Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 79


__ADS_3

Aku baru saja sampai kembali ke rumah sakit setelah mengantarkan putraku ke sekolahnya sekaligus mengabari tentang kondisi putriku pada pihak sekolah. Aku pun sempat mampir sebentar ke minimarket.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih. Rumah sakit mulai ramai oleh orang-orang yang mengantri untuk berobat. Tiba-tiba aku di kejutkan oleh Lisa. Wanita itu berdiri di pintu masuk rumah sakit dengan menggendong bayinya seraya menatap ke arahku. Mau apa lagi dia. Batinku.


"Mas," panggilnya lembut.


Aku kaget. Dia bisa berubah lembut terhadapku. Wajahnya pun terlihat sedih.


"Tolong, saya tidak mau berdebat!" tegasku.


"Mas, aku mau bicara. Dengarkan aku, kumohon sekali ini saja," pintanya dengan wajah memohon.


Hhhh, aku menarik nafas berat. Apa sih maunya wanita ini.


"Maaf, saya sedang buru-buru," ucapku datar.


"Suamiku akan di bawa ke kantor polisi saat sudah sembuh nanti. Aku nggak mau suamiku di penjara. Bagaimana bayiku bisa hidup kalau ayahnya di penjara?"


Hhh, aku sudah menduga akan hal itu. Tapi kan bukan aku yang membuat suaminya di penjara.


"Maaf, kalau masalah itu bukan urusan saya. Itu urusannya bapak polisi!" tegasku.


"Tapi kesaksian kamu kemarin yang membuat polisi ingin menjadikannya kasus!" jelasnya dengan nada mulai tinggi.


Ya dia memang mana bisa bicara lembut denganku.


"Saya hanya bicara apa adanya. Saya nggak biasa bohong!" tegasku.


"Kamu sengaja, biar suamiku di penjara!" tuduhnya.


"Terserah mau anggap saya seperti apa! Maaf, putri saya sudah nungguin!" aku segera berlalu dari hadapannya.


"Sombong banget kamu sekarang, mas!" teriaknya seraya mengejarku.


"Terserah!" gegas aku berlalu dari hadapannya.


Huuhh,kenapa Lisa bisa berubah menyebalkan seperti itu.


Tok. . . tok. . .


Ceklek. Aku membuka pintu kamar ranap putriku


"Assalammu'alaikum," ucapku.


Semua orang di dalam kamar menoleh ke arahku, "Ayah!" seru putriku.


Dia terlihat lebih segar daripada tadi sebelum aku pergi mengantar kakaknya ke sekolah. Aku lantas menghampirinya.


"Gadisnya ayah sudah terlihat segar nih. Apa sudah mandi?" tanyaku heran.


Putriku menggelengkan kepalanya, "Aku nggak mandi, yah. Cuma cuci muka dan badanku di seka pakai kain basah oleh nenek."


"Oh gitu. Ayah pikir sudah mandi kok segar dan cantik!" pujiku membuat merona pipinya.

__ADS_1


"Ayah, kok lama?"


"Ayah tadi bicara sama guru di sekolah Alya lalu pergi mengecek minimarket sebentar, nak!"


"Tadi ibu datang, maksain mau ketemu sama ayah. Sudah di bilang sama nenek kalau ayah sedang antar mas Andre ke sekolah tapi ibu nggak percaya dan masih maksa masuk. Aku benci sama ibu. Aku nggak mau ketemu ibu!" jelasnya kesal.


"Alya nggak boleh benci sama ibu, nak! Ibu adalah orang yang telah melahirkan kamu!" tegasku.


"Tapi ibu jahat, yah! Ibu nggak sayang sama kita!"


"Ibu sayang sama Alya dan mas Andre. Nggak ada ibu yang nggak sayang sama anaknya!"


Wajah gadisku itu makin terlihat kesal.


"Kok ayah belain ibu terus padahal ibu sudah tinggalin ayah dan pergi sama orang lain?"


"Kamu masih kecil, nak. Kamu belum mengerti pikiran orang dewasa. Sudah, ayah suapin roti, mau?"


Putriku menggelengkan kepalanya. Dia masih saja terlihat kesal.


Hhh, aku masih sulit membujuk putriku untuk tak membenci ibunya setelah apa yang telah wanita itu lakukan padanya.


