Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 38


__ADS_3

Seminggu kemudian aku sudah menyiapkan berkas dan surat-surat untuk urusan pernikahanku dengan mbak Santi di kelurahan. Rencananya kami akan menikah di masjid dekat rumahnya. Hanya akad nikah saja kemudian dilanjutkan syukuran di rumah.


Hari ini dia minta diantar mencari gaun pengantin muslimah. Dia juga mengajak ibu dan anak-anakku juga adik dan keponakanku. Mereka sengaja pergi bersama untuk mencari pakaian yang seragam untuk dipakai di acara pernikahanku nanti.


"Mas cari juga,ya?" tanya mbak Santi.


Aku menggeleng, "Mas pakai baju koko saja!" jawabku.


"Oh ya sudah kalau gitu," sahutnya.


Ternyata menemani perempuan memilih pakaian itu sangat membosankan. Satu orang saja bisa menghabiskan waktu hingga satu jam lebih.


Aku dan Andre rencananya hanya akan memakai baju koko yang lama saja karena masih cukup bagus. Kami yang berangkat dari pagi-pagi sekali sampai siang baru selesai itu pun kami mencarinya di beberapa Butik.


"Mas,kita cari makan yuk,aku laper!" ajak mbak Santi saat kami baru saja selesai membeli semua yang dia butuhkan.


Sekarang kami sudah semakin dekat,dia sudah tidak sungkan lagi menyebut aku dan kamu begitupun denganku. Makin hari sikap manjanya makin terlihat tidak seperti waktu pertama kali aku kenal. Tapi jujur saja aku menyukainya. Mungkin dia sudah lama tidak merasakan di manja dan bergantung dengan seseorang karena selama ini dia selalu melakukan apapun sendirian.


Sekarang kami sudah ada di restoran yang cukup ramai hingga kami tidak kebagian meja yang menampung banyak orang jadi kami duduk secara terpisah.


Ibu lalu memintaku duduk satu meja berdua saja dengan mbak Santi. Karena Ibu merasa aku dan mbak Santi harus lebih banyak menghabiskan waktu bersama untuk mengenal satu sama lain dan juga tentu saja untuk membicarakan tentang pernikahan kami.


Semakin dekat hari pernikahan kami aku merasa dia makin terlihat cantik dan tidak pernah lagi mengeluhkan sakit di kepalanya. Semoga saja dengan pernikahan kami,dia bisa merasakan kebahagiaan hingga bisa meringankan rasa sakit yang bisa dengan tiba-tiba dia rasakan.


"Nanti kalau kita sudah menikah,kamu berobat lagi keluar negeri,ya!" pintaku serius.


"Kenapa mas?" tanyanya heran.


"Karena aku ingin kamu sembuh!" jawab ku.


"Hhmm. . ."


"Aku ingin merasakan hidup lama denganmu!" jelasku saat dia diam dan hanya sibuk mengaduk-aduk makanan di piringnya.


Dia lalu menoleh dan akhirnya senyum itu kembali mengembang saat mendengar ucapanku tadi.


"Tapi mas harus temani aku,ya?" pintanya.


Aku lalu mengangguk, "In Sya Allah!"


"Ayah,aku ingin ke kamar mandi!" ucap Alya yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.


"Minta antar sama tante Aminah saja ya,nak!" ucapku.


"Oh sama aku saja,mas. Aku juga mau ke kamar mandi! Alya,yuk sama tante!" ajaknya lalu menggandeng tangan putriku itu.


"Hati-hati!" pesanku.


Mereka berdua lalu ke kamar mandi diikutin adikku Aminah dan anaknya. Saat mbak Santi sedang di kamar mandi,aku buru-buru mendekati kasir untuk membayar makanan kami


"Loh,sudah mas bayar?" tanyanya kaget.

__ADS_1


"Yuk,kita jalan lag!" ajakku tanpa menjawab pertanyaannya.


"Mau kemana,mas?"


"Ikut saja!"


Aku mengajak dia ke sebuah toko perhiasan. Aku ingin membelikannya sebuah cincin untuk pernikahan kami nanti dan aku ingin dia memilih sendiri.


Alhamdulillah aku mempunyai tabungan walaupun tidak banyak. Aku harap bisa untuk biaya pernikahanku dengannya.


Dia lalu memilih cincin yang harganya tidak terlalu mahal. Aku pikir wanita seperti dia menginginkan perhiasan yang mahal ternyata tidak. Mungkin dia mengerti dengan kondisi keuanganku yang tidak setara dengannya. Dia bener-bener wanita idaman.


