Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 210


__ADS_3

Hari pertama sekolah setelah liburan. Annisa dan Alina seperti biasa sedang menunggu ayahnya menjemput di taman. Mereka sibuk dengan handphone masing-masing.


"Nis, kok nggak semangat gitu sekolah? Kita satu tahun lagi loh, di sini," ucap Alina memecah keheningan.


Annisa menoleh, "Iya, Lin."


"Kangen kak Darren? Bilang saja sama ayah kalau mau jenguk hari ini."


"Hhmm, aku nggak berani, Lin," ucap Annisa sedih.


"Loh, kenapa nggak berani? Ayah pasti mau, kok."


Ah, kamu nggak tahu sih, Lin. Kamu pun pasti akan marah kalau tahu kenapa aku takut sama ayah sekarang. Ayah berubah sejak hari itu. Aku juga mulai takut sama ayah. Annisa membatin.


"Di tanyain kok malah melamun. Aku yang bilangin, ya?" tawar Alina.


"Eh, jangan, Lin. Nanti kalau mau, aku bilang sendiri sama ayah."


"Hhumm, eh itu ayah datang. Ayo!" ajak Alina yang langsung menggamit tangan Annisa.


Anto menunggu tidak jauh dari gerbang sekolah.


"Ayah," sapa Alina.


"Ayo!" titah Anto.


Anto langsung melajukan mobilnya menjauh dari sekolah si kembar.


"Ayah, aku boleh jenguk kak Darren?" tanya Alina.


Mata Annisa membulat lalu menyikut lengan kembarannya.


Dahi Alina berkerut lalu menatap kembaranya dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa kamu mau jenguk Darren?" tanya Anto penasaran. Dia mengintip si kembar dari kaca spion.


"Nggak apa-apa, yah. Aku ingin tahu saja kondisinya. Aku kan belum pernah menjenguknya. Nggak apa-apa kan aku jenguk kak Darren, Nis?"


Annisa diam saja.


"Sebentar saja," ucap Anto.


"Iya, yah," sahut Alina.


Anto pun melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Setengah jam lebih, mereka sampai. Anto memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.


Mereka lalu masuk ke rumah sakit. Alina bergandengan tangan dengan Annisa. Annisa tampak diam saja walau dari lubuk hati terdalamnya dia sangat berterimakasih dengan kembarannya itu. Akhirnya kangennya dapat terobati.


Dengan jantung yang berdegup kencang, Annisa mengikuti langkah kaki kembarannya. Sedangkan ayahnya sudah lebih dulu jalan di depan mereka.


Tok tok tok. Anto mengetuk kamar ranap Darren. Ternyata yang membuka pintu adalah Lisa. Anto memaksakan tersenyum.


"Mas Anto," sapa Lisa ramah. Rasa canggungnya sudah berkurang sejak suaminya dan mantan suaminya itu sudah berdamai dengan keadaan. Saling memaafkan.


"Saya bawa anak-anak," jelas Anto.


"Oh, Annisa?" tanya Lisa.

__ADS_1


"Sama Alina juga."


"Oh iya silahkan masuk. Kebetulan ada Andre dan Alya juga," ucap Lisa.


"Andre dan Alya?"


Anto dan si kembar lalu masuk. Ada Andre dan Darren yang sedang terlibat obrolan. Darren menatap Annisa lekat-lekat. Ada kerinduan dalam tatapan mata itu. Annisa pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan, dia hanya menatap ke arah Darren.


"Ayah," panggil Alya.


"Kamu di sini, nak? Mana Kevin?" tanya Anto.


"Mas Kevin sedang ada urusan dengan bapak polisi, yah."


"Polisi?" tanya Anto kaget.


Alya lalu menceritakan tentang kedatangan polisi. Anto menganggukkan kepalanya.


Huhh, jadi gara-gara cewek, kak Darren di tabrak lari. Baru sehari kerja sudah di taksir sama cewek. Annisa membatin. Wajahnya terlihat kesal.


"Kita tidak bisa berlama-lama, saya harus segera kembali ke minimarket," ucap Anto.


Darren terlihat kecewa, pun Annisa. Tapi setidaknya rasa kangen mereka sudah sedikit terobati walau tidak ada yang berani untuk bicara.


"Oh iya. Terimakasih sudah menjenguk Darren. Annisa, Alina," ucap Lisa.


"Iya, tante," sahut Alina sedangkan Annisa hanya tersenyum.


"Kita juga mau pulang," ucap Alya.


"Loh, pulang juga?"


