
Tak lama setelah istri dan anakku pergi mencari makan siang,pintu ruang OK terbuka. Dua orang suster mendorong brankar keluar dari ruang OK begitupun dengan dua orang dokter.
Gegas aku menghampiri mereka.
"Bagaimana kondisi putri saya,dok?"
"Putri bapak sudah berhasil di operasi. Bapak bisa ikut ke ruangan saya biar nanti saya jelaskan!" ucap salah satu dokter.
Aku lalu mengikutinya menuju ruangannya.
"Begini,pak. Putri bapak mengalami patah kaki di sebelah kiri."
"A-apa, dok?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Tenang dulu pak, biar saya jelaskan lebih lengkap!" titah dokter.
Aku menarik nafas berat, "Hhh,baiklah dok."
"Tim kita tadi sudah berhasil mengoperasi putri bapak. Sekarang tinggal menunggunya sadar saja. Tapi mengenai kakinya yang patah memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tapi karena putri bapak masih dalam masa pertumbuhan,biasanya pemulihannya bisa lebih cepat di bandingkan dengan orang dewasa."
"Tapi kaki putri saya bisa kembali seperti semula kan, dok?" tanyaku cemas.
"In sya Allah bisa, pak. Tapi tetap harus sabar dan keluarga juga harus bisa merawat pasien dengan baik. Di rumah sakit ini juga ada terapi untuk pasien yang patah tulang akibat kecelakaan. Kalau bapak mau tapi masih harus menunggu luka-lukanya sembuh dulu!"
"Baiklah, dokter. Sekarang bagaimana?"
"Pasien akan di pindahkan ke kamar rawat inap sambil menunggu dia sadar. Yang terpenting saat ini dia sudah melewati masa-masa kritis."
"Alhamdulillah. Terimakasih, dok."
"Baiklah, pak. Bapak bisa menemui putri bapak di ruang ranapnya sekarang. Silahkan tanya ke suster ya, pak."
"Terimakasih, dok. Saya permisi dulu!" pamitku lalu menjabat tangan dokter.
Aku gegas bertanya sama suster, dimana ruang ranap putriku. Sudah tidak sabar rasanya melihat buah hatiku itu. Semoga dia bisa sabar menghadapi cobaan yang sedang dia hadapi.
Saat aku sedang mencari kamar ranap Alya, aku bertemu dengan mantan istriku.
"Mana Alya?"
Aku menatapnya malas lantas segera berlalu dari hadapannya.
"Mas!" panggilnya seraya mengejarku.
Aku tidak mempedulikan wanita itu karena amarahku bisa saja tidak terkendali jika berhadapan dengannya. Tapi dia masih terus mengejarku dan tiba-tiba dia menghadang langkah kakiku.
"Tolong jangan ganggu saya!" tegasku dengan tatapan nyalang.
"Aku ingin bertemu dengan anakku! Gara-gara kamu dia sampai begitu!" tuduhnya.
__ADS_1
Aku memutar bola mataku jengah. Sungguh aneh wanita ini. Bisa-bisanya dia malah menuduhku yang jadi penyebab semua kejadian ini. Entah kenapa dulu aku memilih dia untuk jadi ibu anak-anakku hanya karena kecantikannya. Bersyukur rasanya kini aku sudah bebas darinya.
Aku kembali meninggalkan dia tanpa mengatakan apapun. Jika dia terus memaksa, aku akan mengambil tindakan kali ini. Nyawa putriku hampir saja melayang. Sudah cukup.
Tiba-tiba dia menarik tanganku, "Aku nggak terima kamu perlakukan seperti ini, mas! Aku akan balas!" ancamnya yang tetap tidak aku pedulikan.
"Ayah!" tiba-tiba putraku dan juga istriku datang menghampiriku.
"Sudah makan, nak?" tanyaku.
"Iya, yah!" jawab Andre lalu menoleh ke arah ibunya, "Ibu mau apa? Gara-gara ibu, adek Alya kecelakaan!" ucap putraku dengan emosi.
"Kok gara-gara ibu? Ayah kamu itu yang larang-larang adik kamu ketemu ibu!"
"Kalau adik nggak ikut ibu, pasti sekarang adik Alya baik-baik saja. Aku sama adik Alya baik-baik saja selama sama ayah dan bunda!"
"Andre! Aku ini ibu kamu! Ibu yang melahirkan kamu!"