Aku tidak menyesal mengenalnya. Bahkan aku sangat bersyukur dia memintaku untuk menjadi suaminya. Seandainya dia tidak pernah memintaku,mungkin aku tidak akan pernah berani menikahinya.


"Kamu yakin cincinnya yang ini?" tanyaku tidak yakin karena memang modelnya yang biasa saja.


"Iya mas,aku suka yang ini. Sederhana!" jelasnya.


"Baiklah kalau begitu," ucapku.


Karena harga cincin yang dia beli tidak terlalu mahal,aku berniat membelikan dia sebuah kalung tanpa sepengetahuannya.


Setelah dari toko perhiasan,kami lalu pulang.


"Aku nanti ingin main ke rumah ibu dulu sampai sore boleh kan,mas?" tanyanya saat kami sudah hampir sampai di rumah ibu.


"Tentu saja,boleh!" sahutku.


"Ibu!" seru Alya yang langsung berhamburan memeluk Lisa.


"Sayang,kamu dari mana saja nak? Ibu nungguin kamu dari tadi!" ucap Lisa. Dia lalu melirik sinis ke arahku dan juga mbak Santi.


Ibu lalu membuka pintu pagar dan kami semua lalu masuk. Aminah membawa semua barang belanjaan yang tadi kami beli. Sementara Alya masih ditahan sama ibunya di luar. Mungkin putriku itu masih sangat merindukan ibunya berbeda dengan kakaknya yang sudah tidak peduli lagi. Putraku itu terus memperhatikan Alya dan Lisa dengan wajah masam. Dia lalu menghampiriku.


"Ayah,kenapa adik Alya nggak disuruh masuk?" tanya Andre.


"Biarkan saja,mungkin adikmu rindu sama ibunya!" jawab ku.


Andre memasang wajah tak sukanya lalu masuk ke kamar.


Sementara mbak Santi diajak ibu ke dapur untuk membuat minuman. Sepertinya calon istriku itu benar-benar sangat merindukan sosok seorang ibu. Dia terlihat manja dengan ibu. Ibu pun memperlakukannya seperti anak sendiri. Mungkin karena dia sudah lama tidak merasakan kasih sayang seorang ibu.


Hidupnya selama ini hanya seorang diri. Tentu saja dia merasa kesepian dan mendambakan kasih sayang.


Tak lama kemudian Alya masuk ke rumah.


"Ibumu sudah pulang?" tanya adikku Aminah.


"Sudah tante. Ibu kelihatannya sedang sedih."


"Sedih kenapa?" tanya Aminah.

__ADS_1


"Adik bayinya sedang sakit,te."


"Semoga dede bayinya lekas sembuh,ya!" ucap Aminah.


"Amiin!" sahut Alya.


Aku tidak bisa melarang anak-anakku bertemu dengan ibunya karena tidak ada yang namanya mantan anak dan mantan ibu.


"Ayah nanti mau kan kasih aku adek bayi juga sama seperti ibu?" tanya Aliya dan bertepatan dengan mbak Santi datang bersama ibu dari dapur dengan membawa minuman di nampan.


"Kalau masalah itu,Alya tanyakan saja sama tante Santi!" jawabku lalu menoleh ke arah calon istriku itu.


"Tante Santi mau nggak kasih Alya adik bayi?" tanyaku lalu menoleh ke arahnya membuat wanita itu tersenyum malu.


"Tante nanti kasih aku adik bayi,ya!" todong Alya.


"In sya Allah ya sayang!" jawab mbak Santi seraya mengusap lembut pucuk kepala putriku.


Kami ngobrol beberapa menit,tak lama kemudian Alya masuk ke kamar.


"Alya ngantuk yah!" pamitnya setelah itu Aminah dan anaknya juga pamit ke kamar.


Tinggallah aku berdua saja dengan mbak Santi. Aku lalu mengajaknya duduk di teras.


"Bagaimana kamu sudah siap menikah denganku?"


Dia lalu tersenyum, "Tentu saja,mas!" jawabnya yakin.


"Alhamdulillah!" sahutku.


"Oh ya,mas besok bisa nggak antar aku ke salon?" pintanya.


"Untuk apa ke salon!" tanyaku heran.


"Aku ingin perawatan tubuh,mas!" jawabnya malu-malu.


"Untuk apalagi di rawat? Begini saja sudah cantik,kok!" ucapku membuat dia makin tersipu malu.


"Aku sudah lama nggak ke salon,mas. Bisa kan besok antar aku?"


"Tentu saja bisa! Apa sih yang nggak untuk calon istriku ini ?" ucapku sedikit menggombal. Dia lalu tersenyum.


Menjelang sore aku mengantarnya pulang ke rumahnya.


.


.


.


.

__ADS_1


12


__ADS_2