Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 164


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Kanaya dan Andre berpamitan pada orang tua Kanaya.


"Kalian sudah tidak menginap di sini lagi?" tanya mami Kanaya.


"Iya, mi!" jawab Kanaya.


"Rumah saya ini sudah seperti hotel saja!" sahut papi Kanaya sinis.


"Kita rencananya mau pisah juga dari rumah orang tua saya. Kita akan mencoba belajar untuk mandiri, pi!" ucap Andre tegas.


"Ngontrak?" tanya papi Kanaya sinis.


"Untuk sementara ini saya hanya bisa mengontrak!" tapi jawab Andre.


Papi Kanaya menatap sinis ke arah Andre lantas segera berlalu dari hadapan mereka tanpa bicara apa-apa lagi. Kanaya terlihat sedih tapi dia hanya diam saja.


"Sudah, kalian tidak usah pikirkan ucapan papi, ya. Nanti juga papi akan baik lagi!" hibur mami Kanaya.


"Iya, mi!" sahut Kanaya.


"Kalau begitu kami pulang dulu, mi!" pamit Andre.


Andre gegas melajukan mobilnya meninggalkan rumah orang tua Kanaya. Tidak ada yang bicara selama dalam perjalanan. Baik Andre maupun Kanaya tidak ada yang berniat untuk memulai obrolan.


Andre melajukan mobilnya ke arah rumah sakit tempat dia bekerja.


"Mas sudah daftarkan kamu ke poli kandungan hari ini! Mas akan temani kamu periksa!" ucap Andre saat mobil baru saja memasuki area parkir rumah sakit.


"Iya, mas!" jawab Kanaya.


Andre bergegas turun lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya. Mereka lalu masuk ke dalam rumah sakit.


Andre menggandeng tangan istrinya mengajaknya ke poli kandungan.


"Kamu tunggu di sini, mas akan bicara pada suster sebentar!" pamit Andre yang di berikan anggukan oleh Kanaya.


Kanaya duduk di kursi panjang yang ada di depan poli kandungan. Dia terlihat harap-harap cemas. Semoga saja aku hamil. Aku nggak mau papi berbuat nekat. Aku cinta banget sama mas Andre. Aku nggak mau pisah sama mas Andre. Batin Kanaya. Dia terlihat murung.


Tak lama kemudian Andre keluar dari poli kandungan lalu mendekati istrinya.


"Kamu mau tunggu di mana, hmm?"


"Aku?" tanya Kanaya.


"Mas mau kerja dulu!" jelas Andre dengan tatapan lembut ke istrinya.


"Kerja? A-aku gimana, mas?" tanya Kanaya bingung.


"Apa mau tunggu di ruang istirahat dokter tapi agak jauh dari ruang IGD. Atau kamu mau menunggu mas di ruang IGD saja? Tapi di sana ya banyak pasien. Nggak lama kok, sayang!"


"Hhmm, terserah mas saja."


"Ya sudah, ayo!"


Mereka lalu pergi ke ruang IGD. Kanaya menunggu di depan ruang pendaftaran yang masih sepi pasien.


"Kamu tunggu sebentar di sini, ya. Nggak sampai satu jam lagi poli kandungan buka. Mas kerja dulu!" pamit Andre sembari mencium pucuk kepala istrinya.


Supaya tidak merasa bosan, Kanaya lalu mengambil gawainya dalam tas kecil yang dia bawa.


Di dalam ruang IGD.


"Kerja bawa istri, Dre?"


"Iya!" jawab Andre singkat.


"Iya, nih. Dia mau pamer istri!"


"Bukan, mereka nggak mau pisah lama-lama! Takut kangen!"


"Maklum pengantin baru!"


Celotehan rekan-rekan dokter di IGD. Andre hanya senyum-senyum saja menanggapinya.


Satu jam berselang.


"Aku ijin sebentar, ya!" ucap Andre pada rekannya.


"Ok!"


Andre lalu menemui istrinya yang sedang menunggunya di ruang tunggu IGD.


"Sayang!"


Kanaya menoleh, "Mas. . ."


"Ayo!"

__ADS_1


Dengan bergandengan tangan, mereka menuju poli kandungan.


"Tuh sudah buka!"


"Iya, mas. Mas kalau aku nggak hamil gimana?" tanya Kanaya khawatir.


"Ya kita bikin terus!" jawab Andre dengan senyum menggoda.


"Iiihh!" wajah Kanaya memerah.


"Nggak mau, hhmm?"


Kanaya tersipu malu.


"Bu Kanaya?" tanya suster.


"Iya, sus!" jawab Andre.


"Silahkan, sudah di tunggu oleh dokter!" ucap suster.


Andre menggandeng istrinya masuk ke ruangan. Setelah konsultasi, Kanaya di minta naik ke atas tempat tidur untuk melakukan USG.


"Bismillah. . ." gumam Andre.


Setelah mengoleskan gel ke perut Kanaya, dokter mulai menekan-nekan perut Kanaya dengan alat yang terhubung ke layar.


"Nah, itu. Bisa dokter Andre dan bu Kanaya lihat. Masih kecil sekali. Masih tiga minggu, ya!" jelas dokter.


"Alhamdulillah!" ucap Andre seraya mengusap wajahnya perlahan.


