Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 86


__ADS_3

Beberapa hari tanpa gangguan dari mantan istriku membuat aku lega dan tenang bekerja di minimarket. Semoga saja dia mengerti dan tidak akan mau lagi datang ke sini.


Aku hari ini ada janji untuk bertemu dengan pemilik rumah kosong yang ada di samping minimarket. Tepat di belakang rumah makan pak Daniel. Rumah yang tidak terlalu besar hanya berukuran 10 x 20 meter saja tapi itu sudah cukup lumayan untuk menambah area minimarket karena di sekitar minimarket memang sudah tidak ada lagi tanah kosong. Hanya rumah itu dan satu lagi rumah di belakang minimarket yang ujung. Semoga saja nanti akan di jual juga oleh pemiliknya.


Mungkin nanti tanah bekas rumah itu akan di jadikan gudang dan kantor saja sedangkan gudang dan kantor yang lama untuk memperluas area minimarket. Ya itu hanya sebatas rencanaku saja. Entah rencana istriku seperti apa.


Kemarin aku sudah membuat janji dengan orang pemilik rumah kosong itu untuk bertemu di rumah makan Pak Daniel. Selama menunggu lebih setengah jam, akhirnya bapak Sofian selaku pemilik rumah akhirnya datang juga. Dengan ditemani Pak Daniel, kamipun bernegosiasi.


Kami lalu berkenalan dan berbincang-bincang sejenak. Setelah itu, baru aku menanyakan tentang harga rumah itu pada pak Sofian.


"Mengenai harga rumahnya bagaimana, pak?" tanyaku.


"Begini, karena rumah saya ini sedikit masuk gang dan memang sudah mulai rusak, jadi saya buka harga 1,2M saja!" jawab pak Sofian.


Aku dan pak Daniel saling pandang. Setahuku rumah di sini dengan ukuran segitu di hargai 1,5M.


"Itu sudah harga pas ya, pak?" tanyaku.


"Iya, bisa kurang sedikit, pak!" jawab pak Sofyan.


"Baiklah, kalau saya menawar 1,1M, bagaimana, pak?" tanyaku.


"Baiklah!" jawan pak Sofyan.


Alhamdulillah, padahal aku iseng saja menawar ternyata pak Sofian setuju.


"Mengenai biaya notarisnya bagaimana, pak?" tanyaku.


"Saya akan menanggung biaya notarisnya, pak. Sampai selesai!" jawab pak Sofyan.


"Ya sudah kalau gitu, pak. Saya setuju!" jawabku.


"Terimakasih, pak!" ucap pak Sofyan.


"Sama-sama, pak. Saya juga mengucapkan terima kasih!" sahutku.


Ternyata perkiraan istriku soal harganya tidak jauh berbeda. Kami lalu saling berjabat tangan. Begitu juga dengan pak Daniel. Aku tidak akan melupakan untuk memberikan sedikit untuk pak Daniel karena pak Daniel sebagai perantara. Setelah bercakap-cakap sebentar,aku lalu pamit kembali ke minimarket.


Sampai di minimarket, aku duduk santai di kantor. Aku berniat menelpon istriku untuk memberinya kabar baik ini.


"Hallo, yank."


"Iya. Mas sudah selesai bernegosiasi sama pak Sofyan. Beliau minta harga 1,1M saja untuk rumahnya dan tanahnya."


"Iya, karena rumah itu letaknya tidak strategis dan juga sudah banyak kerusakan. Lagipula nanti kan rumah itu akan kita bongkar."


"Alhamdulillah, yank. Memang cukup murah karena selama ini banyak pembeli yang mau tapi dengan harga yang di bawah 1 M jadi pak Sofyan belum mau melepasnya."


"Rencananya dua hari lagi pak Sofyan akan datang bersama saudaranya untuk tanda tangan."


"Iya. Sudah dulu ya, mas mau lagi kerja!"


***


Dua hari kemudian pak Sofian kembali datang. Aku kembali menemuinya ditemani Pak Daniel. Kami berlima bersama istriku dan bersama saudaranya pak Sofyan pergi ke notaris. Kami pun melakukan pembayaran di notaris.

__ADS_1


Istriku menginginkan rumah dan bangunan itu balik nama menggunakan namaku tapi aku tidak mau. Itu harus lah atas nama istriku. Setelah semua urusan di notaris selesai, kamipun pulang kembali ke minimarket. Tak lupa aku memberikan pada pak Daniel sedikit uang sebagai tanda terimakasih karena beliau sudah membantuku.


"Bagaimana, yank? Kamu sudah punya desain untuk bangunan baru minimarket?" tanyaku pada istriku.


"Iya, mas. Rencananya aku mau bikin tingkat dan menambah jumlah barang. Menurut mas bagaimana?" tanya istriku.