Lisa sampai mendatangiku terus demi untuk laki-laki itu. Hhh, kasihan juga si Lisa kalau si David sampai di hukum. Ah, toh aku tidak akan memaksa polisi menutup kasus ini apalagi melihat apa yang sudah David lakukan. Biar saja hukum yang akan bicara.


***


Dua hari sudah putriku di rawat. Dia masih mengeluhkan sakit di kakinya. Apalagi dia masih belum bisa turun dari tempat tidur. Dia selalu rewel saat tidak bisa ke kamar mandi dan harus melakukan semuanya di atas tempat tidur.


"Kapan aku sembuh, yah? Aku mau jalan!" keluhnya dengan air mata berlinang.


"Iya, sayang. Nanti kalau Alya benar-benar sembuh, bunda akan ajak Alya liburan ke luar kota. Alya mau kemana, hmm?" tanya istriku seraya mengusap-usap lembut pucuk kepala putriku itu.


"Aku mau ke Bali, bun! Ketemu banyak turis yang cakep-cakep!" jawabnya antusias.


"Wah, kamu ingin ketemu turis?" tanya istriku kaget campur heran.


"Iya, bun. Mau foto-foto!" tambahnya.


"Oke, siapa takut. Nanti kita ke Bali, ya!" sahut istriku.


Aku hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala. Sejak kapan putriku suka sama turis.


***


Satu minggu lebih tidak terasa putriku di rawat di rumah sakit. Kami sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Walau putriku masih belum boleh berjalan tapi luka luarnya sudah mengering dan akan di lanjutkan dengan rawat jalan. Aku dan putraku sibuk memindahkan semua barang ke dalam mobil.


"Adek Alya beneran boleh pulang, yah? Kan belum bisa jalan," tanya putraku heran bercampur bingung.


"Adek Alya rawat jalan saja, nak," sahutku.


"Jadi kapan sembuh lagi, yah? Bu guru nanyain."


"Ayah belum tahu, nak. Semoga segera, ya. Kamu jangan lupa doain adek kamu!"

__ADS_1


"Iya, yah. Pasti mas akan doakan adek Alya."


Sampai kembali di kamar, putriku sudah di pindahkan ke kursi roda. Kemarin aku dan istriku sudah membeli sebuah kursi roda baru untuk putriku. Awalnya dia menolak untuk memakainya karena inginnya langsung jalan tapi kerena dia merasa butuh akhirnya dia mau juga.


"Alya nggak mungkin tidur di lantai atas kan, nak?" tanya ibu padaku.


"Iya, bu. Dia tidur di lantai bawah sama ibu nggak apa-apa, kan?" aku balik bertanya.


"Maksud ibu ya begitu. Ibu takut ada apa-apa kalau naik turun tangga."


"Iya,bu. Aminah mau juga kan tinggal di rumah?"


"Iya, mungkin beberapa hari saja karena suaminya sudah mau pulang," jelas ibu.


"Loh, memangnya sudah selesai kontraknya?" tanyaku heran.


"Ada masalah di sana, jadi kontraknya selesai lebih cepat!"


Hhmm. . .


Sampai di parkiran mobil, aku di bantu adikku menggotong putriku naik ke mobil.


"Pelan-pelan, yah!" seru putriku seraya menutupi kedua matanya.


"Iya, sayang. Ayah sama tante akan pelan-pelan, kok. Alya jangan takut, ya!" ucapku menenangkannya.


Wajahnya terlihat pucat saat aku dan adikku mulai menggotongnya. Dia mungkin trauma saat tadi suster yang menggotongnya dari tempat tidur yang cukup tinggi ke kursi roda.


Aku gegas melajukan mobil ke arah rumah. Setengah jam lebih kami baru sampai karena jalanan macet. Mungkin karena hari libur jadi banyak orang-orang yang hendak bepergian.


Setelah memarkirkan mobil, gegas aku membopong putriku masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di tempat tidur di kamar bawah. Adikku mengambil barang-barang di kamar atas sekiranya di butuhkan oleh putriku.


"Ayah nggak ke minimarket, kan?" tanya Andre.


"Kenapa, nak?"


"Kan libur, yah. Di rumah saja, kan?"


"Minimarket tetap buka setiap hari, nak. Justru saat liburan dan akhir bulan kan ramai. Nanti ayah pulang lebih awal, kok!" jelasku.


"Iya deh, yah!" sahutnya.


"Kan sudah ada nenek dan juga tante. Bunda juga nggak ikut ayah, kok."


"Hhmm."


.


.


.


.

__ADS_1


.


23


__ADS_2