"Tapi percuma kalau ibu nggak sayang sama kami, anak-anak ibu! Jangan-jangan kami bukan anak kandung ibu!" ucap Andre yang membuat aku kaget pun Lisa dan juga istriku.
"Andre! Jangan kurang ajar kamu sama ibu!" bentaknya.
"Andre, jangan ribut di rumah sakit, nak!" tegasku. Aku tetap tidak mempedulikan Lisa.
Aku lantas merangkul istriku, "Sudah makan siangnya,yank?" tanyaku lalu mencium pipinya hingga wanitaku itu bersemu merah karena malu di lihat putraku dan juga mantan istriku. Belum lagi orang-orang yang lewat.
Mungkin Lisa sakit hati melihat kemesraanku dengan Santi. Sudah berapa tahun ini aku sudah tidak pernah lagi bersikap mesra dengannya di depan siapapun termasuk kedua anakku. Itu juga karena sikap Lisa yang makin dingin dan ketus menghadapiku. Mungkin karena aku yang belum mampu memenuhi semua inginnya.
"Hhmm, mas. Malu di lihat orang,"
"Kenapa malu sama istri sendiri?" tanyaku lantas mencubit hidungnya.
"Mas iiihh. Ada Andre juga," ucapnya lirih.
Aku tersenyum. "Yuk, kita temui adik Alya!" ajakku seraya menggandeng putraku.
Kami bertiga lalu mencari kamar ranap Alya. Setelah bertanya dengan beberapa orang, kami pun sampai di kamar ranap Alya.
Putriku itu masih tertidur. Dengan kaki kirinya yang terbalut perban. Begitu juga tangan dan wajahnya ada beberapa perban kecil. Dadaku tiba-tiba terasa sesak melihatnya. Putri kecilku harus jadi korban keegoisan orangtuanya sendiri.
"Mas, ayo masuk. Kok malah berdiri di depan pintu?" ajak istriku.
Aku kaget lalu menoleh, "Iya, yank!"
"Adek, , ," seru Andre lalu memeluk adeknya.
"Mas Andre jangan ganggu adek Alya dulu, ya. Biarkan adek istirahat. Kita tunggu dia sadar," ucapku lalu mengajaknya duduk di kursi.
"Mas, kenapa mas pilih kamar ini? Gimana kalau ibu dan Aminah mau datang? Kita minta pindah kamar saja, ya?" pintanya.
__ADS_1
Aku memang memilih kamar untuk dua orang pasien. Menurutku itu tidak jadi masalah. Aku tidak ingin menggunakan uang istriku terlalu banyak.
"Nggak apa-apa, yank. Toh hanya dua orang saja kan pasiennya," tolakku.
"Hhmm, mas. Aku ingin menjaga Alya siang malam. Kalau duduk di kursi itu terus, aku nggak bisa, mas. Kita pindah, ya?"pintanya dengan wajah memohon.
"Biar mas saja yang nungguin Alya siang malam, yank. Kamu harus banyak istirahat di rumah!"
"Maksud mas, aku di rumah sendirian, gitu? Andre saja mau nungguin adeknya terus!" dia terlihat kesal lalu memalingkan wajahnya.
"Hhmm, ya sudah tapi jangan yang terlalu mahal, yank!"
"Mas iiihh! Buat anak sendiri semahal apapun nggak masalah. Itu buat kenyamanan Alya dan kita juga."
Aku menarik nafas berat, "Iya, terserah istri mas saja, deh!" ucapku akhirnya.
"Ya sudah mas urus sekarang. Aku-aku capek, mas!" keluhnya.
Astagfirullah, aku lupa kalau istriku tidak bisa kecapekan. Dari pagi kami mencari Alya dan sekarang sudah menjelang sore. Dia pasti ingin merebahkan tubuhnya.
"Maaf, sayang. Kamu mau kamar yang seperti apa?"
"Yang VVIP, mas!"
"VIP saja, yank. VVIP terlalu mahal."
"Mas, , ?" wajahnya terlihat sangat lelah dan sedikit pucat.
"Hhmm, baiklah sayang! Kamu duduk dulu di sini, ya. Mas segera kembali!"
"Mas juga sambil cari makan, ya!" pesannya.
"Iya, yank. Mas pergi dulu. Kalau Alya sadar, lekas hubungi mas!"
"Iya, mas!"
Aku lalu keluar dari ruang ranap Alya untuk menuruti keinginan istriku.
.
.
.
.
.
15
__ADS_1