
Malam hari setelah semua keluarga selesai makan malam, Andre mengajak semua berkumpul di ruang keluarga tanpa terkecuali.
"Ada apa, mas?" tanya Alina penasaran.
"Iya, mas. Aku banyak tugas ini!" sahut Alya.
"Hhmm, sabar ya, adik-adikku sayang. Mas ada kabar penting. Siapa yang bisa menebak nanti mas kasih hadiah!" jelas Andre.
"Wah, hadiahnya apa, mas?" tanya Alina antusias.
"Iya, mas. Hadiahnya apa dulu, donk!" sahut Annisa.
"Kalian maunya apa? Tapi semampu mas, ya!"
"Hhmm, aku mau tas sekolah yang di toko Scooll, mas!" jawab Annisa.
"Wah, aku juga mau donk!" Alina ikut menimpali.
"Hhmm, tahu saja di mana barang bagus!" sahut Andre.
"Heheee," sahut adik-adiknya.
"Kalau gitu ayo tebak!"
Hening sesaat.
"Hhmm,
"Hhmm, pasti nilai kuliah mas bagus, nih!" jawab Alya.
Andre menggelengkan kepalanya.
"Mas mau pindah rumah sakit, kerjanya?"
"Salah lagi!"
"Kuliah spesialisnya bisa cepat selesai?"
"Bukan!"
"Mas mau pindah rumah?"
"Belum ada yang bener!"
"Nenek boleh ikutan menebak, nggak?" tanya nenek lirih. Tubuhnya sudah makin lemah seiring usianya yang makin senja.
"Tentu saja boleh, nek!" jawab Andre lantas mendekati neneknya dan merangkulnya penuh kasih sayang.
"Hhmm, nenek mau jadi buyut?" tanya nenek dengan tatapan penuh arti ke arah cucu tertuanya.
Andre langsung memeluk dan mencium neneknya itu, "Kalian kalah dari nenek!" tegas Andre.
"Nenek mau jadi buyut?" tanya Alina kaget.
"Itu artinya kita akan jadi tante donk, mas?" seru Annisa.
Andre mengangguk sambil mengulas senyum bahagianya.
"Wahh, selamat ya, mas!" seru Alya dan Annisa yang langsung menghampiri kakak iparnya dan memeluknya bergantian.
"Selamat ya mbak!"
"Selamat mbakku sayang, sudah memberikan kami keponakan!" ucap Alya.
"Sudah berapa usia kandungan kamu, Nay?" tanya Santi.
"Hhmm, tiga minggu, bun!" sahut Santi.
"Alhamdulillah, di jaga baik-baik ya cucu bunda. Makan lebih banyak mulai sekarang dan istirahat juga!" ucap Santi.
"Iya, bunda."
"Kita rayain, donk!" usul Alina.
"Nanti, dek. Kan baru tiga minggu!"
"Eh, iya."
"Tunggu empat bulan."
"Iya, bener. Sekarang ini cukup keluarga saja yang tahu!" pinta Andre.
__ADS_1
"Hhmm, rahasiain dulu ya, mas?"
"Iya, adikku sayang!"
"Pekerjaan kamu lancar kan, nak?" tanya Anto.
"Alhamdulillah lancar, yah!"
"Syukurlah. Jadilah dokter yang baik. Menolong sesama tanpa memandang status orang!"
"In Sya Allah, yah!"
Setelah berbincang-bincang sejenak, mereka lalu masuk ke dalam kamar masing-masing.
Sampai di dalam kamar, Andre langsung memeluk istrinya mesra.
"Terimakasih, sayang! Mas sebentar lagi jadi seorang ayah!"
"Iya, mas. Aku juga sebentar lagi akan jadi seorang ibu!" sahut Kanaya sembari membalas pelukan suaminya.
"Mas minta tolong ya, jaga baik-baik kandungan kamu. Kalau perlu, kamu nggak usah ngapa-ngapain sayang, istirahat saja!"
"Iya, mas. Aku kan memang enggak pernah ngapa-ngapain."
"Hehehe, iya sih. Maksudnya mas, kamu nggak usah pergi kemana-mana. Istirahat saja di rumah. Kalau butuh apa-apa, kamu tinggal bilang sama mas. Mas pasti akan bawakan buat kamu!"
"Iya, mas."
"Mas bahagia banget, sayang. Semoga dengan kehamilan kamu ini, rumah tangga kita akan makin kuat dan nggak akan ada yang bisa memisahkan kita!"
"Aku juga enggak mau pisah sama mas!" sahut Kanaya.
Andre memandang wajah istrinya lembut, penuh kasih sayang. Andre lalu mendekatkan wajah mereka berdua hingga tanpa ada jarak lagi. Sedetik kemudian Andre mulai mencium bibir ranum istrinya yang selalu membuatnya tergoda. Jantung mereka mulai berdebar-debar.
Semakin lama ciuman itu berubah menjadi ciuman berhasrat.
"Kamu mau kan, sayang?" bisik Andre membuat jantung Kanaya makin berdegup kencang.
Dengan wajah yang memerah, Kanaya menganggukkan kepalanya. Andre membopong istrinya, membawanya ke kamar mandi. Setelah selesai berwudhu, Andre kembali membopong tubuh istrinya lalu membaringkannya di atas tempat tidur.