"I-itu?" tunjuk Kanaya dengan wajah bingung, kaget dan terharu.


"Iya, bu. Itu janinnya."


Kanaya menoleh ke arah suaminya. Tak terasa matanya berkaca-kaca, "Aku hamil, mas."


Andre mendekat lalu mengusap pucuk kepala istrinya penuh kasih sayang.


Setelah selesai di USG, Kanaya kembali duduk di kursi di hadapan dokter.


"Janinnya sehat. Ibu Kanaya harus banyak makan dan tidak boleh capek."


Setelah selesai periksa kandungan dan menebus obat, Andre membawa istrinya ke ruang istirahat dokter.


"Kamu nggak apa-apa kan istirahat di sini sampai jam makan siang baru mas antar pulang, hmm?"


Kanaya mengangguk, "Aku tunggu sampai pulang juga nggak apa-apa, mas."


"Jadi nanti siang mas antar aku pulang?"


Andre mengangguk, "Iya, sayang! Mas kerja dulu, ya!" pamit Andre lantas meninggalkan Kanaya sendirian.


Beberapa jam kemudian, Andre menghampiri istrinya yang setengah tertidur.


"Sayang? Ngantuk, hmm?"


Kanaya menoleh, "Mas? Sudah istirahat?"


"Iya. Kita cari makan dulu setelah itu mas antar kamu pulang!"


"Hhmm, iya mas!"


"Ayo, kamu mau makan di mana?"


"Di restoran biasa mas makan siang."


"Hhmm, ayo!"


Mereka lalu pergi ke restoran dengan Kanaya merangkul lengan suaminya mesra.


Seperti seorang ratu, Andre memperlakukan istrinya dengan manis dan penuh perhatian. Senyum terlukis indah di bibir Kanaya.


Setelah pesanan datang, sesekali Andre menyuapi istrinya.


"Perut kamu nggak mual kan, sanyang?"


Kanaya menggeleng, "Nggak, mas. Masih enak saja ini."


"Alhamdulillah. Jadi bisa makan yang banyak!" ucap Andre seraya mengusap lembut perut istrinya yang masih rata.


"Iya, mas."


Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai makan.


"Mas. . ."


"Hhmm?"

__ADS_1


"Restoran ini."


"Kenapa?"


"Kalau aku nggak nekat bunuh diri, apa kita bisa nikah, ya? Pasti kita nggak akan saling kenal."


"Mungkin kenalnya dengan jalan lain. . ."


"Misalnya?"


"Kamu masuk IGD, mas yang nangani kamu."


"Eh, iya ya. Kalau ingat itu aku malu. Apalagi pas ketemu teman mas tadi. Dia senyum-senyum gimana gitu lihat aku."


"Hehehe, makanya jangan lakukan hal yang bikin malu!"


"Aku bener-bener memalukan ya mas saat itu?"


"Hhhmm, sebenernya bukan memalukan, sih. Tapi lebih ke rasa kasihan, iba, nggak habis pikir gadis seperti kamu sampai nekat bunuh diri hanya gara-gara di tinggal laki-laki. Seperti nggak ada yang lain saja yang mau."


"Hhmm, gitu, ya? Yang lain siapa, mas?"


"Yang lain di samping kamu ini!"


"Iiiihh!" Kanaya mencubit mesra pinggang suaminya.


"Kamu nggak suka yang lain ini, hmm?"


"Nggak suka. Tapi sayang banget!" tegas Kanaya.


"Waah, sudah pinter menggombal kamu, ya!" Andre mencubit hidung mungil istrinya.


Kanaya bersandar di bahu suaminya, "Mas, jangan tinggalin aku, ya!"


"Mana mungkin mas tinggalin kamu!"


"Bener ya, mas!"


"Hhmm, tapi kamu siap kan hidup susah sama mas? Hanya tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana?"


Kanaya mengangguk, "Asalkan sama mas, aku mau!"


"Terimakasih, sayang!"


"Hhmm, mas. Kok mas bisa mau nikahin aku padahal kita baru kenal dan papi sikapnya begitu?"


"Mas juga nggak tahu. Sejak kenal kamu dan masalah kamu, mas jadi sering kepikiran kamu! Dan makin lama muncul rasa ingin membahagiakan kamu."


"Hhmm, terimakasih ya, mas!"


"Kalau kamu? Kok bisa-bisanya minta mas nikahin padahal baru kenal. Kan bisa saja mas bukan orang yang baik!"


"Aku bisa lihat kebaikan mas saat menolong aku! Timbul sendiri keinginan kalau mas yang jadi pengantin priaku."


"Hhhmm,"


"Makin lama aku makin nyaman sama mas. Rasanya ingin bertemu mas setiap saat! Dan dengan cepat aku nggak sedih lagi mikirin yang di sana. Justru aku jadi bersyukur nggak jadi nikah sama dia."


"Hhhmm,"


"Mas. . . Aku cinta banget sama mas!"


"Mas juga, sayang! Mas nggak akan melepaskan kamu sekalipun di paksa papi!"


"Terimakasih, mas."


"Mas antar kamu pulang sekarang, ya! Istirahat di rumah!"


"Hhmm. . ."


Kanaya mengangguk."


.


.


.


Maaf masih banyak typo 😊🙏


.


.


.


.

__ADS_1


.


19


__ADS_2