
Darren pagi-pagi sekali sudah bangun. Setelah mandi dan salat dia lekas sarapan yang sudah disiapkan oleh mamanya.
"Hari ini kamu mau kemana, nak?" tanya Lisa.
"Aku mau pergi ke kampus dulu ma, mau lihat-lihat."
"Memangnya kamu mau kuliah apa?" tanya Lisa.
"Aku mau kuliah yang bisa cepat di terima kerja saja, ma. Sepertinya aku mau ambil ilmu komputer saja. Mungkin aku ambil yang Diploma saja," jelas Darren.
"Iya, nak. Mama hanya bisa mendoakan saja yang terbaik untuk kamu, semoga kamu berhasil."
"Aamiin. Terima kasih doanya, ma."
Setelah menyimpan barang-barangnya ke dalam tasnya, Darren gegas berpamitan pada mamanya.
"Nggak pamit sama papa kamu dulu, nak?"
"Papa kan masih tidur ma. Nanti kalau aku ganggu, papa marah lagi."
"Hhmm, ya sudah nanti biar mama yang pamitkan!"
Setelah mencium punggung tangan mamanya, Darren pun pergi. Sampai di jalan raya, Darren naik angkot menuju kampus yang dia tuju.
Tidak sampai satu jam, Darren sudah sampai.
"Wahh, besar juga ya kampusnya," gumam Darren.
"Hhh, uangku masih belum cukup untuk kuliah di sini. Apa aku ambil diploma saja dulu, ya." gumamnya sembari melangkahkan kaki menuju gerbang kampus.
"Duh, pingin ke toilet, nih," gumamnya.
Dengan terburu-buru, Darren mencari toilet yang ada di kampus.
"Ahh lega," gumamnya setelah keluar dari toilet.
Tiba-tiba dia mendengar suara berisik dari toilet wanita. Setelah dia cari ternyata suara itu berasal dari belakang toilet wanita.
"Tolong jangan ganggu aku," suara seorang wanita yang menghiba.
"Kita main-main dulu, cantik. Hahaa!" suara beberapa orang laki-laki.
Deg. Jantung Darren langsung berdetak kencang. Apa yang terjadi di sana. Batin Darren. Dengan jantung yang berdetak makin kencang, Darren berjalan perlahan lalu berhenti di balik dinding tepat di samping mereka. Darren mengintip.
"Aku mohon. . ."
"Teriak saja! Ayo! Dan hari ini jadi hari terakhir kamu bertemu dengan dosen tercintamu itu!"
"A-aku nggak ngerti maksud kamu!"
"Jangan berlagak tidak mengerti! Kamu menghindari aku terus karena dosen yang sombong itu, kan!"
"Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia, sungguh!"
"Dasar. Kamu butuh nilai, dia butuh, hmm. . . Pasti sudah sering ya, kalian!"
"Apa maksud kamu!"
"Sudahlah, Al. Jangan sok suci, kamu!"
"Sudah, langsung saja. Toh nggak akan ada yang tahu karena dia bekas juga. Kan kita hanya dapet sisanya saja. Ya, kan! Hahaaa!"
"Jaga mulut kamu!" teriak Alya.
"Kamu saja tidak bisa jaga diri!" tunjuk satu oranh mahasiswa yang paling besar.
"Ayolah. Aku sudah muak dengan sikapnya!" ucap yang satu lagi, yang membawa senjata tajam untuk menakut-nakuti Alya.
"Tolong jangan. . . " pintanya menghiba dengan isak tangis.
"Nikmati sajalah!"
"Jangan. . .!"
"Hiaaa, bukk-buukk!" Darren memukul satu orang dari mereka yang membawa pisau dengan balok kayu.
"Hey, siapa kamu!"
__ADS_1
Mereka semua mengeroyok Darren hingga balok kayu itu terlepas.
"Tolong! Toloongg!" teriak Alya.
"Ada apa di sana?" ada suara teriakan dari arah lain.
"Tolong!" teriak Alya lagi.
"Kabur! Ayo, kabur!" salah satu dari mereka memberikan aba-aba.
"Tolong! Toloong!" Alya terus berteriak
"Brengsek!" umpat temannya yang lain dan segera menyusul pergi dari sana.
"Aahhhh!!" rintih Darren sembari memegangi wajahnya yang berdarah.
Wajah Darren sudah babak belur di hajar oleh tiga orang sekaligus.
Alya langsung mendekati Darren. Tak berapa lama, muncul dua orang mahasiswa.
"Ada apa ini?" tanya salah satu dari mereka.
"Ada yang mengeroyoknya!" jelas Alya.
