
Pov Lisa
Aku dan mas David merencanakan untuk membawa Alya tinggal bersama kami. Aku akan membujuk anakku itu agar mau tinggal bersamaku. Dan mas Anto harus memberikan jatah bulanan untuk alya selama tinggal bersamaku.
Besoknya aku ke rumah mantan mertuaku. Semoga saja mereka ada di sana karena biasanya kan hari minggu mereka selalu berkunjung ke rumah mantan mertuaku itu.
Beruntung sekali ternyata mereka sedang ada di sana. Aku lalu mengajak putriku bicara,ternyata setelah aku rayu,putriku mau aku ajak tapi mas Anto tidak membiarkan aku membawa putriku itu.
Apa pun sudah aku lakukan untuk membujuk putriku tapi tetap saja tidak bisa karena mas Anto juga mempunyai cara agar putriku tidak bisa ikut denganku. Akhirnya aku meminta izin bicara berdua saja dengan putriku dan mas Antokan mau meninggalkan kami bicara berdua saja.
Aku lega rasanya bisa bicara berdua saja dengan anakku tanpa diawasi olehnya.
"Sayang ibu kangen banget sama kamu. Kamu mau ya tinggal sama ibu beberapa hari?" tanyaku pada putriku.
"Aku juga kangen sama ibu."
"Alya mau tinggal sama ibu kan?"
Alya mengangguk, "Iya, aku mau, bu!"
Aku seneng banget. Dengan mudahnya aku bisa merayu anakku untuk tinggal bersamaku.
"Oh ya, Alya sekolahnya di mana?" tanyaku.
"Aku sekolah di SD Negeri 1 bu, nggak jauh dari rumah bunda Santi!" jawab putriku.
"Baiklah, nak. Ibu pulang dulu ya nanti adik kamu menangis kalau terlalu lama ibu tinggal. Nanti Ibu akan menemui kamu lagi!" janjiku.
Aku lalu pulang ke rumah. Sampai di rumah mas David langsung memberondong ku dengan banyak pertanyaan.
"Bagaimana? Apa kamu bisa ketemu sama putri kamu?"
"Iya,aku sudah ketemu, mas. Tadi aku sebenarnya bisa membawa Alyabersamaku tapi mas Anto menghalangi terus akhirnya dia nggak jadi ikut.
"Loh kalau dia nggak ikut sama kamu gimana kita mau minta uang sama si Anto itu?" ucap mas David kesal.
"Tapi aku sudah tahu dimana Alya sekolah,mas. Besok kita jemput dia di sana sebelum dijemput sama mas Anto!" sahutku.
"Bagus besok pagi-pagi kita jemput anakmu pulang sekolah sebelum dijemput sama mantan suamimu yang udah sok itu!" ucap mas David.
Keesokan paginya aku dan mas David buru-buru ke sekolah Alya sebelum dia di jemput oleh ayahnya. Sebelum kelas Alya bubar, aku buru-buru berdiri di depan gerbang, jadi saat Alya baru keluar kelas aku langsung mengajaknya pergi secepatnya supaya tidak ketahuan sama mas Anto.
"Ibu, kok ibu jemput aku?" tanya putriku kaget melihatku.
"Ibu mau ajak kamu jalan-jalan, nak. Ibu kangen banget sama kamu.
"Tapi bagaimana dengan ayah, bu. Nanti ayah pasti jemput aku."
"Ibu sudah bilang sama ayah kamu dan dia mengizinkan, kok. Kamu tenang saja!"
__ADS_1
"Baiklah, bu. Sekarang kita mau kemana?" tanya Alya.
"Kami ikut saja!" ucapku lalu menghampiri mas David yang tidak jauh memarkirkan motornya sambil menggendong Daren.
Sampai di sana, aku langsung mengambil alih menggendong Darren yang memang terlihat rewel. Dia tidak terbiasa digendong sama ayahnya. Kami pun bergegas pergi dari sana.
Mas David mengajak kami pergi ke rumah orang tuanya. Orang tua mas David hanya tinggal yang laki-laki saja. Dia hanya tinggal berdua saja dengan adik perempuan mas David. Jadi tidak masalah kalau kami tinggal beberapa hari di sana.
Aku lalu membawa Alya dan Daren masuk ke kamar. Kamar yang dulu pernah ditempati oleh mas David. Aku tahu adik perempuannya mas David sepertinya tidak suka padaku karena dia tahu aku sudah merebut mas David dari si Melly tapi terserahlah yang penting mas David sekarang berpihak padaku dan tidak mencintai lagi mantan istrinya itu. Sementara mertuaku yang laki-laki, dia tidak terlalu peduli.