"Baiklah kalau begitu. Sekali lagi terimakasih sudah menjenguk Darren," ucap Lisa.


Mereka lalu keluar dari kamar ranap Darren.


Nis, walau kita tidak bisa saling bicara, setidaknya kakak sudah lihat wajah kamu. Kamu makin cantik. Kakak akan bersemangat supaya kembali bisa berjalan, kuliah, bekerja. Dan jika kamu sudah lulus sekolah, kakak akan langsung lamar kamu. Kakak hanya ingin bersamamu. Batin Darren.


***


Kevin dan kedua bapak polisi segera menuju ke perusahaan di mana Darren bekerja. Mereka lalu di arahkan ke ruang CCTV. Terlihat jelas saat Darren di rayu oleh seorang gadis. Walau Darren sudah berusaha menolak tapi gadis itu terus memaksa hingga datanglah laki-laki yang mengakui gadis itu sebagai calon istrinya lalu memukuli Darren.


"Itu, pak. Laki-laki itu yang sudah memukuli korban. Dia karyawan sini juga di lihat dari pakaiannya!" jelas Kevin.


"Bagus. Sekarang kita minta data orang itu," sahut pak polisi.


"Mari, pak. Kita temui HRDnya," ajak Kevin.


Mereka kemudian menuju ruang HRD lalu mencari-cari data orang yang memukuli Darren. Ternyata orang itu bernama Heri. Mereka gegas mencari orang itu di devisi tempat dia bekerja. Sayangnya orang sekantornya mengatakan kalau Heri sudah dua hari tidak masuk kerja tanpa alasan yang jelas.


"Kita cari orang ini di rumahnya!" ucap salah seorang bapak polisi.


"Iya, kita cari di sana sekarang!" sahut yang satunya lagi.


"Apa saya harus ikut, pak?" tanya Kevin.


"Bapak boleh ikut."

__ADS_1


"Baiklah, pak," sahut Kevin.


Mereka pun bersama-sama menuju rumah tersangka.


***


Selesai makan malam, Alya langsung masuk ke kamarnya. Dia sibuk dengan berkas-berkasnya. Kevin ikut langsung ke kamar.


"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Kevin yang duduk di sisi tempat tidur sembari memperhatikan apa yang di lakukan istrinya.


"Mas, aku sedang siapin berkas-berkas," ucap Alya.


Dahi Kevin berkerut lalu menghampiri istrinya, "Berkas buat apa, sayang?"


"Hhmm, mas. Aku boleh ya ngelamar kerja? Toh aku belum hamil."


Kevin menarik nafasnya berat, "Kalau kamu tiba-tiba hamil saat sedang kerja bagaimana?"


"Hhhmm, aku janji aku akan berhenti, mas!"


"Hhmm, sekarang kerja banyak yang kontrak. Dan nggak semudah itu kita minta resign."


"Aku akan cari kerja di tempat yang nggak pake kontrak-kontrak, mas. Asalkan mas ridho aku bekerja."


"Kamu mau melamar kerja di mana?"


"Aku belum tahu. Ini baru mempersiapkan berkas-berkasnya saja."


"Maksud mas mau kerja di bidang apa. Lulusan hukum sekarang kan nggak hanya jadi pengacara atau dosen. Jadi notaris mungkin kalau kamu mau?"


"Aku belum mau kesana, mas. Sekarang hanya mau jadi karyawan dulu, sekaligus belajar. Bisa di kantor notaris atau pengacara."


"Hhmm, baiklah. Nanti mas bantu cari, ya. Sekarang tidur, yuk."


"Mas, sekarang masih pukul delapan, loh. Aku masih belum ngantuk."


Kevin tiba-tiba menggendong Alya, "Mas!"


"Kalau belum ngantuk, kan. Yuk, kita proses dulu, supaya kamu lekas hamil!" ucap Kevin dengan senyum menggoda.


"Hhmm."


Mas Kevin nggak sabar banget sih ingin aku cepet hamil. Aku kan ingin merasakan kerja walau beberapa bulan saja. Ingin merasakan punya uang sendiri. Nggak hanya minta. Alya membatin.


Kevin sudah mulai memberikan sentuhan-sentuhan untuk istrinya.


"Ayo, sayang. Siapa tahu kamu bisa menyusul istrinya Alya hamil. Jadi kalian hamilnya bareng!"


"Hmm, mas," Alya hanya bisa pasrah dan melayani suaminya dengan sepenuh hati.


.


.


.


.

__ADS_1


.


17


__ADS_2