Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 139


__ADS_3

Pulang sekolah, Darren langsung menemui Ryan untuk membayar semua hutangnya.


"Darimana kamu uang secepat ini? Bukannya tadi pagi kamu nggak punya uang?" tanya Ryan curiga.


"Itu bukan urusanmu. Yang penting aku bisa membayarkah hutangku dan kita nggak ada urusan lagi!" jawab Darren.


"Sombong kamu!"


Tiba-tiba ada yang mendekati Ryan lalu membisikkan sesuatu ke telinga Ryan. Ryan menatap nyalang ke arah Darren. Entah apa yang dia bisikkan tiba-tiba Ryan menunjuk tepat di depan wajah Darren, "Tunggulah!" ucapnya dengan senyum licik.


Setelah itu Ryan dan teman-temannya meninggalkan Darren sendirian di sana.


"Alhamdulillah, aku nggak ada urusan lagi dengan Ryan. Tapi apa maksud ucapannya tadi, ya?" gumam Darren sambil terus menatap Ryan dan juga teman-temannya.


Darren lantas pergi ke parkiran sepedanya. Dia pulang dengan hati tenang. Saat sudah hampir sampai di bengkel tempat dia bekerja paruh waktu, tiba-tiba ada sepeda motor yang hendak menabraknya tapi beruntungnya Darren hendak berbelok jadi sepeda motor itu hanya menyenggolnya sedikit walau dia sampai terjatuh ke tanah tapi tidak sampai parah.


"Aaaww!" teriaknya sembari memegangi punggungnya. Sedangkan sepedanya jatuh menimpanya.


Tak jauh dari sana, mobil keluarga Annisa lewat.


"Loh, ada apa itu?" tanya Anto kaget. Pun Annisa yang memang sejak dari sekolah selalu menatap ke sisi kiri jalan.


"Ayah berhenti, yah!" teriak Annisa.


"Kenapa, nak?" tanya ayahnya kaget dan heran.


"Berhenti sebentar, yah!" pinta Annisa.


Anto lantas menepikan mobilnya tak jauh dari Darren. Annisa gegas turun dari mobil.


"Kak Darren!" seru Annisa.


"Annisa? Sedang apa kamu di sini?" tanya Darren kaget.


"Kakak nggak apa-apa, kan? Aku lihat tadi ada sepeda motor yang hendak menabrak kakak."


"Hhmm, aku nggak apa-apa, kok!" jawab Darren lantas mencoba berdiri, "Aduh!" keluhnya kemudian seraya memegangi kakinya.


"Yang mana sakit, kak?" tanya Annisa khawatir.


"Nis, pulanglah!"


"Kak?"


"Ada apa, Nis?" tanya Alina yang sudah berdiri di belakangnya bersama ayahnya juga.


"Hmm, Lin, ayah?" ucap Annisa kaget.


"Loh, kakak?" ucap Alina.


"Siapa?" tanya Anto bingung.


"Kakak tingkat kita, yah!" sahut Annisa dan Alina hampir berbarengan.


"Oohh, kamu nggak apa-apa, kan? Tadi ada yang mau nabrak kamu!" tanya Anto.


"Saya nggak apa-apa kok, om!" jawab Darren.


"Kakak yakin? Bisa buat jalan nggak?" tanya Annisa.


"Bisa, kok. Hanya sakit sedikit. Besok juga sembuh."

__ADS_1


"Apa mau kita antar ke rumah?" tawar Anto.


"Terimakasih, om. Tapi saya belum mau pulamg. Saya masih harus ke bengkel, kerja paruh waktu di sana!" tolak Darren halus.


"Loh, kok sudah kerja?" tanya Anto kaget.


"Iya, om. Supaya bisa nabung untuk masa depan!" jelas Darren sembari tersenyum.


"Hhmm, kalau kamu mau kamu bisa kerja di minimarket kita. Sift dua mulai pukul dua siang sampai pukul delapan malam! Bayarannya sama dengan karyawan lain!" tawar Anto.


"Benarkah, om?" tanya Darren antusias.


"Tentu saja. Tapi kamu harus merahasiakannya karena beresiko memperkerjakan anak di bawah umur!"


"Aku mau, om. Aku mau! Aku akan merahasiakan dari siapapun!" sahut Darren semringah.


"Ok. Kalau kamu mau, besok datanglah ke minimarket saya sesuai alamat ini!" jelas Anto seraya menyodorkan kartu nama pada Darren.


"Wah, terimakasih, om!" sahut Darren.