Andre kembali mencium bibir istrinya lembut hingga hasrat mereka makin bergelora. Merekapun melakukan ibadah malam dengan syahdu. Andre begitu lembut memperlakukan istrinya mengingat janin yang masih sangat kecil yang sudah tumbuh di rahim istrinya itu. Menjelang tengah malam, mereka baru tertidur karena kelelahan.
Andre dan Kanaya baru saja selesai mandi untuk kedua kalinya pagi ini. Setelah selesai sholat subuh, mereka kembali memadu kasih. Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi.
"Mas kok libur, kan hari ini sabtu?" tanya Kanaya heran sembari mengeringkan rambut basahnya dengan hairdryer.
"Mas kan liburnya nggak setiap minggu, sayang!"
"Oohh, gitu ya mas."
Andre mendekat lalu merangkul istrinya dari belakang, "Iya, sayangku!"
Kanaya meletakkan hairdryer di atas meja riasnya. Dia membalik badannya hingga mereka saling berhadap-hadapan. Kanaya lantas melingkarkan tangannya di leher suaminya hingga mata mereka bertamu dan saling bertatapan mesra.
"Jadi mas hari ini nggak kemana-mana, ya?" tanya Kanaya.
"Iya, sayang. Memangnya kenapa? Kamu mau kan ditemani mas seharian?"
Kanaya tersenyum malu lantas menganggukkan kepala.
"Jadi hari ini kita hanya di rumah saja, mas?" tanya Kanaya lagi.
"Memangnya kamu mau kemana, sayang? Mas temani!"
"Kalau aku ke mana saja, mas. Asalkan berdua sama mas."
Andre mencium bibir istrinya sekilas.
"Maunya berduaan terus sama mas, ya?"
Kanaya terseyum lalu memeluk suaminya erat, "Aku sayang, mas!"
"Mas juga sayang banget sama kamu!" sahut Andre. Semoga papi Kanaya berhenti mengganggu rumah tangga kami. Hhh, aku akan memperjuangkan rumah tanggaku. Batin Andre.
"Oh iya, sayang. Hari ini kita cari kontrakan, mau?" tanya Andre.
"Iya, mas. Aku mau!"
Kriuk-kriuk. . .
Tiba-tiba perut Kanaya berbunyi.
__ADS_1
"Kamu lapar ya, sayang? tanya Andre lembut.
Kanaya tersenyum malu lalu menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kita keluar, yuk! Pasti yang lain sudah menunggu kita di meja makan!" ajak Andre.
"Iya, mas!" sahut Kanaya.
Sebelum keluar dari kamar, Andre kembali mencium mesra bibir istrinya, "Hhmm. . . mas," gumam Kanaya. Suaminya itu membuat jantungnya terus berdebar-debar.
"Kamu selalu membuat mas tergoda kalau sedang berduaan begini. Huuhh!" Andre mengusap wajahnya.
Mereka keluar dari kamar, lalu menuju ke ruang makan. Di sana semua keluarga sudah siap di tempat duduk masing-masing menghadap makanan yang sudah terhidang di meja makan. Semua terlihat lezat, mulai dari nasi goreng, sampai sayur dan lauk lengkap. Tak lupa roti juga ada.
Andre menggeser kursi untuk istrinya duduk setelah itu dia pun ikut duduk di sebelah istrinya.
Kanaya mengambilkan nasi goreng untuk suaminya.
"Kanaya sehat perutnya? Nggak ngerasa mual?" tanya Santi.
"Alhamdulillah, bunda. Perutku baik-baik saja!" jawab Kanaya.
"Alhamdulillah kalau begitu. Kamu makan yang banyak supaya janinnya tumbuh sehat dan kuat!" ucap Santi.
"Iya, bunda!" sahut Kanaya.
Setelah selesai sarapan, mereka pindah ke ruang keluarga.
"Jadi mas hari ini nggak kerja?" tanya Alya.
"Iya, dek. Mas libur. Kenapa?"
"Hhmm, aku naik taxi, donk!" keluh Alya.
"Kan ada mas Kevin, mbak?" ucap Alina.
Mata Alya membulat, "Loh, apa hubungannya sama dosen mbak?" Alya balik bertanya.
"Hehee, di hubungi saja minta di jemput!"
"Iiihh, nggak lah!"
"Heemm, nggak, ya?" ucap Alina.
Alya mendelik ke arah adiknya itu.
"Mas mau cari kontrakan. Kalau kamu mau bareng. Kamu kuliah jam berapa?" jelas Andre.
"Kontrakan? Buat apa?" tanya Santi kaget.
"Kita ingin belajar mandiri, bun!" jelas Andre.
"Kanaya sedang hamil muda masa tinggal sendirian?"
"Hhmm, iya ya." gumam Andre.
"Nanti saja ngontraknya. Dananya di tabung saja dulu. Kasihan Kanaya di kontrakan sendirian kalau kamu kerja!" ucap Anto.
"Iya, Dre! Di sini dia ada teman. Kalau butuh apa-apa kan ada keluarga."
"Hhmm, iya deh."
.
.
.
.
Maaf masih banyak typo. Trimakasih sudah membaca. 🙏🙏
.
.
.
.
13.2
__ADS_1