"Kenapa sampai di keroyok?" tanyanya heran.
Tiba-tiba handphone Alya berdering. Pak Kevin.
"Hallo, pak."
"Aku di toilet wanita di selatan."
"Hhmm, bi-bisa ke sini?"
"Bu-bukan gitu. Aku. . ."
"Hhmm, iya."
Alya memutuskan sambungan telponnya.
"Tadi ada yang hendak menggangguku dan dia datang menolong!" jelas Alya.
"Hhmm, mbak juga ngapain sampai main ke sini!"
"Aku tadi dari toilet lalu di bawa ke sini!"
"Mau-maunya di bawa ke sini. Dasar!"
"Aku di ancam!" jelas Alya.
"Ah masa? Bukannya mau?" ucapnya sinis.
"Eehh, apa maksud kamu?" tanya Alya emosi.
"Yang sering di bawa pergi sama pak Kevin itu kan, cewek ini,"
"Memang dasar bisaan, sih!"
Plaakk! Alya langsung melayangkan tangannya ke mahasiswa itu.
"Eh, berani kamu, ya!" dia hendak membalas memukul Alya.
"Bagus!" Kevin datang dan langsung memegang tangan mahasiswa itu.
"Pak Kevin?"
"Alya ini calon istri saya. Ada masalah dia sering pergi sama saya, heehh?" bentak Kevin.
"Ma-maaf, pak Kevin."
"Kalian dari fakultas mana? Semester berapa?"
"Maafin kita, pak!"
"Kalian sudah menghina calon istri saya!"
"Alya, ki-kita minta maaf!" ucap mahasiswa itu dengan kedua tangan di tangkupkan di depan dada.
__ADS_1
"Iya, Al. . ."
"Aagghh!" desis Darren menahan sakit.
"Hhmm, pak. Tolong bantu dia dulu. Nggak usah urusin mereka!" pinta Alya.
"Kenapa dia?" tanya Kevin kaget yang baru menyadari keberadaan Darren yang sudah babak belur.
"Dia tadi sudah menolong aku. Ayo, pak. Nanti saja ceritanya!" pinta Alya dengan wajah memohon.
"Kalau kalian mau saya maafkan, bantu bawa dia ke ruang kesehatan!" titah Kevin.
"Baik, pak," sahut keduanya.
"Dan ingat, jangan macam-macam dengan Alya. Jaga mulut dan tangan kalian. Mengerti!"
"Ba-baik, pak!" sahut kedua mahasiswa itu.
Darren lantas di bopong oleh kedua mahasiswa itu menuju ruang kesehatan.
"Kenapa bisa dia di keroyok?" tanya Kevin masih penasaran.
Alya pun menceritakan kejadiannya dari awal.
"Kurang ajar!" geram Kevin dengan tangan mengepal.
"Itulah, pak. Kenapa aku kadang menolak di antar pulang oleh bapak. Belum lagi orang-orang berpikir nilai-nilaiku di bantu oleh bapak!" jelas Alya dengan suara bergetar.
"Hhmm. . ."
"Kalau dia nggak datang menolongku, entah apa yang akan terjadi padaku," Alya mulai terisak.
"Hhh, kamu kenapa sampai ke toilet di sana kan jauh? Sepi lagi!"
"Aku buru-buru. Di toilet lain antri."
"Huhh, kan bisa ke ruangan saya. Toilet pribadi."
"Iya, dan gosip makin melebar kemana-mana!" sungut Alya.
"Kamu takut sama gosip apa takut di jahatin orang, hahh?" tanya Kevin kesal.
"Ya mana aku tahu kejadiannya begini! Iihh, bukannya menghibur aku malah marah-marah!"
Kevin menarik nafas panjang, "Hhmm, maafin aku!" ucap Kevin lantas sebelah tangannya meraih tangan Alya namun segera Alya tepiskan kasar.
"Al, saya hanya nggak ingin terjadi apa-apa sama kamu!"
Alya diam. Semua ini juga karena kecemburuan sosial, pak. Karena mereka iri aku dekat sama bapak. Batin Alya.
Mereka pun tiba di ruang kesehatan.
"Hati-hati, ya," ucap Kevin lembut.
"Te-terimakasih," ucap Darren lirih.
Bibirnya sedikit robek, matanya juga bengkak dan kaki serta tangannya terasa ngilu.
Darren segera di tangani. Beberapa saat kemudian Alya dan Kevin menjenguknya, ternyata Darren sedang tertidur.
"Luka di bibir dan matanya cukup parah. Siapa yang melukainya?" tanya dokter.
Alya dan Kevin saling pandang.
.
.
.
.
.
.
14
__ADS_1