"Sekarang sebaiknya kamu pulang, istirahat saja. Kaki kamu butuh di obati juga!"


"Iya, om."


"Apa mau kita antar?" tawar Anto.


"Terimakasih, om! Saya bisa jalan pelan-pelan. Lagipula sudah tidak jauh, kok!" tolak Darren.


"Oh ya sudah, hati-hati di jalan. Anak-anak, ayo kita pulang!" ajak Anto.


Mereka lantas meninggalkan Darren sendirian.


"Kak, hati-hati di jalan, ya!" pamit Annisa lalu mengikuti ayah dan kembarannya kembali ke mobil.


"Hhmm, ng-nggak kok, yah. Ya tahu biasa saja. Itu kerena dia kakak tingkat kita. Alina pun sama. Iya kan, Lin?" sahut Annisa gugup.


"Ooh begitu, ya!"


"Iya, yah!" sahut Annisa.


Mereka pun melanjutkan pulang ke rumah.


***


Keesokan harinya sesuai janji, sepulang sekolah Darren pergi ke minimarket untuk menemui Anto. Wajahnya berseri-seri membayangkan pekerjaan barunya. Semoga ayahnya Annisa benar-benar akan menerimanya bekerja. Batin Darren.


"Cari siapa, dek?" tanya salah satu pekerja di minimarket Anto yang bernama Rudi, suami Melly.


"Pemilik minimarket ini, pak!" jawab Darren.


Rudi menatap curiga pada Darren.


"Kamu nggak salah, kan? Pemilik minimarket sedang tidak ada di tempat."


"Kemana ya, pak?" tanya Darren sedikit kecewa karena tidak menjumpai sang pemilik yang kemarin menawarinya kerja.


"Pak Anto biasanya sedang menjemput putri kembarnya di sekolah! " jawab Rudi


"Ooh, iya. Saya tunggu saja!" ucap Darren. Ternyata ayahnya Annisa sedang menjemput Annisa dan Alina. Batin Darren.


Setelah menunggu hampir satu jam, mobil Anto tiba di minimarket. Darren gegas menghampiri.

__ADS_1


Anto turun dari mobil, "Om?" sapa Darren.


"Kamu? Sudah lama?" tanya Anto ramah.


"Hmm, belum lama kok, om!" sahut Darren.


"Ayo ikut saya!" ajak Anto.


Mereka pun pergi ke kantor yang terletak di belakang gudang.


"Ayo duduk!" titah Anto saat sudah sampai di kantornya.


Darren pun duduk di kursi yang ada di hadapan Anto.


"Kamu yakin mau kerja di sini?" tanya Anto.


"Yakin om, eh pak!" jawab Darren.


"Oh iya, di sini kamu boleh panggil saya 'pak' saja. Saya harap kamu tidak akan memberitahukan pada orang lain tentang status pelajar kamu karena di sini memang tidak di perbolehkan memperkerjakan karyawan yang masih berstatus pelajar. Saya hanya ingin membantu kamu!"


"Iya, pak. Saya janji tidak akan memberitahukan pada siapa-siapa!" janji Darren.


"Baiklah kalau begitu. Saya akan tempatkan kamu di bagian gudang. Apa kamu mau?"


"Aku mau, pak!"


"Ok. Saya antar kamu ke gudang. Nanti kamu bisa belajar sama-sama dengan orang gudang. Dan mengenai tas dan barang-barang kamu, ada loker di dekat pintu gudang untuk menyimpan barang-barang kamu!" jelas Anto.


"Alhamdulillah, pak!" ucap Darren.


Anto mengajak Dareen menuju ke gudang lantas memperkenalkan Darren pada karywan di sana.


Anto kembali lagi ke ruangannya. Mengerjakan pekerjaan hariannya.


"Kamu sudah tahu pekerjaan apa saja yang harus kamu kerjakan di sini?" tanya Rudi selaku bagian pengawas di minimarket itu.


"Maaf saya belum tahu, pak!" jawab Darren jujur.


Rudi lantas meminta Darren untuk memindahkan barang-barang yang baru datang ke rak-rak yang ada di sana. Setelah itu Darren di minta memindahkan barang ke atas trolly untuk di bawa ke minimarket.


Darren bekerja dengan sangat giat dan begitu antusias. Baru sehari bekerja, dia sudah bisa membuat semua orang menyukainya karena keuletannya dalam bekerja. Dia juga sosok yang ramah.


.


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo bertebaran. Terimakasih sudah membaca. 😊🙏


.


.


.


.

__ADS_1


23


__ADS_2