana putri saya. Dia itu labil, bisa berubah pikiran. Jadi saya sarankan lebih baik anda mundur atau jika memang tetap ingin lanjut, ya seperti yang saya bilang. Menikah lalu ceraikan putri saya. Saya akan memberikan imbalan lebih tapi tolong jangan sentuh dia!"
"Hhmm, saya tidak mengerti pernikahan seperti apa yang bapak tawarkan. Saya hanya mengerti pernikahan yang seperti biasa. Seperti bapak dan ibu juga seperti kebanyakan orang inginkan. Menikah sekali seumur hidup saja."
"Hhmm, saya yakin nanti suatu saat anda akan menyesal. Dan akan menceraikan putri saya itu."
"In Sya Allah saya tidak akan menyesal, pak. Saya tidak akan menceraikan Kanaya kecuali jika dia mengkhianati saya."
"Kanaya selingkuh, begitu?"
Andre mengangguk, "Iya. Selain itu saya tidak akan menceraikan istri saya. Saya akan membimbing jika memang ada kekurangan dalam dirinya."
"Hhh, baiklah kalau begitu keputusan dokter. Lima hari lagi kalian menikah. Saya minta kalau tidak besok ya lusa, datanglah bersama orangtua dokter."
Hhh, Andre menarik nafasnya panjang, "Baiklah,pak!" sahut Andre.
Papi Kanaya kemudian meninggalkan Andre sendirian. Tak lama kemudian asisten rumah tangga mereka menghampiri Andre.
"Dokter, silahkan masuk. Non Kanaya menunggu!" titahnya.
Andre mengangguk, "Baiklah," sahut Andre lantas segera masuk ke rumah.
__ADS_1
Ternyata Kanaya sedang duduk sendirian di sofa yang ada di ruang tamu.
"Dokter?" panggil Kanaya saat melihat Andre masuk.
Andre lalu duduk di sebelahnya, "Bagaimana? Badannya masih sakit, hmm?"
"Sakitnya sudah hilang!"
Dahi Andre berkerut, "Hebat!"
"Tadi papi bilang kalau kita jadi menikah dan dokter nggak akan langsung menceraikan aku. Benar kan, dok?"
Andre tersenyum, "Besok jadi kan ke rumah sakit?"
Kanaya mengangguk cepat, "Tentu saja."
"Hhmm, saya nggak mau lagi mendengar kamu melakukan hal bodoh yang nggak saya suka!"
"Aku akan melakukan yang dokter suka!"
"Hhh, lakukan apa yang kamu suka, saya nggak akan melarang selama itu baik!"
"Baiklah, dokter!" ucap Kanaya dengan senyum semringah. Dia terlihat sangat bahagia.
"Sudah malam, saya pulang dulu!"
"Loh, belum malam ini."
"Hhh, bahkan saya sudah melewatkan kuliah saya hari ini!" keluh Andre.
Kanaya tersenyum, "Dokter melewatkan kuliah hari ini demi aku, kan?"
Andre menatap Kanaya lembut, "Semoga kamu nggak mengecewakan saya!"
"Terimakasih, dokter Andre. Besok aku akan ke rumah sakit!"
"Hhhmm, saya pulang dulu. Mana orangtua kamu saya hendak berpamitan."
"Papi sama mami ada di kamarnya. Nanti aku yang pamitkan."
"Baiklah, saya pulang dulu!" ucap Andre lantas bangkit berdiri.
Kanaya hendak berdiri, "aku antar ke depan ya,"
"Kamu istirahat saja. Badan kamu pasti masih sakit semua."
"Nggak apa-apa, dok. Aku antar dokter ke depan!"
"Hhh, terserah kamu saja!"
Mereka kemudian keluar dari rumah.
"Dok, terimakasih sudah mau menikah denganku!"
"Hhmm, istirahatlah!"
"Dokter, aku-aku. . ."
"Apa?"
"Hhhmm, aku bahagia banget malam ini!" ucap Kanaya dengan senyum tak lepas dari bibirnya.
"Hhmm, tidurlah. Saya pulang dulu!" pamit Andre yang segera naik ke mobilnya.
"Aku suka kamu, dok. Suka banget," gumam Kanaya.
"Hh, semoga aku bisa membimbingnya nanti," gumam Andre di dalam mobil.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
13