"Itu rencana yang bagus, yank! Lantai atasnya untuk apa?"


"Aku ingin menjual pakaian juga,mas. Nanti di lantai atas, kita pakai untuk pakaian dan lantai atas tetap seperti biasa. Bagaimana menurut mas?"


"Mas setuju."


"Aku akan menjual segala jenis pakaian. Mulai dari pakaian bayi sampai pakaian orang dewasa."


Aku mengangguk, "Mas setuju semua ide kamu, yank!"


"Terimakasih, mas. Sebenarnya itu keinginanku sudah lama sekali tapi karena terhalang tenaga dan pikiran jadi belum bisa terwujud!"


"Mas akan selalu membantu kamu! Semoga aoa yang kamu inginkan bisa tercapai, yank!" tegasku.


"Aamiin!"


***


Aku baru saja selesai dari rumah makan milik pak Daniel, dan sedang duduk santai di kantor, tiba-tiba teleponku berdering. Istriku.


"Hallo, Assalammu'alaikum."


"Apa, Surat dari kepolisian?"


"Baiklah. Mas akan segera pulang."


"Rudi, saya mau pulang sebentar. Kalau ada apa-apa tolong kamu hubungi saya langsung, ya!" pesanku kepada Rudi.


"Baik, pak!" sahutnya.


Aku pun segera melajukan mobil menuju rumah. Sampai di rumah, istriku sudah menunggu di teras. Dia sedang memegang amplop. Aku lalu turun dari mobil dan menghampirinya. Istriku mencium punggung tanganku lalu memyerahkan amplop padaku.


"Ini, mas," ucap istriku.


Aku lalu membukanya. Ternyata itu panggilan dari pengadilan untuk kasus si David. Aku diminta menjadi saksi di persidangannya dua hari lagi. Aku sampai kaget ternyata cepat juga prosesnya.


"Ada apa ,mas?" tanya istriku.


"Mas ada panggilan sebagai saksi untuk kasus si David, yank!" jawabku.


"Kasus David? Jadi dia pasti di penjara ya, mas?" tanya istriku.


"Kemungkinan iya, yank!"


"Tapi kasihan juga istri dan anaknya ya, mas."


"Ya mau gimana lagi, yank. Mas dan Alya nggak akan mungkin memberikan kesaksian palsu, kan?"


"Iya juga mas. Semoga saja hukumannya nggak berat, ya."

__ADS_1


"Aamiin."


"Yuk masuk, mas!" ajak istriku.


"Mas mau kembali lagi ke minimarket, yank! Rencananya orang-orang yang akan membawa alat berat untuk merobohkan rumah itu akan datang hari ini."


"Oh gitu. Aku ikut ya, mas?"


"Yank, kamu istirahat saja di rumah, ya. Mas nggak mau kamu capek!"


"Hhmm, iya deh mas."


"Lagipula mas mau jemput Andre dulu ini sudah waktunya dia pulang."


"Iya, mas. Mas hati-hati di jalan, ya!"


"Kamu nggak titip apa-apa?"


Istriku menggelengkan kepala, "Nggak, mas!"


"Ya sudah, mas pergi dulu ya!" pamitku.


Aku lalu naik ke mobil. Melajukan mobil ke arah sekolahan Andre. Siang hari seperti biasa jalanan akan sangat macet. Belum lagi jika terjebak lampu merah. Aku sampai di sekolah putraku sedikit terlambat. Putraku itu sedang duduk di dekat penjual makanan yang masih berjualan di sana. Saat melihat mobil yang biasa aku bawa, dia gegas berlarian menghampiriku.


"Maaf, nak. Kamu sudah lama, ya?" tanyaku saat putraku sudah naik ke mobil.


Andre menggeleng, "Nggak kok, yah. Baru lima menit!" jawabnya.


"Hhmm, ya sudah yuk kita pulang. Nggak mampir kemana-mana, kan? Ayah sibuk hari ini."


"Nggak, yah. Sebenarnya aku ingin ikut ayah ke minimarket. Kan sudah lama aku nggak main ke sana sejak adik Alya sakit. Bosan di rumah terus, yah!" keluhnya.


"Hhmm, ada tugas sekolah, nggak?" tanyaku.


Wajahnya berubah murung, "Ada sih, yah."


"Besok saja, bagaimana? Atau hari minggu?" tawarku.


Hhh, dia menarik nafas pelan, "Iya deh, yah."


"Sekarang ayah antar kamu pulang, yah. Hari ini rumah yang bunda beli akan di bongkar. Jadi ayah sedikit sibuk hari ini."


Andre mengangguk, "Iya, yah!"


Aku pun segera melajukan mobil ke arah rumah. Jalanan masih saja macet jam segini.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


15


__ADS_2