Beruntung aku masih menyimpan beberapa helai pakaian Alya sewaktu masih di kost jadi dia mempunyai pakaian ganti.
"Ibu,kenapa kita hanya di kamar saja? Aku bosan, bu!" keluh Alya. Anak itu memang tidak akan bisa diam di rumah saja.
"Kamu main handphone ibu saja, ya!" ucapku lalu menyerahkan handphoneku pada Alya.
"Aku nggak suka main handphone, bu. Aku mau main di luar. Biasanya aku akan main sama bunda Santi."
Huuhh, aku kesal sekali mendengar Alya memanggil istri barunya mas Anto dengan sebutan 'Bunda'. Aku tidak suka jika anakku sampai menyayangi ibu sambungnya itu.
"Biasanya kamu main apa sama perempuan itu?"
"Perempuan?" tanya Alya bingung.
"Oohh,ibu salah ngomong. Maksud ibu, kamu biasa main apa sama bunda kamu?"
"Kami kadang nonton tv. Kadang bunda membacakan aku cerita. Bunda juga suka bikin kue tapi karena bunda sedang hamil jadi kita sudah lama nggak bikin kue. Bunda suka muntah-muntah!" jelas Alya.
Seharian Alya rewel lebih seperti bayi saja. Mas David tidak mau mengajak kami jalan-jalan hanya untuk menyenangkan Alya. Aku benar-benar pusing. Belum lagi sekarang Alya rewel soal makanan karena hanya aku kasih tahu dan sayur bayam saja. Mungkin dia sudah terbiasa hidup enak dengan ibu sambungnya.
"Kenapa makannya nggak di habiskan?" tanyaku kesal melihat piring Alya yang bahkan separuhnya saja tidak habis.
"Kenyang," jawabnya datar dengan wajah di tekuk.
"Hhmm, nanti malam ibu belikan telur, ya!" ucapku menghiburnya.
"Aku ingin makan sup daging, bu. Bunda Santi saja suka banget sup daging jadi dia sering masakin untuk kita."
Huuhh,jangankan makan daging,ayam saja aku nggak mau beli. Uang sih ada tapi kalau untuk beli ayam kan sayang. Batinku.
"Nanti ya nak, makan sama telur goreng saja. Sekarang kamu habiskan dulu makanan kamu. Ingat ayah bilang kan nggak boleh buang-bua g makanan. Ayo di habiskan!" titahku yang mulai kesal menghadapi tingkahnya.
Kalau Alya minta makan enak terus bisa-bisa dalam waktu seminggu, sisa uang di dompetku nggak akan tersisa lagi.
Alya akhirnya mau memakan lagi makanannya tapi dengan tanpa selera. Aku biarkan saja nanti juga akan dia habiskan kalau ingat pesan ayahnya.
Aku lalu keluar dari kamar mencari mas David. Ternyata suamiku itu sedang asik tiduran di sofa sambil memainkan gawainya.
"Mas!" panggilku lantas duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyanya ketus.
"Mas ih,gimana Alya? Apa kita pulangin saja besok?" tanyaku.
"Loh kenapa di pulangin? Sudah capek-capek jemput dia! Huhh!" jawab mas David kesal.
"Anak itu maunya makan enak, mas. Mana ada duit kita."
"Minta sama ayahnya kan aku sudah bilang!"
"Iya kalau Alya mau tinggal sama kita kalau ngga gimana?"
"Harus mau lah! Paksa!"
"Paksa gimana, mas?"
"Kurung saja dia di kamar lalu kamu minta uang sama si Anto itu!"
"Tapi mas?"
"Sudah, kamu turuti saja apa yang aku bilang!"
"Kalau mas Anto mau bawa Alya gimana?"
"Jangan mau! Kamu temui dia lalu minta uang untuk biaya hidup anaknya!"
"Mas pikir dia bodoh, mau saja menuruti kemauan kita?" tanyaku ketus.
"Kalau dia ingin anaknya selamat dan baik-baik saja, dia pasti mau!"
"Kalau dia lapor polisi gimana!?"
"Bodxh kamu ini! Kamu kan ibunya!"
"Hak asuh Alya itu ada sama mas Anto. Jadi mas Anto bisa saja melaporkan aku, mas!"
"Dia nggak akan tega. Kamu kan punya bayi!"
Hhmm, bagaimana ya? Aku bingung.
.
.
.
.
.
__ADS_1
11